;

Menerima Situasi Baru, Membuat Strategi Baru

Lingkungan Hidup Yoga 01 Mar 2024 Kompas
Menerima Situasi Baru, Membuat Strategi Baru

Seorang petani dari Blora, Jateng, mengirim pesan melalui Whatsapp berjudul ”Surat Terbuka”. ”Harga beras semakin tinggi kami merasa perekonomian kami sebagai petani juga semakin membaik…” Pesan video memperlihatkan para perempuan tani memakan bekal makan siang mereka di tepi sawah. ”…Bila kalian demo ingin harga beras turun ya silakan tanam padi sendiri, panen sendiri, makan sendiri….” Pesan itu menjadi kontras dengan arus besar pemberitaan media tentang keluhan mahalnya harga beras belakangan ini. Data memperlihatkan harga beras secara nominal memang terus bergerak naik dari tahun ke tahun. Data BPS memperlihatkan, pada Januari 2020 hingga Januari 2024, harga rata-rata beras medium Rp 9.805, Rp 9.405, Rp 9.381, Rp 10.801,71, dan pada Januari 2024 menjadi Rp 13.187 per kg.

Data tersebut mengindikasikan harga pangan, terutama beras, sulit kembali ”murah” seperti satu dekade lalu. Produksi beras ditentukan oleh kecukupan lahan sawah, sedangkan luas sawah terus susut. Kementan menyebut setiap tahun terjadi konversi lahan sawah menjadi nonsawah 90.000-100.000 hektar. Jumlah penduduk terus bertambah, demikian pula kelas menengah yang memiliki kebutuhan gizi tersendiri. Pada saat bersamaan, perubahan iklim memengaruhi pola musim dan iklim sehingga dapat mengganggu produktivitas tanaman pangan. Teknologi yang ada belum mampu mengejar lambatnya kenaikan produktivitas padi. Luas panen padi juga cenderung turun, produktivitasnya stagnan.

Indonesia memerlukan politik pangan baru dengan strategi baru: beras seharusnya tidak lagi jadi satu-satunya bahan pangan sumber karbohidrat. Dengan kondisi sosial-ekonomi masyarakat semakin maju dan sejahtera, perlu strategi pangan nasional berdasarkan kebutuhan gizi, bukan lagi berdasarkan komoditas, apalagi bila hanya beras. Perlu disiapkan peta jalan yang mengelompokkan kebutuhan penduduk berdasarkan usia; jender, seperti ibu hamil dan menyusui; profesi; aktivitas; daya beli; hingga kondisi geografis dengan bantuan teknologi informasi untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, vitamin, dan mineralnya. Peta jalan itu digunakan untuk menetapkan mekanisme produksi, hilirisasi, hingga distribusinya. Dengan keragaman hayati Indonesia yang sangat kaya, tersedia banyak sumber karbohidrat lain, selain sumber protein, vitamin, dan mineral. Pembenahan bahan pangan nonpadi sudah harus dimulai dari aspek agronomi, pengolahan dan hilirasai, distribusi, hingga penyajian. (Yoga) 

Download Aplikasi Labirin :