Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10113 )Produksi Beras Maret-April Diperkirakan 8,46 Juta Ton
Total potensi produksi beras nasional pada Maret dan April
2024 mencapai 8,46 juta ton. Produksi tersebut lebih rendah dibandingkan periode
yang sama tahun lalu. Kendati demikian, Bapanas optimistis produksi beras
tersebut akan menurunkan harga beras. BPS Jumat (1/3) merilis, potensi produksi
beras pada Maret dan April 2024 masing-masing 3,54 juta ton dan 4,92 juta ton,
dengan total 8,46 juta ton. Perkiraan produksi tersebut berdasarkan penghitungan
kerangka sampel area pada panenan Desember 2023 dan Januari 2024. Deputi Bidang
Statistik Produksi BPS M Habibullah mengatakan, realisasi potensi produksi
beras itu bakal bergantung sejumlah faktor, terutama perubahan cuaca. Fenomena
El Nino yang melanda Indonesia sejak semester IIma 2023 berdampak pada peningkatan
luas lahan bera atau tidak ditanami padi sepanjang Oktober-Desember 2023.
”Peningkatan luas lahan bera itu otomatis berpengaruh pada
penurunan panen padi dan produksi beras nasional pada bulan-bulan awal 2024.
Banjir yang melanda sejumlah daerah dan lahan pertanian yang kekurangan air
juga dapat membuat potensi produksi berkurang,” ujarnya dalam konferensi pers yang
digelar secara hibrida di Jakarta. Kondisi tersebut menyebabkan potensi
produksi beras pada Januari-April 2024 hanya 10,71 juta ton. Volume produksi
beras tersebut turun 17,52 % dibandingkan dengan realisasi produksi beras Januari-April
2023 yang mencapai 12,98 juta ton. (Yoga)
Menghapus Mimpi Semu Pungutan Digital
Mimpi Indonesia untuk meraup penerimaan dari transaksi perdagangan digital antarnegara menemui jalan buntu. Mayoritas negara menolak pencabutan moratorium bea masuk perdagangan barang digital lewat tapal batas. Pada WTO's 13th Ministerial Conference (MC13) yang digelar 26—29 Februari 2024, dapat dipastikan bahwa moratorium bakal diperpanjang. Bahkan, instrumen bea masuk perdagangan barang digital yang sudah berusia 25 tahun itu dapat dipermanenkan. Perlu diketahui, sejak 1998, anggota Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) secara berkala menyetujui perpanjangan moratorium pengenaan bea masuk tersebut. Perpanjangan terakhir disepakati pada Juni 2022 pada Konferensi Tingkat Menteri WTO (MC12). Selain memperpanjang moratorium hingga MC13, para anggota MC12, termasuk India, sepakat untuk mengintensifkan diskusi mengenai ruang lingkup, definisi, dan dampak moratorium. Indonesia bersama India dan Afrika Selatan, merupakan motor pengusung penghapusan moratorium bea masuk transaksi perdagangan digital antarnegara. Oleh sebab itu, India menegaskan kembali untuk mengkaji ulang implikasi moratorium bea masuk pada transaksi elektronik, khususnya bagi negara berkembang dan negara kurang berkembang (LDCs) pada MC13 pada 28 Februari 2024. Instrumen itu menjadi tantangan negara berkembang dalam meningkatkan partisipasi e-commerce di dunia. India bersama Indonesia dan Afrika Selatan telah lama berupaya untuk mengakhiri moratorium bea masuk atas barang digital dengan alasan pungutan itu cenderung menguntungkan negara maju. New Delhi percaya bahwa suatu negara harus bebas melakukan pungutan bea masuk. Pasalnya, negara berkembang kehilangan pendapatan hingga US$10 miliar karena moratorium ini. Alasan Afrika Selatan hampir sama dengan India. Adapun motif Indonesia dapat dikatakan berbeda. Jargon pemerintah RI bahwa pungutan bea masuk transaksi digital untuk menambah pundi-pundi penerimaan negara. Dengan masukanya barang digital dalam klasifikasi barang kepabeanan, maka pemerintah melalui ketentuan tersebut, memutuskan untuk membebaskan tarif bagi impor barang tak berwujud alias bertarif 0%. Pada pembahasan hari terakhir MC13, negara maju dari WTO tidak pernah berfikir bakal mencabut moratorium. Bahkan, bakal dibuat permanen. Sebaiknya memang pemerintah berfikir realistis dengan mengoptimalkan penerimaan dari wajib pajak. Penerimaan wajib pajak selain ekstensifikasi, dapat dilakukan dengan memacu pertumbuhan ekonomi. Berfikir visioner, seperti India justru lebih baik, yakni menyiapkan industri raksasa digital di dalam negeri. Tidak sekadar menjadi pasar produk digital negara asing.
Sulitnya Menaikkan Rasio Pajak
Kemenkeu melaporkan rasio penerimaan pajak
terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2023 sebesar 10,21 %. Rasio
itu turun dibanding tahun sebelumnya di 10,39 persen. Penurunan ini menunjukkan
masih rendahnya rasio pajak Indonesia. Ekonom dari Center of Reform on
Economics Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, berujar, rasio pajak yang rendah
terjadi akibat inefisiensi administrasi pajak. “Proses pemungutan yang masih
manual dan birokratis menyebabkan kebocoran dan membuat wajib pajak enggan
membayar pajak. Struktur tarifnya juga dianggap kurang progresif,” katanya,
Kamis, 29 Februari 2024.
Begitu pula edukasi perihal pentingnya pajak
bagi pembangunan yang masih rendah. Buktinya adalah masih banyak orang belum
terdaftar sebagai wajib pajak. Selain itu, penghasilan sebagian besar
masyarakat Indonesia termasuk golongan penghasilan tidak kena pajak (PTKP), yang
ikut menurunkan rasio pajak. Yusuf mengatakan penyebab lain rendahnya rasio
pajak adalah sektor ekonomi informal yang besar dan tidak terkena pajak.
“Sektor informal saat ini mencapai sekitar 60 persen dari ekonomi Indonesia.
Transaksi di sektor ini sering kali tidak tercatat dan tidak dikenai pajak,”
ucapnya. (Yetede)
Singapura Catatkan Kelahiran Terendah Sepanjang Sejarah
Angka kelahiran total di Singapura untuk pertama kalinya
dalam sejarah berada di bawah 1, yaitu tepatnya 0,97. Angka kelahiran total
yang terus menurun kian menambah tantangan demografi di negara itu karena
terjadi bersamaan dengan populasi penduduk yang kian menua. Indranee Rajah, Menteri
pada Kantor PM Singapura, Rabu (28/2) menyatakan, angka kelahiran total
merupakan jumlah rata-rata bayi yang dilahirkan seorang perempuan selama masa
reproduksinya. Dalam lima tahun terakhir, grafik angka kelahiran total
Singapura terus menurun. Pada 2019, angka kelahiran total negara itu 1,14.
Lalu, pada 2020, angka itu 1,1. Kini, angka itu hanya sebesar 0,97. Tren
penurunan angka kelahiran itu juga terjadi di negara maju lainnya, yaitu Korea
Selatan dan Jepang. Di Korsel, angka itu kini mencapai 0,72 atau rekor
terendah.
Menurut Rajah, ada sejumlah faktor yang membuat angka kelahiran
total itu turun. Ia menyebut pandemi Covid-19, yang mengganggu rencana
pernikahan ataupun kelahiran, sebagai salah satu faktornya. Seperti di banyak
negara maju lainnya, penurunan angka kelahiran total mencerminkan perubahan prioritas
dari generasi ke generasi. Kaum muda bisa jadi tidak lagi menganggap memiliki
anak sebagai hal yang penting. Rendahnya angka kelahiran total, imbuhnya,
berimplikasi serius pada masa depan Singapura. ”Dengan lebih sedikit kelahiran,
kita akan menghadapi penyusutan angkatan kerja. Hal itu membuat upaya untuk
mempertahankan dinamisme, menarik bisnis global, dan menciptakan peluang bagi
generasi berikutnya makin sulit,” katanya kepada The Straits Times.
Untuk menjaga angka kelahiran total, ujarnya, pemerintah menempuh
sejumlah cara, salah satunya pembekuan sel telur secara elektif. Sejak
diizinkan pada Juni 2023, sekitar 200 perempuan telah melakukan pembekuan sel
telur elektif yang dilakukan karena alasan nonmedis. Sebelumnya, perempuan hanya
boleh membekukan sel telurnya karena alasan medis. Lalu, untuk mendukung
orangtua agar mau memiliki bayi, menurut Rajah, Pemerintah Singapura mulai
menerapkan cuti ayah berbayar pada 1 Januari 2024. Setiap ayah berhak atas cuti
empat minggu atau bertambah dari sebelumnya selama dua minggu. Pemberi kerja
yang bersedia memberikan cuti tambahan itu akan mendapat kompensasi dari
pemerintah. (Yoga)
Industri Menginspirasi Siswa Vokasi untuk Sukses
Kemitraan pendidikan vokasi dengan dunia usaha dan industri
bukan sekadar untuk memastikan peserta didik cakap dalam bekerja. Lebih dari
itu, kolaborasi ini diharapkan menginspirasi siswa untuk menggali potensi diri
mereka saat berkecimpung di dunia kerja. Dani Sugianto, alumnus SMK Negeri 9
Bandung, tampil percaya diri saat dipanggil ke atas panggung untuk gelar wicara
di acara L’Oréal Hairducation: Cetak Generasi Muda Siap Kerja di Industri Tata Rambut
Indonesia, Rabu (28/2) di Jakarta. Saat masih sekolah hingga lulus tahun 2018,
Dani merupakan salah satu peserta program L’Oréal Hairducation. ”Saya awalnya
bingung, ketika lulus mau jadi apa. Tahunya paling nanti kerja di salon.
Setelah ikut program L’Oréal Hairducation di sekolah, saya
menjadi tahu bidang tata rambut ini luas dan menjanjikan. Bisa jadi hairdresser,
influencer, bisnis salon, sampai menjadi pendidik atau edukator. Wawasan saya
jadi terbuka, dunia kecantikan luas sekali,” tutur Dani. Dani, akhirnya
mengembangkan sayapnya menjadi edukator termuda di L’Oréal Professionnel
Indonesia. Dia juga dipuji karena mampu menggali tren terbaru pewarnaan rambut
tanpa bleaching supaya rambut tidak mudah rusak. Dani makin tertantang untuk
terus mengembangkan iri di industri tata kecantikan. ”Industri ini tidak bisa digantikan
dan perkembangannya pesat,” kata Dani.
Kentri Grata, alumnus SMK Negeri 4 Surakarta, mengatakan,
ketika sekolah bersentuhan dengan industri, siswa terbantu untuk memahami masa
depan mereka. Kentri pun meeraih prestasi sebagai pemenang kompetisi World Skills
ASEAN. Sekarang, dia akan kembali berkompetisi di tingkat dunia di Perancis. Dirjen
Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek, Kiki Yuliati mengatakan, pendidikan vokasi
tidak sekadar melatih untuk ahli di bidangnya. Lebih dari itu, vokasi membekali
kemampuan pembelajar sepanjang hayat dengan membangun kemampuan belajar dan
berpikir yang kuat. ”Beberapa waktu lalu, banyak pekerja atau profesi yang
tidak dianggap penting, seperti bidang kecantikan dan tata rambut, tetapi kini
menentukan keseharian kita. Dukungan industri tidak sekadar meningkatkan keterampilan,
yang penting justru membentuk perilaku dan sikap profesional untuk membuat
pekerjaan itu bermartabat,” kata Kiki. (Yoga)
Nelayan Kecil Tolak Wacana Larang Subsidi
Kelompok nelayan kecil Indonesia menolak usulan Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO soal rencana membatasi dan melarang subsidi perikanan bagi nelayan, yang menjadi agenda utama pembahasan Konferensi Tingkat Menteri ke-13 WTO yang berlangsung di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 26-29 Februari 2024. ”Jika negosiasi ini disepakati, nelayan kecil di Indonesia tidak akan lagi mendapat subsidi. Hal ini jelas akan makin membebani nelayan kita,” ujar Direktur Eksekutif Indonesia for Global Justice (IGJ) Rahmat Maulana Sidik saat dihubungi pada Kamis (29/2). Dalam rancangan teks subsidi perikanan yang dibahas pada konferensi tersebut, WTO berencana melarang delapan jenis subsidi yang dinilai berkontribusi pada kegiatan penangkapan ikan berlebih dan melewati kapasitas secara ilegal, tidak terlaporkan, dan tidak teregulasi (illegal, unreported, and unregulated/IUU overcapacity & overfishing).
Subsidi yang dilarang antara lain subsidi dalam bentuk BBM, asuransi, biaya pegawai, dan teknologi pencarian ikan. Dalam keterangan resminya, alasan WTO mendorong pengaturan subsidi itu, agar bisa menciptakan kegiatan ekonomi kelautan yang berkelanjutan. Rahmat menjelaskan, dalam negosiasi tersebut, WTO mengharuskan perubahan regulasi subsidi di negara anggota,termasuk Indonesia. Jika perjanjian WTO itu disahkan dan Indonesia ikut meratifikasi, UU No 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan, dan Petambak Garam berpotensi berubah.
UU ini menyebut pemberian subsidi langsung bagi nelayan. Intervensi oleh WTO ini, imbuh Rahmat, dapat mengancam kedaulatan nelayan kecil dan tradisional. Oleh karena itu, IGJ bersama Kelompok Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) dan Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menyuarakan penolakan terkait rencana WTO tersebut. Ia mengatakan, aspirasi dan rekomendasi ini sudah disampaikan kepada delegasi Indonesia pada 25 Februari 2024 atau sehari sebelum KTM ke-13 WTO dilaksanakan. Harapannya, delegasi Indonesia punya kesempatan menyampaikannya pada pembahasan dalam KTM. (Yoga)
Simulasi Makan Siang Gratis Jadi Bahan ”Belanja Masalah” bagi Pemerintah
Kemenkoordinator Bidang Perekonomian memantau kegiatan simulasi
program makan siang gratis yang diadakan SMP Negeri 2 Curug, Tangerang, Banten,
Kamis (29/2). Pantauan dilakukan untuk ”belanja masalah” program makan siang gratis
yang telah dibahas dalam RAPBN 2025. Simulasi program itu merupakan program
yang berjalan dengan anggaran dari Disdik Kabupaten Tangerang. Pada simulasi
ini sekolah menyiapkan 160 porsi makan siang untuk empat kelas, yaitu tiga
kelas 9 dan satu kelas 8, dengan harga Rp 15.000 per porsi. Terdapat empat
jenis menu. Menu pertama nasi putih dengan ayam goreng tepung, perkedel tahu,
capcay, dan pisang. Menu kedua nasi putih, semur telur, tempe goreng, tumis buncis
wortel, dan pisang. Menu ketiga gado-gado dengan tahu goreng, telur rebus, dan
pisang. Menu terakhir siomay dengan kentang rebus, telur, tahu kukus, kol, dan
pisang.
Seusai memantau program makan siang gratis, Menko Bidang
Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, sasaran simulasi ini sudah tepat. Pasalnya,
selain dapat mencukupi asupan gizi dan nutrisi untuk para siswa, peng adaan
makanan juga melibatkan pelaku UMKM di sekitar sekolah. ”Ini kita sekalian
belanja masalah. Jadi, kalau kita lihat dari simulasi yang dilakukan hari ini,
kita mau lihat bagaimana mekanismenya, bagaimana pembiayaannya, dan dari situ kita
belajar untuk membuat kebijakan publik,” ujar Airlangga. Berdasarkan evaluasi
sementara, lanjut dia, program ini dapat berdampak positif apabila terus
dilanjutkan karena turut mendorong roda perekonomian skala mikro di lingkungan
sekolah. Selain itu, asupan nutrisi dari para siswa juga dapat lebih terkontrol
ketimbang membiarkan mereka memilih sendiri jajanannya.
Program makan siang gratis ini adalah program unggulan pasangan
calon presiden-wakil presiden Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Padahal,
penetapanpemenang hasil Pemilu 2024 baru akan diumumkan KPU pada 20 Maret 2024.
Pemerintah memastikan anggaran untuk program makan siang gratis ini mencukupi. Pembahasan
program makan siang gratis itu sekaligus menunjukkan pemerintahan mendatang
merupakan pemerintahan yang berkelanjutan dengan pemerintahan Presiden Jokowi
(Kompas.id, Senin, 26/2). Estimasi Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran,
diperlukan Rp 400 triliun per tahun untuk membagikan makan siang gratis kepa da
80 juta penerima manfaat yang terdiri dari anak sekolah, anak balita, dan ibu
hamil di seluruh Indonesia. (Yoga)
Harga Beras Pengaruhi Harga Pangan Nonberas
Harga sejumlah bahan pangan nonberas naik seiring
meningkatnya permintaan di tengah lonjakan harga beras beberapa bulan terakhir.
Warga di beberapa daerah khawatir harga beras bertahan tinggi atau justru
semakin naik menjelang Ramadhan yang jatuh pada pertengahan Maret 2024. Di
Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, Sultra, Edi (34) takjub saat menanyakan harga
seporsi kasoami kepada pedagang. Harganya mencapai Rp 10.000. Sehari
sebelumnya, harganya Rp 8.000. ”Kalau di pembuat itu harganya masih Rp 8.000,
tapi kalau tangan kedua sudah naik Rp 10.000. Sebulan lalu, seporsi yang sama
masih Rp 5.000,” kata Edi, dihubungi dari Kendari, Kamis (29/2).
Kasoami atau disebut soami di beberapa wilayah adalah makanan
pokok masyarakat kepulauan Sultra yang berbahan dasar singkong. Setelah
diparut, singkong diperas dan disebut kaopi. Bahan ini menjadi bahan utama
kasoami yang dicetak berbentuk lancip. Menurut Edi, kenaikan harga kasoami ini
mulai terjadi seiring melonjaknya harga beras. Di Kaledupa, harga beras premium
tertinggi Rp 850.000 untuk kemasan 50 kg. Sebelumnya, harga beras di pulau ini
Rp 720.000 per karung kemasan 50 kg. Wa Sapoo (47), warga Wangi-wangi, pulau
ibu kota Kabupaten Wakatobi, menceritakan, selain kasoami, harga berbagai bahan
pangan lokal memang terus naik. Harga sekarung keladi mencapai Rp 400.000, naik
dari sebelumnya Rp 200.000.
”Harga ubi kuning, ubi putih, juga naik. Kasoami sudah naik,
ukurannya juga jadi kecil. Semua naik sejak harga beras terus melonjak,” ujarnya.
Di DI Yogyakarta, kenaikan harga beras juga dinilai turut mendorong permintaan
singkong. Menurut Sudras (42), pedagang di Pasar Telo Karangkajen di Kelurahan
Brontokusuman, saat ini dia bisa menjual 1,5 ton singkong per hari, naik dari
biasanya 1 ton per hari (Kompas, 26/2). Menurut dia, jumlah itu meningkat sejak
Desember 2023, saat harga beras mulai bergejolak. Hal ini mengindikasikan setidaknya
sebagian warga sudah bisa beralih ke sumber karbohidrat selain beras. ”Banyak
pedagang pengecer yang biasanya hanya membeli 80 kg kini menjadi 100 kg.
Peningkatan penjualan biasa terjadi setiap harga beras naik,” ujarnya. (Yoga)
Pro Kontra Rencana Kenaikan Tarif KRL
Kemenhub dan PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter)
masih membahas penyesuaian tarif KRL Jabodetabek yang memungkinkan adanya
kenaikan tarif tahun ini. Namun, sejumlah penumpang merasa terbebani jika tarif
KRL Jabodetabek dinaikkan. Jubir Kemenhub, Adita Irawati mengatakan, kenaikan
tarif KRL masih dalam pembahasan internal bersama para pemangku kepentingan.
”Nanti pada saatnya akan kami sampaikan kepada masyarakat,” katanya, Kamis
(29/2). Dirut PT KAI Commuter Asdo Artriviyanto sempat menyampaikan wacana kenaikan
tarif KRL pada Kamis (11/1). Dia mengatakan, pihaknya menunggu kebijakan Kemenhub
terkait tarif KRL yang memang tidak naik sejak 2016. Hingga kini, tarif KRL
ditentukan secara progresif. Tarif terdiri atas dua komponen, yaitu tarif dasar
untuk 25 km dan tarif lanjutan progresif setiap 10 km.
Sejauh ini tarif dasar 25 km pertama adalah Rp 3.000. Jika
penumpang menggunakan layanan KRL lebih dari 25 km, akan dikenai tarif lanjutan
Rp 1.000 per 10 km. Di sisi lain, rata-rata upah minimum regional Jabodetabek
mengalami kenaikan setiap tahun. Ketua Forum Transportasi Perkeretaapian dan
Angkutan Antarkota Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat Aditya Dwi
Laksana berpendapat, penyesuaian tarif KRL Jabodetabek sebenarnya dapat dilakukan.
Dia menjelaskan, penyesuaian tarif diperlukan untuk mengurangi beban APBN yang
sudah cukup terbebani oleh skema subsidi (public service obligation/PSO) untuk
operasionalisasi KRL Jabodetabek Aryo (32), warga Jaksel, tidak setuju tarif
KRL naik. Dia menilai, kenaikan tariff KRL Jabodetabek membuat sejumlah
penumpang beralih ke transportasi pribadi, termasuk dirinya. ”Terlebih kalau
penumpang cuma naik sebentar, tapi tarifnya besar, pasti tidak mau,” ujarnya. (Yoga)
Menerima Situasi Baru, Membuat Strategi Baru
Seorang petani dari Blora, Jateng, mengirim pesan melalui
Whatsapp berjudul ”Surat Terbuka”. ”Harga beras semakin tinggi kami merasa
perekonomian kami sebagai petani juga semakin membaik…” Pesan video
memperlihatkan para perempuan tani memakan bekal makan siang mereka di tepi
sawah. ”…Bila kalian demo ingin harga beras turun ya silakan tanam padi sendiri,
panen sendiri, makan sendiri….” Pesan itu menjadi kontras dengan arus besar
pemberitaan media tentang keluhan mahalnya harga beras belakangan ini. Data
memperlihatkan harga beras secara nominal memang terus bergerak naik dari tahun
ke tahun. Data BPS memperlihatkan, pada Januari 2020 hingga Januari 2024, harga
rata-rata beras medium Rp 9.805, Rp 9.405, Rp 9.381, Rp 10.801,71, dan pada
Januari 2024 menjadi Rp 13.187 per kg.
Data tersebut mengindikasikan harga pangan, terutama beras,
sulit kembali ”murah” seperti satu dekade lalu. Produksi beras ditentukan oleh kecukupan
lahan sawah, sedangkan luas sawah terus susut. Kementan menyebut setiap tahun
terjadi konversi lahan sawah menjadi nonsawah 90.000-100.000 hektar. Jumlah
penduduk terus bertambah, demikian pula kelas menengah yang memiliki kebutuhan
gizi tersendiri. Pada saat bersamaan, perubahan iklim memengaruhi pola musim
dan iklim sehingga dapat mengganggu produktivitas tanaman pangan. Teknologi
yang ada belum mampu mengejar lambatnya kenaikan produktivitas padi. Luas panen
padi juga cenderung turun, produktivitasnya stagnan.
Indonesia memerlukan politik pangan baru dengan strategi
baru: beras seharusnya tidak lagi jadi satu-satunya bahan pangan sumber
karbohidrat. Dengan kondisi sosial-ekonomi masyarakat semakin maju dan
sejahtera, perlu strategi pangan nasional berdasarkan kebutuhan gizi, bukan
lagi berdasarkan komoditas, apalagi bila hanya beras. Perlu disiapkan peta
jalan yang mengelompokkan kebutuhan penduduk berdasarkan usia; jender, seperti ibu
hamil dan menyusui; profesi; aktivitas; daya beli; hingga kondisi geografis
dengan bantuan teknologi informasi untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat,
protein, vitamin, dan mineralnya. Peta jalan itu digunakan untuk menetapkan mekanisme
produksi, hilirisasi, hingga distribusinya. Dengan keragaman hayati Indonesia
yang sangat kaya, tersedia banyak sumber karbohidrat lain, selain sumber protein,
vitamin, dan mineral. Pembenahan bahan pangan nonpadi sudah harus dimulai dari
aspek agronomi, pengolahan dan hilirasai, distribusi, hingga penyajian. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









