Tuna yang Sudah ”Mati” di Laut Kami
Para nelayan kecil di
kawasantimur Indonesia harus melaut lebih jauh, lebih lama, dengan biaya lebih.
Itu pun tanpa jaminan hasil yang sepadan. Setelah melaut lebih dari 15 jam,
Umar Waymese (45) akhirnya bersandar di pesisir Desa Kawa, Kecamatan Seram
Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, Senin (4/9) petang. Istri, anak,
dan kerabat lain menantinya dengan senyum. Mereka berharap Umar membawa banyak tuna,
ikan incaran utama nelayan di desa tersebut. Namun, angan itu pupus. Lelaki
tersebut hanya membawa peluh di wajah, bau terik matahari di pakaiannya, serta
puluhan ekor ikan cakalang dan tuna kecil (baby tuna) yang beratnya berkisar 3
kg per ekor, yang hanya cukup untuk menutup biaya pembelian 60 liter pertamax
sebagai bahan bakar perahunya. Artinya, tidak ada uang lebih untuk memenuhi kebutuhan
lain, kecuali sebagian ikan yang tak dijual untuk dimakan sendiri.
”Sekarang, ikan tuna sudah ’mati’. Ikan kecil juga ’mati’,”
ucapnya. Umar memakai kiasan itu untuk
menggambarkan kondisi susahnya mendapatkan tuna di Laut Seram kini. Dia tidak
tahu pasti mengapa ikan pelagis besar itu seolah menghilang. Padahal, lima
tahun lalu, ia masih kerap mengait tuna dengan berat puluhan kilogram di sana. ”Kadang
dua atau tiga ekor tuna sekali melaut,” ungkapnya. Jaraknya juga kurang dari 20
km dari pesisir dengan kebutuhan bensin maksimal 30 liter. Semua berubah sejak
kapal-kapal raksasa berukuran 90 gros ton (GT) marak hilir mudik di perairan Seram.
Kapal-kapal ikan itu berasal dari luar Maluku. Perahu nelayan setempat yang panjangnya
hanya 7 meter dan lebar 1,2 meter dengan bobot 0,5 GT jelas bukan tandingannya.
Umar menduga kapal-kapal itu juga menjaring tuna di area kurang dari 12 mil
laut (sekitar 22 km) dari pantai. Padahal, Permen KP No 58 Tahun 2020 tentang Usaha
Perikanan Tangkap melarang kapal ukuran di atas 30 GT beroperasi di laut lepas
di bawah 12 mil laut. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023