;

Pilu dan Tawa di Balik ”Wisata Macet”

Ekonomi Yoga 15 Apr 2024 Kompas
Pilu dan Tawa di Balik ”Wisata Macet”

Daya Tarik kawasan wisata Puncak di Kabupaten Bogor hingga Kabupaten Cianjur, Jabar, tak pernah memudar. Wisatawan berbondong-bondong mengunjungi kawasan itu meski harus merasakan kemacetan dan tertahan karena aturan sistem satu arah. Di balik derita ”wisata kemacetan” di kawasan Puncak, ternyata membawa berkah bagi sejumlah warga setempat. Fania Oktaviani (27) menimang anaknya laki-lakinya yang gelisah dan menangis dan menyerahkannya kepada sang suami, Yudi (31). ”Kami sudah terjebak di sini sejak pukul 14.00. Sekarang sudah hampir pukul 22.00. Anak dari tadi siang sudah rewel karena one way enggak selesai-selesai,” ujar Yudi, warga Depok, Sabtu (13/4) malam. Yudi sudah mengingatkan istrinya agar tidak ke kawasan Puncak karena macet. Namun, Fania tetap ingin ke Puncak karena sudah janji dengan kakak, keponakan, dan ibunya. Sebuah vila telanjur disewa untuk menghabiskan waktu libur di akhir pekan.

Cornelis Galuh (34) dan adiknya, Vincent (31), warga Jakarta, tak bisa menutupi wajah letih karena tertahan sekitar delapan jam di sisi ruas Jalan Tol Jagorawi. ”Ini sudah di luar wajar. Biasanya paling lama tiga jam, belum lagi jalan ke atas pasti kejebak macet lagi,” kata Galuh kesal. ”Keluarga dari Bandung sudah tiba di vila (Sabtu) sore. Kami masih di sini sampai malam,” kata Vincent yang kapok berwisata ke Puncak di saat musim libur. Kekesalan serupa juga dirasakan warga Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, salah satunya Risa (32). Ia dan keluarga berniat bersilaturahmi ke rumah kerabat di Cianjur. Namun, karena lalu lintas padat, Risa memilih di rumah saja.

Di balik kemacetan hingga tertahannya kendaraan karena sistem satu arah, ternyata mendatangkan berkah dan sumber rezeki bagi para pedagang kecil. Trisno (45) selama tiga hari terakhir, dagangan aneka makanan dan minuman di warung miliknya yang berukuran 2 x 3 meter, laris manis. Pengunjung silih berganti datang berbelanja. Pada hari biasa, omzet dagangan Trisno paling banyak Rp 150.000 per hari. Namun, melonjaknya kunjungan wisatawan di Puncak membuat omzetnya bisa mencapai Rp 250.000 hingga Rp 300.000 per hari. ”Ada rezeki dari macet ini. Jarang-jarang dapat segini, malam biasa sepi yang beli. Ini ada saja yang datang beli. Bisa sampai lebih dari Rp 250.000,” ujarnya sambil tertawa.

Kemacetan di jalan akses menuju Puncak tak terelakkan akibat kepadatan kendaraan. Kepolisian memberlakukan sistem satu arah pada Minggu (14/3) pukul 11.00 untuk mengalirkan arus kendaraan dari Puncak menuju Gadog atau Jakarta. Rekayasa lalu lintas masih dilakukan hingga Selasa (16/4). Berdasarkan data TMC Polres Bogor pada Minggu pukul 13.00, ada 28.866 kendaraan yang melintasi Puncak menuju Gadog atau Jakarta. Sementara dari arah Gadog menuju Puncak mencapai 30.539 kendaraan. Total kendaraan yang melintas di jalur Puncak itu sebanyak 59.405 kendaraan. Sepeda motor mendominasi, yakni 44.782 kendaraan. Total mobil mencapai 13.723 kendaraan. Sisanya bus dan truk sebanyak 900 kendaraan. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :