;
Kategori

Sosial, Budaya, dan Demografi

( 10113 )

Investor Asing Semakin Tertarik pada Proyek IKN

26 Sep 2024

Pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara mendapatkan dorongan signifikan dengan masuknya investasi asing, yang menunjukkan kepercayaan global terhadap proyek ini. Dalam acara groundbreaking, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan proyek investasi dari Delonix Group asal China senilai Rp500 miliar, serta proyek dari Australia dan Rusia, menjadikan total investasi yang diumumkan mencapai Rp1,07 triliun. Jokowi menegaskan bahwa kehadiran investor asing di IKN akan menarik lebih banyak investor lainnya dan menciptakan ekosistem yang positif.

Untuk mendukung percepatan investasi, pemerintah telah membentuk Satuan Tugas Percepatan Investasi IKN, yang bertugas merealisasikan target investasi sebesar Rp100 triliun sepanjang tahun ini. Optimisme terhadap sektor properti juga disampaikan oleh Bambang Eka Jaya, Wakil Ketua Umum DPP REI, yang melihat komitmen asing sebagai sinyal positif bagi prospek pembangunan IKN. Selain itu, Budihardjo Iduansjah dari Hippindo menekankan pentingnya pembangunan sarana retail untuk menarik populasi ke Nusantara.

Secara keseluruhan, masuknya investor asing dan domestik di IKN menunjukkan bahwa Nusantara sudah menjadi tempat yang menarik untuk investasi, dengan dukungan dari berbagai regulasi dan keringanan yang dijanjikan pemerintah untuk memfasilitasi para investor.

Upaya Mengurangi Pemborosan Pangan

26 Sep 2024

Keterbuangan pangan, yang terdiri dari food loss dan food waste, merupakan masalah signifikan yang perlu mendapat perhatian serius di Indonesia. Menurut data dari Badan Pangan Nasional, kerugian ekonomi akibat kedua bentuk keterbuangan pangan ini mencapai antara Rp213 triliun hingga Rp551 triliun per tahun, setara dengan 4%-5% dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Petinggi Bapanas menekankan bahwa jika masalah ini dapat diatasi, Indonesia berpotensi tidak perlu melakukan impor pangan.

Food loss biasanya terjadi pada tahap awal rantai pasokan, disebabkan oleh masalah teknis dan infrastruktur yang tidak memadai, sedangkan food waste lebih berkaitan dengan perilaku manusia di tingkat konsumen, seperti pembelian berlebih dan penyimpanan yang salah. Data menunjukkan bahwa sisa makanan menyumbang 40,91% dari total sampah, melebihi sampah plastik yang hanya 19,18%.

Pemerintah Indonesia telah menargetkan pengurangan susut pangan sebesar 3% per tahun dan sisa pangan 3%-5% per tahun dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, meskipun angka tersebut masih terbilang kecil. Oleh karena itu, dorongan untuk memperhatikan dan menangani masalah ini menjadi sangat penting. Diperlukan regulasi yang lebih ketat, peningkatan infrastruktur, serta edukasi bagi produsen dan konsumen untuk meminimalisir kerugian.

Dalam konteks ini, penekanan pada perbaikan komprehensif untuk mencapai ketahanan pangan dan swasembada pangan menjadi kunci.

Aset Kripto Dijadikan Barang Bukti Kasus Pencucian Uang

26 Sep 2024

Aset kripto dapat digunakan sebagai alat bukti dalam kasus tindak pidana, termasuk pencucian uang dan kejahatan ekonomi lainnya, meskipun nilainya yang fluktuatif menimbulkan tantangan. Wakil Jaksa Agung, Feri Wibisono, menyoroti bahwa permasalahan utama dalam penanganan aset kripto adalah perubahan nilai yang signifikan, sehingga diperlukan pendekatan yang komprehensif. Untuk mengatasi tantangan ini, kerja sama antara Kejaksaan Agung (Kejagung), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) telah dibentuk. Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum) Kejagung, Asep Mulyana, menyatakan bahwa perjanjian kerja sama ini bertujuan untuk menjamin penanganan aset kripto secara transparan dan akuntabel, terutama dalam memastikan kuantitas dan kualitas barang bukti.

Keluar dari Jebakan Kelas Menengah

25 Sep 2024

Fenomena middle-income trap melalui ilustrasi Budi, seorang individu yang bercita-cita menjadi kaya tetapi terjebak dalam peningkatan biaya hidup yang tidak diimbangi dengan pendapatan yang memadai. Sama halnya dengan banyak negara, termasuk Indonesia, yang berhasil mencapai pendapatan menengah tetapi kesulitan untuk naik ke tingkat pendapatan tinggi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati secara terbuka mengakui bahwa Indonesia mengalami kesulitan untuk keluar dari jebakan kelas menengah. Penyebab utamanya adalah kerumitan regulasi dan kebijakan, terutama dalam hubungan keuangan antara pusat dan daerah. Proses desentralisasi fiskal dinilai tidak efisien karena regulasi yang menghambat fleksibilitas daerah dalam menggunakan anggaran, ditambah dengan kapasitas daerah yang masih rendah dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek. Akibatnya, proyek infrastruktur yang seharusnya mendorong konektivitas dan pertumbuhan ekonomi sering berjalan lambat.

Selain itu, fenomena middle-income trap menunjukkan kegagalan negara dalam meningkatkan produktivitas, inovasi, dan daya saing global, yang pada akhirnya menghambat Indonesia untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi. Jika tidak ada langkah sistematis dan radikal untuk meningkatkan inovasi dan kualitas sumber daya manusia, visi Indonesia Emas 2045 dengan pendapatan per kapita di atas US$26.200 akan sulit tercapai.

2028, RI Tidak lagi Impor Aluminium

25 Sep 2024

Indonesia tidak lagi mengimpor aluminium pada 2028. Dalam jangka waktu sekitar 8 tahun ke depan, MIND ID menyiapkan sejumlah rencana pembangunan smelter aluminium dan peningkatan kapasitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) mempawah di kalimantan Barat. SGAR merupakan fasilitas pengolahan bijih bauksit menjadi aluminium. Produk alumina merupakan bahan baku untuk smelter aluminium. Kapasitas SGAR itu mencetak aluminium sebanyak 500 ribu ton. Adapun rencana penambahan kapasitas SGAR menjadi 2 juta ton sehingga mampu dimurnikan smelter menjadi 1 juta ton aluminium. Presiden Jokowi mengatakan kebutuhan aluminium domestik mencapai 1,2 juta ton. 

Dari jumlah tersebut sekitar 56% dipenuhi dari luar negeri Ia menyebut ketergantungan  impor itu menggerus devisa negara sebanyak US$ 3,5 miliar per tahun. "Kita punya bahan bakunya, kita punya raw materialnya, tapi 56% alumium kita impor. Oleh sebab itu setelah ini (SGAR) selesai berproduksi, impor yang 56% ini bisa kita stop. Enggak impor lagi, kita produksi sendiri didalam negeri dan kita tidak kehilangan devisa karena dari sini kita harus keluar devisa kira-kira US$ 3,5 miliar setiap tahun. Angka yang besar sekali Rp 50 triliun lebih devisa kita hilang gara-gara impor aluminium." kata Presiden. (Yetede)

Belajar dari Pembebasan Pilot Susi Air

25 Sep 2024

PEMBEBASAN pilot Susi Air, Phillip Mark Mehrtens, membuktikan bahwa keterlibatan pranata sipil merupakan kunci dalam penyelesaian konflik di Papua. Tanpa pendekatan kemanusiaan dan kekeluargaan, upaya pembebasan sandera bisa berujung sia-sia. Lewat pendekatan kemanusiaan, mantan Bupati Nduga, Edison Gwijangge, aktif melobi Egianus Kogeya, Panglima Komando Daerah Perang III Ndugama Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM). Sementara itu, Raga Kogeya, sanak perempuan Egianus, membantu pembebasan Mehrtens melalui jalur kekeluargaan. Bersama tokoh adat dan agama di Nduga, Papua Pegunungan, mereka bahu-membahu melobi Egianus agar melepaskan pilot asal Selandia Baru itu. Cara damai itu terbukti ampuh membebaskan sandera.

Egianus melepaskan Mehrtens di Kampung Yuguru, Distrik Mebarok, Nduga, pada 17 September 2024. Edison adalah orang pertama yang menjemput Mehrtens di kampung tersebut. Bersama tokoh adat dan agama Kampung Yaguru, Edison menginap selama empat hari sebelum Mehrtens dijemput menggunakan helikopter pada 21 September 2024. Pasukan Egianus menyandera Mehrtens tak lama setelah sang pilot mendaratkan pesawat Susi Air di lapangan terbang Distrik Paro, Nduga, pada 7 Februari 2023. Pesawat itu lepas landas dari Bandar Udara Mozes Kilangin, Kabupaten Mimika, menuju Paro dengan membawa sejumlah penumpang. (Yetede)

Ritual Naheik Pamau, Ritual menarik batang kayu besar dari Hutan

25 Sep 2024
Napak tilas Masjid Agung Pondok Tinggi membawa para perantau kembali ke kampung halaman di Sungai Penuh, Jambi. Ketukan gong bagaikan irama magis yang membangunkan batang terendam. Budaya leluhur jadi warisan untuk terus dirawat. Irma Tambunan Nyaris sepanjang hidup Bopi Cassiaputra (50) belum pernah menjalani ritual naheik pamau, adat menarik batang kayu besar dari hutan untuk membangun tempat ibadah dan rumah di alam Kerinci. Ritual yang lama meredup itu hanya kerap diceritakan dari mulut ke mulut. Kala mendengar kabar bahwa ritual bakal kembali digelar, semangatnya menyala-nyala. Naheik pamau diselenggarakan untuk memperingati berdiri. Masjid Agung yang memasuki usia ke-150 tahun ini.

Bopi yang telah bertahun-tahun merantau di Kota Jambi pun tersedot untuk pulang ke kampung halaman di Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi. ”Sewaktu mengetahui akan digelar naheik pamau, saya langsung bersiap pulang,” ujarnya. Hari yang ditetapkan pun tiba. Minggu (15/9/2024) pagi, Bopi dan ribuan warga berkumpul di wilayah adat Pondok Tinggi. Sebatang besar kayu surian (Toona sureni) berdiameter 1 meter dan panjang hampir 20 meter siap ditarik. Kayu yang ditebang pada pekan sebelumnya dari hutan adat ditarik bersam-sama menuju masjid. Upacara penarikan kayu naheik pamau menjadi bagian napak tilas tradisi yang dikemas dalam Kenduri Swarnabhumi. Gelora yang menyala-nyala itu dirasakan oleh kebanyakan warga. Mereka berbaris dari pangkal hingga ujung kayu.

Pada bagian pangkal, mereka coba mendorong kayu sekuat-kuatnya. Namun, kayu besar itu hanya tergeser ke kiri dan ke kiri dan kanan, kay terasa begitu berat. Mengetahui situasi itu, pemimpin upacara, Hasril Meizal, lekas menyetop massa. Lewat pengeras suara, ia lantang mengajak semua warga berdoa. Ia pun mengajak bicara para leluhur supaya memberi restu atas jalannya ritual itu. Sungguh magis. Tak lama kemudian kayu berhasil didorong dan ditarik menuju masjid yang berjarak 1 kilometer itu. Dua wanita salih (dukun) terus mengiringi perjalanan sembari mengasap kemenyan dan menabur beras kunyit. (Yoga)

Gaya Hidup Kelas Menengah, antara Digitalisasi, dan Inflasi

25 Sep 2024
Kelas menengah Indonesia tengah menghadapi tekanan yang berat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, populasi kelas menengah terus menurun, dari 21,45 persen pada tahun 2019 menjadi 17,13 persen pada tahun 2024. Penurunan ini menunjukkan semakin banyak keluarga tergeser ke kelompok ekonomi yang lebih rentan. Sebagai salah satu penggerak utama ekonomi, kelas menengah berada ditengah krisis. Ini ditandai oleh membengkaknya beban cicilan dan kenaikan harga kebutuhan pokok akibat inflasi. Hal itu diperberat dengan minimnya dukungan sosial dari pemerintah.

Kelas menengah menghadapi dilema yang semakin kompleks. Mereka bukanlah bagian dari golongan kaya yang memiliki fleksibilitas finansial untuk bertahan terhadap ketidakpastian ekonomi. Namun, mereka juga tidak cukup miskin untuk mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah. Kelompok ini terjebak ditengah-tengah, terbebani oleh cicilan rumah, kendaraan, dan biaya pendidikan. Sementara itu, kenaikan biaya hidup terus menggerus pendapatan. Pascapandemi Covid-19, inflasi yang meningkat memperburuk kondisi ini. Harga kebutuhan pokok, seperti pangan dan energi, melonjak tajam, menyebabkan pengeluaran rutin keluarga kelas menengah meningkat secara signifikan.

Tanpa adanya kompensasi dalam bentuk bantuan sosial dan kebijakan yang tepat sasaran, daya beli mereka akan menurun drastis. Lebih dari itu, jika langkah-langkah konkret tidak segera diambil, posisi kelas menengah tentu akan semakin terjepit. Beban pajak Tren kenaikan inflasi dan utang pemerintah yang terus meningkat pascapandemi Covid-19 membuat kelas menengah paling rentan terhadap kebijakan fiskal dan moneter. Salah satu solusi utama adalah pengendalian inflasi kebijakan harga yang lebih terarah dan tepat sasaran. Meskipun Bank Indonesia berusaha menstabilkan inflasi, harga komoditas penting, seperti pangan dan energi, tampaknya tetap menjadi beban berat bagi kelas menengah. (Yoga)

Ramainya Pelamar Bursa Kerja

25 Sep 2024
 Penurunan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat dan Bank Indonesia pada pertengahan September 2024 bakal menggairahkan perdagangan produk surat utang korporasi. Hal ini juga ditopang ekonomi Indonesia yang dinilai masih menarik bagi pasar asing untuk berinvestasi. Meski demikian, sektor riil, khususnya pada kinerja produk ekspor, masih menantang. Siklus pemangkasan suku bunga dimulai pada Rabu (18/9/2024). Bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin (bps) ke level 4,75-5,00 persen dalam rapat Dewan Gubernur The Fed bulan September. Bank Indonesia (BI) lebih awal memangkas suku bunga 25 bps menjadi 6,00 persen.

Langkah ini merupakan bentuk normalisasi kebijakan setelah peningkatan suku bunga drastis untuk menahan laju inflasi global pascapandemi Covid-19. Siklus pemangkasan suku bunga ini diekspektasikan terus berlanjut sampai tahun 2025. Presiden Direktur PT Surya TimurAlam RayaAsset Management (Star AM) Hanif Mantiq, Selasa (24/9), mengatakan, di tengah terkendalinya tingkat inflasi dan kebijakan normalisasi moneter ini, penawaran dan permintaan produk pasar modal seperti obligasi atau surat utang akan meningkat. Dalam hal penawaran, perusahaan akan lebih tertarik memenuhi kebutuhan ekspansi dan pendanaan dengan menerbitkan obligasi. Penerbitan akan lebih awal dilakukan korporasi di beberapa sektor yang diuntungkan karena perbaikan ekonomi dan peningkatan daya beli pascapenurunan suku bunga.

”Penerbitan obligasi korporasi masih didominasi oleh sektor keuangan, seperti multifinance, bank, dan institusi keuangan nonbank. Lainnya, beberapa perusahaan yang membutuhkan pendanaan dari obligasi juga ada dari sektor komoditas,” ungkapnya. Peningkatan penerbitan obligasi juga sejalan dengan permintaan investor asing yang berinvestasi di dalam negeri. Ini terbukti dari arus modal investasi asing yang besar sejak beberapa bulan lalu. Dalam sepekan terakhir saja arus modal masuk bersih sebesar 81,6 juta dollar AS ke pasar saham
dan 865,1 juta dollar AS ke pasar obligasi. Peningkatan permintaan ini membuat harga obligasi dan saham akan cenderung naik. (Yoga)

Iklim Memberikan Dampak Buruk bagi Masyarakat Miskin

25 Sep 2024
Jakarta memiliki sejumlah masalah krusial terkait lingkungan yang mendesak untuk dibenahi. Mulai dari masalah air bersihhingga polusi udaramasih mengintai masyarakat perkotaan, terutama masyarakat miskin. Untuk itulah pemimpin Jakarta di masa depan diminta mengevaluasi kebijakan iklim Jakarta. Hal itu termuat dalam riset bertajuk ”Keadilan Iklim untuk Jakarta Berketahanan” yang dirilis Greenpeace Indonesia, Selasa (24/9/2024), di Jakarta. Hasil penelitian dibahas dalam diskusi yang dihadiri Juru Kampanye Greenpeace Indonesia Jeanny Sirait, pengamat tata kota Nirwono Joga, dan Asmania, warga Pulau Pari.

Jeanny mengatakan, Greenpeace merekam sejumlah masalah krusial lingkungan hidup, seperti wilayah Jakarta berada di bawah permukaan laut, akses air bersih yang sulit, serta polusi udara memburuk. Akibatnya, kualitas hidup warga Jakarta semakin terpuruk. Dalam laporan penelitian setebal 56 halaman itu, Greenpeace Indonesia menyoroti situasi krisis iklim di Jakarta mulai dari proses pembuatan kebijakan sampai implementasinya.Bukan hanya soal lingkungan, laporan ini juga menyoroti keadilan di perkotaan (urban justice). ”Ancaman dan dampak krisis iklim menjadi permasalahan serius terhadap kesejahteraan masyarakat. Mereka yang hidup di kawasan pesisir, daerah padat penduduk, atau masyarakat dengan ekonomi menengah-bawah menanggung beban paling berat, dari risiko banjir yang lebih sering hingga akses minim terhadap air bersih dan ruang terbuk hijau,” kata Jeanny.

Hasil riset itu menunjukkan wilayah yang paling berat mengalami dampak krisis iklim di Jakarta justru wilayah yang ditinggali masyarakat miskin kota. Padahal, kata Jeanny, mereka paling sedikit menyumbangkan emisi gas rumah kaca, faktor utama penyebab krisis iklim. ”Hal ini membuktikan tanggung jawab krisis iklim tersebut ditanggung secara tidak adil oleh masyarat miskin di Jakarta sehingga menjadikan mereka kelompok paling rentan terhadap dampak krisis iklim,” tutur Jeanny. Di banyak tempat di Jakarta, kelompok rentan sering
kali tersingkir dari proses pe rumusan kebijakan. Kebutuhan mereka jarang diperhitungkan dalam kebijakan-kebijakan utama kota, termasuk di bidang infrastruktur, trans portasi, dan tata ruang. (Yoga)