Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10113 )Berburu Kuliner di Hari Raya
Suasana lebaran tak hanya dimanfaatkan untuk bersilaturahmi
dan bermaaf-maafan. Di Kota Bandung, Jabar, masyarakat hingga pengunjung dari
luar kota berburu kuliner memanjakan lidah dalam kebersamaan. Hujan yang
mengguyur Bandung tidak menyurutkan niat Isna (50) bersama lima temannya
menikmati Bakso Tjap Haji di Jalan Burangrang, Jumat (12/4) siang. Mereka rela
mengantre lebih dari 45 menit agar bisa menyantap bakso yang menggugah selera. Ratusan
orang tampak sabar menanti giliran. Sebagian terpaksa menunggu di bawah payung
di depan restoran. Sebagian lagi berlindung menghindari tempias hujan.
”Lebaran biasanya menunya santan dan ketupat. Sekarang saya mencari
yang kuahnya segar seperti bakso. Di sini (Bakso Tjap Haji) lebih enak. Jadi,
sengaja jauh-jauh datang, ngantre juga tidak apa-apa,” ujar Isna yang berasal
dari Kecamatan Rancasari. Tidak hanya Isna, pesohor dari Jakarta pun rela mengantre
demi semangkuk bakso. Gitaris band Maliq & D’Essentials Arya Aditya yang
dipanggil Lale juga berbaur dengan pengunjung sambil menyantap bakso. Dia
datang bersama istrinya, Fikha Effendi.
”Setiap momen lebaran pasti makan bakso. Kebetulan disini
langganan, weekday juga pas ke Bandung pasti ke sini,” ujar Fikha. Manajer Operasional
Bakso Tjap Haji Rati Kurniati menjelaskan, saat Lebaran, setiap hari mereka melayani
lebih dari 2.000 pengunjung yang menghabiskan 2.500 porsi. Jumlah ini meningkat
lima kali lipat di- bandingkan hari-hari biasa. ”Salah satu bakso kami sampai
keluar lebih dari 20.000 butir. Menu Bakso Spesial 1 menjadi favorit. Biasanya
keramaian seperti ini terjadi sampai cuti Lebaran beres,” ujarnya. Oleh-oleh
makanan ringan di Kota Bandung juga diserbu para penggemar kuliner.
Putri (37), warga Ciputat, Tangsel, menunggu giliran makanan
ringannya ditimbang di toko Sari Milo Shultoniah. Warung oleh-oleh di Jalan
Kemuning, Kecamatan Sumur Bandung, ramai pada Jumat pagi. Neni Rosmawati (32),
pengelola toko Sari Milo Shultoniah, menyebutkan, Kentang Manohara, keripik
kentang renyah berwarna kuning keemasan menjadi salah satu favorit yang dijual
di sana bersama Kentang Putih dan Cireng Ariel. Dalam sehari, dia menjual lebih
dari 60 kg keripik Kentang Manohara. ”Kentang Putih dan Cireng Ariel juga
rata-rata bisa habis 60 kg sehari. Ada belasan jenis makanan ringan, cuma yang
sering dibeli tiga jenis itu setiap lebaran dan waktu libur,” paparnya. (Yoga)
Mudik dan Pelesiran via Tol Trans-Sumatera
Melakukan perjalanan mudik Lebaran 2024 lewat Jalan Tol
Trans-Sumatera menjadi pengalaman menarik yang perlu dicoba. Tahun ini lonjakan
harga tiket pesawat yang tak masuk akal membuat banyak warga memilih jalur darat.
Apalagi testimoni warga Ibu Kota yang kerap bepergian ke wilayah Sumatera
menggunakan jalur darat menyatakan kehadiran ruas Jalan Tol Trans-Sumatera
(JTTS) yang saat ini sudah beroperasi dari Bakauheni, Lampung, hingga Prabumulih,
Sumsel, telah mempersingkat waktu tempuh dan meningkatkan kenyamanan
berkendara. Pernyataan mereka seragam, yaitu ” Sekarang, sejak ada jalan tol,
dari Bakauheni ke Palembang cuma 5 jam.”
Agar terhindar dari puncak arus mudik yang diprediksi terjadi
pada 6-7 April 2024, Kompas berangkat pada Kamis (4/4) pukul 04.00. Sekitar
pukul 09.00, Kompas sudah memasuki Gerbang Tol (GT) Bakauheni. Kota Palembang
menjadi destinasi persinggahan di malam pertama pada perjalanan menuju
Bukittinggi, Sumbar. Untuk mencapai Palembang dari Bakauheni, terdapat tiga ruas
jalan tol yang harus dilalui, yakni ruas Jalan Tol Bakauheni-Terbanggi Besar
sepanjang 141 km, lalu ruas Jalan Tol Terbanggi Besar-Kayu Agung sejauh 189 km,
dan yang terakhir ruas Tol Kayu Agung-Palembang yang berjarak 42,5 km. Di
sepanjang jalan tol, terdapat sekitar 9 rest area permanen dan sejumlah rest
area fungsional. Kendaraan siaga, seperti kendaraan patroli dan kendaraan derek
juga terlihat siap bertugas.
Tarif jalan tol dari GT Bakauheni Selatan ke GT Tol Kayu
Agung/Kayu Agung Utama untuk kendaraan golongan I sebesar Rp 360.000. Sementara
tarif tol dari GT Kayu Agung Utama menuju GT Palembang untuk kendaraan golongan
I sebesar Rp 75.000. Tiba di Palembang pada pukul 15.00, rombongan mudik punya
waktu banyak untuk berpelesir di Jembatan Ampera dan berwisata kuliner menikmati
sajian pempek dan pindang patin di waktu berbuka puasa. Sesuai rencana awal, mudik
kali ini memang menjadi sebuah perjalanan wisata. Ternyata, banyak pula
keluarga-keluarga yang berpelesir di kota-kota yang mereka lalui dalam
perjalanan mudik.
Keberadaan jalan tol telah menciptakan potensi perekonomian
baru di wilayah sekitar jalan tol. Dimulai dari daerah di sekitar pintu gerbang
tol hingga di sejumlah area istirahat. Sejalan dengan berlanjutnya ruas JTTS di
area selatan dan utara yang akan saling terhubung, potensi pertumbuhan ekonomi
di wilayah di sekitar pintu gerbang tol sebagai wilayah transit juga akan terus
berkembang. Pemerintah daerah perlu memanfaatkan situasi ini, misalnya dengan
membangun kawasan industri dan perdagangan yang dekat dengan akses jalan tol
sehingga akan tercipta kawasan ekonomi baru. (Yoga)
Tergiur Melihat Sukses Perantau
Arus balik Lebaran menjadi momen bagi banyak orang untuk
mulai merantau. Siapa yang tak tergiur melihat kilau kesuksesan mereka yang
pulang ke kampung halaman. Kesuksesan perantau tergambar pada hasil Survei
Sosial Ekonomi Nasional BPS (Susenas BPS). Pada kelompok 20 % keluarga paling
sejahtera di Jabodetabek, 54,2 % adalah perantau. Bagi banyak orang, hidup
merantau jauh dari kampung halaman merupakan pilihan demi harapan memperoleh
kehidupan yang lebih baik.
Berdasarkan data mikro Susenas BPS Maret 2022, dari total 72,8
juta keluarga, 13,9 % atau 10,1 juta merupakan keluarga perantau. Kategori
keluarga perantau diperoleh dari status setiap kepala dan anggota keluarga yang
tidak lahir di provinsi tempat tinggalnya saat ini. Kategori ini termasuk dalam
keluarga perantau lebih dari lima tahun. Ada juga kategori keluarga perantau
kurang dari lima tahun karena baru pindah ke provinsi domisili sekarang. Dua
kategori keluarga perantau itu membentuk kondisi kesejahteraan yang hampir sama.
Dari 10 kelompok kesejahteraan, hanya 3,3 % keluarga perantau yang masuk dalam
Desil 1. Angka tersebut terus meningkat di desil-desil di atasnya hingga di
Desil 10 yang mencapai 20,9 %.
Ukuran kesejahteraan keluarga ini dilihat dari pengeluaran per
kapita per bulan di setiap keluarga. Desil 5-8 masuk dalam 40 % keluarga dengan
pengeluaran per kapita menengah di atas Desil 1-4. Desil 9-10 termasuk dalam 20
% keluarga dengan pengeluaran per kapita teratas atau dapat juga disebut
keluarga paling sejahtera. Rentang pengeluaran per kapita Desil 1 hingga 4 berkisar
Rp 427.000 hingga Rp 985.000 per bulan. Desil 5 hingga 8 di rentang Rp 986.000 hingga
Rp 2,1 juta per bulan. Desil 9-10 lebih dari Rp 2,2 juta per bulan. Pengeluaran
ini termasuk untuk kebutuhan sehari-hari, baik makanan maupun nonmakanan.
Bram (26), warga Rempoa, Tangsel, Banten, merupakan warga
kelahiran Semarang dan merantau ke Jabodetabek sejak 2022. Pengeluaran per
kapita rata-rata Bram, istri, dan seorang anak lebih dari Rp 2 juta per bulan,
masuk Desil 9-10 atau keluarga sejahtera. Menurut Bram, kesempatan bekerja di
kota perantauan selalu terbuka lebar. Modalnya pendidikan tinggi dan pengalaman
bekerja. Bram mengaku tidak butuh waktu lama dari pekerjaan sebelumnya hingga
mendapatkan pekerjaannya saat ini di Jakarta. Untuk mendapatkan pekerjaan di
perusahaan besar, sudah banyak lamaran pekerjaan Bram yang ditolak. Ia tak
patah arang dan terus berusaha hingga akhirnya mendapat pekerjaan yang layak di
perantauan. (Yoga)
Arus Balik Dimulai Hari Ini
Rekayasa lalu lintas satu arah (one way) dan lawan arah
(contraflow) di Tol Trans-Jawa dari Gerbang Tol (GT) KM 414 Kalikangkung,
Semarang, Jateng, sampai KM 72 GT Cikampek Utama belum diterapkan pada Jumat (12/4).
Skema yang direncanakan mulai pukul 14.00 ini ditunda karena arus balik Lebaran
belum terpantau padat. Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Aan Suhanan
menjelaskan, volume kendaraan dari arah timur yang masuk GT Kalikangkung
sebanyak 1.178 kendaraan dalam rata-rata tiga jam, di bawah parameter kepadatan
2.800 kendaraan per jam. Selain itu, kendaraan yang masuk dari arah Pejagan dan
pintu masuk lain setelah GT Kalikangkung juga masih berada di angka 881 kendaraan.
”Secara keseluruhan masih berada di bawah parameter sampai
tadi jam 10.00. Trennya ada kenaikan di setiap traffic counting walau belum signifikan,”
kata Aan. Puncak arus balik diprediksi terjadi Minggu (14/4) sampai Senin
(15/4), mengingat waktu libur dan cuti bersama nasional akan berakhir dan masyarakat
mulai kembali bekerja pada Selasa (16/4). Aan mengimbau pemudik kembali ke
perantauan lebih awal guna menghindari puncak arus balik. Faktor keselamatan
harus menjadi yang utama dengan tidak memaksa sopir menyetir lebih dari delapan
jam dan memastikan kendaraan dalam kondisi prima. (Yoga)
Ramadan di Pulau Rempang Tak Sehikmat Dulu
RUMAH di Kampung Tua Pasir Merah, Kelurahan Sembulang, Pulau Rempang, Kecamatan Galang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, itu tampak ramai pada Selasa sore, 2 April 2024. Silvi, sang empunya rumah, sibuk menerima tamu-tamunya yang hendak menghadiri acara doa dan buka puasa bersama. Tetamu itu tak hanya berasal dari Kampung Tua Pasir Merah. Ada juga yang berasal dari Kampung Tua Sembulang Hulu dan Kampung Tua Sembulang, yang bersebelahan.
Kampung Tua Pasir Merah merupakan atu dari 12 kampung di pulau Rempang yang terkena dampak Proyek Strategis nasional (PSN) Rempang Eco-City. Pemerintah menetapkan warga di 12 kampung itu harus direlokasi karena disana akan dibangun pabrik solar panel kerja sama antara PT Makmur Elok Graha (MEG) milik pengusaha Tommy Winata dan Xinyi Glass Holding Ltd, perusahaan asal Cina. Dari 12 kampung itu, pemerintah merencanakan lima kampung sudah harus dikosongkan pada tahap asal pembangunan. kelima kampung itu adalah Sembulang Hulu, Sembulang tanjung, Pasir Merah, Pasir Panjang, dan Bloken.
Penolakan warga terhadap proyek itu berbuah aksi demonstrasi panjang sejak Agustus 2023 hingga saat ini. bentrokan sempat pecah saat pemerintah mengerahkan sekitar seribu aparat gabungan untuk mengosongkan kampung-kampung tua itu pada 7 September 2023. Demonstrasi di depan Kantor Badan Pengelola Batam empat hari berselang pun berakhir ricuh dan menyebabkan 35 orang ditahan dan akhirnya kini harus mendekam dalam penjara karena dianggap membuat kerusuhan. (Yetede)
Risiko Kredit Macet Pinjol Lebaran
Menuju Desa Berdaulat Desa Berbudaya
Hiruk-pikuk revisi UU Desa telah selesai dengan disetujuinya
perubahan terhadap UU No 6 Tahun 2014 tentang Desa. Ada lima poin yang paling
disorot, yaitu tentang penambahan penghasilan kepala desa, alokasi anggaran
dana desa, insentif RT dan RW serta masa jabatan kepala desa. Melalui negosiasi
dan kompromi masa jabatan kepala desa menjadi delapan tahun dan dapat dipilih kembali
sekali. Dengan disahkannya UU Desa pada 28 Maret 2024, sudah waktunya melakukan
pembenahan dan percepatan agar target dan capaian yang direncanakan bisa
terwujud. Terutama mewujudkan desa yang berdaulat dalam berkebudayaan.
Masyarakat di desa-desa pada masa lalu selalu memproduksi
sumber pangan yang berasal dari umbi-umbian dan sumber lain di sekitarnya, yang
mulai banyak ditinggalkan. Dalam menanggulangi gizi buruk, tetumbuhan dan
tanaman obat yang sudah tumbuh di mana-mana dan dipraktikkan sejak dulu kala,
telah mampu menjadi sumber yang cukup penting dalam menjaga kesehatan dan
bersahabat dengan alam. Melihat potensi kebudayaan yang ada, Sustainable
Development Goals (SDGs) Desa merupakan upaya konkret dalam mencapaitujuan
pembangunan berkelanjutan.
Pada SDGs Desa ada 18 tujuan, yaitu desa tanpa kemiskinan,
desa tanpa kelaparan, desa sehat dan sejahtera; pendidikan desa berkualitas;
desa berkesetaraan jender; desa layak air bersih dan sanitasi; desa berenergi
bersih terbarukan, pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi desa, inovasi dan
infrastruktur desa; desa tanpa kesenjangan; kawasan permukiman desa berkelanjutan;
konsumsi dan produksi desa yang sadar lingkungan. Mengacu pada data Indeks Desa
Membangun (IDM) 2023, desa di Indonesia jumlahnya 74.400-an. Terbagi dalam
beberapa kategori: desa maju sebanyak 23.030 desa; desa mandiri 11.456 desa.
Melalui pemanfaatan ragam kebudayaan yang ada seperti penyelenggaraan
festival dan bazar, akan memperkuat kohesi sosial antar masyarakat sehingga
nilai-nilai gotong royong yang sudah ada sejak lama dapat terus terbangun. Peran
kepala desa yang masa jabatannya delapan tahun dan bisa mencapai 16 tahun, diharapkan
dapat menggali dan mengajak generasi muda dan kaum terpelajar melihat potensi
yang ada di desa. Dengan adanya dana desa yang jumlah semakin meningkat dari
tahun ke tahun, sudah waktunya desa mengalokasikan sebagian dananya untuk
pemajuan kebudayaan desa untuk membantu menyelesaikan problem lainnya, terutama
yang berkaitan dengan SDGs Desa. (Yoga)
Luis Hay Penjaga ”Burung Surga” Papua
Kerusakan hutan mengancam ruang hidup burung cenderawasih di
Tanah Papua. Melalui ekowisata di Pulau Misool, Raja Ampat, yang dikelolanya sejak
tujuh tahun lalu, Luis Hay (39) menjaga kelestarian ”burung surga” itu dari
kepunahan. Rabu (27/3) subuh, bersama sejumlah pengunjung, Luis menyusuri
perairan di sisi barat Kampung Kapatcol, Misool Barat, Raja Ampat, Papua Barat
Daya, menuju kawasan ekowisata yang menjadi habitat berbagai jenis burung, salah
satunya cenderawasih. Ia harus berangkat pagi-pagi buta. Sebab, biasanya burung
cenderawasih bermain di kawasan ekowisata itu pukul 06.00-09.00 WIT. ”Kita
harus tiba di lokasi sebelum cenderawasih datang. Kalau cuaca bagus,
cenderawasih akan keluar dan jelas terlihat,” ujarnya.
Setengah jam berlayar, Luis tiba di dermaga kayu di pintu
masuk kawasan ekowisata. Dari kejauhan terlihat dua gubuk bertiang kayu dan
beratap daun-daun kering. ”Kita tunggu di gubuk ini. Semoga sebentar lagi
langit cerah. Kalau tetap hujan cenderawasih jarang keluar. Masih ada waktu menunggu
hujan berhenti,” ucapnya. Ketika hujan reda, kicau burung dengan suara beragam
mulai terdengar. Luis yang semula berdiri segera berjongkok. Para wisatawan pun
mengikutinya. Dari berbagai kicauan itu, ia bisa mengidentifikasi jenis-jenis burung
yang datang, seperti cenderawasih, kakatua, mambruk, nuri, dan maleo. Tak
berselang lama, mata Luis berhasil menemukan posisi burung cenderawasih.
Tangannya menunjuk pohon setinggi sekitar 25 meter. Sembari mengikuti
cenderawasih itu, beberapa wisatawan membidikkan kamera untuk memotret.
Sejak 2017, Luis mengembangkan kawasan ekowisata di hutan
yang berdekatan dengan kebun miliknya. Maraknya perburuan cenderawasih menjadi alasan
yang mendorongnya mengelola ekowisata tersebut. Kepala Kampung Kapatcol itu menjaga
kawasan hutan dari perburuan satwa, dibantu beberapa warga. ”Kalau cenderawasih
terus-terusan diburu dan hutannya ikut dirusak, lama-lama akan punah. Suatu
saat, generasi masa depan Papua mungkin cuma bisa mendengar tentang cenderawasih
tanpa bisa melihatnya hidup di alam bebas,” katanya. Menurut Luis, melalui
ekowisata, hutan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Sebab, tanpa menebang pohon dan menangkap satwa-satwa liar
yang hidup di sana, warga tetap bisa mendapatkan manfaat ekonomi dari kegiatan
wisata. Selain pelancong lokal, kawasan ekowisata itu telah dikunjungi
wisatawan banyak negara, seperti Korsel, Australia, Perancis, India, Jerman, AS
dan Swedia. Pengunjung dikenai biaya transportasi perahu motor Rp 200.000-Rp
300.000. ”Ekowisata itu menjadi salah satu cara menyelamatkan lingkungan. Sejumlah
pengunjung dari luar negeri datang hanya untuk melihat cenderawasih di hutan.
Kalau cenderawasih ditangkap lalu dijual, di masa depan kami tidak akan mendapatkan
apa-apa lagi,” ujarnya. (Yoga)
Mengobati Kerinduan Mudik, Berwisata Keliling Jakarta
Saat libur Lebaran, ribuan pengunjung menyerbu sejumlah obyek
pariwisata di Jakarta. Pengelola tempat wisata berlomba menyajikan acara dan
atraksi menarik. Tasirin (40) menyaksikan acara di anjungan Provinsi Bali di
Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jaktim, Kamis (11/4). Warga Bekasi ini mengajak
keluarga dan tetangganya untuk berlibur bersama. Tasirin juga melihat beberapa
anjungan lain, salah satunya anjungan DIY tempat kelahirannya. Melihat anjungan
DIY, seakan menjadi obat rindu bagi Tasirin yang tidak bisa mudik. Menurut
Tasirin, kunjungan kali ini menghadirkan nostalgia saat berkunjung ke TMII pada
1993.
Dulu, untuk berkeliling ke anjungan, pengunjung harus jalan
kaki, sekarang sudah ada kendaraan listrik. Wakil Presiden Komunikasi Marketing
TMII Erika Silviana berujar, nostalgia merupakan hal yang otentik yang tak dimiliki
tempat wisata yang lain. ”Nostalgia inilah yang ingin kami perkuat untuk
menarik minat para wisatawan,” kata Erika. Bedanya, atraksi dan kekayaan
teknologi sudah disematkan ketika TMII direvitalisasi pada 2023. Untuk itu, program
libur Lebaran, 8 April-15 April 2024, TMII mengusung tema Jelajah Seru Lebaran
di Festival Pulang Kampung.
Harapannya, setiap pengunjung bisa merasakan nostalgia pulang
kampung. Misalnya, di anjungan Sumut, pengunjung akan disambut dengan bahasa,
pakaian, dan makanan khas Sumut. ”Semua itu agar pengunjung merasakan suasana
kampung halaman,” kata Erika. Di hari biasa, tingkat kunjungan 10.000 orang per
hari, di masa libur Lebaran, hingga tengah hari, jumlah kunjungan menyentuh
20.000 dan bahkan lebih. Pengelola TMII menargetkan pengunjung selama liburan
sebanyak 157.000 orang. Pada malam hari, pengunjung lebih banyak karena ingin
menyaksikan air mancur menari (dancing fountain) di anjungan Tirta Cerita, yang
merupakan nomor lima terbaik di dunia dan terbesar se-Asia Tenggara.
Wahana dilengkapi musik aransemen khas daerah dan dimeriahkan
dengan pertunjukan pesawat nirawak. Serbuan pengunjung juga terlihat di Taman
Margasatwa Ragunan, Jaksel. Bahkan, di hari pertama periode Lebaran, jumlah
kunjungan mencapai 75.000 orang. Wahyudi Bambang dari Humas Taman Margasatwa Ragunan
mengatakan, program libur Lebaran berlangsung pada 11 April-21 April, dengan target
kunjungan wisatawan 800.000 orang. Target itu mengacu pada pencapaian tingkat
kunjungan tahun lalu yang menyentuh 756.000. ”Kemungkinan puncak kunjungan terjjadi
akhir pekan,” kata Wahyudi. (Yoga)
Selebritas dan Elpiji ”Melon”
Elpiji ”melon” alias elpiji tabung 3 kg sedang menjadi topik
hangat di kalangan warganet, berawal dari video yang diunggah selebritas Prilly
Latuconsina di akun Instagram-nya, tentang kegiatannya memasak di dapur untuk
persiapan Lebaran 2024, karena elpiji melon yang tampak digunakan sebagai bahan
bakarnya. Sontak warganet menghujani perempuan muda itu dengan kritik. Sebagai
respons, Prilly pun membuat klarifikasi sekaligus minta maaf pada Kamis (11/4)
pukul 14.30 WIB, yang mendapatkan 6.653 komentar. Salah satunya dari akun quins_bee.
”Gas melon, kan, itu subsidi untuk warga kurang mampu. Salah satu faktor gas
melon langka, ya, kayak gini dipakai oleh pihak yang sebenarnya mampu,” katanya.
Elpiji melon adalah elpiji subsidi dari pemerintah untuk
masyarakat miskin, namun banyak warga bukan kategori miskin menggunakan barang
yang distribusinya terbuka itu. Akibatnya, volume penyalurannya terus
membengkak setiap tahun. Anggaran negara untuk menyubsidi pun menggelembung. Persoalan
kian pelik karena 77 % kebutuhan elpiji dalam negeri dipenuhi impor. Dengan
demikian, beban keuangan negara menjadi kian berat, apalagi jika nilai tukar
dollar AS melonjak atau kurs rupiah anjlok. Mengutip informasi dari Kementerian
ESDM, konsumsi elpiji melon tujuh tahun terakhir melonjak 2,9 juta metrik ton
(MT). Pada 2007, distribusinya mencapai 6,29 juta MT. Pada 2023, distribusinya
telah menggelembung menjadi 8,0 juta MT.
Dari tahun ke tahun, tingkat migrasi pengguna dari elpiji
nonsubsidi ke elpiji subsidi semakin tinggi. Kementerian ESDM mencatat,
realisasi penyaluran elpiji subsidi pada 2020-2022 meningkat 4,5 %. Sementara
penyaluran elpiji nonsubsidi turun 10,9 %. Pada 2023, dari total 8,6 juta ton
realisasi elpiji, 8,03 juta ton di antaranya adalah elpiji 3 kg. Artinya, secara
proporsi, elpiji melon dominan dengan persentase mencapai 93,3 %, karena
disparitas harga jual elpiji subsidi dan nonsubsidi di penyalur/agen yang kian
lebar. Pada Januari 2021, selisih harga elpiji nonsubsidi dan elpiji subsidi
ialah Rp 7.333 per kg.
Disparitas ini melebar hingga Rp 13.500 per kg pada Juli
2023. Berdasarkan regulasi, baik Perpres maupun Permen ESDM, harga jual eceran
(HJE) elpiji 3 kg di agen/penyalur adalah Rp 4.250 per kg atau Rp 12.750 per
tabung. Sejak 2008 hingga sekarang, harga itu tak berubah. Terus melebarnya disparitas
harga antara elpiji nonsubsidi dan elpiji subsidi membuat migrasi ke elpiji melon
semakin tidak terhindarkan. Pemerintah berulang kali menekankan, elpiji 3 kg
hanya diperuntukkan bagi warga tidak mampu. Namun, selama tidak ada regulasi
yang tegas untuk mengaturnya, celah ketidaktepatan sasaran selalu terbuka. Selain
itu, kondisi ini juga rentan penyalahgunaan lewat pengoplosan. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









