Menerima Situasi Baru, Membuat Strategi Baru
Seorang petani dari Blora, Jateng, mengirim pesan melalui
Whatsapp berjudul ”Surat Terbuka”. ”Harga beras semakin tinggi kami merasa
perekonomian kami sebagai petani juga semakin membaik…” Pesan video
memperlihatkan para perempuan tani memakan bekal makan siang mereka di tepi
sawah. ”…Bila kalian demo ingin harga beras turun ya silakan tanam padi sendiri,
panen sendiri, makan sendiri….” Pesan itu menjadi kontras dengan arus besar
pemberitaan media tentang keluhan mahalnya harga beras belakangan ini. Data
memperlihatkan harga beras secara nominal memang terus bergerak naik dari tahun
ke tahun. Data BPS memperlihatkan, pada Januari 2020 hingga Januari 2024, harga
rata-rata beras medium Rp 9.805, Rp 9.405, Rp 9.381, Rp 10.801,71, dan pada
Januari 2024 menjadi Rp 13.187 per kg.
Data tersebut mengindikasikan harga pangan, terutama beras,
sulit kembali ”murah” seperti satu dekade lalu. Produksi beras ditentukan oleh kecukupan
lahan sawah, sedangkan luas sawah terus susut. Kementan menyebut setiap tahun
terjadi konversi lahan sawah menjadi nonsawah 90.000-100.000 hektar. Jumlah
penduduk terus bertambah, demikian pula kelas menengah yang memiliki kebutuhan
gizi tersendiri. Pada saat bersamaan, perubahan iklim memengaruhi pola musim
dan iklim sehingga dapat mengganggu produktivitas tanaman pangan. Teknologi
yang ada belum mampu mengejar lambatnya kenaikan produktivitas padi. Luas panen
padi juga cenderung turun, produktivitasnya stagnan.
Indonesia memerlukan politik pangan baru dengan strategi
baru: beras seharusnya tidak lagi jadi satu-satunya bahan pangan sumber
karbohidrat. Dengan kondisi sosial-ekonomi masyarakat semakin maju dan
sejahtera, perlu strategi pangan nasional berdasarkan kebutuhan gizi, bukan
lagi berdasarkan komoditas, apalagi bila hanya beras. Perlu disiapkan peta
jalan yang mengelompokkan kebutuhan penduduk berdasarkan usia; jender, seperti ibu
hamil dan menyusui; profesi; aktivitas; daya beli; hingga kondisi geografis
dengan bantuan teknologi informasi untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat,
protein, vitamin, dan mineralnya. Peta jalan itu digunakan untuk menetapkan mekanisme
produksi, hilirisasi, hingga distribusinya. Dengan keragaman hayati Indonesia
yang sangat kaya, tersedia banyak sumber karbohidrat lain, selain sumber protein,
vitamin, dan mineral. Pembenahan bahan pangan nonpadi sudah harus dimulai dari
aspek agronomi, pengolahan dan hilirasai, distribusi, hingga penyajian. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023