;
Kategori

Ekonomi

( 40498 )

Suku Bunga Deposito Naik Terbatas

03 Nov 2023
JAKARTA,ID-Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat suku bunga simpanan perbankan bergerak naik terbatas di tengah kondisi likuiditas bank yang longgar dan penyaluran kredit yang moderat. Rata-rata tingkat bunga deposito rupiah (22 daily moving average) seluruh bank naik 5 basis poin (bps) ke level 3,89% secara bulanan (month to month/mtm)  per 29 September 2023. Berdasarkan kelompok modal, suku bunga kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 4 menunjukkan kenaikan sebesar 8 bps ke level 3,02% per September 2023 atau terendah dibandingkan KBMI lainnya. Sementara KBMI 1 naik 5 bps ke level 3,98%. Suku unga rata-rata deposito rupiah tertinggi adalah KBMI 2 di level 4,03% per September 2023 2023, kemudian suku bunga KBMI 3 di level 3,6%. "Arah kebijakan moneter domestik yang naik 25 bps dan berlanjutnya laju pertumbuhan kredit  mendorong suku bunga simpanan rupiah bergerak naik dengan laju yang terbatas," tulis LPS dalam publikasinya, dikutip kamis (2/11/2023). (Yetede)

Awasi Dampak Pergeseran EL-Nino Terhadap Stabilitas Inflasi

03 Nov 2023
JAKARTA,ID-Tekanan inflasi tahunan mulai menunjukkan peningkatan yang terlihat pada Oktober 2023 sebesar 2,56%, lebih tinggi dari inflasi tahunan pada September 2023 yang sebesar 2,28%. Dalam hal ini pemerintah  harus menjaga distribusi komoditas pangan strategis agar dapat mulai  mengantisipasi terjadinya pergeseran waktu berakhirnya El-Nino. Badan Metreologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan sejumlah lembaga pusat iklim dunia memperkirakan El-Nino masih bertahan di level moderat  hingga periode Desember 2023 sampai Februari 2024. Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yususf Rendy Manilet menjelaskan, dengan adanya pergeseran  waktu terjadinya El-Nino yang diperkirakan akan berakhir Oktober ternyata bisa bergeser dari perkiraan sebelumnya. Hal itu perlu diwaspadai dengan penguatan distribusi pangan di masyarakat. "Pemerintah perlu melakukan (upaya menjaga distribusi pangan) setidaknya sampai awal tahun depan, sehingga distribusi komunitas pangan strategis tetap terjaga," ungkap Yusuf kepada Investaor Daily. (Yetede)

Pertumbuhan Manufaktur Meleset dari Target

03 Nov 2023
JAKARTA,ID-Pertumbuhan industri manufaktur diperkirakan tidak bisa mencapai 5,1%-5,4% hingga akhir tahun nanti, seperti yang ditargetkan Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Hantaman bertubi-tubi jelang akhir  tahun membuat industri hanya bisa tumbuh 4,5%-4,8%. Direktur Center of Economics and law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, selain mendapat hambatan dari pelemahan rupiah industri manufaktur juga  mendapat hambatan dari dalam negeri. Dia menerangkan, ada kecendungan konsumen menengah keatas, yang menguasai lebih  dari 40% total konsumsi nasional, cenderung menahan belanja. Ini terlihat dari data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dimana jumlah tabungan nasabah bank umum dengan simpanan di atas Rp 5 miliar pada September 2023 mencapai Rp8.203 triliun. (Yetede)

Penyaluran KUR 2023 Terhambat Persyaratan

03 Nov 2023
Kinerja penyaluran KUR yang cenderung seret itu antara lain disebabkan oleh banyaknya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang kesulitan mengakses pembiayaan KUR karena terganjal persyaratan rekam jejak serta asesmen kelayakan calon debitor.

Ketua Umum Asosiasi Industri UMKM Indonesia (Akumandiri) Hermawati Setyorinny mengatakan salah satu kendala yang dihadapi pelaku UMKM adalah tidak terpenuhinya syarat kelayakan catatan buku kredit ketika mengajukan pinjaman ke bank atau lembaga jasa keuangan lainnya. “Sebagian besar UMKM masih tercatat sebagai penunggak KUR di masa pandemi, meski sudah direstrukturisasi dengan bunga yang rendah,” katanya kepada Tempo, kemarin.

Dalam analisis kredit selama ini, terdapat persyaratan wajib lolos Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) dan SIKP. SLIK memuat riwayat kredit calon debitor yang sering mengganjal proses pengajuan kredit. “Karena itu, penghapusbukuan kredit macet UMKM akan sangat membantu pelaku usaha untuk bangkit dan bergairah mengajukan kredit lagi,” ucap Hermawati. (Yetede)

Greenback Masih Tetap Jadi Safe Haven Favorit

02 Nov 2023
Instrumen lindung nilai atau safe haven menjadi perburuan investor di tengah kondisi ekonomi dan geopolitik yang penuh ketidakpastian, serta tren kenaikan suku bunga akibat inflasi. Dollar Amerika Serikat (AS) dan emas tetap menjadi instrumen safe haven primadona. Sebagai gambaran, dalam sebulan terakhir hingga 1 November 2023, harga emas di pasar spot naik 4,5% ke posisi US$ 1.991,8 per ons troi. Sementara harga emas batangan Antam naik sebesar 9,45% dalam sebulan menjadi Rp 1,12 juta per gram. Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan, indeks dollar AS mendekati level tertinggi dalam 11 bulan karena investor mengantisipasi kebijakan moneter baru Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (Fed) pada rapat 31 Oktober-1 November 2023 waktu AS. Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga. Tetapi akan mempertahankan biaya pinjaman di level tinggi untuk beberapa waktu karena perekonomian AS tetap tangguh. Jumlah lowongan pekerjaan meningkat 56.000 dari bulan sebelumnya menjadi 9,55 juta pada September 2023, level tertinggi dalam empat bulan dan melampaui konsensus pasar sebesar 9,25 juta. Purchasing Manager Index (PMI) Manufaktur AS Global S&P di level 50 pada Oktober 2023, naik dari level 49,8 pada September 2023. Emas menjadi lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik. Namun menurut Sutopo harganya terlampau mahal, sehingga tak terlalu menarik lagi bagi pembeli luar negeri yang mengkonversi emas dengan dollar. Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Lukman Leong menilai harga emas spot masih bertengger di US$ 2.000 ons troi pada akhir tahun. Berarti tidak akan jauh dari harga sekarang. Sementara emas batangan lebih cocok untuk investor tradisional. Dia melihat dollar   lebih prospektif daripada emas karena berpeluang meningkat lagi sekitar 5% hingga akhir tahun.

Pilih-Pilih LQ45 dengan Cuan Tinggi

02 Nov 2023
Di tengah musim rilis kinerja, sejumlah emiten LQ45 tampil mentereng dengan laba bersih yang tinggi. Emiten dengan perolehan laba terbesar masih dipegang oleh bank big caps. Sedangkan emiten LQ45 yang mendulang pertumbuhan laba tertinggi secara tahunan berasal dari sektor yang bervariasi. Sementara ini, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi emiten LQ45 dengan pertumbuhan laba tertinggi sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2023. Pada periode itu, laba bersih BRPT meroket 217,45% secara tahunan menjadi US$ 35,84 juta. Kinerja ini disusul emiten rokok PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT Indofood CBP Suskes Makmur Tbk (ICBP). Karena itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus melihat, net profit margin tertinggi secara kuartalan masih didominasi oleh perbankan besar. Kinerja fundamental sektor bank cenderung stabil sehingga, valuasi di masa mendatang berpeluang naik. Research Analyst Erdikha Elit Sekuritas, Ika Baby Fransiska menimpali, kinerja emiten bervariasi mengikuti kondisi sektor industrinya. Bersamaan dengan sentimen sektoralnya, pergerakan harga saham emiten juga cenderung sudah priced in. Tapi, masih ada beberapa saham yang menarik. Ika menyarankan buy on weakness BBCA dan BBRI dengan target Rp 8.925 dan Rp 5.125. Lalu, ASII, INCO, dan INDF dengan target masing-masing Rp 6.275, Rp 5.800 dan Rp 7.100. Lalu, Cheril menjagokan MEDC dengan target harga Rp 1.300 dan ACES dengan target harga Rp 880 per saham.

Proyek Besar Topang Emiten Konstruksi

02 Nov 2023
Kinerja sejumlah emiten konstruksi hingga kuartal III 2023 mencatatkan hasil  beragam. Baik itu emiten konstruksi plat merah maupun yang swasta. Misalnya, emiten badan usaha milik negara (BUMN) karya yakni PT PP Persero. Emiten berkode saham PTPP ini  mencatatkan pendapatan per September 2023 sebesar sebesar Rp 12,22 triliun. Pencapaian ini turun 9,17% daripada hasil di  periode serupa tahun lalu yang senilai Rp 13,46 triliun.  Di sisi lain, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) mencatat kenaikan rugi ke Rp 2,83 triliun hingga kuartal III 2023. Padahal, per September 2022, WSKT masih mencatat laba Rp 425,2 juta. Melansir laporan keuangan di laman Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan usaha WSKT menurun hingga kuartal III 2023. WSKT membukukan pendapatan usaha  Rp 7,8 triliun, turun 24,1% dari September 2022, Rp 10,3 triliun. Dari perusahaan swasta, PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) mencatatkan pendapatan Rp 2 triliun hingga akhir kuartal III 2023. Hasil ini naik 12,9% dari periode serupa 2022 yakni Rp 1,76 triliun. Alhasil, NRCA membukukan laba bersih Rp 82,2 miliar di periode tersebut, naik 23,6% dari periode sama tahun lalu. Analis Kanaka Hita Solvera, Raditya Krisna Pradana menilai, katalis utama dari kinerja emiten konstruksi hingga kuartal III 2023 adalah proyek Ibu Kota Nusantara (IKN).  Raditya melihat, NRCA masih unggul dari sisi emiten konstruksi swasta. Sementara, PTPP unggul untuk emiten konstruksi BUMN. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama melihat, kinerja emiten konstruksi bisa membaik di kuartal IV 2023 . Para kontraktor yang berusaha memenuhi target kontrak baru tahunan. 

KETAR-KETIR GERAK INFLASI

02 Nov 2023

Bayang-bayang kenaikan inflasi nyatanya tak sekadar ilusi. Data Indeks Harga Konsumen (IHK) terkini, serta aneka faktor eksternal yang memengaruhi ekonomi nasional, menjadi pemantik lesatan inflasi pada sisa tahun ini. Terlebih, secara historis inflasi pada pengujung tahun acapkali menanjak yang dipicu oleh momen liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Pemberat lain adalah pelemahan rupiah yang memiliki daya dorong cukup signifikan terhadap inflasi barang impor, serta tingginya harga komoditas pangan. Belum lagi efek dinamika geopolitik di Timur Tengah yang merongrong harga minyak, sehingga menekan daya beli masyarakat sebagaimana terjadi pada paruh kedua tahun lalu. Apalagi, World Bank dalam Commodity Markets Outlook 30 Oktober 2023, mengestimasi harga minyak berpotensi menyentuh US$90 per barel—US$157 per barel jika efek ketegangan geopolitik Timur Tengah setara dengan krisis minyak 1973 silam. Sementara itu, data dari dalam negeri tak bisa dibilang menggembirakan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi umum pada Oktober 2023 sebesar 2,56% (year-on-year/YoY). Tentu ini menjadi alarm bagi otoritas fiskal dan moneter untuk lagi-lagi menyiapkan manuver pengaman, tak hanya sisi permintaan atau konsumsi juga penawaran alias produksi. Maklum, pada saat bersamaan S&P Global mencatat perlambatan Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur Indonesia ke posisi 51,5, terendah dalam 5 bulan terakhir. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini, mengatakan efek pelemahan rupiah tampak nyata pada komoditas yang mengandung komponen impor, seperti output manufaktur dan inflasi inti.

Dalam konteks ini, baik otoritas fiskal maupun otoritas moneter menyadari betul beratnya pekerjaan rumah yang wajib diselesaikan. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, mengatakan bank sentral akan konsisten bersinergi dengan pemerintah melalui penguatan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu, menambahkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan dioptimalkan dalam mengamankan daya beli masyarakat. Pemerintah pun telah menambah alokasi perlindungan sosial melalui bantuan besar hingga 2023 dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) El Nino. Di sisi lain, manufaktur masih amat membutuhkan pendampingan fiskal. Sebab, meski PMI masih ekspansif, kinerja manufaktur menunjukkan perlambatan lantaran terimbas pelemahan ekonomi global. Perihal ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mengatakan dari sisi fiskal akan terus menggunakan berbagai instrumen, mulai dari pemberian insentif perpajakan, juga dari sisi belanja baik terkait dengan sumber daya manusia, infrastruktur, maupun reformasi birokrasi. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani, mengatakan kunci menjaga inflasi dengan mengendalikan rupiah sehingga peningkatan beban impor dan harga minyak dapat dikendalikan.

Penggerak Roda Ekonomi di Tahun Politik

02 Nov 2023

Angin sakal ekonomi, belum juga mereda. Potensi pertumbuhan ekonomi yang seharusnya terjadi di tahun politik karena dorongan konsumsi, berbenturan dengan eskalasi politik dan ketidakpastian ekonomi yang tengah terjadi saat ini. Akankah setiap musim Pemilu, kinerja Produk Domestik Bruto (PDB) nasional selalu dirundung tulah? Itulah sekelumit kegelisahan yang terpantik, saat membaca judul artikel harian Bisnis Indonesia edisi 26 Oktober 2023 “Membalik Tulah Tahun Politik” Dus, sejak Pemilu 2004—2019, pertumbuhan ekonomi selalu memperlihatkan kinerja melambat dari tahun-tahun sebelumnya. Padahal, idealnya, sepanjang Pemilu, sejatinya konsumsi pemerintah dan konsumsi Rumah Tangga (RT) menderukan mesin ekonomi, sehingga pertumbuhan ekonomi melaju di tahun-tahun politik tersebut. Namun, pada kenyataannya, bak jauh panggang dari api. Dari data kinerja ekonomi yang dipaparkan Bisnis Indonesia, grafik pertumbuhan ekonomi selalu melambat sejak Pemilu 2004—2019. Jika kita menengok ke belakang, kontribusi konsumsi Rumah Tangga (RT) dan konsumsi pemerintah terhadap PDB, pun selalu mengalami koreksi di tahun politik. Hal ini menunjukkan ada faktor-faktor politik yang memengaruhi perilaku konsumsi masyarakat, seperti ketidakpastian, eskalasi politik, atau kekhawatiran terkait dengan hasil Pemilu dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dan sosial. Konsumsi RT merupakan indikator penting untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi RT menyumbang lebih dari separuh PDB Indonesia, yaitu sekitar 56%. Namun, porsi konsumsi RT terhadap PDB terus menurun dari tahun ke tahun, dari 61,6% pada 2004 menjadi 51,5% pada 2019. Salah satu faktor yang diduga berpengaruh adalah adanya siklus politik lima tahunan yang berdampak pada dinamika konsumsi masyarakat. Dari dalam negeri, fluktuasi pasar juga terlihat dari arus modal keluar (capital outflow) dan tekanan terhadap saham yang masih terombang ambing dengan IHSG di bawah 7.000. Kurs Rupiah yang bergerak tembus level psikologis baru Rp16.000/US$ adalah impak dari ketidakpastian ekonomi saat ini. Dari krisis geopolitik Rusia-Ukraina dan Israel Palestina yang meluas ke kawasan Timur Tengah, fluktuasi harga minyak mentah dunia (crude price), fluktuasi harga pangan dan kebijakan suku bunga global (policy rate) adalah gambaran kondisi yang mencemaskan. Jalur transmisi dari momok ketidakpastian tersebut, berdampak pada ekspektasi inflasi dan terkereknya suku bunga kebijakan dalam negeri yang berkonsekuensi pada mahalnya beban pembiayaan usaha ke depan. Sementara dari sisi kebijakan moneter, diarahkan untuk menjaga stabilitas. Inflasi terkendali dalam sasaran 3%±1%, adalah bagian dari upaya menjaga daya beli masyarakat. Kebijakan makroprudensial, yang longgar melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dan Rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM), diharapkan dapat mengoptimalkan fungsi intermediasi sektor perbankan untuk mendukung realisasi kredit ke sektor produktif untuk memacu laju pertumbuhan ekonomi.

SUKU BUNGA ACUAN NAIK : EFEK KEJUT OBLIGASI NEGARA

02 Nov 2023

Lesu pasar surat utang merambat ke penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel, terlihat pada penawaran Obligasi Negara Ritel seri ORI024 yang terpaut jauh lebih rendah dibandingkan dengan penawaran seri sebelumnya menjelang masa penutupan penawaran. Berdasarkan data realisasi penjualan pada platform Investree, Rabu (1/11) pukul 20:41, realisasi penjualan ORI024 tenor 3 tahun atau ORI024 T3 mencapai Rp11,65 triliun dari kuota Rp15 triliun. Sementara itu, seri tenor yang lebih panjang yakni 6 tahun atau ORI024 T6 mencapai Rp2,56 triliun dari kuota Rp3,5 triliun. Secara total, realisasi penjualan instrumen tersebut belum mampu menyaingi realisasi penjualan ORI023 yang melampaui Rp20 triliun. Kepala Ekonom BCA David E. Sumual mengatakan bahwa lesunya penawaran ORI024 ini menunjukkan bahwa efek kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia yang tidak terduga turut terasa. Terlebih, instrumen tersebut ditawarkan mulai 9 Oktober hingga 2 November. Waktu penawaran panjang itu tak mampu mengangkat penjualan instrumen buatan pemerintah itu. Di sisi lain, dia menuturkan bisa saja investor memiliki likuiditas yang lebih terbatas pada sisa tahun karena pembelian SBN ritel tergolong agresif sejak awal tahun. Oleh karena itu, dia berpendapat bahwa imbal hasil pada SBN ritel berikutnya, yakni Sukuk Tabungan seri ST011 akan sangat menentukan minat investor. Secara umum, dia menyebut respons investor tahun ini positif terhadap instrumen yang ditawarkan pemerintah. Senada, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan permintaan SBN ritel yang tecermin pada penawaran ORI024 lesu akibat sentimen global selama Oktober. Dia menuturkan kondisi pasar tersebut mendorong ekspektasi penurunan lanjutan harga ORI yang merupakan instrumen yang dapat diperdagangkan atau tradable.