Ekonomi
( 41054 )Dua PSN Terkait Hilirisasi Nikel di Sultra Molor
Dua proyek hilirisasi nikel yang masuk dalam Proyek
Strategis Nasional (PSN) di Sultra molor dari target. Meski diinisiasi sejak
2022, dua proyek dengan investasi puluhan triliun ini masih dalam pengurusan dokumen
lingkungan. Investasi di wilayah ini dikhawatirkan tidak akan memenuhi target. Kadis
Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Sultra Parinringi mengatakan,
di Sultra saat ini ada sejumlah PSN, terutama hilirisasi nikel. Namun, ada dua
PSN tidak berjalan sesuai jadwal. ”Ada kawasan industriterpadu PT Nusantara
Industri Sejati (NIS) di Motui, Konawe Utara, dan PT Kendari Kawasan Industri Terpadu (KKIT) di Kendari.
Berdasarkan target, keduanya harusnya sudah jalan dan
konstruksi, tetapi sampai sekarang belum ada (fisik),” katanya, Jumat (10/11). Kedua
proyek hilirisasi nikel ini dimulai sejak 2022. Kawasan industri di Motui,
Konawe Utara, bahkan diresmikan Wapres Ma’ruf Amin. Kedua PSN ini diharapkan menyumbang
investasi hingga puluhan triliun rupiah. Dengan status PSN, seharusnya bisa
lebih cepat. Sebab, pelaksana mendapatkan berbagai kemudahan, termasuk perizinan.
Kondisi ini dikhawatirkan berimbas pada investasi di Sultra. Pada 2023, Sultra
ditargetkan menggaet investasi Rp 21,7 triliun, naik dari Rp 18 triliun tahun
lalu. Hingga triwulan III-2023, investasi baru 60 % atau sekitar Rp 15 triliun.
(Yoga)
Hindari 3 Kesalahan Keuangan di Masa Produktif
Kebebasan finansial adalah momen kehidupan yang ingin diraih
oleh banyak pekerja. Selepas sekolah maupun kuliah, biasanya di usia 22 tahun
seseorang mulai bekerja untuk mendapatkan penghasilan hingga tiba masa purnabakti
yang di berbagai kantor dan lembaga bervariasi antara usia 55 tahun dan 60
tahun. Penelitian Columbia University Mailman School of Public Health tentang
kaitan penghasilan dan kesehatan otak, menemukan bahwa jumlah penghasilan yang
dikelola selama masa produktif akan berpengaruh terhadap percepatan hilang ingatan
di masa tua. Maka perlu diketahui apa saja kesalahan keuangan yang mungkin
dilakukan di masa produktif agar tidak berulang.
Pertama, tidak membuka diri untuk membuka keran penghasilan
lain. Pengelolaan keuangan di masa produktif memiliki beberapa dimensi. Jumlah
penghasilan tentu saja menjadi faktor penentu. Penerima upah rendah yang
berkelanjutan mengalami penurunan memori yang jauh lebih cepat di usia yang
lebih tua. Solusinya adalah fokus pada peningkatan kapasitas diri sepanjang
hidup, terutama di awal masa bekerja. Kedua, memiliki gaya hidup yang
berlebihan. Seseorang tidak akan memiliki masalah di masa produktifnya, tetapi
sangat berbahaya saat menjelang pensiun kelak. Solusinya adalah melakukan
pembagian alokasi penghasilan minimal untuk 3 hal, yaitu pos biaya hidup
(living), pos tabungan (saving), dan pos gaya hidup (playing).
Ketiga, berinvestasi tanpa ilmu. Fenomena ingin mem eroleh imbal
hasil investasi tinggi dalam waktu singkat semakin marak sejak munculnya opsi
berinvestasi di aset kripto. Bahkan, tidak sedikit pekerja usia produktif yang terjebak
dengan penawaran trading yang ternyata investasi bodong. Solusinya adalah
literasi sebelum inklusi. Ragam asset investasi yang ditawarkan oleh lembaga
jasa keuangan sebaiknya dipelajari dalam hal potensi keuntungan serta potensi
risiko yang menyertainya. (Yoga)
Pasar Derivatif di BEI Masih Sunyi
Otak-Atik Kenaikan Upah Buruh Sebelum Pemilu
Kenaikan Tarif Cukai 10% Tahun Depan Memberatkan
Emiten Grup Barito Jadi Motor Penggerak Bursa
Menggenjot Kinerja Selepas Covid-19
Mulai Awal 2024, Bunga Pinjol Turun
Pasca Pandemi Bisnis Konstruksi Meninggi
SINYAL KENDALI MIND ID DI VALE
Pemerintah memberikan sinyal holding pertambangan PT Mineral Industri Indonesia atau MIND ID bakal menjadi pengendali saham PT Vale Indonesia, Tbk., seiring disepakatinya proses divestasi sebesar 14% kepada negara. Sebelum perubahan ditetapkan, mayoritas saham perusahaan berkode emiten INCO itu dipegang oleh Vale Canada Limited dengan porsi mencapai 44,3% yang sahamnya dimiliki 100% oleh Vale S.A. Sisanya, saham Vale Indonesia dipegang oleh MIND ID sebesar 20%, Sumitomo Metal Mining Co. Ltd. 15%, dan publik 20,7%. Lewat kesepakatan terbaru, MIND ID akan menjadi pemegang saham mayoritas dari kepemilikan saat ini menjadi 34%. Sementara itu, baik saham Vale Canada maupun Sumitomo diproyeksikan serempak menyusut. Dalam negosiasi terakhir pada Agustus lalu, Vale Canada diketahui bersedia untuk melepas 10,5% sahamnya menjadi 33,29%. Adapun, Sumitomo siap melepas 3,5% sahamnya menjadi 11,53%. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menerangkan nantinya perusahaan pertambangan plat merah berhak untuk menentukan posisi direktur utama dan komisaris utama di tubuh Vale Indonesia.
Bisnis telah menghubungi sejumlah direksi MIND ID maupun Vale Indonesia hingga Kementerian BUMN untuk memastikan pernyataan Arifin. Namun, belum ada tanggapan resmi dari pihak tersebut hingga berita ini naik cetak. Keputusan terkait pelepasan 14% saham Vale kepada negara juga diungkapkan Menteri Investasi Bahlil Lahadalia. Pun demikian, kedua pejabat itu tidak menerangkan secara gamblang perusahaan pengendali Vale Indonesia ke depan. Di sisi lain, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal meminta Vale memberikan harga yang adil dan tidak terlalu mahal untuk BUMN. Kesepakatan divestasi tersebut sekaligus memastikan pemerintah akan memberi lampu hijau bagi kelanjutan operasional Vale Indonesia di Tanah Air. Pada Agustus lalu, Direktur Keuangan MIND ID Akhmad Fazri mengatakan arus kas holding tambang itu terbilang positif untuk dapat membiayai sendiri aksi korporasi tersebut. Beberapa anggota holding membagikan dividen cukup besar seiring dengan siklus komoditas 3 tahun terakhir. Meski begitu, aksi korporasi untuk akuisisi sisa kewajiban divestasi itu akan dilakukan sejauh MIND ID mendapat kepastian sebagai pengendali aset tambang nikel terintegrasi di luasan konsesi 118.017 hektare (ha) milik INCO. Pengamat Energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi menegaskan akusisi saham Vale Indonesia tetap harus dilakukan meskipun berjalan alot. Menurutnya, akuisisi saham Vale bahkan perlu dipercepat karena sarat manfaat. “Ini menjadi momentum tepat untuk melakukan divestasi saham PT Vale,” kata Fahmy Sabtu (5/11).
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









