PEREDA SENGATAN THE FED
Bank Indonesia (BI) terus bermanuver untuk meningkatkan ketahanan perekonomian nasional yang sangat sensitif terhadap dinamika perekonomian global. Jika dicermati, penekan utama dari pasar keuangan domestik tak lain adalah kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed), yang sejak tahun lalu agresif lantaran inflasi yang menjulang. Kenaikan suku bunga acuan di Negeri Paman Sam sontak menciptakan gejolak di pasar, yang ditandai dengan berpindahnya modal asing dari negara berkembang termasuk Indonesia. Rupiah lantas goyah, dan membuat BI yang bertugas menjaga stabilitas melalui operasi moneter, keteteran untuk menciptakan stabilitas. Aneka siasat pun ditempuh mulai dari implementasi penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) di dalam negeri, hingga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Pergerakan rupiah selama ini memiliki ketergantungan tinggi pada kebijakan The Fed. Terbukti, setelah The Fed mempertahankan suku bunga dan menyampaikan arah kebijakan dengan nada lebih dovish, dana asing kembali masuk ke Indonesia dan rupiah menguat. Per 6 November 2023, net buy asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) secara year-to-date (YtD) mencapai Rp55,21 triliun, sementara net sell asing senilai Rp37,79 triliun. Apalagi, Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI Donny Hutabarat, mengatakan tingkat imbal hasil SVBI dan SUVBI lebih kompetitif dibandingkan dengan Secured Overnight Financing Rate (SOFR) The Fed. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Edi Susianto, menambahkan penerbitan SVBI dan SUVBI sebagai upaya untuk mendorong pendalaman pasar keuangan dan menghadirkan instrumen jangka pendek yang menarik bagi investor. Bank sentral mengklaim telah mendapatkan respons positif dari investor, baik domestik maupun asing saat melakukan komunikasi perihal dua instrumen anyar tersebut. Menurut penjajakan yang dilakukan BI, investor berharap penerbitan dua instrumen baru yang akan mulai diluncurkan akhir bulan ini bernilai minimal US$100 juta. Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Chandra Wahjudi, optimistis efektivitas dari instrumen itu akan ciamik. "Selain itu, pajak yang dikenakan juga lebih rendah dibandingkan deposito, sehingga pemerintah mempunyai kapasitas lebih dalam menjaga rupiah." katanya kepada Bisnis. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB Universitas Indonesia (UI) Teuku Riefky, menambahkan dari sisi penerbitan dan mekanisme instrumen, SVBI dan SUVBI relatif sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pelaku pasar.
Postingan Terkait
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Pasar Dalam Tekanan
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023