Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10118 )Kreator Konten Jebol Sistem Isi Ulang Kartu KRL
Seorang kreator konten, Ahmad Addril Hidayah (22), menjebol
sistem isi ulang saldo kartu multitrip atau KMT KAI Commuter. Bermodal telepon
seluler dan belajar dari Youtube, Ahmad menggandakan saldo KMT KAI Commuter Rp
12,4 juta. Dalam aksinya, Ahmad mengisi saldo isi ulang kartu menggunakan
aplikasi C Access dan aplikasi Http Canary melalui metode pembayaran dengan aplikasi
ojek daring. Dari aplikasi ojek daring, ia mengubah sistem C Access sehingga
pembayaran tagihan administrasi hanya Rp 1 setiap kali isi ulang. Ahmad meraup
saldo isi ulang Rp 12,4 juta. Ia sudah beraksi 25 kali dengan total pembayaran Rp
5. Aksi Ahmad terbongkar setelah polisi mendapat laporan dari PT KAI Commuter
Indonesia yang mencurigai saldo seorang pengguna KRL tak sesuai dengan data di
sistem perusahaan.
”Barang bukti yang diamankan satu buah handphone beserta 10
kartu KAI Access yang digunakan pelaku. Tersangka menjebol sistem pembayaran pada
26-28 Februari 2024 di Stasiun Depok Baru. Pelaku beraksi sendiri,” kata
Kapolres Metro Depok Kombes Arya Perdana, Rabu (6/3). ”Perlu kerja sama dalam
menyelesaikan masalah ini demi melindungi keamanan dan privasi datamasyarakat
serta menjaga kepercayaan dalam penggunaan teknologi digital di Indonesia,”
kata Arya. Akibat perbuatannya, pelaku dijerat dengan Pasal 33 juncto Pasal 49
atau Pasal 30 juncto Pasal 46 UU No 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas UU No
11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Pelaku terancam
hukuman 6 tahun hingga maksimal 10 tahun penjara. (Yoga)
KONFLIK REMPANG, Suara Warga Terkubur Proyek Nasional
Sejumlah warga berjalan menuju rumah panggung di tepi laut
Kampung Tanjung Banun, Pulau Rempang, Batam, Kepri, Selasa (5/3). Beberapa di
antara mereka menggenggam amplop berwarna coklat. ”Coba kau lihat baik-baik. Tinggal
15 orang yang masih bertahan,” kata Erlangga Sinaga (42), salah satu di antaranya,
sambil mengeluarkan isi amplop berupa surat peringatan (SP) 2 dari Badan
Pengusahaan (BP) Batam kepada 15 warga Tanjung Banun. Warga diminta segera
meninggalkan kebun dan rumahnya. Pada 29 Februari 2024 ada 32 warga Tanjung
Banun yang mendapat SP 1. Sebanyak 17 warga di antaranya telah menyetujui ganti
rugi yang ditawarkan pemerintah. BP Batam meminta lahan di Tanjung Banun segera
dikosongkan karena pembangunan 961 rumah relokasi harus dimulai. Warga di lima kampung
lain yang terdampak tahap I Proyek Strategis Nasional (PSN) Rempang Eco City bakal
dipindahkan ke lokasi tersebut.
Erlangga menuturkan, ganti rugi tanah yang ditawarkan BP Batam
sebesar Rp 14.000 per meter persegi. Selain itu, tanaman warga di kebun juga diganti
dengan besaran Rp 6.000 hingga Rp 20.000 per batang. Tanah Erlangga seluas 8.737,74
meter persegi dengan pohon kelapa berjumlah 200 batang, akan mendapat ganti rugi Rp 126 juta. ”Tak
silau aku dengan uang segitu. Kebunku bisa menghasilkan lebih banyak dari itu,”
ujar Erlangga. Ia mengatakan tak pernah berniat menjual kebun miliknya itu.
Pohon kelapa di kebun adalah tabungan masa depan bagi Erlangga dan keluarganya.
Warga lainnya, Rusmawati (51), mengatakan memiliki rumah yang berdiri di lahan seluas
503,74 meter persegi. Oleh pemerintah, bangunannya akan diganti Rp 42 juta dan
lahan diganti Rp 7 juta. ”Dengan uang Rp 49 juta, mau cari rumah di mana?,”
katanya. Tanah itu dibelinya pada akhir tahun 2015 dengan harga Rp 90.000 per
meter persegi. Adapun untuk membangun rumah, Rusmawati menghabiskan dana Rp 280
juta.
Warga Pasir Panjang, Ishak (57) pada Senin (4/3). mengatakan,
orang-orang di kampungnya akan tetap bertahan di rumah masing-masing sampai
kapan pun. Mereka tidak mau menerima ganti rugi dan tawaran relokasi ke Tanjung
Banun. Direktur YLBHI-LBH Pekanbaru Andri Alatas menyatakan, tindakan
pemerintah melayangkan surat peringatan kepada warga yang sedang mempertahankan
ruang hidupnya adalah bentuk kesewenang-wenangan. ”Ini menunjukkan pemerintah
tidak belajar dari kesalahan mereka sebelumnya. Nyatanya, sampai kini,
pemerintah masih saja mengabaikan suara warga dan tetap menggunakan kekuatan
berlebihan untuk menggesa PSN Rempang Eco City,” kata Andri. (Yoga)
Ekonomi Kreatif Akan Difasilitasi
Masa depan ekonomi Indonesia terletak, antara lain, pada
ekonomi kreatif. Modal dasar dan potensinya besar, juga tantangan-tantangannya.
Kolaborasi semua pemangku kepentingan guna memperkuat ekosistem menjadi
prasyaratnya. Menparekraf Sandiaga Uno mengatakan, potensi perkembangan ekonomi
kreatif (ekraf) di Indonesia begitu besar. Kreativitas dan inovasi menjadi
modal utama para pelaku ekraf dalam negeri. ”Orang Indonesia itu (sebagai)
pelaku ekraf dikenal dunia dengan kemampuan berkreasi dan inovasi. Jadi, itu
sudah menjadi core Indonesia. Ini yang harus jadi keunggulan yang kita lebih
pertimbangkan di masa depan,” ujarnya dalam wawancara eksklusif bersama Kompas,
Rabu (6/3) di Jakarta. Ia mengatakan, industri manufaktur dan hilirisasi
tambang memang penting.
Namun, hilirisasi sektor ekraf pun perlu dilakukan. Sebab,
efek pengganda dari produksi barang dan jasa ekraf dapat berkontribusi pada
neraca ekraf untuk mendongkrak perekonomian nasional. Meski demikian, ia mengakui masih ada
hambatan-hambatan yang dihadapi para pelaku ekraf di lapangan, diantaranya isu
pembiayaan dan perubahan teknologi yang dinamis. Oleh sebab itu, pemerintah harus
mendampingi, bukannya meninggalkan. ”Ekosistem harus kuat dan berkelanjutan,” katanya.
Salah satu caranya, menurut Sandiaga, investasi penuh pada SDM. Kolaborasi
lintas sektor dan kebijakan publik yang mendukung juga mutlak dilakukan. Selain
itu, pemerintah berkomitmen mendukung dari sisi pembiayaan.
Skemanya, antara lain, public private partnership atau kemitraan
pemerintah dan swasta. Sumber dananya berasal dari dana pariwisata Indonesia
(Indonesia Tourism Fund). Ada pula skema lain, termasuk untuk UMKM, yang tertuang
dalam PP No 24 Tahun 2022 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No 24 Tahun 2019
tentang Ekonomi Kreatif. Kebijakan ini mengatur mengenai pembiayaan, pemasaran
produk berbasis kekayaan intelektual, infrastruktur, dan insentif untuk pelaku
ekraf. PP ini juga mengamanatkan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat dalam
pengembangan ekraf dengan memfasilitasinya agar ekosistem ekraf dapat berjalan
dengan baik. (Yoga)
Ramai-ramai Buka Kedai Kopi, dari Pegadaian hingga Bank
Seiring maraknya bisnis kedai kopi, muncul fenomena
perusahaan nonmakanan-minuman ikut terjun ke bisnis kedai kopi.
Perusahaan-perusahaan ini memilih kedai kopi sebagai sarana mengenalkan
berbagai produk bisnis utama mereka kepada publik dan memunculkan brand
awareness di kalangan konsumen. Kira-kira kredonya begini: sambil ngopi, kita
bicara bisnis. Selasa (5/3) Rudianto (35) bersama dua rekannya sedang menikmati
secangkir kopi espresso di The Gade Coffee & Gold by Pegadaian di Gedung
Sarinah, Jakarta. Saat menyeruput kopi, Rudianto melihat secarik kertas di meja
yang bertuliskan promosi produk layanan menabung dan jual beli emas secara
daring dari PT Pegadaian yang bisa diakses via pindai kode QR. Barulah saat itu
karyawan swasta di Jalan MH Thamrin ini menyadari bahwa kedai kopi tersebut
milik PT Pegadaian.”Dulu, kalau dengar Pegadaian, yang teringat ya solusi pendanaan
dan jual beli emas. Ternyata sekarang ada kedai kopinya,” ujar Rudianto.
Kepala Departemen Layanan Prioritas & The Gade Taufan El
Savir menjelaskan, ide dasar dari pendirian The Gade Coffee & Gold by Pegadaian
adalah menyasar segmen anak muda dan masyarakat umum. Kedai kopi menjadi tempat
untuk diskusi bisnis ataupun jadi sekadar tempat nongkrong. Tak hanya
menawarkan kopi dan berbagai kudapan, kedai kopi juga menjadi sarana PT
Pegadaian untuk mengomunikasikan produk layanannya. Salah satunya adalah
layanan jual beli emas. Harapannya, kedai kopi dapat menjadi sarana pemasaran untuk
mengerek penjualan produk dan meningkatkan wawasan masyarakat tentang produk PT
Pegadaian.
Memanfaatkan bisnis kedai kopi untuk mengomunikasikan produk
keuangan juga dilakukan bank OCBC. Mereka berkolaborasi dengan beberapa
produsen kopi kemasan untuk membuat sejumlah kedai kopi bernama Nyala. Sembari
berjualan kopi, mereka pun mengenalkan berbagai layanan produk perbankan sambal
mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan keuangan. Di Stasiun
Palmerah dan Stasiun Sudirman, Jakarta, OCBC berkolaborasi dengan Janji Jiwa
membuat toko kopi bernama Nyala Cuan & Coffee x Janji Jiwa.
OCBC juga berkolaborasi dengan First Crack Coffee dengan nama
Nyala Coffee by First Crack yang berlokasi di Mall Ciputra Surabaya dan di Cove
at Batavia, PIK, Jakarta. Ini merupakan kantor cabang OCBC dengan konsep terbaru,
yakni OCBC Financial Fitness Gym (FFG). Jadi, sembari menikmati kopi, konsumen
juga bisa mengecek kondisi keuangannya. Di lokasi-lokasi tersebut, OCBC juga
menawarkan promo spesial saat bertransaksi dengan layanan perbankan OCBC.
Masyarakat juga bisa membuka aplikasi layanan perbankan Nyala dari OCBC di
gerai kopi tersebut. Adapun aplikasi layanan perbankan ini memudahkan untuk
menabung, berinvestasi, membuka deposito, hingga Tarik dan setor uang di ATM. (Yoga)
JKN, Lima Juta Peserta Nonaktif Direaktivasi
Jumlah peserta program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) nonaktif
mencapai lebih dari 53 juta orang. Berbagai inovasi perlu dilakukan untuk
mendorong mereka aktif kembali. BPJS Kesehatan menargetkan mengaktifkan kembali
status kepesertaan 5 juta peserta nonaktif. Selain untuk meningkatkan penerimaan
iuran, status aktif juga penting untuk memastikan setiap peserta mendapat perlindungan
jaminan kesehatan. ”Tahun ini kita menargetkan kepesertaan JKN 98 % (dari total
penduduk). Penting untuk kita mendorong peserta aktif. Kita targetkan 5 juta
(peserta nonaktif) aktif kembali,” tutur Dirut BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti
dalam 17th International Conference on Information and Communication Technology
(ICT) in Social Security 2024, Rabu (6/3) di Nusa Dua, Bali.
Konferensi ICT merupakan pertemuan global tiga tahunan Asosiasi
Lembaga Jaminan Sosial Internasional (ISSA). Pada tahun 2024, konferensi itu diadakan
di Bali dengan tema ”Data-Driven Transformation for a Smart, Resilient, and Inclusive
Social Security”. Ghufron mengatakan, berbagai pendekatan telah dilakukan untuk
mendorong keaktifan status peserta JKN. Salah satunya melalui inovasi Pesiar,
yakni program Petakan, Sisir, Advokasi, dan Registrasi. Lewat program ini, BPJS
Kesehatan bekerja sama dengan perangkat daerah untuk menyisir warga yang belum
menjadi peserta JKN ataupun peserta yang status keanggotaannya tidak aktif. Jika
ditemukan ada warga yang belum terdaftar atau status kepesertaannya tidak
aktif, perangkat daerah bisa melaporkan atau membantu mendorong individu
tersebut untuk memproses kepesertaannya. (Yoga)
Perguruan Tinggi dan Lanskap Baru Pasar Tenaga Kerja
Tahun lalu, World Economic Forum mengeluarkan laporan yang menunjukkan,
telah terjadi transformasi dalam pasar tenaga kerja. Salah satu cirinya adalah
perubahan jenis keterampilan yang dibutuhkan. Dalam tiga tahun mendatang, jenis
keterampilan yang paling dibutuhkan pasar tenaga kerja adalah kemampuan berpikir
analitis dan kreatif. Keduanya adalah jenis keterampilan kognitif yang sangat diperlukan
untuk merespons tantangan baru di dunia kerja. Keterampilan-keterampilan teknis
yang repetitif tak lagi banyak dibutuhkan sebagaimana beberapa dekade yang lalu
saat banyak pekerjaan masih bertumpu pada tenaga kasar manusia.
Saat banyak kerja teknis dan repetitif mulai dialihkan pada
mesin yang berbasis kecerdasan buatan, maka pasar tenaga kerja tidak akan lagi
banyak membutuhkan keterampilan teknis. Markow dkk. dalam ”The New Foundational
Skills of the Digital Economy,” menyebut, ada tiga jenis keterampilan baru yang
dibutuhkan dalam ekosistem ekonomi digital saat ini, yaitu keterampilan manusiawi
(human skill), keterampilan digital, dan
keterampilan pendukung bisnis. Keterampilan manusiawi ini mencakup kemampuan
analitis, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas.
Disini perguruan tinggi, sebagai salah satu lembaga pendidikan penyuplai tenaga
kerja usia produktif harus merespons perubahan ini.
Berdasarkan data statistik tahun 2023, angkatan kerja yang merupakan
lulusan perguruan tinggi sekitar 10 % atau 15 juta orang, maka perguruan tinggi
perlu menyeimbangkan misi pendidikan dan misi penyiapan tenaga kerja agar bisa
mempersenjatai para calon buruh dengan kritisisme sehingga mereka
terberdayakan. Kini, muncul tantangan baru untuk perguruan tinggi, yang datang
dari lanskap pasar tenaga kerja itu sendiri. Sejumlah keterampilan yang diajarkan di
perguruan tinggi tidak akan lagi dibutuhkan dalam tren pasar tenaga kerja
beberapa tahun mendatang. Karena itu, perguruan tinggi bisa melakukan misi
penyiapan kerja dengan sekaligus mempersenjatai para calon buruh, dimana
keterampilan utama yang dibutuhkan pasar tenaga kerja saat ini adalah
keterampilan berpikir kritis dan analitis.
Keterampilan itulah yang perlu diajarkan oleh perguruan
tinggi agar lulusan mereka nantinya punya senjata untuk memberdayakan diri
mereka sendiri di hadapan para pemberi kerja yang punya kecenderungan
eksploitatif. Keterampilan berpikir kritis dan analitis adalah bagian dari
pembelajaran mata kuliah filsafat. Oleh karena itu, dengan mengajarkan filsafat
pada semua mahasiswa, apa pun jurusannya, perguruan tinggi telah melakukan dua
hal sekaligus. Pertama, memberikan pendidikan kritis bagi mahasiswa. Kedua,
memberikan solusi komprehensif bagi tantangan pasar tenaga kerja. Mahasiswa
dilatih keterampilan berpikir kritis, analitis, dan kreatif sesuai yang dibutuhkan
pasar tenaga kerja dan juga pada saat yang sama dipersenjatai agar ketika
bekerja bisa menjadi buruh yang berdaya. (Yoga)
Sistem Lelang Elektronik Diakali
Korupsi di bidang pengadaan barang dan jasa dicegah melalui
berbagai cara. Salah satunya dengan lelang berbasis sistem elektronik atau
e-procurement. Namun, sistem itu juga diakali. KPK dalam kurun waktu 2004-2022
menangani 1.351 kasus korupsi dengan 277 kasus di antaranya terkait dengan pengadaan
barang dan jasa. Perkara yang ditangani KPK sebagian besar kasus gratifikasi dan
suap, tetapi erat kaitannya dengan pengadaan barang dan jasa. ”Jadi, kontraktor
ingin mendapatkan proyek dengan cara menyuap atau membeli proyek dengan
memberikan gratifikasi dan seterusnya,” kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata saat
berpidato pada Rakornas Pencegahan Korupsi dalam Pengadaan Barang dan Jasa yang
diselenggarakan Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK) di Jakarta,
Rabu (6/3).
Menurut Alexander, belanja pemerintah terkait pengadaan barang
dan jasa sangat besar. Berdasarkan temuan KPK dan aparat penegak hukum lain, permintaan
fee proyek berkisar 5 sampai 15 % adalah sesuatu yang lazim. Mereka sudah
mengatur saat memasukkan dokumen lelang. Bahkan, dokumen lelang tersebut
diunggah melalui satu komputer. Para pelaku juga bekerja sama dengan unit
layanan pengadaan untuk membatasi akses vendor lain sehingga sulit memasukkan
dokumen lelang. Pemerintah lantas mendorong pengadaan barang dan jasa melalui
katalog elektronik (e-katalog). Melalui sistem ini, pemerintah berupaya mempercepat
pengadaan barang dan jasa serta memudahkan pengawasan. Selain itu, para vendor lebih
mudah melakukan transaksi proyek pemerintah. Namun, menurut Alexander, sistem
ini pun bisa diakali.
Contohnya kasus korupsi di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau,
pada 2023. Korupsi terkait perjalanan umrah tersebut menggunakan e-katalog
mulai dari perencanaan. Namun, proses pengunggahan penawaran harga serta
eksekusi pengadaan barang dan jasa dilakukan dengan sangat cepat. ”Kami
mendapat laporan dari beberapa daerah, proses e-katalog itu diakali dengan cara
antara penyedia barang dan jasa dengan pihak yang membutuhkan itu sepakat
dulu,” kata Alexander. Ia pun mendorong apparat pengawasan intern pemerintah (APIP)
memahami modus yang terjadi dalam pengadaan barang dan jasa serta mengawasinya melalui
e-katalog. Ia memahami APIP tahu ada persekongkolan serta kesepakatan yang tidak
baik dalam proses pengadaan barang dan jasa. Namun, APIP sungkan ketika
berhadapan dengan pimpinan tertinggi. Karena itu, Alexander mengimbau APIP agar
melaporkan ke aparat penegak hukum ketika mengetahui ada peristiwa tersebut. (Yoga)
Banyak Orang Muda Enggan Menikah
Angka pernikahan di Indonesia mengalami tren penurunan.
Berdasarkan data BPS, angka pernikahan di Indonesia turun signifikan sejak tahun
2018 sampai 2023. Pada 2018, tercatat 2,01 juta pasangan menikah, turun menjadi
1,96 juta pasangan pada 2019 dan kembali turun pada 2020, yakni 1,78 juta
pasangan, disusul tahun 2021 dengan 1,74 juta pernikahan dan 2022 di 1,70 juta
pasangan. Angka pernikahan di Indonesia kembali turun menjadi 1,58 juta
pasangan pada 2023 atau turun 128.000 pasangan dibandingkan tahun sebelumnya. Tren
penurunan angka pernikahan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga negara
lain, seperti Jepang dan Korea. Rendahnya minat warga menikah pada akhirnya
memicu penurunan angka kelahiran dan krisis populasi di negara-negara tersebut.
Seperti dilansir The Japan Times, angka pernikahan di Jepang
tahun 2023 mencapai 489.281 pasangan, turun 30.000 atau 5,9 % dibandingkan
tahun sebelumnya. Angka pernikahan tersebut merupakan yang terendah di Jepang
sejak tahun 1933. Menurut survei The National Institute of Population and Social
Security Tokyo, minat laki-laki dan perempuan di Jepang untuk menikah menurun.
Tercatat 17,3 % populasi pria dan 14,69 % dari populasi perempuan di Jepang
tidak memiliki minat untuk menjalin ikatan dalam pernikahan ataupun membangun
keluarga. Sejarawan lulusan Cambridge University, Katrina Gulliver, pernah
menulis bahwa modernisasi telah mengubah kondisi dan status perempuan di
Jepang. Seiring berkembangnya zaman, Jepang memberikan kebebasan kepada
perempuan melakukan berbagai hal, termasuk dalam karier. Hal inilah, menurut
Gulliver, yang menjadi faktor perempuan lebih memilih bekerja daripada mengurus
keluarga hingga menurunkan angka pernikahan dan kelahiran di Jepang.
Junya Tsutsui, sosiolog yang fokus mengkaji sosiometri
pernikahan dan keluarga di Jepang, dalam penelitiannya menyebutkan, banyak
perempuan Jepang lebih tertarik menikmati hidup sendiri selagi muda. Banyak
juga perempuan Jepang yang takut kehilangan pekerjaan dan tidak maksimal bekerja
setelah menikah. Sosiolog UNS Surakarta Drajat Tri Kartono, memandang perubahan
paradigma terkait pernikahan, khususnya dari aspek perempuan, seperti di Jepang
dan negara lain, juga terjadi di Indonesia. Menurut Drajat, perempuan melihat
pernikahan tidak bisa menjamin kebahagiaan dan melindungi mereka. Inilah yang menjadi
alasan perempuan dalam studi Drajat memilih tidak memprioritaskan pernikahan dalam
kehidupan mereka. ”Melalui pernikahan, perempuan tak bisa mengelola waktu dan
uangnya sendiri sehingga membuat mereka tak nyaman. Mereka membangun otonomi
perempuan dengan hidup sendiri dan mandiri. Mereka akan menghubungi teman jika
ingin bermain atau bersosialisasi,” tuturnya. (Yoga)
Jangan Tersandung di Negeri Sendiri
Dalam laporan Statistik Ekonomi Kreatif 2020 yang dirilis
Kemenparekraf disebutkan, sektor ekonomi kreatif (ekraf) mampu menyerap sekitar
19,2 juta tenaga kerja, setara 15,2 % tenaga kerja nasional. Perputaran ekonominya
terlihat dari kontribusi terhadap PDB yang mencapai Rp 1.153,4 triliun. Dalam
neraca ekspor nasional, kontribusi ekraf terhadap ekspor nasional sebesar 19,6
juta USD atau 11,9 % pada 2019. Sejak 2011, nilainya berfluktuasi pada kisaran
15,6 juta USD hingga 20,3 juta USD dengan besaran tertinggi pada 2018. Meski
berkontribusi besar, sektor ini dinilai belum cukup mendapat perhatian
pemerintah. Sebagai gambaran, anggaran definitif Kemenparekraf pada 2024 hanya
Rp 3,53 triliun, jauh lebih kecil dari sejumlah kementerian lainnya. Total alokasi
belanja kementerian/lembaga sebesar Rp 1.090,8 triliun. Padahal, efek pengganda
pada sektor ekraf terhitung besar.
Pendiri sekaligus CEO Naruna Ceramic Roy Wibisono, saat
dihubungi dari Jakarta, Selasa (5/3) menilai, potensi ekraf dengan perputaran ekonominya
tergolong besar. Naruna merasakan permintaan keramik di pasar begitu tinggi.
Kala pandemi Covid-19, Naruna yang memasok alat-alat makan buatan tangan justru
tumbuh pesat. Harga per barang dijual mulai Rp 70.000 hingga Rp 500.000. Naruna
bahkan berhasil mengekspor barang-barang keramiknya ke 16 negara, mulai dari
Singapura hingga AS. Selain desain yang unik, metode pemasaran juga menjadi
perhatian. Roy menggunakan beragam jalur penjualan, secara perorangan, melalui
pengecer (reseller), dan penjualan barang dari penyuplai ke konsumen
(dropshipper). ”Naruna itu memang riil ekraf. Bagaimana membuat sesuatu yang
biasa dengan sentuhan kreativitas sehingga harganya bisa jauh lebih kuat,” kata
Roy.
Di balik beragam potensinya, para pelaku usaha ekraf masih
bergulat dengan sejumlah hambatan. Salah satunya birokrasi yang berbelit menyulitkan
proses ekspor, yang menunjukkan minimnya keberpihakan pemerintah terhadap para
pelaku ekraf. Roy mengatakan, sertifikasi di dalam negeri juga jadi ”bumerang”
bagi keberlangsungan usaha ekraf. Banyak auditor negara lain membuat penilaian
menyesuaikan standar Indonesia, yang menyebabkan barang ditolak karena tak memenuhi
detail persyaratan standar dalam negeri ketimbang ketentuan negara calon
importir. ”Banyak sekali perizinan itu yang membuat industri di Indonesia tak
bisa bergerak dengan bebas. Saya pernah melihat perizinan untuk suatu industri
hampir 50 (unsur), seperti limbah, kebisingan, dan lain-lain. Itu semua ada masanya,
ada perpanjangan yang butuh duit juga,” kata Roy. (Yoga)
Mendamba Sistem Lapor Pajak yang Lebih Mudah dan Transparan
Meski diharuskan, belum semua wajib pajak (WP) rutin
melaporkan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak Penghasilannya. Masih banyak
yang merasa tidak perlu melapor karena gajinya setiap bulan sudah dipotong
pajak. Sistem lapor pajak juga dianggap rumit untuk orang awam. Kekecewaan
semakin menjadi ketika melihat kasus korupsi pejabat masih saja marak. Gabrella
(32) sudah bekerja 10 tahun, tapi ia masih belum paham betul cara melaporkan
SPT Pajak Penghasilan (PPh 21). Pekerja Ormas asal Tangsel itu telah berusaha
rutin melapor pajak setiap awal tahun. Namun, ia tidak bisa melakukannya tanpa
didampingi orang lain yang paham soal pajak.
”Sejujurnya setiap tahun pasti lupa caranya bagaimana, karena,
kan, munculnya Cuma sekali setahun. Cukup rumit pula. Jadi, selama ini setidaknya
harus ada satu teman atau orang keuangan kantor yang menemani supaya bisa ditanya-tanya,”
ujarnya, Selasa (5/3). Tahun lalu, Gabrella terpaksa ”bolong” melaporkan SPT Tahunan.
Ia sedang tugas dinas di luar kota dan lupa kalau ada tenggat pelaporan SPT yang
berakhir setiap 31 Maret. Apalagi, saat itu tidak ada orang yang bisa
mendampinginya mengisi formulir SPT. Ia terkejut karena dikenai denda Rp
100.000 akibat tidak menyampaikan SPT tepat waktu. ”Padahal, saya sudah bayar
pajak setiap bulan, pungutannya gede, selama ini juga rajin la por, hanya
karena telat sekali,saya kena denda,” tuturnya.
WP seperti Gabrella dan lainnya berharap ke depan sistem
pelaporan SPT bisa lebih mudah bagi orang awam dan lebih transparan. Setidaknya,
wajib pajak tidak perlu repot-repot mengisi satu per satu kolom data di
formulir SPT dengan istilah rumit yang tidak dipahami. Urusan penyampaian dan pemrosesan
laporan saat ini memang sudah lebih mudah. Namun, secara substansi, proses
pengisian formulir masih dinilai sulit. Sosialisasi dan tutorial digital oleh
kantor pajak juga diharapkan lebih gencar mendekati masa pelaporan SPT. Informasi
soal tutorial itu juga sebaiknya dicantumkan dalam pesan singkat atau surat
elektronik (e-mail) yang diterima WP untuk memudahkan aksesnya. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









