Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10113 )Asa Pasar Modal di Tengah Gejolak
Pada paruh pertama tahun ini, pasar modal menghadapi tantangan yang cukup signifikan. Tingginya tingkat suku bunga acuan, prospek pertumbuhan ekonomi yang masih dalam big question mark, dan ketidakpastian geopolitik, menciptakan lingkungan yang kurang kondusif untuk aksi korporasi. Benar bahwa pada kuartal I/2024, pasar modal Indonesia mengalami fase yang landai. Ini ditangkap publik sebagai sebuah refleksi dari sikap hati-hati yang diambil oleh investor dan korporasi. Mereka memilih untuk mengadopsi strategi wait and see, terutama dipicu oleh panasnya kontestasi selama pemilu dan pascapemilu yang masih berlangsung. Hal ini, tanpa ragu, menimbulkan pertanyaan tentang prospek dan tantangan dalam penghimpunan dana di pasar modal, penyerapan saham IPO, perkembangan cost of fund emisi obligasi, serta pipeline penghimpunan dana yang dimiliki oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Apalagi, jika kisruh penghitungan suara Sirekap di Komisi Pemilihan Umum (KPU) mendapatkan respons pengajuan Hak Angket DPR, situasi politik bisa kian memanas dan dapat berujung pada instabilitas sosial yang rentan memengaruhi pergerakan ekonomi. Investor makin tak mendapatkan kepastian. Di tengah tantangan yang cukup pelik, tak disangka, Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap menawarkan peluang bagi perusahaan-perusahaan dengan model bisnis kuat yang mencari pendanaan eksternal. Ini terbukti dari listing 19 emiten baru dengan total dana sekitar Rp3,45 triliun, sejak Januari hingga 1 Maret 2024, serta adanya 15 emisi obligasi korporasi senilai Rp15,3 triliun. Kesembilan belas emiten yang siap masuk pipeline penawaran umum perdana (IPO) tersebut mayoritas berasal dari perusahaan beraset sedang yaitu berkisar Rp50 miliar—Rp250 miliar, perusahaan beraset di atas Rp250 miliar, dan yang di bawah Rp50 miliar.
Dominasi korporasi dengan aset skala menengah dari sektor industri dan consumer cyclicaldi IPO menunjukkan bahwa ada kepercayaan dari investor terhadap sektor-sektor ini. Dengan pipeline tersebut akan ada lebih banyak perusahaan melakukan rights issue dan IPO. Prospek penyerapan saham IPO sepertinya tampak positif, terutama bagi perusahaan-perusahaan yang mampu menunjukkan ketahanan dan pertumbuhan bisnis yang solid di tengah kondisi pasar yang volatil.
Jika dikaitkan dengan pipelinepenghimpunan dana OJK yang cukup ambisius pada tahun ini yaitu Rp200 triliun, tentu saja deretan perusahaan yang siap IPO dan rights issue menyiratkan optimisme di tengah kegalauan yang berkelindan saat ini. Publik berharap target yang dipatok OJK dapat tercapai sembari berdoa situasi republik ini tetap aman, nyaman, dan adem ayem. Seluruh pihak, baik OJK, BEI, maupun korporasi perlu menciptakan lingkungan pasar yang mendukung guna mencapai seluruh target 2024. Pasar modal Indonesia, di tengah tantangan yang terjadi, masih menawarkan peluang bagi korporasi dengan berbagai model bisnis yang kuat dan tetap dipercaya sebagai destinasi yang menarik untuk penghimpunan dana.
BAHAN BAKAR MINYAK : DAMPAK RUMIT SUBSIDI BBM
Problem subsidi untuk bahan bakar minyak atau BBM kembali mencuat setelah Presiden Joko Widodo memastikan pemerintah tidak akan melakukan penyesuaian harga dalam waktu dekat. Bukan tanpa alasan, kebijakan tersebut berpotensi memunculkan persoalan lain, termasuk pembengkakan anggaran subsidi dari APBN.
Tidak seperti biasanya yang memberikan keterangan dengan jelas dan tegas, Presiden Joko Widodo (Jokowi) hanya mengatakan tidak akan ada kenaikan harga BBM dalam waktu dekat, tanpa penjelasan lebih lanjut.Sebelum bertolak ke Australia, Presiden Jokowi hanya memastikan keterangan lebih lanjut mengenai harga BBM bakal disampaikan lebih lanjut oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto atau PT Pertamina (Persero) langsung.“Soal BBM, nanti biar Menko [Perekonomian] yang sampaikan, atau dari Pertamina yang sampaikan. [Untuk kenaikan harga] tidak [ada], tetapi yang menyampaikan nanti akan dari Pertamina,” katanya, Senin (4/2).Dalam kesempatan terpisah, Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan alasan pemerintah yang memutuskan untuk tidak menaikkan harga BBM hingga Juni 2024.Erick menjelaskan, pemerintah terus berupaya agar masyarakat berpenghasilan rendah tidak terdampak oleh harga minyak yang bergerak fl uktuatif di pasar global.
Meski memastikan bakal tetap menjaga harga BBM di level saat ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sempat mengingatkan impak dari kebijakan tersebut.Salah satunya adalah pemerintah membutuhkan tambahan anggaran untuk subsidi dan kompensasi untuk Pertamina.Di sisi lain, PT Pertamina Patra Niaga sebagai subholding commerce and trading Pertamina mengaku masih mengkaji potensi tambahan subsidi dan kompensasi untuk menahan harga BBM hingga Juni 2024.“Masih kami kaji, paralel melihat fl uktuasi harga minyak mentah, MOPS [Mean of Platts Singapore], dan nilai tukar mata uang,” kata Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga Irto Ginting saat dihubungi.
Pertamina dan BPH Migas pun berkali-kali meminta pemerintah untuk mengeluarkan aturan tegas mengenai siapa saja yang berhak menggunakan BBM bersubsidi maupun BBM khusus penugasan, yakni Pertalite.Dengan begitu, Pertamina dan BPH Migas bisa lebih mudah dalam memastikan penyaluran subsidi yang bertujuan untuk menjaga daya beli masyarakat tepat sasaran di lapangan.Adapun, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifi n Tasrif membeberkan bahwa pemerintah terus berupaya meningkatkan produksi minyak di dalam negeri dengan pemanfaatan teknologi baru, serta menemukan cadangan baru.
Arifin berkata, di Blok Rokan juga saat ini sedang dilakukan pengujian agar mendapatkan minyak dari sumber-sumber lapisan yang paling dalam.
Laba dan Pendapatan ADRO Tertekan
Lonjakan Harga Beras Memukul Petani
Kendati berstatus sebagai produsen, sebagian petani padi
kesulitan menjangkau beras yang harganya melonjak tinggi belakangan ini.
Sebagian di antara mereka mesti berebut beras murah dalam operasi pasar serta
menjadi sasaran program bantuan pangan dari pemerintah. BPS mencatat, harga
rata-rata beras nasional di tingkat pedagang grosir mencapai Rp 14.397 per kg
pada Februari 2024, tertinggi sejak periode pencatatan Januari 2013. Sementara
pada Jumat (1/3) harga rata-rata nasional beras medium menurut Pusat Informasi
Harga Pangan Strategis mencapai Rp 15.950 per kg, jauh di atas harga eceran
tertinggi beras medium yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp 10.900 per kg
hingga Rp 11.800 per kg sesuai zonasi. Situasi itu amat tidak menguntungkan
masyarakat kelas menengah bawah. Mereka menanggung dampak lebih besar
dibandingkan kelompok menengah atas akibat kenaikan harga beras tersebut.
Di antara mereka yang menanggung dampak terbesar itu adalah
petani, buruh tani padi dan pekerja sektor pertanian. Ini karena mayoritas dari
mereka adalah konsumen bersih (nett consumer) beras. Dengan pengeluaran yang
sebagian besar untuk pangan, kenaikan harga beras makin menyulitkan mereka. Untuk
mendapatkan beras dengan harga lebih terjangkau, mereka turut mengincar operasi
pasar beras bersama warga lainnya. Ini membuat beras yang disediakan pemerintah
lewat Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) habis dalam hitungan jam,
seperti terlihat di Pasar Larangan, Sidoarjo, Jatim, Minggu (3/3). Di pasar itu
ada dua agen yang ditunjuk menjual beras SPHP. ”Sekitar pukul 09.30, stok untuk
masyarakat umum sudah terjual habis di dua agen,” kata Koordinator Pasar
Tradisional Wilayah Sidoarjo Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sidoarjo Askud
Hari. Di Pasar Larangan setiap agen dijatah menjual 2.000 kg beras setiap hari
dengan harga Rp 10.900 per kg untuk beras kualitas medium.
Sebagian petani bertahan dengan stok beras sisa panen. Namun,
Ma’ani (40), petani di Desa Jagapura Wetan, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon,
Jabar, mulai khawatir tak mampu membeli beras saat stok beras sisa panennya
habis. Pada akhir tahun lalu ia menjual hampir seluruh hasil panennya yang
mencapai 7 ton gabah kering giling (GKG). Ma’ani dan petani di desanya biasanya
sudah bisa menanam padi pada Januari. Namun, hingga akhir Februari 2024, ia
belum bisa menanam disebabkan faktor pengairan karena hujan masih jarang turun.
Nasib serupa dialami sebagian petani di Kabupaten Malang, Jatim. Mundurnya masa
tanam akibat fenomena El Nino tahun lalu berpengaruh terhadap masa panen padi.
Hingga akhir Februari 2024 baru sebagian kecil petani yang panen. Mayoritas
sawah masih menghijau, bahkan ada yang baru ditanami, diolah, atau bera, seperti
di wilayah Kecamatan Singosari, Pakis, Pakisaji, Kepanjen, dan Pagelaran. (Yoga)
Ironi Negeri Agraris, Petani Padi Mengantre Beras Murah
Di bawah terik mentari, puluhan warga termasuk mereka yang
sehari-harinya bertani menanti giliran membeli beras medium dalam operasi pasar
murah di Balai Desa Lurah, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jabar, Senin (26/2).
Beras medium seharga Rp 52.000 per kemasan 5 kg yang dijual jauh lebih murah
ketimbang harga beras di pasaran dengan jumlah dan kualitas sama dengan harga Rp
75.000. ”Harga beras (di pasaran) sekarang Rp 15.000-Rp 16.000 per kg. Di sini
murah, Rp 10.400 per kg,” kata Rumsi yang datang bersama suaminya. Ia berniat
membeli dua karung beras, sesuai batas maksimal pembelian dalam operasi pasar
murah. Sayangnya, keinginannya belum terwujud. Beras di truk terus menipis,
sedangkan antrean masih panjang. Petugas membatasi pembelian hanya satu karung
per orang. Setidaknya ibu satu anak ini masih berharap membawa pulang satu
karung berisi 5 kg. Namun, ketika mendekati meja pembayaran, Rumsi yang berkeringat
karena kepanasan lagi-lagi kecewa. ”Berasnya habis, Ibu-ibu. Ada juga satu
karung, tapi kemasannya sobek,” kata seorang petugas yang meminta warga membubarkan
barisan.
Sebenarnya ia tidak perlu antre demi membeli beras murah jika
masih menanam padi. ”Pari (padinya) enggak ada. Cuma (tanam) singkong karo
(dengan) kacang panjang dan kangkung. Sudah lama enggak ada padi,” kata Rumsi yang
bertahun-tahun tak lagi memproduksi padi. Lahan keluarganya yang seluas 140
meter persegi itu tidak ditanami padi karena beragam masalah. ”Angel banyue (susah
airnya). Kudu didiesel (harus pakai pompa). Pupuk juga belinya Rp 10.000 per
kg. Kalau (beli) kuintalan, susah,” tutur istri dari penjual papeda keliling
ini. Kuwu (Kepala Desa) Lurah Urip mengakui, daerahnya bukan lagi sentra padi.
Sejak tahun 1990-an, pabrik rotan dan perumahan menjamur di desanya. Sawah
bengkok milik desa yang luasnya 8,5 bahu (5,9 hektar) saja berada di Kaliwedi,
kecamatan tetangga. Itu sebabnya, saat harga beras naik, warganya terdampak.
”Ada juga petani antre (beras),” ujarnya. (Yoga)
BOSP untuk Makan Siang Gratis Ditolak
Wacana penggunaan dana bantuan operasional satuan pendidikan atau
BOSP untuk merealisasikan program makan siang gratis gagasan pasangan calon
presiden dan cawapres Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka menuai penolakan
dari guru. Mereka khawatir dana BOSP yang difokuskan untuk program makan siang
gratis akan memengaruhi gaji guru dan tenaga kependidikan. Wacana penggunaan
dana BOSP untuk membiayai program makansiang gratis tersebut pertama kali
dilontarkan Menko Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Dewan Pengarah Tim
Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Airlangga Hartarto, saat simulasi
program makan siang gratis di SMP Negeri 2 Curug, Tangerang, Banten, beberapa
hari lalu. Kepala Bidang Advokasi Guru Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G)
Iman Zanatul Haeri menjelaskan, 50 % lebih dana BOSP dari pemerintah pusat
selama ini digunakan untuk membayar guru dan tenaga kependidikan.
Jika program makan siang gratis mengambil dana itu, sengkarut
masalah kesejahteraan guru makin sulit terselesaikan. ”Ini sama saja dengan memberi
makan gratis siswa dengan cara mengambil jatah makan para gurunya,” kata Iman, Minggu
(3/3). P2G mendesak pemerintah selanjutnya untuk mematangkan program makan
siang gratis tanpa mengutak-atik anggaran pendidikan, termasuk dana BOSP.
Terlebih lagi, sebelum ada wacana program makan siang gratis saja, dana BOSP tahun
lalu sudah pernah dipotong. Iman mencontohkan, setiap siswa SD berhak atas dana
BOSP sebesar Rp 900.000 per tahun atau hanya Rp 2.830 per siswa per hari. Nilai
ini dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan siswa yang semakin besar. ”Artinya,
untuk sepiring nasi anak sekolah seharga Rp 15.000 saja pemerintah belum bisa
memenuhinya. Jadi, tidak bisa diambil dari anggaran BOSP yang sudah jelas-jelas
kurang,” tutur Iman. (Yoga)
Beras yang Tak Beres
Pascareformasi, perhatian terhadap pertanian padi sangat
lemah. Banyak infrastruktur rusak dan rantai pasok tak jelas. Membereskan beras
makin tak mudah. Laporan terbaru menyebut, total potensi produksi beras nasional
pada Maret dan April 2024 mencapai 8,46 juta ton, lebih rendah dibandingkan periode
yang sama tahun lalu. Kendati begitu, Bapanas optimistis jumlah produksi itu
akan menurunkan harga beras. BPS, Jumat (1/3) merilis, potensi produksi beras
Maret dan April 2024 masing-masing 3,54 juta ton dan 4,92 juta ton. Perkiraan
produksi ini dilakukan berdasarkan penghitungan kerangka sampel area pada panenan
Desember 2023 dan Januari 2024 (Kompas, 2/3/2024).
Jika hanya melihat angkanya, laporan tersebut tidak banyak
bermakna selain memberi tahu publik bahwa ada produksi beras sebanyak
angka-angka yang tertera. Harapannya, harga turun ketika pasokan sebanyak itu masuk
ke pasar. Tapi, sesungguhnya angka-angka itu membuat kita perlu bertanya lebih
lanjut soal apa sebenarnya yang tengah terjadi dengan pertanian padi di Tanah
Air. Angka produksi Maret-April tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu
memberikan peringatan bahwa pasokan 2024 bermasalah. Gangguan cuaca membuat
produksi turun, tapi pertanian padi sesungguhnya dalam masalah pelik. Kita bisa
melihat di berbagai tempat sedang terjadi peralihan fungsi lahan. Pemda mudah memberikan
izin penggunaan lahan untuk kegiatan nonpertanian.
Kota-kota di Jabar tengah berubah. Bekasi telah menjadi kota
metropolitan padahal sekian tahun lalu masih menjadi penghasil beras. Karawang yang
disebut sebagai lumbung beras kini mulai menjadi metropolitan. Di Subang, buruh
tani makin sulit didapat karena mereka telah meninggalkan pertanian. Masalah
lebih kompleks muncul pada sarana dan prasarana produksi pertanian, irigasi, penyuluh,
penanganan pascapanen, perdagangan padi, hingga perdagangan beras di hilir.
Semua memperlihatkan, kita makin kurang memperhatikan pertanian padi.
Pendidikan bidang pertanian kurang diminati anak-anak muda. Kita perlu kembali
berpaling ke pertanian padi. Petani perlu mandiri dengan membangun organisasi
tani yang kuat. Tanpa organisasi tani yang kuat, pertanian padi lemah sehingga
sendi negeri ini keropos karena tak mandiri pangan. (Yoga)
Keterampilan Sosial Dorong Pertumbuhan Karier
Keterampilan sosial atau softskill yang dimiliki pekerja
semakin menjadi kebutuhan sentral di tempat kerja. Perusahaan menyadari tugas
yang memerlukan keterampilan sosial manusia tidak dapat digeser dengan teknologi
kecerdasan buatan. Berdasarkan survei oleh LinkedIn dan perusahaan konsultan
riset pasar Censuswide pada 4.323 manajer perekrutan di 18 negara, antara lain,
di Eropa, AS, China, India, dan Indonesia, diidentifikasi sepuluh keterampilan sosial
yang paling dibutuhkan pada 2024. Keterampilan komunikasi menempati urutan
pertama, diikuti oleh keterampilan melayani pelanggan, kepemimpinan, manajemen
proyek, manajemen, analisis, bekerja dalam tim, penjualan (sales), keterampilan
memecahkan masalah, dan keterampilan riset. Survei LinkedIn dan Cencuswide itu
dilakukan 15 Desember 2023 sampai 4 Januari 2024.
Survei juga menemukan bahwa keterampilan sosial akan semakin
menjadi sumber pertumbuhan karier individu. Vice President LinkedIn Aneesh
Raman, dalam blog perusahaan, Minggu (3/3) mengatakan, kolaborasi antarpekerja
juga semakin menjadi pusat pertumbuhan perusahaan, karena itu, sudah saatnya
para pemimpin perusahaan mulai berkomunikasi secara jelas dan penuh empati
kepada anggota tim. Setahun terakhir muncul banyak prediksi yang mengatakan, kecerdasan
buatan akan mengubah pekerjaan. LinkedIn menyoroti, sejalan dengan fenomena
itu, keterampilan sosial berupa kemampuan beradaptasi termasuk keterampilan sosial
permintaannya melonjak.
”Pasar tenaga kerja diisi oleh narasi-narasi kemajuan teknologi
kecerdasan buatan untuk bisnis. Kami menyaksikan, keterampilan sosial yang
dipadukan dengan kemampuan belajar keterampilan teknik (hard-skills) menjadi
semakin penting,” ujar Country Lead LinkedIn Indonesia Rohit Kalsy. Menurut
Rohit, dalam riset LinkedIn dan Cencuswide yang terpisah, keduanya menemukan
bahwa 97 % dari 254 manajer perekrutan di Indonesia yang disurvei pada 15 Desember
2023-4 Januari 2024 memprioritaskan keterampilan sosial itu pada calon
karyawan. Karyawan yang sudah lama bekerja dalam perusahaan juga diharapkan
memiliki keterampilan sosial dan keinginan mempelajari keterampilan teknis
baru, terutama keterampilan teknis yang berhubungan dengan kecerdasan buatan. (Yoga)
Berhemat ala Kelas Menengah
Di tengah situasi ekonomi yang masih diselimuti
ketidakpastian dan kenaikan harga sejumlah kebutuhan sehari-hari, kelas
menengah bersiasat untuk bertahan dengan berhemat. Ada sejumlah tips dan trik yang
mereka lakukan untuk berhemat. Novia (33) di Lombok, NTB, berkata “Situasi
ekonomi belakangan ini membuat saya harus memiliki sedikitnya dua pekerjaan.
Pertama sebagai penjual kerajinan rotan, kedua sebagai tutor bahasa Inggris.
Saya bahkan pernah memiliki tiga pekerjaan. Memang tidak mudah, tetapi saya harus
mampu beradaptasi dan mau melakukan hal-hal yang bahkan ada di luar zona nyaman”.
A Wisnu Triyogo (31) Karyawan swasta, di Jakarta, mengatakan “Untuk menghemat,
saya sebisa mungkin makan di rumah dan membawa bekal. Jika lapar lagi, saya lebih
memilih makan di warteg, bukan di mal. Saat harus memesan makanan daring, saya
jadi hitung-hitungan lebih detail saat mau memakai promo yang tersedia. Untuk
keperluan gaya hidup lain pun, seringnya memantau dulu ada promo atau diskon
atau tidak. Yang penting, prinsipnya, lihat dan hitung dulu”.
Saya berhemat dimulai dari hal-hal sederhana. Dalam konteks
bekerja ke kantor, saya selalu membawa bekal sendiri. Ini sekaligus bisa menjaga
asupan makanan sehat dan higienis. Selain berhemat, ya, lebih sehat, juga
makanannya suka sesuai selera saya. Bawa minum sendiri pakai tumbler. Dengan
membawa bekal sendiri, saya bisa menghemat Rp 300.000 hingga Rp 400.000 per
bulan,” ujar Monavia Ayu Rizaty (28) Jurnalis data di salah satu media Jakarta.
Ivany Atina (30) di Jakarta mengatakan ”Inflasi harga bahan kebutuhan pokok
yang semakin awur-awuran, ditambah adanya pos pengeluaran rutin baru, seperti
biaya sekolah dan biaya les anak, memaksa saya untuk mengencangkan ikat
pinggang dengan mengurangi pengeluaran. Beberapa tahun lalu, dalam sepekan
sekali, saya dan keluarga rutin melakukan leisure activity, dengan makan di
restoran atau staycation di hotel yang bagus. Sekarang, aktivitas leisure belum
tentu sebulan sekali. Saya juga selalu mencatat pengeluaran harian dan
membaginya ke dalam beberapa pos anggaran agar semakin mawas dengan kondisi
keuangan pribadi. (Yoga)
Mereka yang Tetap Tertinggal
Lonjakan harga beras belum sepenuhnya menguntungkan petani. Alih-alih
menikmati cuan, mereka malah terancam kehabisan beras. Cadangan gabah petani
mulai menipis, sedangkan masa panen masih berbulan- bulan lagi. Bahkan, sebagian
petani harus mengantre beras murah. Rumsi (47) melangkahkan kakinya pelan saat
antrean panjang mulai bergerak di halaman Balai Desa Lurah, Kecamatan Plumbon, Cirebon,
Jabar, Senin (26/2). Di bawah terik mentari, puluhan warga menanti giliran
membeli beras medium dalam operasi pasar murah. Kegiatan yang digelar Pemkab
Cirebon dan Perum Bulog Kantor Cabang Cirebon itu menjajakan beras medium
seharga Rp 52.000 per kemasan 5 kg, jauh lebih murah ketimbang harga beras di
pasaran dengan jumlah dan kualitas sama yang lebih dari Rp 75.000. ”Harga beras
(di pasaran) sekarang Rp 15.000-Rp 16.000 per kg. Kalau di sini murah, Rp
10.400 per kg,” kata Rumsi.
Merujuk data BPS, harga beras di tingkat perdagangan besar
pada Februari 2024 rata-rata Rp 14.397 per kilogram, naik 5,95 % dari bulan sebelumnya.
Pada kurun yang sama, NTP tanaman pangan juga meningkat, tetapi lebih kecil, yakni
3,56 %. Saat harga beras naik, tak lantas diikuti naiknya NTP. NTP tanaman
pangan pun relatif lebih rendah dari subsektor pertanian lain, sebut saja
hortikultura dan perkebunan. Kondisi ini makin menambah sesak hidup para petani
yang selama ini tidak berdaya. Di antara semua lapangan pekerjaan, mereka yang
mengabdi di dunia pertanian selalu pada posisi tertinggal. BPS mencatat,
rata-rata pendapatan bersih mereka yang memiliki usaha pertanian adalah Rp 1,59
juta per bulan pada Agustus 2023. Sementara itu, penghasilan sektor industri dan
jasa sebesar Rp 1,79 juta dan Rp 2,25 juta per bulan. Upah para pekerja pertanian
pada periode yang sama tercatat Rp 2,37 juta per bulan. Terendah kedua setelah sektor
jasa lainnya, dan di bawah rata-rata nasional yang mencapai Rp 3,18 juta per
bulan.
Secara harian, nominal upah buruh tani tercatat terus meningkat.
Sayangnya, upah riil yang diterima, yang sudah disesuaikan tingkat konsumsi
petani, justru kian turun dari waktu ke waktu. Hal ini menjadi ironi lantaran
para petani sejatinya bagian dari penyumbang terbesar perekonomian nasional.
Dari Rp 11.763 triliun PDB pada 2023, sekitar 12,4 % dari sektor pertanian.
Seperlima bagian disumbang subsektor tanaman pangan yang memproduksi padi.
Tampak para petani berperan besar terhadap perekonomian makro. Naasnya, posisi
mereka justru tidak diuntungkan. Malah sebaliknya, terjebak dalam kemiskinan.
Data BPS menunjukkan, 48,86 % penduduk miskin pada Maret 2023 merupakan rumah
tangga yang bekerja di sektor pertanian. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









