Mereka yang Tetap Tertinggal
Lonjakan harga beras belum sepenuhnya menguntungkan petani. Alih-alih
menikmati cuan, mereka malah terancam kehabisan beras. Cadangan gabah petani
mulai menipis, sedangkan masa panen masih berbulan- bulan lagi. Bahkan, sebagian
petani harus mengantre beras murah. Rumsi (47) melangkahkan kakinya pelan saat
antrean panjang mulai bergerak di halaman Balai Desa Lurah, Kecamatan Plumbon, Cirebon,
Jabar, Senin (26/2). Di bawah terik mentari, puluhan warga menanti giliran
membeli beras medium dalam operasi pasar murah. Kegiatan yang digelar Pemkab
Cirebon dan Perum Bulog Kantor Cabang Cirebon itu menjajakan beras medium
seharga Rp 52.000 per kemasan 5 kg, jauh lebih murah ketimbang harga beras di
pasaran dengan jumlah dan kualitas sama yang lebih dari Rp 75.000. ”Harga beras
(di pasaran) sekarang Rp 15.000-Rp 16.000 per kg. Kalau di sini murah, Rp
10.400 per kg,” kata Rumsi.
Merujuk data BPS, harga beras di tingkat perdagangan besar
pada Februari 2024 rata-rata Rp 14.397 per kilogram, naik 5,95 % dari bulan sebelumnya.
Pada kurun yang sama, NTP tanaman pangan juga meningkat, tetapi lebih kecil, yakni
3,56 %. Saat harga beras naik, tak lantas diikuti naiknya NTP. NTP tanaman
pangan pun relatif lebih rendah dari subsektor pertanian lain, sebut saja
hortikultura dan perkebunan. Kondisi ini makin menambah sesak hidup para petani
yang selama ini tidak berdaya. Di antara semua lapangan pekerjaan, mereka yang
mengabdi di dunia pertanian selalu pada posisi tertinggal. BPS mencatat,
rata-rata pendapatan bersih mereka yang memiliki usaha pertanian adalah Rp 1,59
juta per bulan pada Agustus 2023. Sementara itu, penghasilan sektor industri dan
jasa sebesar Rp 1,79 juta dan Rp 2,25 juta per bulan. Upah para pekerja pertanian
pada periode yang sama tercatat Rp 2,37 juta per bulan. Terendah kedua setelah sektor
jasa lainnya, dan di bawah rata-rata nasional yang mencapai Rp 3,18 juta per
bulan.
Secara harian, nominal upah buruh tani tercatat terus meningkat.
Sayangnya, upah riil yang diterima, yang sudah disesuaikan tingkat konsumsi
petani, justru kian turun dari waktu ke waktu. Hal ini menjadi ironi lantaran
para petani sejatinya bagian dari penyumbang terbesar perekonomian nasional.
Dari Rp 11.763 triliun PDB pada 2023, sekitar 12,4 % dari sektor pertanian.
Seperlima bagian disumbang subsektor tanaman pangan yang memproduksi padi.
Tampak para petani berperan besar terhadap perekonomian makro. Naasnya, posisi
mereka justru tidak diuntungkan. Malah sebaliknya, terjebak dalam kemiskinan.
Data BPS menunjukkan, 48,86 % penduduk miskin pada Maret 2023 merupakan rumah
tangga yang bekerja di sektor pertanian. (Yoga)
Postingan Terkait
Regulasi Perumahan perlu direformasi
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Aturan Baru Jadi Tantangan Industri
Langkah Ekspansi dan Divestasi Perusahaan
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023