Ekonomi
( 40487 )Penumpang Whoosh Tembus 18.000 Orang
Kisah Solidaritas Mama Pasar Papua
Di tengah terik siang hiruk-pikuk aktivitas Pasar Youtefa,
Kota Jayapura, Papua, Sabtu (4/11) sedikit surut. Namun, puluhan hingga ratusan
pedagang tidak beranjak dari lapak-lapaknya. Sejumlah perempuan peda- gang,
orang asli Papua, atau biasa dipanggil ”mama-mama Papua”, berdampingan dengan pedagang
pendatang. Biasanya para mama Papua cukup mudah ditemui dengan lapak sederhana
beralas karung goni di emperan atau sisi luar pasar. Komoditas yang dijual
ialah sejumlah jenis sayuran, buah-buahan lokal, serta pinang dan sirih.
Kebanyakan petak kios di blok dalam pasar lebih banyak dihuni pedagang
pendatang. Barang yang dijual di dalam pasar lebih banyak kebutuhan sekunder
dan tersier.
”Di dalam sepi, lebih baik di sini. Ya, karena kalau orang mau
cari sayur pasti cari ke sekitar sini,” kata Agustina Demetow (59) atau biasa
disapa Mama Tina, sembari memamah pinang. Mama Tina merupakan pedagang dari Kampung
Lereh, Distrik Kaureh, Kabupaten Jayapura. Untuk menuju Pasar Youtefa dari kampungnya,
Mama Tina naik bus Damri selama 8 jam. Ketimbang bolak-balik dari kampung ke
Pasar Youtefa, ia memilih menyewa dan menginap indekos di sekitar pasar yang
juga digunakan anak-anaknya menginap saat bersekolah di Kota Jayapura. Biasanya
Mama Tina berjualan 2-3 hari, sebelum pulang ke rumah untuk mengambil kembali
sayuran dan barang dagangan lainnya.”Kalau pinang ini, mereka (pedagang
non-Papua) kurang tahu membedakan mana yang baik (layak dikonsumsi). Makanya,
beli sama kami sekaligus kami pilihkan. Nanti kalau salah pilih justru pinangnya
bikin muntah atau mabuk,” tuturnya.
Relasi antarpedagang di pasar itu terjaga baik. Mereka saling
membutuhkan, satu sama lain. Mama Tina dan pedagang lainnya menunjukkan
solidaritas sosial antarsesama, termasuk dengan pedagang non-Papua. Mereka
mengesampingkan stigma yang kadang membuat jurang pemisah di antara keduanya. Pedagang
lainnya, Wenina Mandikmbo (42) atau Mama Wen memiliki komoditas jualan yang
serupa dengan Mama Tina. Mama Wen berasal dari Wamena, Papua Pegunungan, Ia biasanya
bolak-balik dengan waktu tempuh 2-3 jam menuju Pasar Youtefa membawa sayuran
dalam jumlah banyak. Tidak hanya untuk berjualan sendiri, Mama Wen juga
mendistribusikan dagangannya kepada pedagang lainnya. ”Meskipun harus dijual dengan
harga turun (lebih murah), itu lebih baik daripada ditahan dan bisa saja
tidak laku dan sayurnya rusak,” katanya. Bagi Mama Wen, menjaga solidaritas
dengan pedagang lainnya menjadi penting. Apalagi, bertahun-tahun berjualan di
pasar belum mampu memperbaiki perekonomian keluarga atau mendatangkan
kesejahteraan bagi mereka. (Yoga)
Menanti Sinterklas Berbagi Kado Akhir Tahun di Bursa
Defisit Anggaran Daerah Bisa Menekan Ekonomi
Tekanan Mulai Reda, Rupiah Bisa Menguat di Akhir 2023
Emiten Jumbo Gencar Ekspansi
Berburu Dividen Jelang Akhir Tahun
Musim pembagian bonus akhir tahun telah tiba. Sejumlah emiten akan segera membagikan dividen interim dalam waktu dekat. Misalnya, PT Sigma Energy Compressindo Tbk (SICO) yang akan membagikan dividen interim tahun buku 2023 sebesar Rp 2 per saham. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) juga akan membayarkan dividen interim untuk tahun buku 2023 sebesar Rp 15 per saham. Emiten farmasi lain, PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) secara resmi juga akan membagikan dividen tengah tahun atau interim sebesar Rp 50 per saham. Tak mau ketinggalan, PT Budi Starch & Sweetener Tbk (BUDI) berencana untuk membagikan dividen interim kepada pemegang saham periode tahun buku 2023. Direktur Kiwoom Sekuritas Indonesia, Chang-kun Shin melihat, dampak pembagian dividen interim akan menyebabkan kinerja saham emiten tersebut berpeluang menguat. Khususnya menjelang cum date. Shin menilai TSPC dan BUDI punya peluang melanjutkan tren pertumbuhan. Hal itu terlihat dari kinerja kedua emiten tersebut sampai bulan September 2023 yang menunjukkan pertumbuhan. Kepala Riset Praus Capital, Marolop Alfred Nainggolan menilai pembagian dividen dan dividen interim akan selalu menjadi katalis positif bagi performa saham emiten yang bersangkutan.
Geopolitik Tegang, Komoditas Panas
Diminta Diet, NIM Bank Justru Semakin Gemuk
Digitalisasi Jadi Kunci Bisnis PRDA
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









