Warga Ingin Nyaman, Sopir Angkot Takut ”Boncos”
PT Transportasi Jakarta menunda pengoperasian Transjakarta
rute S41 atau Pondok Cabe-Lebak Bulus dari rencana semula Senin (4/3). Trayek
ini terhenti operasinya seiring protes dari sopir angkot 106 (Parung-Lebak
Bulus) tahun 2019. Selama ini warga di rute tersebut hanya punya dua pilihan
angkutan umum untuk menjangkau Lebak Bulus, yakni dengan angkot 106 dan D15 (Pamulang-Lebak
Bulus). Selebihnya, warga mesti menggunakan kendaraan pribadi atau ojek daring.
Setelah turun dari MRT Jakarta di Stasiun Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Selasa
(5/3) siang, Kompas menjajal angkot 106. Angkot ini ngetem (menunggu penumpang)
bersama angkot D15 dan bus kota. Wawan (65), sang sopir angkot, sudah lebih
dari satu jam ngetem. Dia menyebut kata ”Parung” kepada setiap orang yang lewat
di dekat angkot tuanya yang telah berumur 20 tahun. Wawan terbiasa dengan
kemacetan dan panas karena delapan kali pergi pulang dengan penumpang setiap
hari.
Penumpang hanya diam saja setiap kali angkot menerobos lajur
kosong. Mereka juga tak mengeluhkan panasnya angkot, kursi yang keras seperti
kayu, dan lainnya. ”Sudah biasa begini. Yang penting sampai tujuan,” kata Yahya
(38), salah satu penumpang. Yahya hampir tiap hari naik angkot 106. Dia merogoh
Rp 16.000 untuk pergi pulang, lebih murah ketimbang naik ojek daring, Rp
50.000. Tarif angkot 106 bervariasi. Pelajar biasanya membayar Rp 2.000-Rp
5.000, sedangkan penumpang dewasa Rp 8.000-Rp 10.000 sekali jalan. Sejauh ini
angkutan umum yang nyaman masih sebatas angan bagi Yahya dan penumpang lain.
Mereka ingin, paling tidak, angkot di wilayah tetangga Jakarta bisa seperti Jaklingko
yang melayani beberapa rute dari Lebak Bulus.
Yahya mendambakan angkot yang bersih dan kursinya empuk. Dia
tak ingin muluk-muluk, seperti angkot tepat waktu dan pembayaran dengan uang
elektronik, sebab sulit mengurai kemacetan di trayek Parung ke Lebak Bulus.
Davina (28) juga mendam bakan angkutan umum yang nyaman. ”Mau mengomel, tapi
hanya ada ini (angkot). Mudah-mudahan angkot bisa terintegrasi dan jadi bagus
kayak Jakarta,” ucapnya. Namun sejumlah sopir khawatir pendapatannya berkurang
jika Transjakarta beroperasi di rute Pondok Cabe-Lebak Bulus. Agus (33), sopir angkot
di rute itu, misalnya, mengandalkan penumpang yang turun dari MRT Jakarta dan
Transjakarta. Dalam sehari, pendapatan kotornya Rp 300.000. Uang itu lantas
dikurangi Rp 100.000 untuk setoran, retribusi Rp 3.000, dan BBM Rp 100.000-Rp
150.000. Agus khawatir pendapatannya tergerus dan bisa boncos jika Transjakarta
beroperasi. (Yoga)
Postingan Terkait
Regulasi Perumahan perlu direformasi
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023