;

Melandai Permodalan Industri Domestik

Melandai Permodalan Industri Domestik
JAKARTA - Aliran penanaman modal untuk pendanaan startup di dalam negeri semakin seret. Para investor lebih selektif menjaring perusahaan digital sebelum menyuntikkan dana. Dalam laporan bertajuk e-Conomy SEA 2023 yang dirilis Google, Temasek, serta Bain and Company, tercatat investasi untuk startup di Indonesia anjlok hingga 87 persen pada paruh pertama tahun ini. Nilainya hanya US$ 400 juta. Padahal, pada semester I 2022, investasi yang mengalir mencapai US$ 3,3 miliar. 

Tren ini merata di Asia Tenggara. Investasi startup di kawasan dilaporkan turun dari US$ 13 miliar menjadi US$ 4 miliar saja dalam periode yang sama. Tak hanya pendanaan awal, seperti seed dan seri A, penurunan ini juga terjadi di fase pertumbuhan, yakni seri B serta seri D, hingga fase akhir, yaitu seri D dan E.

Laporan itu menyebutkan biaya modal startup yang tinggi serta penurunan valuasi menjadi salah satu pemicu anjloknya pendanaan di seluruh kawasan, termasuk Indonesia. "Strategi exit juga masih menjadi perhatian karena tingkat pengembalian modal di Asia Tenggara lebih rendah daripada kawasan lain." Sebagai gambaran, investor di Cina bisa mengantongi 0,5 kali dari modal yang disertakan setelah berinvestasi 5-7 tahun. Sementara itu, di Asia Tenggara hanya 0,04 kali.
Tags :
#Startup #Modal
Download Aplikasi Labirin :