Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10113 )Lebaran di Jakarta, Yuk Nikmati Pesona Pulau Pari
Pulau Pari di Kepulauan Seribu menjadi destinasi wisata
favorit warga Jabodetabek selama libur Lebaran. Pesona keindahan pantai pasir
putih, hutan bakau, hingga biota laut memikat wisatawan untuk datang ke pulau di
utara Jakarta itu. Setelah berlayar dua jam dari Pelabuhan Muara Angke,
Jakarta, wisatawan tiba di Pulau Pari, Minggu (14/4). Panas matahari yang terik
tak menghalangi kegembiraan para turis lokal itu. Pemandu wisata segera menyambut
dan membawa wisatawan ke homestay milik warga setempat, lalu mereka meluncur ke
Pantai Pasir Perawan. Mereka tersihir pesona pantai pasir putih yang bersih
dengan pemandangan bahari dan embusan angin yang menyejukkan. Anak-anak pun
hanyut bermain pasir di tepi pantai itu.
Ahmad Hanafiah (65), wisatawan asal Bogor, Jabar, menikmati
pesona Pulau Pari bersama keluarga besarnya, yakni istri, anak-anak, dan cucu-cucunya.
”Pulau Pari ini cukup bagus dan harganya sangat terjangkau,” kata Ahmad. Liburan
ke Pulau Pari memang sangat bersahabat bagi keluarga besar. Paket perjalanan Rp
350.000 per orang untuk liburan selama dua hari satu malam. Meskipun jumlah mereka
11 orang, harga itu masih bersahabat. Mereka mendapat paket pelesiran mengitari
sejumlah destinasi wisata di Pulau Pari, mulai dari bermain di Pantai Pasir
Perawan, Bukit Matahari, hingga Tanjung Rengge. Mereka juga bisa menikmati pengalaman
selam permukaan (snorkeling) hingga olahraga air seperti banana boat. Harga tersebut
sudah termasuk penginapan di homestay, makan tiga kali sehari, serta barbeku di
pinggir pantai.
Wisata di Pulau Pari, kata Ahmad, sangat memesona, harga
terjangkau, dan dekat dari Jakarta. Meski demikian, dia berharap pengelola
wisata di Pulau Pari meningkatkan kebersihan. Wisatawan yang cukup ramai
menjadi berkah Lebaran bagi warga lokal di Pulau Pari. Hampir semua penginapan milik
warga di pulau seluas 42 hektar itu penuh selama musim libur Lebaran karena sudah
dipesan wisatawan. Harga rata-rata paket trip (wisata) di Kepulauan Seribu Rp
350.000 per orang. Ada juga paket Rp 1 juta per orang. Bedanya, paket yang
lebih murah menggunakan kapal kayu dari Pelabuhan Muara Angke dan yang lebih
mahal menaiki kapal cepat dari Pelabuhan Marina Ancol. ”Harganya sama saja
dengan hari-hari biasa. Kami tidak aji mumpung mentang-menang lagi libur
Lebaran,” kata Reyhan, pengusaha lokal yang menyulap rumahnya menjadi homestay.
(Yoga)
Donasikan Bukumu Sekarang
Rendahnya literasi masyarakat Indonesia bukan cuma karena
minat baca, melainkan ketersediaan buku yang tidak merata. Karenanya, sejumlah
orang memilih bergerak mendonasikan buku untuk mendekatkan akses bacaan ke
masyarakat. Jarum jam belum menunjukkan pukul 09.00 saat Hardoni (33) tiba di
Halte Transjakarta Kota, Jakarta, Sabtu (13/4). Langkahnya terhenti saat melewati
lemari berbentuk trapesium di samping Taman Fatahillah. Ia sebuah buku dengan sampul
berwarna merah dari tasnya, lalu meletakkannya di rak paling bawah. Lemari buku
setinggi 1,7 meter itu dikelola Bookhive, perpustakaan bersama yang berada di
sejumlah ruang publik.
Warga tak hanya bisa membaca dan meminjam buku, tetapi juga
berdonasi buku dengan menitipkannya di lemari tersebut. Hardoni sudah familiar
dengan gerakan literasi yang digagas pada 2021 itu. ”Saya pernah lihat dan baca
di Taman Suropati dan beberapa stasiun MRT. Namun, baru pertama kali ini ikut
berdonasi buku. Semoga buku ini dibaca dan bisa bermanfaat,” ujarnya. Karyawan bank
swasta di Jaksel tersebut menyumbangkan buku berjudul Kebohongan di Dunia Maya:
Memahami Teori dan Praktik-praktiknya di Indonesia, yang sudah selesai ia baca.
Hardoni mengaku resah setiap membaca atau mendengar berita tentang rendahnya
tingkat literasi masyarakat Indonesia.
Menurut dia, ketersediaan buku yang minim menjadi salah satu
pemicu. ”Dengan berbagi buku, akan semakin banyak orang yang terliterasi. Saya
tidak punya uang untuk membeli buku-buku baru. Jadi, saya menyumbangkan buku
yang sudah habis dibaca,” tutur Hardoni. Skor membaca untuk Indonesia, menurut
Program Penilaian Pelajar Internasional atau Programme for International
Student Assessment (PISA) pada 2022, turun 12 poin menjadi 359 dibandingkan
tahun 2018 dengan skor 371. Selain itu, berdasarkan hasil Asesmen Nasional
tahun 2021, satu dari dua peserta didik jenjang SD sampai SMA juga belum
mencapai kompetensi minimum literasi. Akses warga terhadap sumber bacaan juga
minim. Standar UNESCO menyebutkan, setiap orang minimal membaca tiga buku
setiap tahun.
Namun, di Indonesia, rasio koleksi perpustakaan daerah dengan
jumlah penduduk sebesar 1:90. Artinya, satu buku ditunggu oleh 90 orang. Selain
itu, minat baca masyarakat Indonesia juga hanya 0,001 %. Berarti, cuma 1 dari
1.000 orang yang rajin membaca. Di tengah pesimisme akibat rendahnya literasi
warga, gerakan membaca terus dihidupkan. Tak cuma di taman kota, gerakan
berbagi buku juga tumbuh di halte Transjakarta dan stasiun MRT. Warga bisa meminjam
dan mendonasikan buku di rak buku yang disediakan. Gerakan ini melibatkan
berbagai pihak, mulai dari komunitas literasi hingga penerbit. Munculnya
gerakan berbagi buku menjadi oase di tengah buruknya tingkat literasi bangsa.
Gerakan ini menunjukkan kepedulian untuk mendekatkan akses bacaan kepada
masyarakat agar lebih merata. (Yoga)
Dari Nasi Bungkus hingga Snorkeling Laris Manis di Gili Trawangan
Saat libur Lebaran dan awal musim ramai wisatawan
mancanegara, kunjungan ke Gili Trawangan di Desa Gili Indah, Lombok Utara, NTB,
menggeliat. Semua kecipratan rezeki. Nasi bungkus, sepeda, dan paket snorkeling
laris manis. ”Lauknya ada ikan dan ayam. Satu bungkus Rp 10.000 saja,” kata
Maemunah (65) saat seorang pembeli menanyakan nasi bungkus yang dijualnya pada
Sabtu (13/4). Sebagian besar pembelinya memilih duduk di area lapang di bawah
rindang cemara laut. Kelezatan nasi hangat dengan lauk ikan tongkol atau ayam,
sedikit mi goreng, dan potongan kacangan panjang berlipat dengan suguhan di
depan mata mereka. Pasir putih nan lembut berpadu dengan ombak tenang, air laut
sebening kaca menyambung dengan laut biru yang lebih gelap di tengah dan berakhir
di deretan perbukitan di Lombok daratan.
Jika sarapan lebih pagi, di sisi timur terlihat jelas Gunung
Rinjani, favorit para pendaki dalam dan luar negeri. Sebagian yang berlibur ke
Gili juga ada yang baru turun dari Rinjani. ”Kemarin saya dapat Rp 1 juta dari
hasil jualan nasi bungkus dan minuman. Alhamdulillah, meningkat dari
sebelumnya, Rp 600.000 sampai Rp 700.000 per hari,” kata Maemunah, yang selama
bulan Ramadhan libur berjualan. ”Minat sepeda banyak sekali, terutama wisatawan
lokal. Ada juga wisatawan mancanegara. Mereka menyewa sehari, ada juga dua
hari,” kata Najamudin (46), yang menyewakan sepeda per hari Rp 50.000. Menurut
Najamudin, seminggu terakhir rata-rata tempat penyewaan sepeda laris manis.
Hampir semua unit sepeda mereka habis disewa. ”Saya punya
tujuh unit, tinggal satu unit lagi. Padahal, ini masih pagi,” kata Najamudin. Ia
menambahkan, kondisi di Gili memang sudah semakin membaik dalam dua tahun terakhir.
Sebelumnya, Gili ikut terdampak pandemi Covid-19. Selain dari Pelabuhan Bangsal,
wisatawan yang datang ke Gili juga bisa menggunakan kapal cepat dari sejumlah
titik di Bali. Mereka biasanya menginap beberapa hari hingga lebih dari satu
minggu. ”Rata-rata satu kapal cepat datang membawa 100 penumpang. Kalau
ditotal, bisa lebih dari 1.500 wisatawan sehari. Jumlah wisatawan lokal dalam seminggu
terakhir sekitar 500 orang per hari,” kata Najamudin.
Kondisi itu berdampak pada berbagai sektor usaha jasa pariwisata
terkait. Tidak hanya akomodasi, tetapi juga aktivitas perairan yang juga jadi daya tarik Gili,
seperti snorkeling dan menyelam. ”Seluruh kamar kami penuh. Open trip
snorkeling juga ramai,” kata Wahab (28), pegawai Gili Gili Hotel sekaligus penyedia
paket snorkeling. Selain di area pantai dengan menyewa peralatan, tersedia juga
layanan open trip snorkeling ke sejumlah tempat di kawasan Gili. Setiap orang
dikenai tarif Rp 150.000, sudah termasuk peralatan dan pemandu, juga ke
beberapa titik snorkeling favorit di kawasan Gili. Beberapa di antaranya area
patung bawah laut dan titik penyu. Pada Sabtu siang terlihat para peserta open
trip snorkeling begitu antusias, baik wisatawan dalam negeri maupun
mancanegara. (Yoga)
Pilu dan Tawa di Balik ”Wisata Macet”
Daya Tarik kawasan wisata Puncak di Kabupaten Bogor hingga
Kabupaten Cianjur, Jabar, tak pernah memudar. Wisatawan berbondong-bondong
mengunjungi kawasan itu meski harus merasakan kemacetan dan tertahan karena
aturan sistem satu arah. Di balik derita ”wisata kemacetan” di kawasan Puncak,
ternyata membawa berkah bagi sejumlah warga setempat. Fania Oktaviani (27) menimang
anaknya laki-lakinya yang gelisah dan menangis dan menyerahkannya kepada sang
suami, Yudi (31). ”Kami sudah terjebak di sini sejak pukul 14.00. Sekarang
sudah hampir pukul 22.00. Anak dari tadi siang sudah rewel karena one way
enggak selesai-selesai,” ujar Yudi, warga Depok, Sabtu (13/4) malam. Yudi sudah
mengingatkan istrinya agar tidak ke kawasan Puncak karena macet. Namun, Fania
tetap ingin ke Puncak karena sudah janji dengan kakak, keponakan, dan ibunya. Sebuah
vila telanjur disewa untuk menghabiskan waktu libur di akhir pekan.
Cornelis Galuh (34) dan adiknya, Vincent (31), warga Jakarta,
tak bisa menutupi wajah letih karena tertahan sekitar delapan jam di sisi ruas
Jalan Tol Jagorawi. ”Ini sudah di luar wajar. Biasanya paling lama tiga jam, belum
lagi jalan ke atas pasti kejebak macet lagi,” kata Galuh kesal. ”Keluarga dari
Bandung sudah tiba di vila (Sabtu) sore. Kami masih di sini sampai malam,” kata
Vincent yang kapok berwisata ke Puncak di saat musim libur. Kekesalan serupa
juga dirasakan warga Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, salah satunya Risa
(32). Ia dan keluarga berniat bersilaturahmi ke rumah kerabat di Cianjur. Namun,
karena lalu lintas padat, Risa memilih di rumah saja.
Di balik kemacetan hingga tertahannya kendaraan karena sistem
satu arah, ternyata mendatangkan berkah dan sumber rezeki bagi para pedagang
kecil. Trisno (45) selama tiga hari terakhir, dagangan aneka makanan dan minuman
di warung miliknya yang berukuran 2 x 3 meter, laris manis. Pengunjung silih berganti
datang berbelanja. Pada hari biasa, omzet dagangan Trisno paling banyak Rp
150.000 per hari. Namun, melonjaknya kunjungan wisatawan di Puncak membuat
omzetnya bisa mencapai Rp 250.000 hingga Rp 300.000 per hari. ”Ada rezeki dari
macet ini. Jarang-jarang dapat segini, malam biasa sepi yang beli. Ini ada saja
yang datang beli. Bisa sampai lebih dari Rp 250.000,” ujarnya sambil tertawa.
Kemacetan di jalan akses menuju Puncak tak terelakkan akibat
kepadatan kendaraan. Kepolisian memberlakukan sistem satu arah pada Minggu (14/3)
pukul 11.00 untuk mengalirkan arus kendaraan dari Puncak menuju Gadog atau
Jakarta. Rekayasa lalu lintas masih dilakukan hingga Selasa (16/4). Berdasarkan
data TMC Polres Bogor pada Minggu pukul 13.00, ada 28.866 kendaraan yang
melintasi Puncak menuju Gadog atau Jakarta. Sementara dari arah Gadog menuju
Puncak mencapai 30.539 kendaraan. Total kendaraan yang melintas di jalur Puncak
itu sebanyak 59.405 kendaraan. Sepeda motor mendominasi, yakni 44.782
kendaraan. Total mobil mencapai 13.723 kendaraan. Sisanya bus dan truk sebanyak
900 kendaraan. (Yoga)
Wahai Petani, Musim Tanam Sudah Bergeser Jauh
Goris Takene (48) memetik satu per satu buah jagung di kebun
miliknya di Kelurahan Bello, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT, Senin (8/4)
pagi. Jagung yang ia panen di lahan seluas 4.000 meter persegi itu lolos dari
bencana gagal tanam yang menimpa ribuan petani di NTT. Jagung yang baru dipanen
itu ditanam oleh Goris pada 16 Januari 2024 atau mundur jauh dibandingkan
tahun-tahun sebelumnya. Saat menanam, ia seperti berjudi sebab hanya memanfaatkan
hari hujan yang tersisa. Setelah membeli benih Rp 95.000 per kg, ia coba menanam
di tanah yang disesaki hamparan batu karang itu. Ia tak berharap banyak karena
sudah banyak petani yang mengalami gagal tanam. Petani mulai menanam pada awal
Desember ketika hujan hampir seminggu.
Mereka mengira musim hujan tiba. Sayangnya, setelah jagung
atau padi mulai tumbuh beberapa sentimeter, hujan berhenti. Panas datang mematikan
tanaman. Akhir Desember hujan kembali turun. Petani berpikir itu saat tepat
menanam. Ketika tanaman mulai tumbuh, datang terik dan menyapu semua tanaman.
Banyak petani putus asa, lalu meninggalkan kebun. Mereka merasa seakan dikecoh oleh
alam yang tidak menurunkan hujan seperti dulu lagi. ”Biasanya, petani lahan tadah
hujan itu sudah mulai menanam pada awal Desember. Sejak 20 tahun terakhir,
terus mundur sampai Januari. Musim tanam sudah bergeser,” ucap Goris. Ia tak
lagi berpatokan pada pola lama, tapi mengikuti perkembangan cuaca dan iklim dari
BMKG.
”Saatnya petani menyesuaikan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan yang ternyata banyak membantu,” ujar Goris. Kelurahan Bello
merupakan salah satu sentra pangan di Kota Kupang, khususnya untuk padi,
jagung, dan hortikultura. Daerah itu punya cadangan air yang banyak.
Belakangan, debit air terus menurun sehingga petani mengandalkan hujan. Tak
jauh dari kebun Goris terdapat hamparan sawah yang kini baru mulai ditanam
padi. Petani menunggu debit air bertambah setelah hujan satu bulan terakhir.
Sekitar 20 tahun sebelumnya, sawah di Bello sudah panen pertama di awal April,
kemudian persiapan untuk musim tanam berikutnya. ”Sekarang tanam padi pertama
sudah bergeser ke April dan tidak mungkin tanam kedua karena musim hujan sudah selesai.
Satu kali tanam saja sudah bersyukur,” ujar Rino (27), warga. (Yoga)
Sia-sia Kewajiban Menulis Jurnal Ilmiah
Hak Pekerja yang Menjadi Saksi Kasus Pidana
Mengenai hak dan kewajiban saksi bahwa seseorang yang dipanggil sebagai saksi dalam suatu perkara pidana berkewajiban untuk hadir. Hal ini juga dapat dilihat dalam Pasal 112 ayat (1) KUHAP. Sebelum memberi keterangan, saksi wajib mengucapkan sumpah atau janji menurut cara agamanya masing-masing, bahwa ia akan memberikan keterangan yang sebenarnya dan tidak lain daripada yang sebenarnya . Saksi wajib untuk tetap hadir di sidang setelah memberikan keterangan. Para saksi dilarang untuk bercakap-cakap. Sedangkan hak dari saksi antara lain:
1. Dipanggil sebagai saksi oleh penyidik dengan surat panggilan yang sah. 2. Berhak untuk dilakukan pemeriksaan di tempat. 3. Berhak untuk memberikan keterangan tanpa tekanan dari siapapun . 4. Saksi berhak menolak menandatangani berita acara yang memuat keterangannya dengan memberikan alasan yang kuat . 5. Berhak untuk tidak diajukan pertanyaan. 6. Berhak atas juru bahasa jika saksi tidak paham bahasa Indonesia . 7. Berhak atas seorang penerjemah jika saksi tersebut bisu dan/atau tuli . Kami berasumsi bahwa Anda dipanggil sebagai saksi dalam sidang perkara pidana. Jika Anda tidak datang pada hari yang ditetapkan dalam surat panggilan, meskipun telah dipanggil secara sah, dan hakim ketua sidang mempunyai cukup alasan untuk menyangka bahwa saksi itu tidak akan mau hadir, maka hakim ketua sidang dapat memerintahkan supaya saksi tersebut dihadapkan ke persidangan.
Dunia Antisipasi Serangan Balasan Iran ke Israel
Peringatan Presiden AS Joe Biden bahwa Iran akan segera
menyerang Israel mendapat respons cepat dan beragam. Sejumlah negara
mengingatkan warganya untuk segera meninggalkan Iran. Beberapa maskapai
memutuskan mengubah rute penerbangan dan sejumlah saham rontok. Presiden AS Joe
Biden pada Jumat waktu Washington atau Sabtu (13/4) waktu Jakarta mengatakan,
pihaknya memperkirakan Iran segera menyerang Israel. ”Lebih cepat, daripada
nanti.” AS, tegas Biden, tetap akan mendukung dan membela Israel. Situasi di
kawasan Timur Tengah semakin memanas setelah serangan udara Israel atas Kantor
Perwakilan Iran di Damaskus, Suriah, 1 April lalu, yang menewaskan satu
jenderal senior pasukan Quds Iran dan enam perwira lainnya. Israel mengaku
tidak bertanggung jawab atas serangan itu. Namun, Teheran bersumpah
membalasnya. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengatakan,
Israel harus dihukum.
Kementerian Luar Negeri Belanda mengatakan, Pemerintah
Belanda akan menutup kedutaan besar mereka di Teheran pada hari Minggu ini. Mereka
akan kembali memutuskan apakah kedutaan akan kembali beroperasi pada Senin
(15/4). Pemerintah Jerman juga telah mengingatkan warganya untuk segera
meninggalkan Iran. Berlin menyebutkan, ada risiko peningkatan ketegangan Israel
dan Iran yang mungkin dapat berdampak pada penangkapan sewenang-wenang. ”Dalam
ketegangan saatini,terutama antara Israel dan Iran, ada risiko peningkatan yang
tiba-tiba. Warga negara Jerman menghadapi risiko nyata ditangkap dan
diinterogasi secara sewenang-wenang serta dijatuhi hukuman penjara yang lama. Warga
negara ganda yang berkewarganegaraan Iran dan Jerman sangat berisiko,” tulis
Kementerian Luar Negeri Jerman.
Sejumlah negara lain, seperti India, Perancis, Polandia, dan Rusia,
juga telah mengingatkan warganya untuk tidak bepergian ke Iran, Israel, dan
wilayah di sekitarnya. Kemenlu Indonesia melalui Direktorat Perlindungan WNI mengatakan
terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah. ”Kemenlu bersama KBRI Teheran
dan Perwakilan RI di Timur Tengah terus memonitor situasi di kawasan. Sesuai
SOP, setiap Perwakilan RI wajib memiliki rencana kontingensi untuk antisipasi
situasi kedaruratan bagi pelindungan WNI,” kata Judha Nugraha, Direktur
Perlindungan WNI Kemenlu RI. Ia menambahkan, ada 376 WNI di Iran dan mayoritas
adalah mahasiswa yang bertempat tinggal di kota Qom. (Yoga)
Ketika Penilaian Dewan Pers Jadi Dasar Gugatan Perdata kepada Media
Ancaman Sampah Plastik Hasil Mudik Lebaran
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









