Ekonomi
( 40498 )Membalikkan Deindustrialisasi
Indonesia menargetkan
jadi negara maju pada 2045. Namun, hingga kini kita belum mampu membalikkan tren
deindustrialisasi yang terjadi 20 tahun terakhir di manufaktur. Secara umum,
seperti dilaporkan BI, kinerja industri pengolahan pada triwulan III-2023 masih
meningkat dan berada pada fase ekspansi. Ini tecermin dari Prompt Manufacturing
Index BI yang di atas 50 %, naik dari triwulan sebelumnya. Demikian pula, tahun
lalu ekspor terus meningkat, pernah mencapai rekor tertinggi dalam sejarah,
yakni 27,91 miliar USD pada Agustus 2023. Namun, semua itu tidak mewakili
gambaran utuh industri manufaktur kita. Lonjakan ekspor tersebut lebih dipicu
kenaikan harga komoditas, seperti minyak mentah, CPO, karet, timah, tembaga,
dan batubara, sejalan dengan melonjaknya harga-harga di pasar dunia karena
disrupsi rantai pasok global akibat perang Rusia-Ukraina dan Covid-19. Setelah
itu, ekspor kembali melandai dan relatif stagnan, sejalan dengan mulai
meredanya tekanan harga di tingkat global.
Faktanya, jika dicermati,
apa yang kita sebut sebagai fenomena deindustrialisasi dini masih terus
berlanjut di Indonesia. Hal ini setidaknya tecermin dari kontribusi manufaktur
yang terus menurun dan pertumbuhan manufaktur yang lebih rendah dibandingkan
pertumbuhan ekonomi kita. Kondisi ini terjadi sejak 2012 dan belum mampu kita
balikkan hingga kini. Pada 2022, pertumbuhan ekonomi 5,31 %, sementara industri
manufaktur hanya tumbuh 4,89 %. Penyusutan industri manufaktur itu semakin
terlihat terutama delapan tahun terakhir. Ini juga pemicu kian menurunnya
kemampuan penyerapan tenaga kerja kita. Pertumbuhan disebut inklusif dan
berkualitas jika mampu menyerap banyak tenaga kerja, terutama dari kelompok
usia yang kita harapkan akan menjadi penyokong bonus demografi kita untuk bisa
membawa kita ke Indonesia Emas 2045. Untuk bisa membalikkan keadaan yang kurang
menguntungkan ini, kuncinya, benahi problem struktural yang membuat manufaktur
kita susah naik kelas. Kebijakan strategis untuk membuat terobosan dan lompatan
menjadi penting. (Yoga)
Transportasi dan Pangan Jadi Lokomotif Inflasi Akhir Tahun
Menjelang akhir tahun, kenaikan
komoditas pangan dan jasa transportasi akan memberikan andil terhadap tingkat
inflasi, akibat pola permintaan masyarakat yang cenderung memiliki mobilitas
tinggi dalam rangka menyambut hari raya Natal 2023 dan perayaan Tahun Baru
2024. Kendati demikian, tingkat inflasi hingga akhir tahun diperkirakan masih
berada dalam target pemerintah. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa
BPS, Pudji Ismartini, pada konferensi pers hibrida di Jakarta, Rabu (1/11) mengatakan,
tren inflasi pada akhir tahun biasanya dipengaruhi oleh permintaan masyarakat. Permintaan
tersebut berkaitan dengan momentum hari raya Natal dan perayaan Tahun Baru
2024.
”Secara historis, komoditas yang
memberikan andil terhadap inflasi selama dua bulan terakhir pada setiap
tahunnya adalah beberapa komoditas pangan, seperti beras, telur ayam ras,
daging ayam ras, serta cabai merah dan cabai rawit. Kemudian, dari
transportasi, terutama angkutan udara yang disebabkan oleh meningkatnya permintaan
akibat mobilitas masyarakat saat momentum Natal dan Tahun Baru,” katanya.
Hingga Oktober 2023, tingkat inflasi bulanan tercatat 0,17 %. Tingkat inflasi tahun
kalender tercatat 1,8 %. Secara tahunan, tingkat inflasi Oktober 2023 mencapai
2,56 %, lebih tinggi dibanding tingkat inflasi September 2023 sebesar 2,28 %. (Yoga)
Banyak Investor Tak Paham Konsep Untung Rugi
Bappebti menerima kurang
dari 1 % aduan nasabah dari total nasabah perdagangan berjangka komoditas Sistem
Perdagangan Alternatif setiap tahunnya. Pengaduan yang ditangani mayoritas
terkait ketidakpahaman nasabah terhadap aturan perdagangan tersebut. Pada 2023,
dari total 30.415 nasabah, ada 151 nasabah (0,49 %) yang membuat pengaduan.
Tahun sebelumnya, sebanyak 257 nasabah (0,36 %) dari total 69.956 nasabah membuat
aduan. Aduan ini terkait sistem perdagangan alternatif (SPA), seperti di
perdagangan atau investasi indeks emas, indeks valas, dan indeks harga saham. Kepala
Bappebti Didid Noordiatmoko, ditemui di Jakarta, Rabu (1/11/2023), mengatakan,
sebagian besar pengaduan yang sudah mereka klasifikasi terkait masalah
ketidakpahaman nasabah pada produk berjangka komoditas itu.
”Mereka harus paham SPA.
Kenyataannya, banyak yang tidak paham, tetapi tanda tangan (kontrak). Kalau
sudah tanda tangan, kan, ada perikatan,” katanya. Kepala Biro Peraturan
Perundang-undangan dan Penindakan Bappebti Aldison menambahkan, aduan itu
banyak dilayangkan ketika nasabah mengalami kerugian saat berinvestasi. Mereka
lalu menuntut ganti rugi atau menuduh kecurangan kepada perusahaan pialang atau
Bappebti selaku pengawas perdagangan berjangka komoditas. ”Sekarang, kan,
banyak tawaran (investasi) lewat iklan masuk ke publik. Kemudian, mereka
tertarik mentransfer sejumlah uang ke akun itu. Kalau enggak
terjadi(keuntungan), mereka akan marah karena janji tidak terpenuhi atau tidak sesuai
yang diiklankan. Sesederhana itu sebenarnya pengaduan-pengaduan yang terjadi,” ujarnya.
(Yoga)
Menjadi Tua Sebelum Kaya
Tulisan di The Economist bertajuk
”Poor Asian Countries Face An Ageing Crisis”, 12 Oktober 2023, menyebutkan,
penduduk Sri Lanka, Thailand, Vietnam, dan negara-negara lain di Asia menjadi
tua sebelum menjadi kaya. Untuk memahami potensi buruknya masalah ini, The
Economist memberikan ilustrasi perbandingan transformasi yang terjadi di
Thailand dengan negara-negara lain yang terkenal dengan populasinya yang mulai
menua. Antara tahun 2002 dan 2021, jumlah penduduk Thailand berusia 65 tahun ke
atas meningkat dari 7 % jadi 14 %. Transisi yang sama memakan waktu 24 tahun
bagi Jepang, AS 72 tahun, dan Perancis 115 tahun. Tidak seperti negara-negara tersebut,
Thailand menjadi tua sebelum menjadi kaya. PDB per kapita Thailand pada 2021
adalah 7.000 USD.
Ketika populasi Jepang
memiliki usia yang sama, pada tahun 1994, PDB per kapita mereka hampir lima
kali lipat lebih tinggi. Permasalahan yang terjadi di Thailand itu menggaris bawahi
bahwa tren regional memiliki signifikansi ekonomi dan sosial yang sangat besar.
Kekayaan orang Vietnam sekitar setengah kekayaan orang Thailand. Penduduk Vietnam
dan Thailand mungkin hanya butuh waktu sekitar 17 tahun untuk berubah dari
”menua” menjadi ”tua”. Di negara-negara yang penuaannya memakan waktu lebih
lama, seperti Indonesia (26 tahun) dan Filipina (37 tahun), tingkat
pendapatannya bakal jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Asia
Tenggara sebagai suatu kawasan akan ”menua” pada 2042. Kecepatan transisi demografi
Asia merupakan konsekuensi dari perkembangan masyarakatnya. (Yoga)
Inflasi Jakarta Kembali Sentuh 2 Persen
PELUANG BISNIS, Sektor Tertentu Berpeluang Melonjak karena Pemilu 2024
Bisnis sektor percetakan,
periklanan, media, transportasi, logistik, makanan dan minuman, serta garmen
berpeluang melonjak karena penyelenggaraan pemilu. Masifnya belanja iklan dan kampanye
dari ribuan calon anggota legislatif, calon kepala daerah, bahkan pasangan
calon presiden dan calon wakil presiden bisa melambungkan omzet usaha mereka.
Pada ujungnya, belanja ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Dihubungi
pada Rabu (1/11) Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual
mengatakan, penyelenggaraan pemilu akan mendorong belanja jumbo berbagai
aktivitas politik para calon yang berkompetisi. Selain pemilihan presiden, mengutip
data Litbang Kompas, tercatat ada 541 daerah, baik provinsi, kabupaten, maupun kota,
yang akan menggelar pilkada pada November 2024. Tahun depan juga akan ada
ribuan calon yang berkompetisi di pemilu legislatif. Artinya, akan ada ribuan
calon yang melakukan aktivitas politik
sehingga mendorong gelontoran belanja iklan dan kampanye.
Untuk penyelenggaraan pemilu,
Komisi II DPR juga sudah menetapkan anggaran penyelenggaraan pemilu bagi KPU
sebesar Rp 27,39 triliun dan Bawaslu sebesar Rp 11,6 triliun (Kompas, 12/9). Belanja
jumbo ini akan tersalurkan ke sektor-sektor ekonomi, antara lain percetakan, periklanan,
media, transportasi, logistik, makanan dan minuman, serta garmen. ”Ini akan
mendorong sektor-sektor ekonomi itu mencatat kinerja yang lebih tinggi dibandingkan
periode-periode sebe- lumnya,” ujar David. Lonjakan pendapatan di sektor-sektor
tersebut diperkirakan mulai terjadi saat masa kampanye, yakni 28 November 2023-10
Februari 2024. Apabila terjadi putaran kedua pemilu presiden, kampanye
berikutnya dijadwalkan pada 2-22 Juni 2024. Itu belum termasuk kegiatan
pemilihan kepala daerah pada November 2024. Peningkatan jumlah
uang beredar terkait belanja pemilu itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi
dari sisi konsumsi dalam negeri. Gelontoran dana yang besar itu akan merangsang
pertumbuhan ekonomi tahun ini dan tahun depan. (Yoga)
Harga Pangan Melonjak, Inflasi Terdongkrak
Jumlah Wisman Menurun, Promosi Pariwisata Perlu Ditingkatkan
Manufaktur Kena Hantaman Bertubi-tubi
Ekspansi Gerai Sokong Kinerja ACES
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









