Tarif Murah, Syarat Wajib Angkutan Umum Modern Perkotaan
Jangkauan luas ke seluruh pelosok kota diikuti jaminan
kenyamanan dan keamanan penumpang adalah salah satu syarat agar layanan angkutan
umum dilirik sebagai sarana utama untuk mobilitas masyarakat urban. Syarat
selanjutnya adalah tarif terjangkau alias murah meriah. Tarif murah yang
menyertai keterjangkauan luas dan kenyamanan transportasi publik menjadi salah
satu bukti kehadiran dan keberpihakan negara kepada rakyatnya. Itu juga bukti
penggunaan pajak yang tepat sasaran. Untuk itu, wajar jika publik sangat
sensitif terhadap perubahan tarif ataupun sistem operasi yang berdampak pada tarif
angkutan umum. Isu kenaikan tarif KRL Jabodetabek baru-baru ini langsung
disambut pro dan kontra. Sejak 2016, tarif kereta komuter relatif tetap, yaitu
Rp 3.000 per orang per 25 km pertama. Kemudian bertambah Rp 1.000 per 10 km berikutnya.
Adanya potensi menaikkan tarif kereta komuter itu tetap dianggap
tidak menguntungkan pelanggannya. Pengguna setia KRL Jabodetabek mengingatkan
agar kualitas layanan, termasuk jangkauan, keamanan, dan daya angkut,
ditingkatkan jika hendak menaikkan tariff (Kompas.id, 29 Februari 2024). Di
negara mana pun, transportasi publik menjadi beban tersendiri karena pembangunan,
pengoperasian, dan perawatannya membutuhkan dana sangat besar. Bagi negara miskin
dan sedang berkembang, ketiadaan atau kekurangan dana menyebabkan pembangunan
angkutan umum perkotaan tersendat, bahkan tak menjadi prioritas. Pada saat
bersamaan, laju perkembangan kawasan urban tak surut. Akibatnya, pergerakan
masyarakat lebih banyak bersandar pada kendaraan bermotor pribadi. Kota-kota
itu tercekik polusi dari asap kendaraan. Waktu terbuang percuma karena macet
yang berarti ongkos transportasi tinggi. Ekonomi berputar tak lancar.
Sejauh ini, baru MRT Jakarta yang didukung pinjaman pembiayaan
pihak lain, yaitu Japan International Cooperation Agency (JICA). Jaringan Transjakarta
dan LRT Jakarta disokong Pemprov DKI Jakarta. LRT Jabodebek dan KRL Jabodetabek
tergantung pemerintah pusat. Berkaca pada Mumbai, pemerintah pusat dan daerah perlu
berpihak lebih berat pada pembangunan angkutan umum. Perlu cepat dan kreatif pula
menggaet investor. Tak kalah mendesak memikirkan sumber pendanaan lain. Hal ini
dapat dilakukan dengan memaksimalkan pendapatan di luar penjualan tiket, seperti
menyediakan ruang iklan dan kerja sama dengan berbagai pihak yang mendatangkan
keuntungan finansial, demi memastikan layanan angkutan umum kian berkualitas
dan bisa memenuhi syarat wajib lainnya, yaitu tarif tetap murah meriah (Yoga)
Postingan Terkait
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023