;

Donasikan Bukumu Sekarang

Donasikan Bukumu
Sekarang

Rendahnya literasi masyarakat Indonesia bukan cuma karena minat baca, melainkan ketersediaan buku yang tidak merata. Karenanya, sejumlah orang memilih bergerak mendonasikan buku untuk mendekatkan akses bacaan ke masyarakat. Jarum jam belum menunjukkan pukul 09.00 saat Hardoni (33) tiba di Halte Transjakarta Kota, Jakarta, Sabtu (13/4). Langkahnya terhenti saat melewati lemari berbentuk trapesium di samping Taman Fatahillah. Ia sebuah buku dengan sampul berwarna merah dari tasnya, lalu meletakkannya di rak paling bawah. Lemari buku setinggi 1,7 meter itu dikelola Bookhive, perpustakaan bersama yang berada di sejumlah ruang publik.

Warga tak hanya bisa membaca dan meminjam buku, tetapi juga berdonasi buku dengan menitipkannya di lemari tersebut. Hardoni sudah familiar dengan gerakan literasi yang digagas pada 2021 itu. ”Saya pernah lihat dan baca di Taman Suropati dan beberapa stasiun MRT. Namun, baru pertama kali ini ikut berdonasi buku. Semoga buku ini dibaca dan bisa bermanfaat,” ujarnya. Karyawan bank swasta di Jaksel tersebut menyumbangkan buku berjudul Kebohongan di Dunia Maya: Memahami Teori dan Praktik-praktiknya di Indonesia, yang sudah selesai ia baca. Hardoni mengaku resah setiap membaca atau mendengar berita tentang rendahnya tingkat literasi masyarakat Indonesia.

Menurut dia, ketersediaan buku yang minim menjadi salah satu pemicu. ”Dengan berbagi buku, akan semakin banyak orang yang terliterasi. Saya tidak punya uang untuk membeli buku-buku baru. Jadi, saya menyumbangkan buku yang sudah habis dibaca,” tutur Hardoni. Skor membaca untuk Indonesia, menurut Program Penilaian Pelajar Internasional atau Programme for International Student Assessment (PISA) pada 2022, turun 12 poin menjadi 359 dibandingkan tahun 2018 dengan skor 371. Selain itu, berdasarkan hasil Asesmen Nasional tahun 2021, satu dari dua peserta didik jenjang SD sampai SMA juga belum mencapai kompetensi minimum literasi. Akses warga terhadap sumber bacaan juga minim. Standar UNESCO menyebutkan, setiap orang minimal membaca tiga buku setiap tahun.

Namun, di Indonesia, rasio koleksi perpustakaan daerah dengan jumlah penduduk sebesar 1:90. Artinya, satu buku ditunggu oleh 90 orang. Selain itu, minat baca masyarakat Indonesia juga hanya 0,001 %. Berarti, cuma 1 dari 1.000 orang yang rajin membaca. Di tengah pesimisme akibat rendahnya literasi warga, gerakan membaca terus dihidupkan. Tak cuma di taman kota, gerakan berbagi buku juga tumbuh di halte Transjakarta dan stasiun MRT. Warga bisa meminjam dan mendonasikan buku di rak buku yang disediakan. Gerakan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari komunitas literasi hingga penerbit. Munculnya gerakan berbagi buku menjadi oase di tengah buruknya tingkat literasi bangsa. Gerakan ini menunjukkan kepedulian untuk mendekatkan akses bacaan kepada masyarakat agar lebih merata. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :