;
Kategori

Ekonomi

( 40498 )

Potensi Window Dressing Kembali Terbuka Lebar

03 Nov 2023
Investor saham  dalam negeri kembali sumringah setelah Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan mata yang Garuda atau rupiah pun menguat sebagai respon atas keputusan The Fed. Pada penutupan perdagangan Kamis (2/11), IHSG menguat 1,64% atau naik 108,96 poin ke level 6.751,38. Sementara pada penutupan Kamis (2/11), rupiah di pasar spot juga menguat 0,51% menjadi Rp 15.855 per dolar Amerika Serikat (AS). Jika ditarik lebih jauh lagi, investor asing masih mencetak net sell sebesar Rp 14,45 triliun sepanjang tahun 2023. Hans Kwee, pengamat pasar modal dan akademisi Universitas Trisakti menjelaskan pelaku pasar happy lantaran The Fed memberikan sinyal dovish. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menilai, meskipun keputusan The Fed dinilai positif, namun itu masih bersifat jangka pendek. Meski begitu, Sukarno mencermati masih ada potensi net buy investor asing di tengah harga saham yang sudah jatuh terlalu dalam.  Sehingga menjadikan saham itu lebih murah. Equity & Economics Analyst KGI Sekuritas, Rovandi memproyeksikan window dressing masih akan terjadi oleh beberapa faktor. Salah satunya, pergerakan IHSG yang cenderung datar dari awal tahun.

Gejolak Harga Minyak Memicu Kenaikan Inflasi

03 Nov 2023
Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan, tren kenaikan harga minyak global akan mempengaruhi harga energi di dalam negeri. Kondisi ini bisa mengerek angka inflasi. Harga minyak mentah global sempat meyentuh level US$ 90 per barel pada Oktober 2023. Hal ini membuat pemerintah menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di bulan yang sama. Misalnya, harga BBM jenis Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, sempat naik di kisaran 4% hingga 6%. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini juga mengingatkan, tren kenaikan harga energi dunia ini perlu diwaspadai, terkait dengan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK). Menurut dia, imbas harga minyak yang mendidih akan terlihat dari pergerakan inflasi selama beberapa waktu ke depan. Namun, seberapa besar dampaknya terhadap inflasi, Pudji menegaskan ini akan bergantung dari langkah yang diambil oleh pemerintah untuk mencegahnya. Kabar baiknya, per 1 November 2023, Pertamina kembali menyesuaikan harga BBM nonsubsidi atau Pertamax Series dan Dex Series. Harga Pertamax turun menjadi Rp 13.400 per liter dari bulan Oktober 2023 yang sebesar Rp 14.000 per liter. Di sisi lain, pada awal perdagangan Kamis (2/11), harga minyak mentah Brent naik 1,1% menjadi US$ 82,52 per barel. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 1,1% menjadi US$ 81,3 per barel. Maklumlah, serangan Israel ke Palestina tak kunjung mereda. Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengingatkan, risiko kenaikan harga minyak belum berhenti sampai di sini. Berdasarkan skenario terburuk Andry, eskalasi perang terus meningkat dan melibatkan negara besar produsen minyak. "Hal ini akan berpotensi menaikkan harga minyak dunia hingga di atas asumsi yang ditetapkan dalam APBN 2023," terang Andry. APBN 2023 mematok asumsi harga minyak mentah sebesar US$ 90 per barel. Senada, Ekonom Bank Danamon Irman Faiz mengatakan, bila konflik memanas dan menyebabkan harga minyak dunia melambung tinggi, mau tak mau pemerintah harus kembali melakukan penyesuaian harga BBM bersubsidi.

Tantangan Mengadang BUMN Tambang

03 Nov 2023
Kinerja emiten saham yang tergabung dalam induk pertambangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mind Id masih loyo. Dari tiga emiten di bawah Mind Id, hanya PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang laba bersihnya masih bertumbuh meskipun hanya single digit. Sementara dua emiten lainnya yakni PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Timah Tbk (TINS) harus rela kinerja keuangan mereka tergerus. Salah satu biang kerok penurunan kinerja emiten tambang BUMN adalah penurunan harga komoditas. Niko Chandra, Sekretaris Perusahaan PTBA mengatakan, rata-rata harga batubara ICI-3 terkoreksi sekitar 33% menjadi sebesar US$ 86,3 per ton pada Januari-September 2023. Dus, penurunan kinerja PTBA tidak bisa terelakkan. Laba bersih PTBA merosot 62% menjadi hanya Rp 3,8 triliun per akhir September 2023. Fina Eliani, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko TINS mengatakan, harga logam timah dunia terus tertekan akibat penguatan dolar AS dan lambatnya pemulihan perekonomian ChinaPenurunan harga jual ini juga dibarengi dengan penurunan kinerja operasional TINS. Samuel Glenn Tanuwidjaja, Senior Equity Analyst Jasa Utama Capital Sekuritas mengatakan, harga sejumlah komoditas seperti batubara, nikel, timah, dan tembaga memang lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Hanya harga emas saja yang mengalami kenaikan seiring dengan meningkatnya permintaan aset safe haven di saat inflasi Amerika Serikat (AS) dan inflasi negara berkembang masih meningkat. Meskipun kinerja ketiga emiten tambang BUMN ini masih lemah, Glenn melihat bisnis PTBA dan ANTM akan tetap defensif pada tahun depan. Meskipun, akan tetap ada pengaruh volatilitas dari efek pemilu dan sentimen resesi. Di sisi lain, pergerakan harga timah kemungkinan masih suram dan menjadi kabar buruk bagi kinerja dan bisnis TINS. "Namun, proyek smelter Ausmelt Furnace TINS kemungkinan akan meningkatkan kinerja operasional perusahaan dalam mengolah bijih timah kadar rendah ke depannya," kata Glenn. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rizkia Darmawan mengatakan, realisasi pendapatan PTBA pada sembilan bulan pertama 2023 berada di bawah estimasi Mirae Asset Sekuritas, atau hanya mencerminkan 66% target 2023. Rizkia merevisi turun proyeksi pendapatan PTBA pada 2023 sebesar 7,2% menjadi Rp 38,9 triliun. Sedangkan estimasi laba bersih PTBA dipangkas 24% menjadi Rp 5,3 triliun tahun ini.

Menanti Momentum Akhir Tahun

03 Nov 2023
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) mencatat kinerja cukup lemah pada kuartal ketiga 2023. Momentum akhir tahun diharapkan  menjadi peluang AMRT menutup kinerja lebih positif. Analis Indo Premiere Sekuritas, Lukito Supriadi mengatakan, kinerja AMRT pada kuartal ketiga 2023 sudah sesuai ekspektasi. Perlu dicatat bahwa secara musiman kinerja AMRT biasanya lebih kuat pada kuartal keempat. Emiten pengelola gerai Alfamart ini mencetak gross profit margin (GPM) pada kuartal III 2023 sebesar 70 bps secara tahunan alias year on year (yoy). Ini pendorong utama pertumbuhan laba bersih 16% yoy menjadi Rp 578 miliar. Perolehan positif  di saat operational expenditure (opex) lebih tinggi 12,6% yoy pada kuartal ketiga 2023. Lukito memaparkan, pencapaian pertumbuhan laba bersih AMRT tersebut cukup layak di tengah penjualan tiap toko atau Same Sales Store Growth (SSSG) lemah pada periode kuartal III 2023 yang hanya naik 1,5% yoy. Penjualan AMRT pada kuartal III tumbuh sebesar 8% yoy menjadi Rp 26,19 triliun tetapi lebih rendah 5,3% daripada kuartal sebelumnya. Lukito memperkirakan, SSSG AMRT akan pulih pada kuartal IV 2023 karena didorong oleh  sentimen Pemilu. Selain itu, kuartal keempat biasanya memberikan kontribusi terhadap pendapatan dan laba bersih AMRT masing-masing sekitar  25,6% dan 35,5% dalam setahun penuh pada tiga tahun terakhir. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo masih melihat potensi AMRT bisa menambah toko baru hingga akhir tahun ini. Dimana, emiten pengelola gerai Alfamart ini menargetkan pembukaan sekitar 800 – 1.000 gerai pada 2023. Sementara analis JP Morgan Sekuritas, Benny Kurniawan memandang positif pertumbuhan konsumsi sebesar 8% dan pergeseran berkelanjutan dari perdagangan umum (GT) ke perdagangan modern (MT). Margin EBITDA juga berpotensi meningkat didorong oleh ekspansi AMRT ke luar Jakarta dan komposisi makanan siap saji (RTE) yang lebih tinggi.

ERAA Petik Hasil Penambahan Gerai

03 Nov 2023
Pemulihan ekonomi selepas pandemi Covid-19 berdampak terhadap kinerja PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA). Emiten ritel ini mencatatkan penjualan sebesar Rp 42,81 triliun pada kuartal III-2023. Angka ini melonjak sebesar 22,53% dibandingkan dengan penjualan pada periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 34,94 triliun. Djunadi Satrio, Head of Corporate Communications Erajaya Group mengatakan, ada dua hal yang membuat penjualan meningkat. Pertama, penambahan jaringan gerai ritel sehingga bisa menjangkau semakin banyak pelanggan untuk berbelanja, baik secara langsung (offline) maupun online. Kedua, peningkatan kinerja juga ditopang oleh aksi ekspansi dengan merambah bisnis baru. Namun, kendati penjualan naik, laba bersih ERAA sampai dengan kuartal III-2023 ini tercatat menurun sebesar 27,26% secara year on year (yoy) menjadi sebesar Rp 494,83 miliar. Pada periode sama tahun lalu, ERAA berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 680,28 miliar. Dengan bertambahnya jumlah toko otomatis kebutuhan biaya untuk operasional menjadi meningkat dibandingkan sebelumnya. Terutama kebutuhan biaya sewa dan penambahan jumlah karyawan. Salah satu strategi yang dilancarkan adalah dengan menggelar program promo. Terkait ekspansi menjelang tutup tahun ini, ERAA memilih lebih berhati-hati dalam melakukan penambahan jaringan tokonya. ERAA kini fokus memantau kondisi dan situasi sebelum memutuskan membuka gerai baru. Sepanjang sembilan bulan pertama  tahun 2023, ERAA telah menyerap belanja modal atau capital expenditure (capex), sebesar Rp 712 miliar. "Dana capex digunakan untuk ekspansi bisnis Erajaya, terutama pembukaan gerai-gerai baru," ungkap Djunaidi. Untuk membiayai ekspansi jaringan ritel tersebut, ERAA tahun menganggarkan capex sekitar Rp 700 miliar. Artinya, penyerapan capex hingga kuartal III 2023 telah melampaui anggaran yang dialokasikan di awal tahun.

DOVISH THE FED REDAM GEJOLAK PASAR

03 Nov 2023

Keputusan Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan pada 5,25% hingga 5,5% memberikan sinyal lampu hijau bagi masuknya aliran dana asing ke pasar keuangan meskipun sementara. Kebijakan bank sentral Amerika Serikat itu mendapatkan respons positif dari pasar keuangan di Tanah Air. Hal itu tecermin dari indeks harga saham gabungan (IHSG) yang ditutup menguat 1,64% ke level 6.751,38 pada Kamis, (2/11). Begitu pula dengan kinerja rupiah terhadap dolar AS yang terapresiasi 0,51% ke Rp15.855. Di pasar surat utang, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun, 5 tahun, dan 2 tahun kompak mengalami penurunan yang mengindikasikan kenaikan minat sehingga menggerus imbal hasil. Lebih lanjut, penurunan imbal hasil paling dalam dialami oleh instrumen tenor 5 tahun sebesar 1,2% ke 6,89%. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan respons positif pasar keuangan sejalan dengan sinyal dovish (lebih longgar) Federal Reserve. Situasi ini akan memicu masuknya dana asing ke pasar modal di negara berkembang, termasuk Indonesia. Saat sikap The Fed melunak, investor diyakini akan kembali berminat melirik aset berisiko. Bersamaan dengan keputusan suku bunga acuan, The Fed juga mengumumkan lelang surat berharga AS yang lebih rendah dari ekspektasi pasar. Sementara itu, Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) hingga 1 November 2023 mencatat dana asing sebesar Rp49,63 triliun secara tahun berjalan atau lebih tinggi dari kondisi pada 26 Oktober 2023 dengan Rp47,14 triliun. Risiko lainnya yang diperhitungkan pasar yakni transaksi berjalan Indonesia. Bila defisit transaksi berjalan melebar, hal itu menjadi pemberat di mata investor asing. Risiko defisit transaksi berjalan lebih lebar bertolak pada penurunan permintaan ekspor yang terdampak oleh lambatnya pertumbuhan ekonomi China. Dihubungi terpisah, Kepala Ekonom Bank Central Asia David E. Sumual mengatakan kinerja moncer pasar keuangan setelah pengumuman Federal Reserve merupakan euforia sesaat. Dia menilai kinerja inflasi Negeri Paman Sam berada di atas target The Fed sehingga bank sentral tersebut masih memiliki amunisi menaikkan suku bunga acuan. Inflasi AS pada September mencapai 3,7% secara tahunan, sedangkan target The Fed menurunkan inflasi ke 2%.

Setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga, Macro Equity Strategist Samuel Sekuritas Lionel Priyadi dalam hasil risetnya menuturkan pelaku pasar kini memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter ketat Federal Reserve telah mencapai puncaknya. Dari dalam negeri, pasar turut melihat risiko dari ketidakpastian politik dan peluang BI menaikkan suku bunga acuan lagi. Seperti diketahui, BI menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) ke 6% setelah mempertahankan suku bunga acuan pada 5,75% selama 8 bulan beruntun. Dari kalangan manajer investasi, Chief Economist & Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan mengatakan aliran dana masuk ke pasar keuangan masih menanti waktu yang tepat. Kala pasar melihat gelagat kenaikan suku bunga acuan The Fed mencapai puncak, investor asing memiliki kepercayaan diri untuk kembali melirik aset berisiko. Investment Specialist Sinarmas Asset Management Mohit Lalchandani menambahkan aliran dana asing bakal kembali masuk ke pasar keuangan bila langkah The Fed sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar. Sebagai imbasnya, pasar saham dan surat utang bisa menikmati sentimen positif. Di lain sisi, Head of Research & Fund Manager Syailendra Capital Rizki Jauhari Indra mengatakan keputusan Th Fed menahan kenaikan suku bunga masih harus dicermatii mengingat masih ada risiko gejolak jangka pendek dari pergerakan nilai tukar rupiah, likuiditas pasar dan perbankan, serta risiko perlambatan ekonomi.

Peran Bank Dorong Rendah Karbon

03 Nov 2023

Negara-negara Asean tengah mencatatkan kemajuan menuju dekarbonisasi, tetapi upaya regional yang terpadu diperlukan untuk mencapai kemajuan yang konsisten dan signifikan. Tujuan tersebut menjadi fokus utama dalam Asean Business and Investment Summit yang telah diadakan di Jakarta, di mana konsep “beauty of diversity” dari Asean menjadi sorotan diskusi. .Sebagai pendatang baru dalam ranah keberlanjutan, Asean dapat belajar dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan China, yang menjadi acuan dalam mengoptimalkan sumber daya yang ada, memberdayakan keahlian, dan mempromosikan keberlanjutan secara strategis sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Bank berada di garis depan dalam upaya dekarbonisasi mengingat mereka memiliki kewajiban besar untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dalam operasional mereka. Menurut Ernst & Young (EY), meskipun sekitar setengah dari lembaga keuangan di kawasan Asean telah menetapkan target net zero pada 2050, kesenjangan yang besar masih dapat ditemukan. Beberapa bank belum mengambil tindakan nyata, alih-alih membuat komitmen eksplisit untuk menyelaraskan diri dengan Paris Agreement. Di KBank, salah satu bank terbesar di Thailand, kami memikul tanggung jawab ini dengan sepenuh hati. Sebagai Bank Keberlanjutan, kami telah membuat komitmen net zero sesuai dengan Sustainable Development Goals dari PBB. Kami menargetkan pengurangan emisi gas rumah kaca dari operasi kami sebesar 21% pada 2025. Kami juga berupaya secara aktif untuk mencapai target tersebut melalui sejumlah inisiatif. Sustainable financing atau pembiayaan berkelanjutan berfungsi sebagai kendaraan utama dalam transisi menuju ekonomi hijau. Hal ini membuka kesempatan bagi bisnis dari semua kalangan untuk mendapatkan modal yang diperlukan dalam memulai perjalanan keberlanjutan mereka.Pada paruh pertama 2023, KBank melakukan pembiayaan dan investasi berkelanjutan di Thailand dengan total lebih dari 19,4 miliar baht atau setara dengan Rp8,3 triliun. Pada 2030, KBank berkomitmen untuk mencapai angka 200 miliar baht atau sekitar Rp85,8 triliun.

DHE SDA Belum Kuasa Dongkrak Devisa

03 Nov 2023
JAKARTA,ID-Implementasi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 Tahun 2003  tentang Devisa Hasil Ekspor Sumber Saya Alam (DHE SDA) yang sempat digadang-gadang bakal mendongkrak cadangan devisa dan memperkuat otot rupiah, hingga kini masih jauh dari asa. Sejak PP itu diterapkan per 1 Agustus 2023, pundi-pundi devisa Indonesia justru mengecil dan rupiah makin tidak berdaya  menghadapi keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS). Cadangan devisa Indonesia yang pada akhir Juli 2023 diangka US$ 137,7 miliar, sebulan kemudian susut menjadi US$ 137,1 miliar dan US$ 134,9 miliar pada akhir September 2023. Seiring dengan itu, nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar AS. Berdasarkan Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah yang per 31 Juli 2023 bertengger di level Rp 15.092, luruh menjadi Rp 15.946 pada 1 November 2023.  (Yetede)

Masih Butuh Sawit, Indonesia Siap Kolaborasi dengan Uni Eropa

03 Nov 2023
JAKARTA,ID-Pemerintah menyatakan siap berkolaborasi dengan Uni Eropa dalam membangun kerangka kerja yang mendorong pertanian berkelanjutan, termasuk produksi minyak nabati yang berasal dari sawit, dengan cara yang inklusif, holistik, adil, dan tidak diskriminatif. Pasalnya, sawit masih menjadi salah satu komoditas andalan yang memberikan kontribusi dalam menopang pemulihan ekonomi, serta aspek sosial dan lingkungan masyarakat. Sebagaimana diketahui, ditingkat global, inisiatif Uni Eropa melalui kebijakan European Union Deforestation Regulation (UEDR) membatasi deforestasi yang disebabkan oleh kegiatan kehutanan dan pertanian di seluruh dunia, akan memberi dampak langsung pada komoditas utama Indonesia yakni kelapa sawit, kopi, kakao, karet, kedelai, sapi, dan kayu. "Terlepas dari kekhawatiran kami. Pemerintah siap berkolaborasi dengan Uni Eropa. Sangat penting bagi Uni Eropa untuk mengakui dan menyadari pengaruhnya bahwa standar keberlanjutan nasional negara-negara produsen dapat memenuhi persyaratan yang diperlukan untuk mengakses pasar Uni Eropa," kata Menteri Koordinator dalam sambutannya secara daring di Indoensia Palm Oil Conference 2023. (Yetede)

Harga Komoditas Anjlok, Laba Emiten MIND.ID Melorot

03 Nov 2023
JAKARTA,ID-Tiga emiten anggota MIND.ID, BUMN Holding industri pertambangan Indonesia, mencatat total laba bersih Rp6,54 triliun sepanjang Januari-September 2023 atau susut 52,51% dibandingkan periode sama tahun lalu 13,77 triiun, seiring penurunan pendapatan akibat anjloknya harga komoditas di pasar internasional. Ketiga emiten tersebut adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bukit Asam (PTBA), dan PT Timah Tbk (TINS). Penurunan terbesar dialami oleh PT Timah Tbk, dari yang semula laba Rp1,14 triliun berbalik menjadi rugi Rp87 miliar. Disusul PT Bukit Asam Tbk yang turun 62,21% dari Rp 10 triliun menjadi Rp 3,78 triliun. Sementara Antam mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih 8,45% menjadi Rp 2,85 triliun. Perolehan laba bersih itu tidak lepas dari kinerja penjualan emiten BUMN pertambangan tersebut hingga akhir September 2023. Tercatat, Bukit Asam membukukan  pendapatan sebesar Rp27,74 triliun pada Januari-September 2023, turun 10,73% dibanding periode sama tahun lalu Rp 31,07 triliun. (Yetede)