Ekonomi
( 40498 )Potensi Window Dressing Kembali Terbuka Lebar
Gejolak Harga Minyak Memicu Kenaikan Inflasi
Tantangan Mengadang BUMN Tambang
Menanti Momentum Akhir Tahun
ERAA Petik Hasil Penambahan Gerai
DOVISH THE FED REDAM GEJOLAK PASAR
Keputusan Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan pada 5,25% hingga 5,5% memberikan sinyal lampu hijau bagi masuknya aliran dana asing ke pasar keuangan meskipun sementara. Kebijakan bank sentral Amerika Serikat itu mendapatkan respons positif dari pasar keuangan di Tanah Air. Hal itu tecermin dari indeks harga saham gabungan (IHSG) yang ditutup menguat 1,64% ke level 6.751,38 pada Kamis, (2/11). Begitu pula dengan kinerja rupiah terhadap dolar AS yang terapresiasi 0,51% ke Rp15.855. Di pasar surat utang, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun, 5 tahun, dan 2 tahun kompak mengalami penurunan yang mengindikasikan kenaikan minat sehingga menggerus imbal hasil. Lebih lanjut, penurunan imbal hasil paling dalam dialami oleh instrumen tenor 5 tahun sebesar 1,2% ke 6,89%. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan respons positif pasar keuangan sejalan dengan sinyal dovish (lebih longgar) Federal Reserve. Situasi ini akan memicu masuknya dana asing ke pasar modal di negara berkembang, termasuk Indonesia. Saat sikap The Fed melunak, investor diyakini akan kembali berminat melirik aset berisiko. Bersamaan dengan keputusan suku bunga acuan, The Fed juga mengumumkan lelang surat berharga AS yang lebih rendah dari ekspektasi pasar. Sementara itu, Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) hingga 1 November 2023 mencatat dana asing sebesar Rp49,63 triliun secara tahun berjalan atau lebih tinggi dari kondisi pada 26 Oktober 2023 dengan Rp47,14 triliun. Risiko lainnya yang diperhitungkan pasar yakni transaksi berjalan Indonesia. Bila defisit transaksi berjalan melebar, hal itu menjadi pemberat di mata investor asing. Risiko defisit transaksi berjalan lebih lebar bertolak pada penurunan permintaan ekspor yang terdampak oleh lambatnya pertumbuhan ekonomi China. Dihubungi terpisah, Kepala Ekonom Bank Central Asia David E. Sumual mengatakan kinerja moncer pasar keuangan setelah pengumuman Federal Reserve merupakan euforia sesaat. Dia menilai kinerja inflasi Negeri Paman Sam berada di atas target The Fed sehingga bank sentral tersebut masih memiliki amunisi menaikkan suku bunga acuan. Inflasi AS pada September mencapai 3,7% secara tahunan, sedangkan target The Fed menurunkan inflasi ke 2%.
Setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga, Macro Equity Strategist Samuel Sekuritas Lionel Priyadi dalam hasil risetnya menuturkan pelaku pasar kini memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter ketat Federal Reserve telah mencapai puncaknya. Dari dalam negeri, pasar turut melihat risiko dari ketidakpastian politik dan peluang BI menaikkan suku bunga acuan lagi. Seperti diketahui, BI menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) ke 6% setelah mempertahankan suku bunga acuan pada 5,75% selama 8 bulan beruntun. Dari kalangan manajer investasi, Chief Economist & Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan mengatakan aliran dana masuk ke pasar keuangan masih menanti waktu yang tepat. Kala pasar melihat gelagat kenaikan suku bunga acuan The Fed mencapai puncak, investor asing memiliki kepercayaan diri untuk kembali melirik aset berisiko. Investment Specialist Sinarmas Asset Management Mohit Lalchandani menambahkan aliran dana asing bakal kembali masuk ke pasar keuangan bila langkah The Fed sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar. Sebagai imbasnya, pasar saham dan surat utang bisa menikmati sentimen positif. Di lain sisi, Head of Research & Fund Manager Syailendra Capital Rizki Jauhari Indra mengatakan keputusan Th Fed menahan kenaikan suku bunga masih harus dicermatii mengingat masih ada risiko gejolak jangka pendek dari pergerakan nilai tukar rupiah, likuiditas pasar dan perbankan, serta risiko perlambatan ekonomi.
Peran Bank Dorong Rendah Karbon
Negara-negara Asean tengah mencatatkan kemajuan menuju dekarbonisasi, tetapi upaya regional yang terpadu diperlukan untuk mencapai kemajuan yang konsisten dan signifikan. Tujuan tersebut menjadi fokus utama dalam Asean Business and Investment Summit yang telah diadakan di Jakarta, di mana konsep “beauty of diversity” dari Asean menjadi sorotan diskusi. .Sebagai pendatang baru dalam ranah keberlanjutan, Asean dapat belajar dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan China, yang menjadi acuan dalam mengoptimalkan sumber daya yang ada, memberdayakan keahlian, dan mempromosikan keberlanjutan secara strategis sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Bank berada di garis depan dalam upaya dekarbonisasi mengingat mereka memiliki kewajiban besar untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dalam operasional mereka. Menurut Ernst & Young (EY), meskipun sekitar setengah dari lembaga keuangan di kawasan Asean telah menetapkan target net zero pada 2050, kesenjangan yang besar masih dapat ditemukan. Beberapa bank belum mengambil tindakan nyata, alih-alih membuat komitmen eksplisit untuk menyelaraskan diri dengan Paris Agreement. Di KBank, salah satu bank terbesar di Thailand, kami memikul tanggung jawab ini dengan sepenuh hati. Sebagai Bank Keberlanjutan, kami telah membuat komitmen net zero sesuai dengan Sustainable Development Goals dari PBB. Kami menargetkan pengurangan emisi gas rumah kaca dari operasi kami sebesar 21% pada 2025. Kami juga berupaya secara aktif untuk mencapai target tersebut melalui sejumlah inisiatif.
Sustainable financing atau pembiayaan berkelanjutan berfungsi sebagai kendaraan utama dalam transisi menuju ekonomi hijau. Hal ini membuka kesempatan bagi bisnis dari semua kalangan untuk mendapatkan modal yang diperlukan dalam memulai perjalanan keberlanjutan mereka.Pada paruh pertama 2023, KBank melakukan pembiayaan dan investasi berkelanjutan di Thailand dengan total lebih dari 19,4 miliar baht atau setara dengan Rp8,3 triliun. Pada 2030, KBank berkomitmen untuk mencapai angka 200 miliar baht atau sekitar Rp85,8 triliun.
DHE SDA Belum Kuasa Dongkrak Devisa
Masih Butuh Sawit, Indonesia Siap Kolaborasi dengan Uni Eropa
Harga Komoditas Anjlok, Laba Emiten MIND.ID Melorot
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









