Ekonomi
( 40600 )Akuntabilitas Masalah Kebun Sawit di Hutan
Perlu Terobosan Agar Kembali Tumbuh di Atas 5%
Buyback Obligasi Senior, BSD City Gelontorkan Dan Rp3,28 Triliun.
Adu Cepat Restrukturisasi Utang Wijaya Karya dan Waskita
Ekonomi Indonesia Timur Tumbuh Impresif
Pendapatan Menurun, Emiten Migas Group Laba Bakrie Catat Kenaikan Laba
Masa Depan Lumbung Ikan Terancam
Hampir separuh potensi perikanan tangkap nasional berada di
wilayah timur, khususnya di region Papua dan Kepulauan Maluku. Namun,
keberlanjutan sumber daya itu terancam akibat eksploitasi berlebihan. Nelayan
kecil menjadi pihak yang paling terpukul. Penelusuran Tim Harian Kompas dalam
liputan khusus Jelajah Laut Papua Maluku bekerja sama dengan Yayasan Eco Nusa
sepanjang Juni hingga September 2023 menemukan, gejala overfishing, atau
penangkapan ikan berlebih, mencuat di kawasan timur Indonesia. Penelusuran
dilakukan di sejumlah daerah ”lumbung” ikan di kawasan timur, yakni Sorong
(Papua Barat Daya); Kaimana (Papua Barat); Biak (Papua); Ambon, Seram, Buru,
Banda, Kei, dan Aru (Maluku); serta Ternate, Halmahera, dan Morotai (Maluku
Utara). Lampiran Kepmen KP No 19 Tahun 2022 menunjukkan potensi perikanan nasional
sebanyak 12.011.125 ton. Dari jumlah tersebut, hampir separuhnya atau 5.437.584
ton berada di lima WPP kawasan timur.
Namun, berdasarkan lampiran kepmen KP itu pula diketahui
tingkat pemanfaatan sejumlah kelompok ikan di lima WPP tersebut sudah berstatus
tereksploitasi penuh dan overeksploitasi. Kelompok ikan yang masuk kategori
tersebut adalah cumi-cumi, ikan karang, pelagis besar, lobster, rajungan, dan
udang penaeid. Nelayan kecil dan tradisional sangat merasakan dampak persoalan
ini. Mereka harus melaut lebih jauh dan mengeluarkan ongkos lebih besar untuk
mencari ikan. Meski begitu, upaya tersebut tetap tak menjamin tangkapan
berlimpah. Penghasilan para nelayan pun anjlok. Harun Bakar (50), nelayan di Desa
Jambula, Kota Ternate, Maluku Utara, saat ditemui pertengahan September lalu, mengatakan,
sejak 1990-an, tangkapan di pesisir berangsur berkurang. Jika sebelum masa itu
nelayan bisa menangkap hingga ribuan ikan hanya dalam hitungan dua jam, saat
ini dalam rentang waktu yang sama hanya bisa ditangkap maksimal empat ekor
ikan. ”Bahkan tidak jarang harus pulang kosong, tidak membawa hasil,” ujarnya. Jenis
ikan yang ditangkap pun hanya ikan demersal atau ikan dasar seperti bobara (kuwe).
Padahal, semula, ikan-ikan pelagis
seperti cakalang, tongkol, dan baby tuna masih mudah diperoleh. (Yoga)
Tuna yang Sudah ”Mati” di Laut Kami
Para nelayan kecil di
kawasantimur Indonesia harus melaut lebih jauh, lebih lama, dengan biaya lebih.
Itu pun tanpa jaminan hasil yang sepadan. Setelah melaut lebih dari 15 jam,
Umar Waymese (45) akhirnya bersandar di pesisir Desa Kawa, Kecamatan Seram
Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, Senin (4/9) petang. Istri, anak,
dan kerabat lain menantinya dengan senyum. Mereka berharap Umar membawa banyak tuna,
ikan incaran utama nelayan di desa tersebut. Namun, angan itu pupus. Lelaki
tersebut hanya membawa peluh di wajah, bau terik matahari di pakaiannya, serta
puluhan ekor ikan cakalang dan tuna kecil (baby tuna) yang beratnya berkisar 3
kg per ekor, yang hanya cukup untuk menutup biaya pembelian 60 liter pertamax
sebagai bahan bakar perahunya. Artinya, tidak ada uang lebih untuk memenuhi kebutuhan
lain, kecuali sebagian ikan yang tak dijual untuk dimakan sendiri.
”Sekarang, ikan tuna sudah ’mati’. Ikan kecil juga ’mati’,”
ucapnya. Umar memakai kiasan itu untuk
menggambarkan kondisi susahnya mendapatkan tuna di Laut Seram kini. Dia tidak
tahu pasti mengapa ikan pelagis besar itu seolah menghilang. Padahal, lima
tahun lalu, ia masih kerap mengait tuna dengan berat puluhan kilogram di sana. ”Kadang
dua atau tiga ekor tuna sekali melaut,” ungkapnya. Jaraknya juga kurang dari 20
km dari pesisir dengan kebutuhan bensin maksimal 30 liter. Semua berubah sejak
kapal-kapal raksasa berukuran 90 gros ton (GT) marak hilir mudik di perairan Seram.
Kapal-kapal ikan itu berasal dari luar Maluku. Perahu nelayan setempat yang panjangnya
hanya 7 meter dan lebar 1,2 meter dengan bobot 0,5 GT jelas bukan tandingannya.
Umar menduga kapal-kapal itu juga menjaring tuna di area kurang dari 12 mil
laut (sekitar 22 km) dari pantai. Padahal, Permen KP No 58 Tahun 2020 tentang Usaha
Perikanan Tangkap melarang kapal ukuran di atas 30 GT beroperasi di laut lepas
di bawah 12 mil laut. (Yoga)
Jalan Mundur Lumbung Ikan Nasional
Perahu-perahu nelayan berukuran maksimal 3 gros ton berjejer
di pesisir kampung-kampung nelayan di Pulau Morotai, Maluku Utara. Berada di
bibir SamudraPasifik, perairan itu kerap diterjang gelombang tinggi. Al Hadar
(52), warga Desa BereBere, Kecamatan Morotai Utara, Kabupaten Pulau Morotai,
terpaksa menepikan perahunya. Angin bertiup kencang dan tinggi gelombang lebih
dari 3 meter tak mungkin bisa ditaklukkan perahunya yang berukuran kurang dari
3 gros ton (GT). ”Hanya perahu berukuran lebih dari 30 GT yang bisa menaklukkan
ombak itu, seperti kapal-kapal nelayan dari Bitung (Sulut). Mereka tetap bisa
mencari ikan di dekat Morotai meski ombak sedang tak bersahabat,” tuturnya.
Menurut data Koperasi Nelayan Tuna Pasifik di Sangowo, Morotai Utara, dari 60 nelayan
yang terdaftar sebagai anggota, semuanya memiliki perahu berukuran 1,5 GT dan 3
GT. Perahu seperti itu berisiko tenggelam ketika tinggi gelombang melampaui 1
meter.
Selain armada tangkap, nelayan kerap kesulitan memperoleh BBM
yang pasokannya terbatas. Saat musim ikan, mereka terpaksa membeli Pertamax
dengan har-ga Rp 17.000 per liter, lebih mahal daripada harga semestinya Rp 1%
dari total APBD Morotai sebesar Rp 800 miliar yang habis menopang sarana dan
prasarana perikanan. Dia mengatakan, sempat datang bantuan kapal-kapal berukuran
besar dari pemerintah pusat. Namun, desain sejumlah kapal di bawah standar. ”Kapalnya
akan dioperasikan di Samudra Pasifik,tetapi kapal yang diberikan seperti yang
beroperasi di teluk,” katanya. Nelayan membutuhkan kapal berukuran minimal 28
GT. Problem sektor perikanan tangkap juga dialami nelayan di Kecamatan Banda
Naira, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Senin (18/9) dini hari, kapal pemburu
ikan pelagis kecil berukuran 80 GT yang dinakhodai Ramli Lestaluhu (61) tiba di
rumpon, rumah ikan buatan, 30 menit setelah ditebar, jaring kembali ditarik ke
kapal.
Perlahan-lahan sejumlah ikan momar atau ikan layang (Decapterus)
yang terjebak di dalamnya. Jumlah ikan 387 kilogram. Kendati tangkapan melimpah,
rezeki nelayan di Banda tak pernah pasti. Belum tentu tangkapan mereka laku
terjual di pasaran mengingat minimnya pembeli. Ketika tangkapan melimpah,
terutama pada September hingga Desember, tempat penampungan atau pengolahan
ikan kewalahan lantaran tempat pembekuan ikan (cold storage) terbatas.
Penampung tak berani membeli banyak, harga ikan pun merosot. Terpaksa sejumlah
nelayan membuang tangkapan ke laut. Jumlahnya mencapai ratusan ton. ”Saat musim
panen, bahkan kami libur. Ikan yang dibeli perusahaan kadang hanya dari nelayan
yang sudah bermitra dengan mereka,” kata
Maarif (56), nelayan di Pulau Run, sekitar satu jam perjalanan dari Naira. (Yoga)
Penumpang Whoosh Tembus 18.000 Orang
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









