;

Luis Hay Penjaga ”Burung Surga” Papua

Ekonomi Yoga 12 Apr 2024 Kompas (H)
Luis Hay
Penjaga ”Burung Surga” Papua

Kerusakan hutan mengancam ruang hidup burung cenderawasih di Tanah Papua. Melalui ekowisata di Pulau Misool, Raja Ampat, yang dikelolanya sejak tujuh tahun lalu, Luis Hay (39) menjaga kelestarian ”burung surga” itu dari kepunahan. Rabu (27/3) subuh, bersama sejumlah pengunjung, Luis menyusuri perairan di sisi barat Kampung Kapatcol, Misool Barat, Raja Ampat, Papua Barat Daya, menuju kawasan ekowisata yang menjadi habitat berbagai jenis burung, salah satunya cenderawasih. Ia harus berangkat pagi-pagi buta. Sebab, biasanya burung cenderawasih bermain di kawasan ekowisata itu pukul 06.00-09.00 WIT. ”Kita harus tiba di lokasi sebelum cenderawasih datang. Kalau cuaca bagus, cenderawasih akan keluar dan jelas terlihat,” ujarnya.

Setengah jam berlayar, Luis tiba di dermaga kayu di pintu masuk kawasan ekowisata. Dari kejauhan terlihat dua gubuk bertiang kayu dan beratap daun-daun kering. ”Kita tunggu di gubuk ini. Semoga sebentar lagi langit cerah. Kalau tetap hujan cenderawasih jarang keluar. Masih ada waktu menunggu hujan berhenti,” ucapnya. Ketika hujan reda, kicau burung dengan suara beragam mulai terdengar. Luis yang semula berdiri segera berjongkok. Para wisatawan pun mengikutinya. Dari berbagai kicauan itu, ia bisa mengidentifikasi jenis-jenis burung yang datang, seperti cenderawasih, kakatua, mambruk, nuri, dan maleo. Tak berselang lama, mata Luis berhasil menemukan posisi burung cenderawasih. Tangannya menunjuk pohon setinggi sekitar 25 meter. Sembari mengikuti cenderawasih itu, beberapa wisatawan membidikkan kamera untuk memotret.

Sejak 2017, Luis mengembangkan kawasan ekowisata di hutan yang berdekatan dengan kebun miliknya. Maraknya perburuan cenderawasih menjadi alasan yang mendorongnya mengelola ekowisata tersebut. Kepala Kampung Kapatcol itu menjaga kawasan hutan dari perburuan satwa, dibantu beberapa warga. ”Kalau cenderawasih terus-terusan diburu dan hutannya ikut dirusak, lama-lama akan punah. Suatu saat, generasi masa depan Papua mungkin cuma bisa mendengar tentang cenderawasih tanpa bisa melihatnya hidup di alam bebas,” katanya. Menurut Luis, melalui ekowisata, hutan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Sebab, tanpa menebang pohon dan menangkap satwa-satwa liar yang hidup di sana, warga tetap bisa mendapatkan manfaat ekonomi dari kegiatan wisata. Selain pelancong lokal, kawasan ekowisata itu telah dikunjungi wisatawan banyak negara, seperti Korsel, Australia, Perancis, India, Jerman, AS dan Swedia. Pengunjung dikenai biaya transportasi perahu motor Rp 200.000-Rp 300.000. ”Ekowisata itu menjadi salah satu cara menyelamatkan lingkungan. Sejumlah pengunjung dari luar negeri datang hanya untuk melihat cenderawasih di hutan. Kalau cenderawasih ditangkap lalu dijual, di masa depan kami tidak akan mendapatkan apa-apa lagi,” ujarnya. (Yoga) 

Download Aplikasi Labirin :