Warga Palestina Terpaksa Konsumsi Pakan Ternak
Bencana kelaparan menyiksa warga Palestina di Jalur Gaza.
Kepungan militer Israel membuat truk-truk pengangkut bantuan sosial yang menyeberang
dari Mesir lamban datang. Tiadanya bantuan makanan membuat warga Palestina
terpaksa mengonsumsi pakan ternak untuk bertahan hidup. Namun, setelah
berhari-hari bertahan hidup dengan mengonsumsi pakan ternak, kini pilihan itu
pun menipis. Abu Qussay Abu Nasser, warga Gaza, terpaksa mencari-cari tanaman panirak
(Malva sylvestris) yang biasanya tumbuh liar di padang rumput ataupun di pinggir
jalan. Tanaman berbunga ungu ini aman diolah untuk makan meskipun selama ini
masyarakat tidak menganggapnya sebagai sumber pangan.
”Panirak sekarang sudah jarang sekali. Banyak orang
memetiknya saking tidak ada makanan,” kataAbu Nasser kepada kantor berita
Turki, Anadolu, Jumat (1/3). Panirak bukan pilihan pertama Abu Nasser.
Sebelumnya, ia pergi ke pasar di Jabaliyya untuk mencari jagung kering dan
jelai sisa. Biasanya, biji-bijian ini dipakai untuk pakan ternak. Ketika tiba
di pasar, pakan ternak sekalipun sudah habis terjual. Di beberapa wilayah,
warga mengeluhkan harga pakan ternak yang melejit. Satu karung 3 kg dibanderol
dengan harga 60-80 shekel atau Rp 3 juta. Padahal, warga Gaza sudah serba
kekurangan sejak Israel melakukan invasi per Oktober 2023. ”Kemarin, kami sekeluarga
masing-masing hanya memakan sebutir kurma. Saya harus mencari makanan,
anak-anak menangis kelaparan,” kata Abu Nasser.
Data Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (UNOCHA)
memperlihatkan, sedikitnya 576.000 warga Gaza, seperempat dari total populasi
di enklave tersebut, tinggal satu tahap masuk kategori kelaparan. Sejumlah
tenaga medis menuturkan, banyak pasien anak di rumah-rumah sakit sekarat dan
meninggal akibat malanutrisi dan dehidrasi. Bantuan untuk warga Gaza pun lamban
bergulir. ”Segala sistem layanan masyarakat di Gaza sudah ambruk,” kata Jubir
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Christian Lindmeier. Ia menjelaskan, anak-anak
berumur 6-59 bulan menderita kelaparan akut. Angka kelaparan mereka 16,2 %.
Padahal, WHO menetapkan ambang batas bahaya kelaparan tertinggi di dunia adalah
15 %. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023