Belajar dari Pembebasan Pilot Susi Air
PEMBEBASAN pilot Susi Air, Phillip Mark Mehrtens, membuktikan bahwa keterlibatan pranata sipil merupakan kunci dalam penyelesaian konflik di Papua. Tanpa pendekatan kemanusiaan dan kekeluargaan, upaya pembebasan sandera bisa berujung sia-sia. Lewat pendekatan kemanusiaan, mantan Bupati Nduga, Edison Gwijangge, aktif melobi Egianus Kogeya, Panglima Komando Daerah Perang III Ndugama Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM). Sementara itu, Raga Kogeya, sanak perempuan Egianus, membantu pembebasan Mehrtens melalui jalur kekeluargaan. Bersama tokoh adat dan agama di Nduga, Papua Pegunungan, mereka bahu-membahu melobi Egianus agar melepaskan pilot asal Selandia Baru itu. Cara damai itu terbukti ampuh membebaskan sandera.
Egianus melepaskan Mehrtens di Kampung Yuguru, Distrik Mebarok, Nduga, pada 17 September 2024. Edison adalah orang pertama yang menjemput Mehrtens di kampung tersebut. Bersama tokoh adat dan agama Kampung Yaguru, Edison menginap selama empat hari sebelum Mehrtens dijemput menggunakan helikopter pada 21 September 2024. Pasukan Egianus menyandera Mehrtens tak lama setelah sang pilot mendaratkan pesawat Susi Air di lapangan terbang Distrik Paro, Nduga, pada 7 Februari 2023. Pesawat itu lepas landas dari Bandar Udara Mozes Kilangin, Kabupaten Mimika, menuju Paro dengan membawa sejumlah penumpang. (Yetede)
Tags :
#Berita UtamaPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023