Harmoni Sate dan Keroncong
Bambang Margono (63) selama 20 menit, membakar sate hingga setengah
matang, mencelupkannya ke dalam saus, dan menunggu hingga bumbu-bumbu meresap
sempurna. Asap dari pembakaran sate yang mengumbar ke mana-mana menempel di
baju necis pelanggan. Namun, mereka tak peduli. Hari itu, Selasa (27/2) pukul 12.00,
hampir semua kursi di Sate Keroncong terisi. Beberapa kipas angin mengusir gerah
pelanggan yang tiba silih berganti. Rumah makan di Gang Lele, Jalan Matraman
Raya, Jatinegara, Jakarta, itu sederhana saja. Tak jauh dari para pelanggan yang tengah
melahap pesanan, kompor arang untuk meng- godok tongseng terus di kipas hingga
kuahnya tak henti bergolak.
”Khasnya semua dimasak dengan arang atau kayu bakar sampai
ranting-rantingnya,” ujar Sri Mulyono (59), pemilik Sate Keroncong. Gulai sudah
diolah di panci besar sejak pukul 05.30 dan siap empat jam kemudian. Sementara
bumbu-bumbu dasar gulai dan tongseng yang disiapkan setiap tiga bulan dihaluskan
sampai enam jam, awet disimpan setahun meski tak dimasukkan ke dalam kulkas. Saat
disajikan dan dikunyah, sate yang kaya akan rempah berselang-seling dengan
sekelumit manis. Daging empuk begitu menor berlumur bumbu yang menambah sedapnya
hidangan ditemani bawang merah, tomat, cabai rawit, dan merica. Potongannya
lebih besar dibandingkan sate biasa. Sementara gulai dengan kuah panas menyusuri tubuh diiringi kehangatan di sela Harmoni Sate dan Keroncong. Harga seporsi
gulai dan tongseng masing-masing Rp 50.000, sementara sate Rp 75.000. Sebagai
penawar dahaga, bisa dipilih teh manis panas atau dingin, es jeruk, teh kemasan,
serta air mineral.
Sewaktu mencicipi sajian, lamat-lamat terdengar merdunya keroncong
yang dilantunkan Joni (62) dan Waluyo (70). Pasangan pengamen itu beraksi di depan
Sate Keroncong tanpa mengganggu konsumen. Stoples berisi sumbangan pengunjung
ditaruh di atas bangku. Mereka, mendendangkan ”Bandar Jakarta”, ”Bengawan
Solo”, ”Jembatan Merah”, ”Sampul Surat”, dan ”Di Bawah Sinar Bulan Purnama”.
Alunan yang menghanyutkan kalbu lantas menganyam harmoni dengan cita rasa sate,
gulai, atau tongseng. Joni bersama Waluyo yang sudah menghibur pelanggan Sate
Keroncong sejak tahun 2000 berasal dari Semarang, Jateng. Mereka mengais rezeki
sambil melestarikan kebudayaan Indonesia. Sesekali, lagu pop, dangdut, atau campursari
didendangkan agar tamu-tamu tak bosan. ”Dapatnya enggak tentu. Biasanya, sehari
Rp 50.000-Rp 75.000 per orang. Kalau lagi ramai, sampai Rp 100.000,” ucap Joni
yang bermain gitar. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023