Luis Hay Penjaga ”Burung Surga” Papua
Kerusakan hutan mengancam ruang hidup burung cenderawasih di
Tanah Papua. Melalui ekowisata di Pulau Misool, Raja Ampat, yang dikelolanya sejak
tujuh tahun lalu, Luis Hay (39) menjaga kelestarian ”burung surga” itu dari
kepunahan. Rabu (27/3) subuh, bersama sejumlah pengunjung, Luis menyusuri
perairan di sisi barat Kampung Kapatcol, Misool Barat, Raja Ampat, Papua Barat
Daya, menuju kawasan ekowisata yang menjadi habitat berbagai jenis burung, salah
satunya cenderawasih. Ia harus berangkat pagi-pagi buta. Sebab, biasanya burung
cenderawasih bermain di kawasan ekowisata itu pukul 06.00-09.00 WIT. ”Kita
harus tiba di lokasi sebelum cenderawasih datang. Kalau cuaca bagus,
cenderawasih akan keluar dan jelas terlihat,” ujarnya.
Setengah jam berlayar, Luis tiba di dermaga kayu di pintu
masuk kawasan ekowisata. Dari kejauhan terlihat dua gubuk bertiang kayu dan
beratap daun-daun kering. ”Kita tunggu di gubuk ini. Semoga sebentar lagi
langit cerah. Kalau tetap hujan cenderawasih jarang keluar. Masih ada waktu menunggu
hujan berhenti,” ucapnya. Ketika hujan reda, kicau burung dengan suara beragam
mulai terdengar. Luis yang semula berdiri segera berjongkok. Para wisatawan pun
mengikutinya. Dari berbagai kicauan itu, ia bisa mengidentifikasi jenis-jenis burung
yang datang, seperti cenderawasih, kakatua, mambruk, nuri, dan maleo. Tak
berselang lama, mata Luis berhasil menemukan posisi burung cenderawasih.
Tangannya menunjuk pohon setinggi sekitar 25 meter. Sembari mengikuti
cenderawasih itu, beberapa wisatawan membidikkan kamera untuk memotret.
Sejak 2017, Luis mengembangkan kawasan ekowisata di hutan
yang berdekatan dengan kebun miliknya. Maraknya perburuan cenderawasih menjadi alasan
yang mendorongnya mengelola ekowisata tersebut. Kepala Kampung Kapatcol itu menjaga
kawasan hutan dari perburuan satwa, dibantu beberapa warga. ”Kalau cenderawasih
terus-terusan diburu dan hutannya ikut dirusak, lama-lama akan punah. Suatu
saat, generasi masa depan Papua mungkin cuma bisa mendengar tentang cenderawasih
tanpa bisa melihatnya hidup di alam bebas,” katanya. Menurut Luis, melalui
ekowisata, hutan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Sebab, tanpa menebang pohon dan menangkap satwa-satwa liar
yang hidup di sana, warga tetap bisa mendapatkan manfaat ekonomi dari kegiatan
wisata. Selain pelancong lokal, kawasan ekowisata itu telah dikunjungi
wisatawan banyak negara, seperti Korsel, Australia, Perancis, India, Jerman, AS
dan Swedia. Pengunjung dikenai biaya transportasi perahu motor Rp 200.000-Rp
300.000. ”Ekowisata itu menjadi salah satu cara menyelamatkan lingkungan. Sejumlah
pengunjung dari luar negeri datang hanya untuk melihat cenderawasih di hutan.
Kalau cenderawasih ditangkap lalu dijual, di masa depan kami tidak akan mendapatkan
apa-apa lagi,” ujarnya. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023