Ekonomi
( 40487 )Nelayan Miskin Bersandar pada Tengkulak
Menurut Kahar (tengkulak), kerja tengkulak adalah melayani. Ia melayani para nelayan dengan memberikan kebutuhan mulai dari bahan bakar, oli, hingga uang rokok para nelayan. Tujuannya, agar nelayan terus menjual tuna kepada dia. Semua pengeluaran itu akan dihitung ketika nelayan menjual tangkapannya. Ketua Koperasi Nelayan Tuna Pasifik di Sangowo, Morotai Utara, Kabupaten Pulau Morotai, Sabiin Asar mengatakan, pendirian koperasi pada 2017 itu berangkat dari realitas bahwa banyak nelayan Morotai terjerat utang pada tengkulak. Koperasi ingin menggantikan peran tengkulak. Menurut Sabiin, pinjaman dana bagi nelayan sama sekali tidak dibebani bunga seperti yang diterapkan sebagian tengkulak. Harga beli ikan tuna dari nelayan pun mengikuti harga pasar, berbeda dengan harga dari tengkulak yang lebih murah.
Saat ini koperasi beranggotakan 60 nelayan yang tersebar di wilayah timur Pulau Morotai. Setiap bulan koperasi bisa menyerap sekitar 10 ton ikan tuna dengan harga berkisar Rp 40.000-Rp 50.000 per kg. Ikan tuna diolah dalam bentuk loin beku, lalu dikirim ke perusahaan ikan di Ternate. Hasil penjualan mencapai Rp 5 miliar per tahun dengan pendapatan bersih Rp 500 juta. Meski demikian, diakui masih banyak nelayan yang tetap bergantung pada tengkulak. Pasalnya, distribusi bahan bakar ke nelayan mayoritas dikendalikan tengkulak. Tengkulak juga mempermudah urusan nelayan, seperti dalam pengadaan perahu motor. Kadis Perikanan Morotai Yoppy Jutan mengatakan, 887 perahu yang dimiliki 3.743 nelayan Morotai masih berupa perahu-perahu kecil berukuran maksimal 3 gros ton (GT). Rencana untuk pengadaan perahu motor terkendala anggaran. Alokasi anggaran untuk sektor perikanan hanya Rp 8 miliar atau 1 % dari total APBD dari daerah yang kaya potensi laut itu. (Yoga)
Beras Impor Bisa Tekan Gabah Petani
Harga gabah kering panen atau GKP di tingkat petani
diperkirakan akan terus turun pada awal 2024. Bahkan, pada panen raya musim
tanam I 2024, harga GKP diperkirakan bisa di bawah biaya produksi Rp 5.667 per
kg dan harga pembelian pemerintah Rp 5.000 per kilogram. ”Banjir” beras impor menjadi
penyebab utama. Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Dwi Andreas
Santosa mengatakan, saat ini harga GKP sudah mulai turun. Berdasarkan data
Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani (AB2TI) di 64 daerah produsen padi,
harga GKP di tingkat petani pekan I November 2023 di kisaran Rp 6.400-Rp 6.800
per kg.
Harga GKP itu cukup jauh di bawah rata-rata harga pada September
dan Oktober 2023, yakni Rp 7.240 per kg dan 7.090 per kg. ”Di kala panenan terbatas
setiap musim paceklik, biasanya harga GKP naik. Namun, yang terjadi saat ini,
harga GKP petani cenderung turun. Penyebab utama penurunan GKP itu adalah impor, bantuan, dan operasi pasar
beras yang jorjoran,” ujarnya ketika dihubungi dari Jakarta, Selasa (7/11/2023).
(Yoga)
Visi Pemberantasan Kemiskinan
Selain komitmen mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,
salah satu program kandidat calon presiden dan calon wakil presiden yang perlu dicermati
adalah apa strategi yang mereka tawarkan untuk menurunkan angka kemiskinan yang
benar-benar berjalan seperti yang direncanakan. Bukan sekedar janji yang ambisius.
Di Indonesia, jumlah penduduk miskin per Maret 2023 tercatat masih 25,9 juta
orang, turun 0,26 juta dibandingkan Maret 2022 di 26,16 juta orang. Dibandingkan
kondisi Maret 2022 di mana angka kemiskinan masih 9,54 %, per Maret 2023 angka
kemiskinan turun menjadi 9,36 %., Angka kemiskinan saat ini masih lebih tinggi dibandingkan
kondisi sebelum pandemi Covid-19. Per September 2019, jumlah penduduk miskin di
Indonesia 24,78 juta atau 9,22 % dari total penduduk.
Mematok target tinggi menurunkan angka kemiskinan memang
terkesan memperlihatkan keseriusan dan komitmen calon pemimpin republik ini
untuk menyejahterakan warganya. Namun, harus dikaji apakah realistis untuk
diwujudkan. Dalam rangka kampanye untuk menarik simpati para konstituen,
memasang target yang ambisius untuk menurunkan angka kemiskinan sah-sah saja dilakukan.
Akan tetapi, persoalannya kemudian bagaimana strategi yang hendak dikembangkan
untuk mewujudkan janji politik para kandidat. Di Indonesia, diakui atau tidak,
akar masalah kemiskinan sangat kompleks. Setiap masalah perlu diurai satu per
satu agar upaya menurunkan angka kemiskinan dapat direalisasi. Sejauh mana para
kandidat akan dapat mewujudkan janjinya menurunkan angka kemiskinan, tentu
masih diuji oleh waktu. Namun, untuk merealisasikan janji kampanye, yang
dibutuhkan adalah program yang benar-benar efektif dan kontekstual dengan strategi
dan program terobosan yang membumi. (Yoga)
Bank dan Dunia Usaha Mitigasi Perubahan Iklim
Sektor perbankan dan dunia usaha mulai bersinergi
mengimplementasikan kegiatan bisnis berkelanjutan dengan mempertimbangkan tiga
aspek, yakni lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG. Hal ini mendesak
dilakukan agar pertumbuhan ekonomi sejalan dengan komitmen mitigasi perubahan
iklim internasional yang tercetus dalam Perjanjian Paris. Berdasarkan kajian
Bank Pembangunan Asia (ADB), kawasan ASEAN berada di garis depan dalam risiko
iklim. Dengan menggunakan skenario suhu global rata-rata bertambah 2,3 derajat
celsius pada 2050, ASEAN dapat kehilangan 37,4 % produk domestic bruto (PDB)
jika mitigasi perubahan iklim dan transisi energi tidak dilakukan. Indonesia
telah menyatakan komitmen pengurangan emisi untuk memitigasi dampak perubahan
iklim, dengan melibatkan sektor energi, industri, transportasi, limbah,
pertanian, dan kehutanan.
Untuk mendukung sektor-sektor tersebut, peran industri jasa
keuangan tak kalah krusial dalam menyalurkan pembiayaan. Hal tersebut diamini
oleh Presdir PT OCBC NISP Tbk, Parwati Surjaudaja. Alasan perusahaan saat ini ialah
fokus pada pembiayaan berkelanjutan yang mencakup isu lingkungan (green financing)
karena banyak masyarakat Indonesia menggantungkan hidup dari alam. Di sisi lain,
jika lingkungan tidak terjaga, potensi terjadinya bencana ekologis akan semakin
besar. ”Bagi perusahaan di sector finansial, penerapan ESG, selain sebagai
bagian tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat, adalah investasi jangka
panjang dalam meraih pendapatan berkelanjutan,” ujarnya saat dihubungi, Selasa (7/11/2023).
Hingga 30 September 2023, Bank OCBC NISP juga telah menyalurkan pembiayaan berkelanjutan
sebesar Rp 30 triliun, atau berkontribusi 20,5 % terhadap total kredit bank.
Total pembiayaan hijau tercatat sebesar
Rp 12 triliun, yang di antaranya disalurkan untuk pembiayaan energi baru dan
energi terbarukan serta pembangunan berwawasan lingkungan. (Yoga)
Pendanaan ”Start Up” di ASEAN Menantang
Konsumsi Tumbuh, tetapi Rapuh
Kondisi ekonomi dalam negeri sedang tidak baik-baik saja.
Sepanjang Juli sampai September 2023, ekonomi Indonesia hanya mampu tumbuh 4,94
% secara tahunan. Laju konsumsi rumah tangga yang rapuh akibat melemahnya daya
beli masyarakat di tengah ancaman inflasi ikut berperan menekan pertumbuhan
ekonomi. Ketika mesin eksternal, seperti kinerja ekspor dan impor, tidak bisa
diandalkan akibat ekonomi dunia yang sedang melemah, pertumbuhan ekonomi sudah
sepatutnya bertumpu pada roda domestik. Terutama, pada konsumsi rumah tangga
yang berperan paling besar dalam pembentukan produk domestik bruto (PDB)
nasional. Sayangnya, meski masih tumbuh positif, konsumsi masyarakat dalam
kondisi rapuh.
BPS mencatat, pada triwulan III-2023, konsumsi rumah tangga
tumbuh 5,06 % secara tahunan, melemah dibandingkan triwulan II-2023, yaitu 5,22
%, dan dibandingkan triwulan III-2022 yang 5,39 %. Pemerintah tak menyangka
konsumsi rumah tangga tumbuh serendah itu. Dalam konferensi pers, Senin (6/11)
Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah awalnya mengira konsumsi rumah
tangga tumbuh lebih tinggi mengingat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih
terjaga di zona optimistis (di atas 100) sepanjang triwulan III. Direktur
Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal,
Selasa (7/11), menilai, konsumsi domestik sebenarnya sudah mengalami tren
perlambatan secara persisten, yang bisa dilihat dari beberapa indikator. Pertama,
meskipun IKK masih di zona optimistis (di atas 100) sepanjang Juli-September
2023, trennya terus menurun. IKK yang hanya merekam optimisme konsumen dinilai
kurang efektif mengukur laju konsumsi rumah tangga. (Yoga)
ASURANSI BERMASALAH MARAK, KEPERCAYAAN PUBLIK RENDAH
OJK telah mencabut izin usaha sejumlah perusahaan asuransi terkait
upaya penyehatan, seperti PT Asuransi Recapital, PT Asuransi Parolamas, PT
Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha (Wanaartha Life), PT Asuransi Cigna, dan PT
Asuransi Jiwa Kresna Life. Terakhir, OJK mencabut PT Asuransi Jiwa Prolife
Indonesia (Indosurya Sukses) pada Kamis (2/11). Pengamat asuransi, Irvan Rahardjo,
Selasa (7/11), mengatakan, kesehatan perusahaan asuransi itu diukur menggunakan
rasio permodalan yang diukur dari berbagai risiko (risk based capital/RBC).
Berdasarkan ketentuan, perusahaan asuransi dinilai sehat apabila memiliki RBC
minimal 120 %. Menurut ukuran tersebut, kini terdapat 10 perusahaan asuransi
yang masuk dalam kategori bermasalah dan berada dalam pengawasan khusus OJK.
Adapun sejumlah perusahaan asuransi yang telah dicabut izin usahanya tersebut
merupakan perusahaan yang tidak memenuhi ketentuan RBC.
”Kesadaran masyarakat masih rendah akibat hilangnya kepercayaan
akibat kasus gagal bayarnya asuransi yang saat ini belum terselesaikan, seperti
Jiwasraya, Bumiputera, Kresnalife, Wanaarta Life, dan Prolife. Meski literasi
tinggi, tingkat inklusi atau keinginan masyarakat rendah karena banyak dikecewakan
oleh kasus-kasus gagal bayar sehingga willingness to buy (kesediaan untuk
membeli) tidak ada, padahal pengetahuannya ada,” ujarnya. Grafik menunjukkan
tingkat penetrasi dan densitas industri asuransi Indonesia disbanding negara-negara
Asia Tenggara lainnya (sumber: Draf Roadmap Perasuransian Indonesia 2023-2027
OJK). Irvan menilai, langkah OJK dengan peneguran dan pencabutan izin usaha
jauh lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. Namun, upaya tersebut belum
cukup jika kasus-kasus gagal bayar yang sudah terjadi tidak diselesaikan dengan
baik sehingga menyisakan permasalahan kepercayaan masyarakat. (Yoga)
BUBU, PUSAKA AMPUH NELAYAN ASSILULU
Bagi nelayan di Desa Assilulu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, bubu telah menjadi warisan dari generasi ke generasi. Alat tangkap tradisional berbahan bambu dan kayu itu memastikan warga dapat menikmati berkah laut secara berkelanjutan. Emang Mamang (46) Sabtu (2/9), dariperahu yang digoyang ombak kecil mendekatkan wajahnya ke permukaan laut lalu mengintip dengan kotak kayu yang salah satu sisinya berlapis kaca. Emang meminta dua rekannya menarik tali sepanjang 30 meter, kurang dari lima menit, sebuah bubu terangkat dari laut sedalam 7 meter tersebut. Bubu sepanjang 2,6 meter dengan lebar 1,7 meter itu serupa jaring berbahan kayu dan bambu yang dirangkai menjadi anyaman. Di kedua sisinya terdapat pintu berbentuk kerucut. Cara kerjanya, ikan akan masuk ke lubang itu kemudian terjebak di dalam karena ujungnya mengecil.
Alat tangkap tradisional nan ampuh itu telah menjadi andalan nelayan Assilulu sejak dulu kala. Nelayan tak perlu jauh-jauh melaut atau repot menebar jala dan memancing. Mereka cukup menempatkan perangkap itu di titik-titik strategis di perairan dangkal dan meninggalkannya selama 1-2 hari. Setelah itu, mereka kembali untuk ”memanen” ikan yang telah terperangkap. ”Tadi saya dapat 12 ikan garopa (kerapu) dan ikan kulit pasir dari satu bubu. Kalau musim angin barat (Oktober-Januari), satu bubu bisa dapat 50 ikan,” ucap Emang yang memiliki enam bubu. Penentuan waktu pengambilan hasil tangkapan bubu juga diatur tiga kali sepekan atau setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu. Warga menyebutnya sebagai tanila atau hari baik. Jeda itu memberi waktu bagiikanuntuk masuk ke bubu dan mencegah ikan besar yang terkurung memakan ikan kecil.
Siang itu, Emang mendapatkan 12 ikan seberat 1,5 kg per ekor. Harga ikan kulit pasir berkisar Rp 15.000 per kg, sedangkan kerapu Rp 25.000 per kg. Di restoran di Kota Ambon, harganya bisa Rp 80.000 per kg. Setelah menjual beberapa ekor, bapak satu anak ini mengantongi sedikitnya Rp 200.000. Jumlah tersebut untuk mengganti biaya bensin dua liter sekitar Rp 30.000 hari itu dan beberapa hari ke depan. Ikan lainnya dibakar untuk disantap bersama. Hanya disiram air laut, rasa ikannya sedap. Jaffar Layn (66), nelayan lainnya, juga sudah puluhan tahun menggunakan bubu untuk mencari ikan. Tiga kali sepekan, ia memanen ikan di bubunya sejak pukul 07.00 hingga 12.00. ”Setiap kali ambil bubu, saya bisa dapat 20-30 kilogram ikan,” kata pemilik sembilan bubu ini. (Yoga)
BELENGGU KEMISKINAN DI TENGAH KEKAYAAN LAUTAN MALUKU-PAPUA
Dikelilingi sumber daya laut yang melimpah tak lantas
membuat nelayan di pesisir timur Indonesia hidup sejahtera. Keberpihakan
pemerintah pada pejuang laut ini dinantikan agar ironi kemiskinan di balik
kekayaan sumber daya alam dapat segera diakhiri. Kepmen Kelautan dan Perikanan
No 19 Tahun 2022 menyebutkan, estimasi sumber daya ikan Indonesia 12,01 juta
ton per tahun, akumulasi 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik
Indonesia (WPPNRI). Dari jumlah tersebut, jumlah tangkapan ikan yang
diperbolehkan (JTB) 8,6 juta ton per tahun. Potensi besar itu bagaikan surga
bagi daerah yang secara geografis terletak di pesisir pantai ataupun daerah
kepulauan. Misalnya saja wilayah timur Indonesia, seperti di kawasan Maluku dan
Papua. Perairan di wilayah timur Indonesia ini menyimpan seperempat dari total
potensi sumber daya laut yang ada di Tanah Air.
Tahun 2021, empat provinsi di dua pulau besar itu, yakni Maluku,
Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat, menghasilkan komoditas perikanan tangkap laut
1,2 juta ton. Nominalnya Rp 34 triliun atau seperlima total nilai perikanan
tangkap nasional. Ini membuat perikanan laut menjadi contributor terbesar bagi
perekonomian timur Indonesia. Besarnya sumbangan sector perikanan ini tak dapat
dilepaskan dari banyaknya nelayan yang turut mengupayakannya. Terdapat lebih
dari 366.000 nelayan perikanan tangkap laut di keempat provinsi itu. Meniti profesi
sebagai nelayan di tengah hamparan lautan
yang kaya, idealnya membuat para nelayan hidup dalam kecukupan. Sayangnya,
kondisi itu belum sepenuhnya terjadi di Indonesia. Sebaliknya, sebagian besar
nelayan justru masih hidup dalam jerat kemiskinan.
Pada 2021, Wapres Ma’ruf Amin menyebutkan, penduduk miskin
di wilayah pesisir mencapai 1,3 juta jiwa atau 12,5 % dari kemiskinan nasional.
Merujuk publikasi BPS Maret 2023, sekitar seperlima hingga seperempat penduduk
Papua Barat dan Papua masuk kategori miskin. Sementara tingkat kemiskinan di
Maluku mencapai 16,4 %. Sementara kemiskinan nasional 9,36 %. Nilai tukar
nelayan (NTN) di Maluku Utara yang menggambarkan tingkat kesejahteraan para
pekerja laut, relatif tinggi, mencapai 115 pada 2023, melampaui capaian
nasional di angka 106,6. Namun, hal itu tak serta-merta mengindikasikan nelayan
di Maluku Utara sudah benar-benar sejahtera. Pemantauan lapangan oleh Dinas Perikanan
dan Kelautan Provinsi Maluku Utara pada 2015 memperkirakan, 80 % nelayan lokal
masih hidup di bawah garis kemiskinan. Publikasi BPS Maluku Utara 2022
menyebutkan, hampir separuh dari penduduk miskin Maluku Utara berasal dari
mereka yang bekerja di sektor informal, yang didominasi pekerja di sektor
pertanian, antara lain nelayan, petani gurem, serta buruh tani dan perkebunan. Dengan demikian,
dapat dikatakan bahwa penduduk yang hidup di kawasan pesisir diindikasikan
relatif belum sejahtera. (Yoga)
PENCEMARAN LAUT, Ikan Sekarang ”Su” Lari Jauh
Untuk pertama kali setelah sebulan ”libur” karena cuaca
ekstrem, Sardi (36) kembali melaut, Selasa (5/9) malam. Bersama sembilan awak
lain, kapal bagang miliknya digerakkan belasan mil dari pesisir Teluk Buli di
Halmahera Timur, Maluku Utara. Tiba di lokasi, 60 lampu yang dipasang
mengelilingi empat sisi bagang langsung dinyalakan. Kapal harus terlihat paling
mencolok untuk mengalahkan terangnya pertambangan nikel di pesisir teluk agar
ikan mendekat. ”Ikan-ikan itu dulu di tepi pantai, dekat bakau, sekarang tidak ada lagi. Nelayan harus pergi
lebih jauh untuk mendapatkan ikan,” ucap Sardi. Perairan yang berjarak hingga 5
mil dari pantai tak lagi menjadi tempat hidup ikan karena diduga tercemar tambang.
Lumpur limbah tambang sering memenuhi jaring sehingga terasa lebih berat saat
diangkat.
”Ini, kan, jaringnya hitam jadi kecoklatan. Itu limbah,” ujarnya
setelah menarik jaring yang ditebarnya. Dari jaring yang dipasang selama tiga
jam itu, Sardi mendapatkan ikan kembung dan teri tak sampai 100 kg. Sejak lima
tahun terakhir, hanya dua jenis itu yang masih bisa ditangkap nelayan setempat.
Padahal, sebelum tambang beroperasi tahun 2003, Sardi bisa menangkap tongkol
dan cakalang hingga 16 ton sekali menjaring. Namun, menjaring jenis ikan itu
kini tinggal cerita. ”Ikan menghilang sejak ada tambang. Memang tidak serentak
hilang, tetapi perlahan,” ujar pria yang menjadi nelayan sejak 20 tahun lalu
ini. Indikasi pencemaran di pesisir teluk tampak pula saat Kompas menyusuri
perairan dekat Moronopo, Desa Soa Sangaji, Maba, Halmahera Timur. Sejauh mata
memandang, Selasa (5/9) siang, air laut keruh kecoklatan. Areal tempat bakau
berada pun tertutup sedimen yang tebal. Padahal, menurut Fakir Batawi (50),
nelayan Soa Sangaji, area itu semula merupakan wilayah tangkapan ikan nelayan. Fakir
yang baru pulang dari melaut menunjukkan buktinya. Melaut setengah hari, Fakir
hanya memperoleh ikan-ikan kecil yang jumlahnya tak sampai 50 ekor. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









