Konsumsi Tumbuh, tetapi Rapuh
Kondisi ekonomi dalam negeri sedang tidak baik-baik saja.
Sepanjang Juli sampai September 2023, ekonomi Indonesia hanya mampu tumbuh 4,94
% secara tahunan. Laju konsumsi rumah tangga yang rapuh akibat melemahnya daya
beli masyarakat di tengah ancaman inflasi ikut berperan menekan pertumbuhan
ekonomi. Ketika mesin eksternal, seperti kinerja ekspor dan impor, tidak bisa
diandalkan akibat ekonomi dunia yang sedang melemah, pertumbuhan ekonomi sudah
sepatutnya bertumpu pada roda domestik. Terutama, pada konsumsi rumah tangga
yang berperan paling besar dalam pembentukan produk domestik bruto (PDB)
nasional. Sayangnya, meski masih tumbuh positif, konsumsi masyarakat dalam
kondisi rapuh.
BPS mencatat, pada triwulan III-2023, konsumsi rumah tangga
tumbuh 5,06 % secara tahunan, melemah dibandingkan triwulan II-2023, yaitu 5,22
%, dan dibandingkan triwulan III-2022 yang 5,39 %. Pemerintah tak menyangka
konsumsi rumah tangga tumbuh serendah itu. Dalam konferensi pers, Senin (6/11)
Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah awalnya mengira konsumsi rumah
tangga tumbuh lebih tinggi mengingat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih
terjaga di zona optimistis (di atas 100) sepanjang triwulan III. Direktur
Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal,
Selasa (7/11), menilai, konsumsi domestik sebenarnya sudah mengalami tren
perlambatan secara persisten, yang bisa dilihat dari beberapa indikator. Pertama,
meskipun IKK masih di zona optimistis (di atas 100) sepanjang Juli-September
2023, trennya terus menurun. IKK yang hanya merekam optimisme konsumen dinilai
kurang efektif mengukur laju konsumsi rumah tangga. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023