Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10118 )Keterampilan Sosial Dorong Pertumbuhan Karier
Keterampilan sosial atau softskill yang dimiliki pekerja
semakin menjadi kebutuhan sentral di tempat kerja. Perusahaan menyadari tugas
yang memerlukan keterampilan sosial manusia tidak dapat digeser dengan teknologi
kecerdasan buatan. Berdasarkan survei oleh LinkedIn dan perusahaan konsultan
riset pasar Censuswide pada 4.323 manajer perekrutan di 18 negara, antara lain,
di Eropa, AS, China, India, dan Indonesia, diidentifikasi sepuluh keterampilan sosial
yang paling dibutuhkan pada 2024. Keterampilan komunikasi menempati urutan
pertama, diikuti oleh keterampilan melayani pelanggan, kepemimpinan, manajemen
proyek, manajemen, analisis, bekerja dalam tim, penjualan (sales), keterampilan
memecahkan masalah, dan keterampilan riset. Survei LinkedIn dan Cencuswide itu
dilakukan 15 Desember 2023 sampai 4 Januari 2024.
Survei juga menemukan bahwa keterampilan sosial akan semakin
menjadi sumber pertumbuhan karier individu. Vice President LinkedIn Aneesh
Raman, dalam blog perusahaan, Minggu (3/3) mengatakan, kolaborasi antarpekerja
juga semakin menjadi pusat pertumbuhan perusahaan, karena itu, sudah saatnya
para pemimpin perusahaan mulai berkomunikasi secara jelas dan penuh empati
kepada anggota tim. Setahun terakhir muncul banyak prediksi yang mengatakan, kecerdasan
buatan akan mengubah pekerjaan. LinkedIn menyoroti, sejalan dengan fenomena
itu, keterampilan sosial berupa kemampuan beradaptasi termasuk keterampilan sosial
permintaannya melonjak.
”Pasar tenaga kerja diisi oleh narasi-narasi kemajuan teknologi
kecerdasan buatan untuk bisnis. Kami menyaksikan, keterampilan sosial yang
dipadukan dengan kemampuan belajar keterampilan teknik (hard-skills) menjadi
semakin penting,” ujar Country Lead LinkedIn Indonesia Rohit Kalsy. Menurut
Rohit, dalam riset LinkedIn dan Cencuswide yang terpisah, keduanya menemukan
bahwa 97 % dari 254 manajer perekrutan di Indonesia yang disurvei pada 15 Desember
2023-4 Januari 2024 memprioritaskan keterampilan sosial itu pada calon
karyawan. Karyawan yang sudah lama bekerja dalam perusahaan juga diharapkan
memiliki keterampilan sosial dan keinginan mempelajari keterampilan teknis
baru, terutama keterampilan teknis yang berhubungan dengan kecerdasan buatan. (Yoga)
Berhemat ala Kelas Menengah
Di tengah situasi ekonomi yang masih diselimuti
ketidakpastian dan kenaikan harga sejumlah kebutuhan sehari-hari, kelas
menengah bersiasat untuk bertahan dengan berhemat. Ada sejumlah tips dan trik yang
mereka lakukan untuk berhemat. Novia (33) di Lombok, NTB, berkata “Situasi
ekonomi belakangan ini membuat saya harus memiliki sedikitnya dua pekerjaan.
Pertama sebagai penjual kerajinan rotan, kedua sebagai tutor bahasa Inggris.
Saya bahkan pernah memiliki tiga pekerjaan. Memang tidak mudah, tetapi saya harus
mampu beradaptasi dan mau melakukan hal-hal yang bahkan ada di luar zona nyaman”.
A Wisnu Triyogo (31) Karyawan swasta, di Jakarta, mengatakan “Untuk menghemat,
saya sebisa mungkin makan di rumah dan membawa bekal. Jika lapar lagi, saya lebih
memilih makan di warteg, bukan di mal. Saat harus memesan makanan daring, saya
jadi hitung-hitungan lebih detail saat mau memakai promo yang tersedia. Untuk
keperluan gaya hidup lain pun, seringnya memantau dulu ada promo atau diskon
atau tidak. Yang penting, prinsipnya, lihat dan hitung dulu”.
Saya berhemat dimulai dari hal-hal sederhana. Dalam konteks
bekerja ke kantor, saya selalu membawa bekal sendiri. Ini sekaligus bisa menjaga
asupan makanan sehat dan higienis. Selain berhemat, ya, lebih sehat, juga
makanannya suka sesuai selera saya. Bawa minum sendiri pakai tumbler. Dengan
membawa bekal sendiri, saya bisa menghemat Rp 300.000 hingga Rp 400.000 per
bulan,” ujar Monavia Ayu Rizaty (28) Jurnalis data di salah satu media Jakarta.
Ivany Atina (30) di Jakarta mengatakan ”Inflasi harga bahan kebutuhan pokok
yang semakin awur-awuran, ditambah adanya pos pengeluaran rutin baru, seperti
biaya sekolah dan biaya les anak, memaksa saya untuk mengencangkan ikat
pinggang dengan mengurangi pengeluaran. Beberapa tahun lalu, dalam sepekan
sekali, saya dan keluarga rutin melakukan leisure activity, dengan makan di
restoran atau staycation di hotel yang bagus. Sekarang, aktivitas leisure belum
tentu sebulan sekali. Saya juga selalu mencatat pengeluaran harian dan
membaginya ke dalam beberapa pos anggaran agar semakin mawas dengan kondisi
keuangan pribadi. (Yoga)
Mereka yang Tetap Tertinggal
Lonjakan harga beras belum sepenuhnya menguntungkan petani. Alih-alih
menikmati cuan, mereka malah terancam kehabisan beras. Cadangan gabah petani
mulai menipis, sedangkan masa panen masih berbulan- bulan lagi. Bahkan, sebagian
petani harus mengantre beras murah. Rumsi (47) melangkahkan kakinya pelan saat
antrean panjang mulai bergerak di halaman Balai Desa Lurah, Kecamatan Plumbon, Cirebon,
Jabar, Senin (26/2). Di bawah terik mentari, puluhan warga menanti giliran
membeli beras medium dalam operasi pasar murah. Kegiatan yang digelar Pemkab
Cirebon dan Perum Bulog Kantor Cabang Cirebon itu menjajakan beras medium
seharga Rp 52.000 per kemasan 5 kg, jauh lebih murah ketimbang harga beras di
pasaran dengan jumlah dan kualitas sama yang lebih dari Rp 75.000. ”Harga beras
(di pasaran) sekarang Rp 15.000-Rp 16.000 per kg. Kalau di sini murah, Rp
10.400 per kg,” kata Rumsi.
Merujuk data BPS, harga beras di tingkat perdagangan besar
pada Februari 2024 rata-rata Rp 14.397 per kilogram, naik 5,95 % dari bulan sebelumnya.
Pada kurun yang sama, NTP tanaman pangan juga meningkat, tetapi lebih kecil, yakni
3,56 %. Saat harga beras naik, tak lantas diikuti naiknya NTP. NTP tanaman
pangan pun relatif lebih rendah dari subsektor pertanian lain, sebut saja
hortikultura dan perkebunan. Kondisi ini makin menambah sesak hidup para petani
yang selama ini tidak berdaya. Di antara semua lapangan pekerjaan, mereka yang
mengabdi di dunia pertanian selalu pada posisi tertinggal. BPS mencatat,
rata-rata pendapatan bersih mereka yang memiliki usaha pertanian adalah Rp 1,59
juta per bulan pada Agustus 2023. Sementara itu, penghasilan sektor industri dan
jasa sebesar Rp 1,79 juta dan Rp 2,25 juta per bulan. Upah para pekerja pertanian
pada periode yang sama tercatat Rp 2,37 juta per bulan. Terendah kedua setelah sektor
jasa lainnya, dan di bawah rata-rata nasional yang mencapai Rp 3,18 juta per
bulan.
Secara harian, nominal upah buruh tani tercatat terus meningkat.
Sayangnya, upah riil yang diterima, yang sudah disesuaikan tingkat konsumsi
petani, justru kian turun dari waktu ke waktu. Hal ini menjadi ironi lantaran
para petani sejatinya bagian dari penyumbang terbesar perekonomian nasional.
Dari Rp 11.763 triliun PDB pada 2023, sekitar 12,4 % dari sektor pertanian.
Seperlima bagian disumbang subsektor tanaman pangan yang memproduksi padi.
Tampak para petani berperan besar terhadap perekonomian makro. Naasnya, posisi
mereka justru tidak diuntungkan. Malah sebaliknya, terjebak dalam kemiskinan.
Data BPS menunjukkan, 48,86 % penduduk miskin pada Maret 2023 merupakan rumah
tangga yang bekerja di sektor pertanian. (Yoga)
Putusan MK Harus Ditindaklanjuti Revisi UU Pemilu
Besar Konsumsi daripada Produksi
Konsumsi BBM dan gas terus meningkat di tengah produksi (lifting) minyak dan gas bumi dalam negeri yang terus menurun tiap tahun. Tahun lalu, realisasi lifting minyak bumi anjlok hingga 605.500 barel per hari. Realisasi minyak pada 2023 lebih rendah dibanding sepanjang 2022 yang mencapai 612.300 barel per hari. Produksi tersebut juga di bawah target yang ditetapkan dalam APBN 2023 yang sebesar 660 ribu barel per hari. Adapun tahun ini pemerintah menargetkan lifting minyak sebanyak 635 ribu barel per hari. Lifting gas juga lebih rendah dari target. Tahun lalu, lifting gas sebesar 964 ribu setara barel minyak per hari, di bawah target 1,1 juta setara barel minyak per hari.
Di tengah penurunan produksi minyak dan gas domestik, konsumsi dalam negeri terus meningkat. Menurut data Kementerian ESDM, konsumsi BBM pada 2022 mencapai lebih dari 1.100 million barrel oil equivalent (MBOE). Meningkat 30 % dibanding 10 tahun sebelumnya, pada 2012, karena peningkatan konsumsi BBM di sektor industri dan transportasi. Menurut pengamat ekonomi energi dari UGM, Fahmy Radhi, ketersediaan gas bumi masih bisa ditingkatkan karena cadangannya masih mencukupi dibanding minyak. “Untuk mencukupi ketersediaan energi dalam negeri, pemerintah juga perlu lebih giat mendorong sektor EBT (energi baru dan terbarukan) yang juga potensial,” katanya. (Yetede)
Beban Berat Subsidi Energi
Pemerintah memastikan tarif listrik dan BBM bersubsidi tidak akan naik hingga Juni 2024. Namun rencana tersebut memberatkan beban APBN 2024 karena pemerintah bakal menaikkan anggaran subsidi energi. Awalnya, tahun ini pemerintah menetapkan target subsidi energi sebesar Rp 189,1 triliun dengan rincian Rp 113,3 triliun subsidi untuk BBM dan elpiji 3 kilogram serta Rp 75,83 triliun untuk subsidi listrik. Alokasi subsidi tersebut lebih tinggi dari realisasi belanja subsidi energi pada 2023 yang sebesar Rp 164,29 triliun. Anggaran subsidi energi pun diperkirakan membengkak lantaran pemerintah menahan kenaikan tarif listrik dan BBM bersubsidi.
Pemerintah menyampaikan rencana pelebaran defisit APBN 2024 untuk memenuhi kebutuhan anggaran subsidi tambahan, seperti pupuk dan energi, serta bantuan langsung tunai. Defisit anggaran APBN mulanya 2,29 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) akan diperlebar menjadi 2,8 persen, atau bertambah 0,5 persen. Adapun defisit tahun anggaran 2,29 persen ini sekitar Rp 522,8 triliun. Kebutuhan dana untuk menahan kenaikan harga BBM dan listrik berasal dari defisit anggaran tersebut. "Tambahan anggaran untuk Pertamina dan PLN itu akan diambil dari sisa saldo anggaran lebih ataupun pelebaran defisit anggaran pada 2024,” ujar Menko Perekonomian Airlangga Hartarto pada 26 Februari lalu. Sesuai UU No 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, pemerintah membatasi defisit APBN maksimal 3 persen dari PDB. (Yetede)
TRADISI LONJAKAN HARGA PANGAN
Lonjakan harga pangan, khususnya komoditas beras yang terjadi hampir tiga tahun, menunjukkan bahwa upaya pemerintah dalam membangun kemandirian pangan masih karut-marut. Keberhasilan mencapai swasembada beras pada 2 tahun silam, tinggal cerita lalu. Kini, sepekan menjelang Ramadan, gejolak harga tidak hanya terjadi pada komoditas beras. Bahan kebutuhan pokok seperti cabai, telur, daging ayam, daging sapi, dan lainnya, mulai bergerak naik. Masyarakat pun harus mengeluarkan ongkos lebih tinggi. Sejatinya, beragam desain kebijkaan untuk membangun kemandirian pangan sudah dikemas dengan rapi. Namun, selalu terbentur di level implementasi.
Harmoni Sate dan Keroncong
Bambang Margono (63) selama 20 menit, membakar sate hingga setengah
matang, mencelupkannya ke dalam saus, dan menunggu hingga bumbu-bumbu meresap
sempurna. Asap dari pembakaran sate yang mengumbar ke mana-mana menempel di
baju necis pelanggan. Namun, mereka tak peduli. Hari itu, Selasa (27/2) pukul 12.00,
hampir semua kursi di Sate Keroncong terisi. Beberapa kipas angin mengusir gerah
pelanggan yang tiba silih berganti. Rumah makan di Gang Lele, Jalan Matraman
Raya, Jatinegara, Jakarta, itu sederhana saja. Tak jauh dari para pelanggan yang tengah
melahap pesanan, kompor arang untuk meng- godok tongseng terus di kipas hingga
kuahnya tak henti bergolak.
”Khasnya semua dimasak dengan arang atau kayu bakar sampai
ranting-rantingnya,” ujar Sri Mulyono (59), pemilik Sate Keroncong. Gulai sudah
diolah di panci besar sejak pukul 05.30 dan siap empat jam kemudian. Sementara
bumbu-bumbu dasar gulai dan tongseng yang disiapkan setiap tiga bulan dihaluskan
sampai enam jam, awet disimpan setahun meski tak dimasukkan ke dalam kulkas. Saat
disajikan dan dikunyah, sate yang kaya akan rempah berselang-seling dengan
sekelumit manis. Daging empuk begitu menor berlumur bumbu yang menambah sedapnya
hidangan ditemani bawang merah, tomat, cabai rawit, dan merica. Potongannya
lebih besar dibandingkan sate biasa. Sementara gulai dengan kuah panas menyusuri tubuh diiringi kehangatan di sela Harmoni Sate dan Keroncong. Harga seporsi
gulai dan tongseng masing-masing Rp 50.000, sementara sate Rp 75.000. Sebagai
penawar dahaga, bisa dipilih teh manis panas atau dingin, es jeruk, teh kemasan,
serta air mineral.
Sewaktu mencicipi sajian, lamat-lamat terdengar merdunya keroncong
yang dilantunkan Joni (62) dan Waluyo (70). Pasangan pengamen itu beraksi di depan
Sate Keroncong tanpa mengganggu konsumen. Stoples berisi sumbangan pengunjung
ditaruh di atas bangku. Mereka, mendendangkan ”Bandar Jakarta”, ”Bengawan
Solo”, ”Jembatan Merah”, ”Sampul Surat”, dan ”Di Bawah Sinar Bulan Purnama”.
Alunan yang menghanyutkan kalbu lantas menganyam harmoni dengan cita rasa sate,
gulai, atau tongseng. Joni bersama Waluyo yang sudah menghibur pelanggan Sate
Keroncong sejak tahun 2000 berasal dari Semarang, Jateng. Mereka mengais rezeki
sambil melestarikan kebudayaan Indonesia. Sesekali, lagu pop, dangdut, atau campursari
didendangkan agar tamu-tamu tak bosan. ”Dapatnya enggak tentu. Biasanya, sehari
Rp 50.000-Rp 75.000 per orang. Kalau lagi ramai, sampai Rp 100.000,” ucap Joni
yang bermain gitar. (Yoga)
Demi Taylor Swift ”Ngutang” Pun Dijabani
Swifties adalah salah satu fandom artis terbesar di
muka Bumi. The Eras Tour akhirnya membuka kesempatan penggemar Taylor Swift,
termasuk Swifties Indonesia, untuk bertemu idola. Hati girang tak terkira,
persiapan juga polpolan. ”Ini pertemuan pertama kami untuk membahas persiapan
konser karena kami beda-beda tempat tinggal,” kata Anggun Mrz (24) lewat Zoom
di sebuah restoran di Plaza Indonesia, Jakarta, Rabu (28/2). Anggun, Melati
Suci (27), Alya Dina (25), dan Ayu Ihsana (25) berkumpul di sana pukul 19.00
seusai kerja. Mereka akan menonton konser pada 9 Maret, hari terakhir konser
Taylor Swift di National Stadium, Singapura. Penyanyi asal AS itu menggelar
konser enam hari, 2-4 Maret dan 7-9 Maret 2024, sebagai rangkaian The Eras
Tour. Demi menyaksikan ”Mbak TayTay”, sebutan sayang untuk Swift, Anggun,
Melati, Alya, dan Ayu telah ikut ”berperang” mencari tiket Juli tahun lalu.
Sialnya, mereka gagal. Ketika promotor mengumumkan perilisan
tiket tambahan Januari 2024, Alya berburu melalui penyedia jasa titipan
(jastip) di X alias Twitter. Jika harga tiket yang mereka incar Rp 1 juta per
orang, Alya dan teman-teman membayar Rp 2,5 juta. Harga ini, menurut Anggun,
masih masuk akal karena banyak jastip yang menaikkan harga sampai Rp 6 jutaan
untuk kategori yang sama. Kalau dihitung-hitung, Anggun, Melati, Alya, dan Ayu
mengeluarkan uang Rp 10 juta per orang. Dana ini sudah termasuk tiket konser, transportasi
seperti pesawat, penginapan, dan uang jajan. JordyPrayoga (27), karyawan swasta
di Jakarta, pun rela harus keluar uang dalam jumlah besar demi bisa melihat
langsung penyanyi pujaannya. Ia berpikir, sekarang harus nonton karena belum
tentu di konser lain waktu ia bisa.
Lagi pula, lagu karya Swift kini sudah lengkap, punya
bermacam genre, mulai dari country-pop hingga menjelajah ke rock, synthpop,
hiphop, dan sentuhan R&B. Jordy mengawali perjuangannya bertemu Swift
dengan berburu tiket pada Juni 2023. Ia mendapat tiket VIP seharga Rp 6 juta.
Saat memesan tiket, Jordy kaget, harga tiket pesawat sudah meroket. Mau tak
mau, ia harus membeli dengan harga Rp 4 juta pergi-pulang. Begitu pula tarif
hotel yang naik 100 %. Jordy tak punya pilihan, harus sewa penginapan Rp 2 juta
untuk dua malam. Total pengeluarannya demi Mbak TayTay mencapai Rp 12 juta, belum
termasuk uang makan selama di Singapura dan transportasi. ”Untung uang tiket
bisa kuangsur tanpa bunga dengan kartu kredit. Uang tiket dan hotel juga gitu.
Hampir setahun aku alokasikan gajiku untuk nyicil. Sekarang sudah lunas,”
jelasnya lega. (Yoga)
Tarif Murah, Syarat Wajib Angkutan Umum Modern Perkotaan
Jangkauan luas ke seluruh pelosok kota diikuti jaminan
kenyamanan dan keamanan penumpang adalah salah satu syarat agar layanan angkutan
umum dilirik sebagai sarana utama untuk mobilitas masyarakat urban. Syarat
selanjutnya adalah tarif terjangkau alias murah meriah. Tarif murah yang
menyertai keterjangkauan luas dan kenyamanan transportasi publik menjadi salah
satu bukti kehadiran dan keberpihakan negara kepada rakyatnya. Itu juga bukti
penggunaan pajak yang tepat sasaran. Untuk itu, wajar jika publik sangat
sensitif terhadap perubahan tarif ataupun sistem operasi yang berdampak pada tarif
angkutan umum. Isu kenaikan tarif KRL Jabodetabek baru-baru ini langsung
disambut pro dan kontra. Sejak 2016, tarif kereta komuter relatif tetap, yaitu
Rp 3.000 per orang per 25 km pertama. Kemudian bertambah Rp 1.000 per 10 km berikutnya.
Adanya potensi menaikkan tarif kereta komuter itu tetap dianggap
tidak menguntungkan pelanggannya. Pengguna setia KRL Jabodetabek mengingatkan
agar kualitas layanan, termasuk jangkauan, keamanan, dan daya angkut,
ditingkatkan jika hendak menaikkan tariff (Kompas.id, 29 Februari 2024). Di
negara mana pun, transportasi publik menjadi beban tersendiri karena pembangunan,
pengoperasian, dan perawatannya membutuhkan dana sangat besar. Bagi negara miskin
dan sedang berkembang, ketiadaan atau kekurangan dana menyebabkan pembangunan
angkutan umum perkotaan tersendat, bahkan tak menjadi prioritas. Pada saat
bersamaan, laju perkembangan kawasan urban tak surut. Akibatnya, pergerakan
masyarakat lebih banyak bersandar pada kendaraan bermotor pribadi. Kota-kota
itu tercekik polusi dari asap kendaraan. Waktu terbuang percuma karena macet
yang berarti ongkos transportasi tinggi. Ekonomi berputar tak lancar.
Sejauh ini, baru MRT Jakarta yang didukung pinjaman pembiayaan
pihak lain, yaitu Japan International Cooperation Agency (JICA). Jaringan Transjakarta
dan LRT Jakarta disokong Pemprov DKI Jakarta. LRT Jabodebek dan KRL Jabodetabek
tergantung pemerintah pusat. Berkaca pada Mumbai, pemerintah pusat dan daerah perlu
berpihak lebih berat pada pembangunan angkutan umum. Perlu cepat dan kreatif pula
menggaet investor. Tak kalah mendesak memikirkan sumber pendanaan lain. Hal ini
dapat dilakukan dengan memaksimalkan pendapatan di luar penjualan tiket, seperti
menyediakan ruang iklan dan kerja sama dengan berbagai pihak yang mendatangkan
keuntungan finansial, demi memastikan layanan angkutan umum kian berkualitas
dan bisa memenuhi syarat wajib lainnya, yaitu tarif tetap murah meriah (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









