Ekonomi
( 40487 )Segmen Konsumer Sokong BBCA
ANJT Minimalisir Dampak El Nino
PEREDA SENGATAN THE FED
Bank Indonesia (BI) terus bermanuver untuk meningkatkan ketahanan perekonomian nasional yang sangat sensitif terhadap dinamika perekonomian global. Jika dicermati, penekan utama dari pasar keuangan domestik tak lain adalah kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed), yang sejak tahun lalu agresif lantaran inflasi yang menjulang. Kenaikan suku bunga acuan di Negeri Paman Sam sontak menciptakan gejolak di pasar, yang ditandai dengan berpindahnya modal asing dari negara berkembang termasuk Indonesia. Rupiah lantas goyah, dan membuat BI yang bertugas menjaga stabilitas melalui operasi moneter, keteteran untuk menciptakan stabilitas. Aneka siasat pun ditempuh mulai dari implementasi penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) di dalam negeri, hingga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Pergerakan rupiah selama ini memiliki ketergantungan tinggi pada kebijakan The Fed. Terbukti, setelah The Fed mempertahankan suku bunga dan menyampaikan arah kebijakan dengan nada lebih dovish, dana asing kembali masuk ke Indonesia dan rupiah menguat. Per 6 November 2023, net buy asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) secara year-to-date (YtD) mencapai Rp55,21 triliun, sementara net sell asing senilai Rp37,79 triliun. Apalagi, Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI Donny Hutabarat, mengatakan tingkat imbal hasil SVBI dan SUVBI lebih kompetitif dibandingkan dengan Secured Overnight Financing Rate (SOFR) The Fed. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Edi Susianto, menambahkan penerbitan SVBI dan SUVBI sebagai upaya untuk mendorong pendalaman pasar keuangan dan menghadirkan instrumen jangka pendek yang menarik bagi investor. Bank sentral mengklaim telah mendapatkan respons positif dari investor, baik domestik maupun asing saat melakukan komunikasi perihal dua instrumen anyar tersebut. Menurut penjajakan yang dilakukan BI, investor berharap penerbitan dua instrumen baru yang akan mulai diluncurkan akhir bulan ini bernilai minimal US$100 juta. Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Chandra Wahjudi, optimistis efektivitas dari instrumen itu akan ciamik. "Selain itu, pajak yang dikenakan juga lebih rendah dibandingkan deposito, sehingga pemerintah mempunyai kapasitas lebih dalam menjaga rupiah." katanya kepada Bisnis. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB Universitas Indonesia (UI) Teuku Riefky, menambahkan dari sisi penerbitan dan mekanisme instrumen, SVBI dan SUVBI relatif sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pelaku pasar.
Menakar Gelagat Window Dressing
Memasuki akhir tahun, kinerja indeks harga saham gabungan atau IHSG masih kurang bertenaga akibat tertekan oleh sentimen ekonomi global. Padahal, pelaku pasar saham tentu saja mengharapkan fenomena window dressing terjadi di pengujung tahun ini setelah absen pada 2022. Indeks komposit sejatinya bergerak rebound dengan pertumbuhan positif sepanjang 6 hari perdagangan di awal November, setelah tersungkur 2,70% selama Oktober. Keputusan The Fed menahan suku bunga telah menjadi katalis yang mengungkit pasar saham global, terutama bursa di negara berkembang seperti Indonesia. Kami meyakini peluang terjadinya window dressing di akhir tahun ini tetap terbuka lebar. Manajer investasi yang selama ini menjadi pemain utama yang mendorong window dressing sepertinya bakal memburu beberapa sektor saham andalan yakni konsumer dan perbankan. Sejumlah saham emiten konsumer dan perbankan bakal menikmati dampak dari keriuhan Pemilu 2024 melalui belanja kampanye yang sudah dimulai sejak akhir tahun ini. Secara historis, momentum pemilu turut memengaruhi pasar saham karena tingginya pengeluaran konsumsi dan penyaluran kredit bank. Beberapa saham konsumer dan perbankan kini tergolong undervalued dan terdiskon cukup banyak dalam beberapa waktu terakhir. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), misalnya, sangat mungkin menguji level di atas 9.000 karena ditopang pertumbuhan kinerja yang konsisten. Begitu juga dengan saham emiten konsumer seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) yang relatif sudah undervalued. Selain kedua sektor saham itu, investor juga tetap harus mencermati potensi kenaikan harga saham berkapitalisasi besar di sektor properti dan telekomunikasi. Otoritas bursa mencatat ada 29 calon emiten yang siap mencatatkan sahamnya dalam waktu dekat. Dari 29 perusahaan itu, 12 di antaranya merupakan pendatang baru dengan aset berskala jumbo atau di atas Rp250 miliar. Sampai dengan Rabu (8/11), Bursa Efek Indonesia telah kedatangan 77 emiten baru. PT Ikapharmindo Putramas Tbk. (IKPM), PT Mastersystem Infotama Tbk. (MSTI), dan PT Kian Santang Muliatama Tbk. (RGAS) menjadi yang teranyar. Ketiganya kompak mencatatkan sahamnya kemarin. MSTI melepas 470,82 juta saham atau setara 15% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan setelah proses IPO dengan harga penawaran Rp1.355 per saham.
PERMINTAAN PEMBIAYAAN : KREDIT BANK LAWAN KELESUAN
Potensi pertumbuhan kredit perbankan pada tahun ini diprediksi tak seagresif pada 2022. Dinamika internal yang memasuki tahun politik dan perkembangan global yang kian tak menentu, menjadikan lambatnya permintaan pembiayaan.
Proyeksi terakhir yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan pertumbuhan kredit bank sebesar 10,7% year-on-year (YoY). Angka itu lebih optimistis dibandingkan dengan perkiraan awal yang disusun lembaga itu yang memproyeksikan kredit tumbuh tahun di kisaran 8,9% YoY.Dalam tiga kuartal terakhir 2023, bank sentral mematok rentang pertumbuhan kredit bank di kisaran 10,4%—10,9%. Pada 2022, pertumbuhan kredit perbankan tercatat 11,4%.Hingga kuartal III/2023, outstanding kredit perbankan senilai Rp6.803,4 triliun atau tumbuh 8,7% dibandingkan dengan periode yang sama 2022.
Menurut Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan, pertumbuhan kredit masih melaju positif. Namun, pertumbuhannya diperkirakan terbatas di kisaran 7% hingga 9%.Dia menuturkan, pertumbuhan kredit yang diprediksi hanya akan menyentuh single digit, lantaran adanya tren kenaikan suku bunga hingga 25 basis poin ke level 6%.
Sementara itu, peneliti dari Lembaga ESED Chandra Bagus Sulistyo mengatakan, pertumbuhan kredit terdorong lantaran aktivitas perekonomian yang menunjukkan kondisi pemulihan sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi menjelang pemilu.
Head of Emerging Business Banking PT CIMB Niaga Tbk. Tony Tardjo menyatakan sejumlah alasan di balik sikap optimistis terhadap laju pembiayaan untuk tumbuh lebih tinggi.Emiten dengan kode saham BNGA itu mematok target penyaluran kredit, khususnya kepada sektor usaha mikro kecil dan menengfah (UMKM) pada sisa tahun ini dapat mencapai digit ganda atau sekitar Rp25 triliun di tengah tren suku bunga yang tinggi.
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Agustya Hendy Bernadi mengaku optimistis menghadapi situasi yang akan berkembang pada tahun depan. Bahkan, menurutnya, Pemilu cenderung memberikan dampak positif terhadap perekonomian, sehingga berdampak pada penjualan pelaku UMKM yang merupakan core business BRI.
Adapun, Direktur Keuangan dan Strategi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Sigit Prastowo mengatakan, hal ini didasarkan capaian Bank Mandiri yang mencatatkan kinerja, di mana kredit perseroan tumbuh 12,71% secara tahunan, melampaui industri 8,96% YoY.
Di sisi lain, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) memproyeksikan penyaluran kredit akan tetap konservatif di 9% hingga 10% pada akhir tahun ini.Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) Jahja Setiaatmadja memproyeksikan kenaikan suku bunga memang tidak akan secara langsung memberi dampak kepada sejumlah segmen.
INDUSTRI NIKEL : MENEPIS CADANGAN YANG MENIPIS
Kenyataan yang menunjukkan bahwa cadangan nikel nasional mulai menipis membuat banyak pihak gundah. Dengan cadangan yang diperkirakan hanya cukup hingga 7 tahun ke depan, asa Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai pasok industri baterai kendaraan listrik bisa terancam. Kerja keras penghiliran, termasuk kepada nikel, ternyata memunculkan beragam persoalan. Salah satunya adalah menipisnya cadangan nikel nasional, karena masifnya kegiatan pertambangan untuk memasok kebutuhan smelter tidak disertai dengan aksi eksplorasi yang memadai. Alhasil, cadangan nikel kadar tinggi atau saprolite yang menjadi bahan baku stainless steel mengalami penurunan secara drastis. Djoko Widajatno, Direktur Eksekutif Indonesian Mining Association (IMA), mengatakan, masifnya pembangunan smelter sebagai dampak dari penghiliran dan pelarangan ekspor bijih mentah telah menyedot komoditas tersebut. Djoko pun meminta pemerintah untuk mengambil langkah cepat guna mengantisipasi realitas menipisnya cadangan nikel nasional. Setidaknya ada tiga upaya yang bisa dilakukan pemerintah agar bisa menyiasati cadangan nikel saat ini. Pertama, mengimpor bijih nikel dari negara produsen komoditas tersebut, seperti Australia, dan Filipina. Kedua, melakukan moratorium pembangunan smelter agar bisa menahan kebutuhan umpan bijih nikel untuk fasilitas pemurnian dan pengolahan. “Ketiga, melakukan eksplorasi di green field untuk mineral kritis atau mineral strategis dengan tujuan menambah cadangan nikel,” katanya. Kegelisahaan serupa juga sempat disampaikan oleh Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), yang memaparkan bahwa cadangan nikel kadar tinggi di Indonesia kemungkinan akan habis dalam kurun waktu 6 tahun. Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menepis anggapan yang menyebut bahwa cadangan nikel Indonesia mulai menipis. Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Ing Tri Winarno mengatakan bahwa sampai dengan saat ini, cadangan nikel di Indonesia masih berada di angka 5 miliar ton. Angka tersebut terbagi atas dua jenis, yaitu nikel saprolite sebanyak 3,5 miliar ton, dan nikel limonite 1,5 miliar ton. Selain itu, pemerintah juga memberikan penawaran kepada lembaga riset untuk melakukan penelitian eksplorasi terkait dengan cadangan nikel. Bahkan, Tri menyampaikan bahwa wilayah Indonesia bagian timur diperkirakan masih menyimpan potensi cadangan nikel yang cukup besar. Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batubara Irwandy Arif mengatakan bahwa kegiatan eksplorasi membutuhkan investasi yang tidak sedikit, sehingga pemerintah bakal berupaya lebih keras untuk meningkatkan kegiatan tersebut. Beberapa wilayah yang memiliki kandungan nikel, tetapi belum dieksplorasi (green field) diketahui tersebar di Provinsi Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. Melihat wilayah green field nikel yang masih luas dan menjanjikan dengan potensi cadangan yang besar, serta peluang industri hilir nikel yang masih dibutuhkan, Indonesia adalah pilihan yang menarik untuk dilakukan pengembangan investasi pada sektor pertambangan nikel.
FENOMENA EL NINO : Produksi Garam Jatim Siap Melompat
Produksi garam Jawa Timur pada tahun ini diproyeksi bakal menyentuh 900.000 ton. Angka ini melompat dua kali lipat dari capaian tahun lalu yang berkisar 450.000 ton.Hal tersebut diungkapkan oleh Himpunan Masyarakat Petambak Garam (HMPG) Jawa Timur. HMPG memperkirakan bahwa produksi garam wilayah ini akan berkisar 850.000—900.000 ton. Angka ini setara dengan produktivitas rata-rata 90—100 ton per hektare.Ketua HMPG Jawa Timur M. Hasan menjelaskan bahwa proyeksi awal garam di wilayah ini hanya bakal mencapai 750.000 ton.
“Dibandingkan dengan produksi tahun lalu, produksi tahun ini juga termasuk lebih tinggi, karena cuaca yang lebih bagus, dan ada kemarau panjang. Meskipun saat ini beberapa daerah sudah mulai hujan deras,” katanya, Rabu (8/11). Dia mengatakan bahwa produksi garam dari Jatim pada 2022 hanya mampu mencapai 450.000 ton.
Selain itu, Hasan mengatakan bahwa harga jual garam di tingkat petani masih tergolong cukup bagus dan termasuk berada pada rentang harga normal, yakni Rp1.500—Rp1.700 per kilogram.
Menurutnya, harga tersebut juga masih berada di atas biaya produksi atau HPP petambak garam, sehingga para petambak masih mendapatkan keuntungan. Kendari demikian, HMPG Jawa Timur masih akan terus berjuang untuk mendorong pemerintah agar menetapkan HPP garam petambak yang diusulkan sebesar Rp1.500—Rp2.000 per kilogram.Kementerian Perindustrian mencatat bahwa kebutuhan garam nasional saat ini sekitar 4,9 juta ton per tahun.
Salah Resep Atasi Pengangguran
Hipmi-in Journey Kolaborasi Optimalkan Bisnis Pariwisata
Menarik Modal Asing Masuk dengan Instrumen di Pasar Sekunder
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









