;
Kategori

Ekonomi

( 40498 )

Membalikkan Deindustrialisasi

02 Nov 2023

Indonesia menargetkan jadi negara maju pada 2045. Namun, hingga kini kita belum mampu membalikkan tren deindustrialisasi yang terjadi 20 tahun terakhir di manufaktur. Secara umum, seperti dilaporkan BI, kinerja industri pengolahan pada triwulan III-2023 masih meningkat dan berada pada fase ekspansi. Ini tecermin dari Prompt Manufacturing Index BI yang di atas 50 %, naik dari triwulan sebelumnya. Demikian pula, tahun lalu ekspor terus meningkat, pernah mencapai rekor tertinggi dalam sejarah, yakni 27,91 miliar USD pada Agustus 2023. Namun, semua itu tidak mewakili gambaran utuh industri manufaktur kita. Lonjakan ekspor tersebut lebih dipicu kenaikan harga komoditas, seperti minyak mentah, CPO, karet, timah, tembaga, dan batubara, sejalan dengan melonjaknya harga-harga di pasar dunia karena disrupsi rantai pasok global akibat perang Rusia-Ukraina dan Covid-19. Setelah itu, ekspor kembali melandai dan relatif stagnan, sejalan dengan mulai meredanya tekanan harga di tingkat global.

Faktanya, jika dicermati, apa yang kita sebut sebagai fenomena deindustrialisasi dini masih terus berlanjut di Indonesia. Hal ini setidaknya tecermin dari kontribusi manufaktur yang terus menurun dan pertumbuhan manufaktur yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi kita. Kondisi ini terjadi sejak 2012 dan belum mampu kita balikkan hingga kini. Pada 2022, pertumbuhan ekonomi 5,31 %, sementara industri manufaktur hanya tumbuh 4,89 %. Penyusutan industri manufaktur itu semakin terlihat terutama delapan tahun terakhir. Ini juga pemicu kian menurunnya kemampuan penyerapan tenaga kerja kita. Pertumbuhan disebut inklusif dan berkualitas jika mampu menyerap banyak tenaga kerja, terutama dari kelompok usia yang kita harapkan akan menjadi penyokong bonus demografi kita untuk bisa membawa kita ke Indonesia Emas 2045. Untuk bisa membalikkan keadaan yang kurang menguntungkan ini, kuncinya, benahi problem struktural yang membuat manufaktur kita susah naik kelas. Kebijakan strategis untuk membuat terobosan dan lompatan menjadi penting. (Yoga) 

Transportasi dan Pangan Jadi Lokomotif Inflasi Akhir Tahun

02 Nov 2023

Menjelang akhir tahun, kenaikan komoditas pangan dan jasa transportasi akan memberikan andil terhadap tingkat inflasi, akibat pola permintaan masyarakat yang cenderung memiliki mobilitas tinggi dalam rangka menyambut hari raya Natal 2023 dan perayaan Tahun Baru 2024. Kendati demikian, tingkat inflasi hingga akhir tahun diperkirakan masih berada dalam target pemerintah. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, pada konferensi pers hibrida di Jakarta, Rabu (1/11) mengatakan, tren inflasi pada akhir tahun biasanya dipengaruhi oleh permintaan masyarakat. Permintaan tersebut berkaitan dengan momentum hari raya Natal dan perayaan Tahun Baru 2024.

”Secara historis, komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi selama dua bulan terakhir pada setiap tahunnya adalah beberapa komoditas pangan, seperti beras, telur ayam ras, daging ayam ras, serta cabai merah dan cabai rawit. Kemudian, dari transportasi, terutama angkutan udara yang disebabkan oleh meningkatnya permintaan akibat mobilitas masyarakat saat momentum Natal dan Tahun Baru,” katanya. Hingga Oktober 2023, tingkat inflasi bulanan tercatat 0,17 %. Tingkat inflasi tahun kalender tercatat 1,8 %. Secara tahunan, tingkat inflasi Oktober 2023 mencapai 2,56 %, lebih tinggi dibanding tingkat inflasi September 2023 sebesar 2,28 %. (Yoga)

Banyak Investor Tak Paham Konsep Untung Rugi

02 Nov 2023

Bappebti menerima kurang dari 1 % aduan nasabah dari total nasabah perdagangan berjangka komoditas Sistem Perdagangan Alternatif setiap tahunnya. Pengaduan yang ditangani mayoritas terkait ketidakpahaman nasabah terhadap aturan perdagangan tersebut. Pada 2023, dari total 30.415 nasabah, ada 151 nasabah (0,49 %) yang membuat pengaduan. Tahun sebelumnya, sebanyak 257 nasabah (0,36 %) dari total 69.956 nasabah membuat aduan. Aduan ini terkait sistem perdagangan alternatif (SPA), seperti di perdagangan atau investasi indeks emas, indeks valas, dan indeks harga saham. Kepala Bappebti Didid Noordiatmoko, ditemui di Jakarta, Rabu (1/11/2023), mengatakan, sebagian besar pengaduan yang sudah mereka klasifikasi terkait masalah ketidakpahaman nasabah pada produk berjangka komoditas itu.

”Mereka harus paham SPA. Kenyataannya, banyak yang tidak paham, tetapi tanda tangan (kontrak). Kalau sudah tanda tangan, kan, ada perikatan,” katanya. Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan dan Penindakan Bappebti Aldison menambahkan, aduan itu banyak dilayangkan ketika nasabah mengalami kerugian saat berinvestasi. Mereka lalu menuntut ganti rugi atau menuduh kecurangan kepada perusahaan pialang atau Bappebti selaku pengawas perdagangan berjangka komoditas. ”Sekarang, kan, banyak tawaran (investasi) lewat iklan masuk ke publik. Kemudian, mereka tertarik mentransfer sejumlah uang ke akun itu. Kalau enggak terjadi(keuntungan), mereka akan marah karena janji tidak terpenuhi atau tidak sesuai yang diiklankan. Sesederhana itu sebenarnya pengaduan-pengaduan yang terjadi,” ujarnya. (Yoga) 

Menjadi Tua Sebelum Kaya

02 Nov 2023

Tulisan di The Economist bertajuk ”Poor Asian Countries Face An Ageing Crisis”, 12 Oktober 2023, menyebutkan, penduduk Sri Lanka, Thailand, Vietnam, dan negara-negara lain di Asia menjadi tua sebelum menjadi kaya. Untuk memahami potensi buruknya masalah ini, The Economist memberikan ilustrasi perbandingan transformasi yang terjadi di Thailand dengan negara-negara lain yang terkenal dengan populasinya yang mulai menua. Antara tahun 2002 dan 2021, jumlah penduduk Thailand berusia 65 tahun ke atas meningkat dari 7 % jadi 14 %. Transisi yang sama memakan waktu 24 tahun bagi Jepang, AS 72 tahun, dan Perancis 115 tahun. Tidak seperti negara-negara tersebut, Thailand menjadi tua sebelum menjadi kaya. PDB per kapita Thailand pada 2021 adalah 7.000 USD.

Ketika populasi Jepang memiliki usia yang sama, pada tahun 1994, PDB per kapita mereka hampir lima kali lipat lebih tinggi. Permasalahan yang terjadi di Thailand itu menggaris bawahi bahwa tren regional memiliki signifikansi ekonomi dan sosial yang sangat besar. Kekayaan orang Vietnam sekitar setengah kekayaan orang Thailand. Penduduk Vietnam dan Thailand mungkin hanya butuh waktu sekitar 17 tahun untuk berubah dari ”menua” menjadi ”tua”. Di negara-negara yang penuaannya memakan waktu lebih lama, seperti Indonesia (26 tahun) dan Filipina (37 tahun), tingkat pendapatannya bakal jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Asia Tenggara sebagai suatu kawasan akan ”menua” pada 2042. Kecepatan transisi demografi Asia merupakan konsekuensi dari perkembangan masyarakatnya. (Yoga) 

Inflasi Jakarta Kembali Sentuh 2 Persen

02 Nov 2023
Badan Pusat Statistik DKI Jakarta merilis inflasi tahunan Jakarta menyentuh 2,08 persen, Rabu (1/11/2023). Angka itu naik dibandingkan dengan inflasi Oktober 2023, yaitu 1,89 persen. BPS mencatat, kenaikan harga sejumlah komoditas menyumbang inflasi. Koordinator Fungsi Statistik Distribusi BPS DKI Jakarta Feri Prasetyo Nugroho menyebutkan, Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat 2,32 poin menjadi 113,76. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan Oktober 2022, yaitu 111,44. (Yoga)

PELUANG BISNIS, Sektor Tertentu Berpeluang Melonjak karena Pemilu 2024

02 Nov 2023

Bisnis sektor percetakan, periklanan, media, transportasi, logistik, makanan dan minuman, serta garmen berpeluang melonjak karena penyelenggaraan pemilu. Masifnya belanja iklan dan kampanye dari ribuan calon anggota legislatif, calon kepala daerah, bahkan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden bisa melambungkan omzet usaha mereka. Pada ujungnya, belanja ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Dihubungi pada Rabu (1/11) Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual mengatakan, penyelenggaraan pemilu akan mendorong belanja jumbo berbagai aktivitas politik para calon yang berkompetisi. Selain pemilihan presiden, mengutip data Litbang Kompas, tercatat ada 541 daerah, baik provinsi, kabupaten, maupun kota, yang akan menggelar pilkada pada November 2024. Tahun depan juga akan ada ribuan calon yang berkompetisi di pemilu legislatif. Artinya, akan ada ribuan calon yang melakukan  aktivitas politik sehingga mendorong gelontoran belanja iklan dan kampanye.

Untuk penyelenggaraan pemilu, Komisi II DPR juga sudah menetapkan anggaran penyelenggaraan pemilu bagi KPU sebesar Rp 27,39 triliun dan Bawaslu sebesar Rp 11,6 triliun (Kompas, 12/9). Belanja jumbo ini akan tersalurkan ke sektor-sektor ekonomi, antara lain percetakan, periklanan, media, transportasi, logistik, makanan dan minuman, serta garmen. ”Ini akan mendorong sektor-sektor ekonomi itu mencatat kinerja yang lebih tinggi dibandingkan periode-periode sebe- lumnya,” ujar David. Lonjakan pendapatan di sektor-sektor tersebut diperkirakan mulai terjadi saat masa kampanye, yakni 28 November 2023-10 Februari 2024. Apabila terjadi putaran kedua pemilu presiden, kampanye berikutnya dijadwalkan pada 2-22 Juni 2024. Itu belum termasuk kegiatan pemilihan kepala daerah pada November 2024. Peningkatan jumlah uang beredar terkait belanja pemilu itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi dalam negeri. Gelontoran dana yang besar itu akan merangsang pertumbuhan ekonomi tahun ini dan tahun depan. (Yoga)

Harga Pangan Melonjak, Inflasi Terdongkrak

02 Nov 2023
JAKARTA,ID-Harga pangan melonjak pada Oktober 2023, terlihat pada inflasi kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau sebesar 5,4%, tertinggi dibandingkan kelompok lainnya. Imbasnya, inflasi pada Oktober 2023 terdongkrak menjadi 2,5% secara tahunan (year on year/yoy), dibandingkan September sebesar 2,28%. Berdasarkan data  Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil inflasi  terbesar pada Oktober 2023, yakni 1,39, diikuti perawatan pribadi  dan jasa lainnya sebesar 0,23%, penyediaan makanan dan minuman/restauran sebesar 0,2%. Seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi pada bulan lalu. Subkelompok makanan, minuman dan tembakau yang inflasi tahunan tertinggi adalah rokok dan tembakau sebesar 94% dan teredah minuman yang tidak ralkohol sebesar 2,19%. Kenaikan harga pangan kini meluas, bukan hanya beras, melainkan ke bebrapa komoditas. Ini terlihat pada besarnya sumbangan inflasi makanan ke inflasi keseluruhan. (Yetede)

Jumlah Wisman Menurun, Promosi Pariwisata Perlu Ditingkatkan

02 Nov 2023
JAKARTA,ID-Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan mencanegara (wisman) mencapai 1,52,76% dibandingkan bulan yang sama pada tahun yang lalu year on year (yoy) Berkaitan itu,  pemerintah perlu meningkatkan promosi pariwisata Indonesia di berbagai negara. Wisman yang berkunjung ke Indonesia pada September 2023 didominasi oleh wisman yang berasal dari Malaysia sebanyak 152,2 ribu (14,22%) dan Singapura 114,7 ribu (10,72%).  Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini penurunan jumlah wisman secara  bulanan terjadi karena penurunan jumlah   sebesar 12,92% dari Malaysia. Pada saat yang sama liburan musim panas di negara-negara Eropa sudah berakhir. "Secara historis, menurunnya wisman ini kan berlanjut sampai bulan November. Nanti juga terlihat kunjungan wisman akan mengalami peningkatan di saat Liburan Natal dan Tahun Baru," jelas Pudji Isminarti dalam konferensi BPS secara hibrida d Kantor BPS, Jakarta, Rabu (1/11/2023). (Yetede)

Manufaktur Kena Hantaman Bertubi-tubi

02 Nov 2023
JAKARTA,ID-Laju industri manufaktur mengalami hantaman bertubi-tubi menjelang akhir tahun, di mana S&P Global melaporkan Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke posisi 51,5 pada Oktober diandingkan 52,3 pada September 2023. Angka ini merupakan laju paling lambat sejak Mei dan melanjutkan  penurunan selama 2 bulan berturut-turut. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani mengungkapkan, masalah utama industri  manufaktur nasional pada saat ini adalah penggelembungan beban overhead cost usaha. Ini karena peningkatan beban impor bahan baku/penolong yang disebabkan pelemahan rupiah. "Faktor regulasi seperti kebijakan neraca perdagangan dan pengetatan impor turut  menambah beban pengetatan impor turut menambah beban penciptaan produktivitas sektor manufaktur, meskipun outlook daya beli dan konsumsi pasar masih relatf stabil," ucap dia kepada Investor Daily, Jakarta, Rabu (1/11/2023). (Yetede)

Ekspansi Gerai Sokong Kinerja ACES

01 Nov 2023
Kinerja PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) diprediksi terus melaju hingga pengujung 2023. Ekspansi gerai dan tawaran  promosi akhir tahun bakal menjadi pendorongnya. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Ruth Yesika Simak mengatakan, ACES mampu mempertahankan pertumbuhan Same-Store Sales Growth (SSSG) yang kuat pada September 2023, mencapai 10,9% secara year on year (yoy). Angka itu naik signifikan dibandingkan September 2022 yang minus 3,6% yoy. Lebih rinci, SSSG di wilayah luar Jawa tumbuh 16,3% pada September 2023. Di luar Jakarta, SSSG pasar di Jawa tumbuh 8,7%. Sementara Jakarta mengalami pertumbuhan SSSG 7,7% yoy. Yesika menilai, pertumbuhan SSSG tersebut didukung oleh ekspansi ACES ke kota-kota tier-2 dan tier-3, selaras dengan pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah tersebut. Selain itu, karena tingginya jumlah pengunjung di bulan September yang memiliki libur akhir pekan yang panjang dan liburan sekolah. Yesika memproyeksi di kuartal IV ACES akan menghasilkan pendapatan yang lebih kuat dengan berbagai diskon khusus akhir tahun. Namun, Yesika juga melihat depresiasi rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) berpotensi berdampak pada margin ACES di masa depan. Yesika memproyeksi pendapatan ACES bisa tumbuh 12% menjadi Rp 7,59 triliun dan laba bersih naik 11% ke Rp 737 miliar di 2023. Pertumbuhan kinerja terdorong perbaikan pendapatan dan efisiensi. Juga penambahan toko baru dan peningkatan SSSG. Research Analyst Erdikha Elit Sekuritas Ika Baby Fransiska mengatakan, selama sembilan bulan 2023 ACES membuka sembilan gerai baru dengan tujuh gerai di luar Jawa dan dua gerai di Jawa. "Ini sejalan dengan target perseroan yang akan membuka 10-15 gerai tiap tahun," ujar Ika, Selasa (31/10). Head Of Research Mega Capital Sekuritas Cheril Tanuwijaya menambahkan, kuatnya SSSG ACES juga didorong dari ketahanan daya beli masyarakat kelas menengah atas.