;
Kategori

Ekonomi

( 40600 )

DOVISH THE FED REDAM GEJOLAK PASAR

03 Nov 2023

Keputusan Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan pada 5,25% hingga 5,5% memberikan sinyal lampu hijau bagi masuknya aliran dana asing ke pasar keuangan meskipun sementara. Kebijakan bank sentral Amerika Serikat itu mendapatkan respons positif dari pasar keuangan di Tanah Air. Hal itu tecermin dari indeks harga saham gabungan (IHSG) yang ditutup menguat 1,64% ke level 6.751,38 pada Kamis, (2/11). Begitu pula dengan kinerja rupiah terhadap dolar AS yang terapresiasi 0,51% ke Rp15.855. Di pasar surat utang, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun, 5 tahun, dan 2 tahun kompak mengalami penurunan yang mengindikasikan kenaikan minat sehingga menggerus imbal hasil. Lebih lanjut, penurunan imbal hasil paling dalam dialami oleh instrumen tenor 5 tahun sebesar 1,2% ke 6,89%. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan respons positif pasar keuangan sejalan dengan sinyal dovish (lebih longgar) Federal Reserve. Situasi ini akan memicu masuknya dana asing ke pasar modal di negara berkembang, termasuk Indonesia. Saat sikap The Fed melunak, investor diyakini akan kembali berminat melirik aset berisiko. Bersamaan dengan keputusan suku bunga acuan, The Fed juga mengumumkan lelang surat berharga AS yang lebih rendah dari ekspektasi pasar. Sementara itu, Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) hingga 1 November 2023 mencatat dana asing sebesar Rp49,63 triliun secara tahun berjalan atau lebih tinggi dari kondisi pada 26 Oktober 2023 dengan Rp47,14 triliun. Risiko lainnya yang diperhitungkan pasar yakni transaksi berjalan Indonesia. Bila defisit transaksi berjalan melebar, hal itu menjadi pemberat di mata investor asing. Risiko defisit transaksi berjalan lebih lebar bertolak pada penurunan permintaan ekspor yang terdampak oleh lambatnya pertumbuhan ekonomi China. Dihubungi terpisah, Kepala Ekonom Bank Central Asia David E. Sumual mengatakan kinerja moncer pasar keuangan setelah pengumuman Federal Reserve merupakan euforia sesaat. Dia menilai kinerja inflasi Negeri Paman Sam berada di atas target The Fed sehingga bank sentral tersebut masih memiliki amunisi menaikkan suku bunga acuan. Inflasi AS pada September mencapai 3,7% secara tahunan, sedangkan target The Fed menurunkan inflasi ke 2%.

Setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga, Macro Equity Strategist Samuel Sekuritas Lionel Priyadi dalam hasil risetnya menuturkan pelaku pasar kini memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter ketat Federal Reserve telah mencapai puncaknya. Dari dalam negeri, pasar turut melihat risiko dari ketidakpastian politik dan peluang BI menaikkan suku bunga acuan lagi. Seperti diketahui, BI menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) ke 6% setelah mempertahankan suku bunga acuan pada 5,75% selama 8 bulan beruntun. Dari kalangan manajer investasi, Chief Economist & Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan mengatakan aliran dana masuk ke pasar keuangan masih menanti waktu yang tepat. Kala pasar melihat gelagat kenaikan suku bunga acuan The Fed mencapai puncak, investor asing memiliki kepercayaan diri untuk kembali melirik aset berisiko. Investment Specialist Sinarmas Asset Management Mohit Lalchandani menambahkan aliran dana asing bakal kembali masuk ke pasar keuangan bila langkah The Fed sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar. Sebagai imbasnya, pasar saham dan surat utang bisa menikmati sentimen positif. Di lain sisi, Head of Research & Fund Manager Syailendra Capital Rizki Jauhari Indra mengatakan keputusan Th Fed menahan kenaikan suku bunga masih harus dicermatii mengingat masih ada risiko gejolak jangka pendek dari pergerakan nilai tukar rupiah, likuiditas pasar dan perbankan, serta risiko perlambatan ekonomi.

Peran Bank Dorong Rendah Karbon

03 Nov 2023

Negara-negara Asean tengah mencatatkan kemajuan menuju dekarbonisasi, tetapi upaya regional yang terpadu diperlukan untuk mencapai kemajuan yang konsisten dan signifikan. Tujuan tersebut menjadi fokus utama dalam Asean Business and Investment Summit yang telah diadakan di Jakarta, di mana konsep “beauty of diversity” dari Asean menjadi sorotan diskusi. .Sebagai pendatang baru dalam ranah keberlanjutan, Asean dapat belajar dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan China, yang menjadi acuan dalam mengoptimalkan sumber daya yang ada, memberdayakan keahlian, dan mempromosikan keberlanjutan secara strategis sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Bank berada di garis depan dalam upaya dekarbonisasi mengingat mereka memiliki kewajiban besar untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dalam operasional mereka. Menurut Ernst & Young (EY), meskipun sekitar setengah dari lembaga keuangan di kawasan Asean telah menetapkan target net zero pada 2050, kesenjangan yang besar masih dapat ditemukan. Beberapa bank belum mengambil tindakan nyata, alih-alih membuat komitmen eksplisit untuk menyelaraskan diri dengan Paris Agreement. Di KBank, salah satu bank terbesar di Thailand, kami memikul tanggung jawab ini dengan sepenuh hati. Sebagai Bank Keberlanjutan, kami telah membuat komitmen net zero sesuai dengan Sustainable Development Goals dari PBB. Kami menargetkan pengurangan emisi gas rumah kaca dari operasi kami sebesar 21% pada 2025. Kami juga berupaya secara aktif untuk mencapai target tersebut melalui sejumlah inisiatif. Sustainable financing atau pembiayaan berkelanjutan berfungsi sebagai kendaraan utama dalam transisi menuju ekonomi hijau. Hal ini membuka kesempatan bagi bisnis dari semua kalangan untuk mendapatkan modal yang diperlukan dalam memulai perjalanan keberlanjutan mereka.Pada paruh pertama 2023, KBank melakukan pembiayaan dan investasi berkelanjutan di Thailand dengan total lebih dari 19,4 miliar baht atau setara dengan Rp8,3 triliun. Pada 2030, KBank berkomitmen untuk mencapai angka 200 miliar baht atau sekitar Rp85,8 triliun.

DHE SDA Belum Kuasa Dongkrak Devisa

03 Nov 2023
JAKARTA,ID-Implementasi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 Tahun 2003  tentang Devisa Hasil Ekspor Sumber Saya Alam (DHE SDA) yang sempat digadang-gadang bakal mendongkrak cadangan devisa dan memperkuat otot rupiah, hingga kini masih jauh dari asa. Sejak PP itu diterapkan per 1 Agustus 2023, pundi-pundi devisa Indonesia justru mengecil dan rupiah makin tidak berdaya  menghadapi keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS). Cadangan devisa Indonesia yang pada akhir Juli 2023 diangka US$ 137,7 miliar, sebulan kemudian susut menjadi US$ 137,1 miliar dan US$ 134,9 miliar pada akhir September 2023. Seiring dengan itu, nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar AS. Berdasarkan Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah yang per 31 Juli 2023 bertengger di level Rp 15.092, luruh menjadi Rp 15.946 pada 1 November 2023.  (Yetede)

Masih Butuh Sawit, Indonesia Siap Kolaborasi dengan Uni Eropa

03 Nov 2023
JAKARTA,ID-Pemerintah menyatakan siap berkolaborasi dengan Uni Eropa dalam membangun kerangka kerja yang mendorong pertanian berkelanjutan, termasuk produksi minyak nabati yang berasal dari sawit, dengan cara yang inklusif, holistik, adil, dan tidak diskriminatif. Pasalnya, sawit masih menjadi salah satu komoditas andalan yang memberikan kontribusi dalam menopang pemulihan ekonomi, serta aspek sosial dan lingkungan masyarakat. Sebagaimana diketahui, ditingkat global, inisiatif Uni Eropa melalui kebijakan European Union Deforestation Regulation (UEDR) membatasi deforestasi yang disebabkan oleh kegiatan kehutanan dan pertanian di seluruh dunia, akan memberi dampak langsung pada komoditas utama Indonesia yakni kelapa sawit, kopi, kakao, karet, kedelai, sapi, dan kayu. "Terlepas dari kekhawatiran kami. Pemerintah siap berkolaborasi dengan Uni Eropa. Sangat penting bagi Uni Eropa untuk mengakui dan menyadari pengaruhnya bahwa standar keberlanjutan nasional negara-negara produsen dapat memenuhi persyaratan yang diperlukan untuk mengakses pasar Uni Eropa," kata Menteri Koordinator dalam sambutannya secara daring di Indoensia Palm Oil Conference 2023. (Yetede)

Harga Komoditas Anjlok, Laba Emiten MIND.ID Melorot

03 Nov 2023
JAKARTA,ID-Tiga emiten anggota MIND.ID, BUMN Holding industri pertambangan Indonesia, mencatat total laba bersih Rp6,54 triliun sepanjang Januari-September 2023 atau susut 52,51% dibandingkan periode sama tahun lalu 13,77 triiun, seiring penurunan pendapatan akibat anjloknya harga komoditas di pasar internasional. Ketiga emiten tersebut adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bukit Asam (PTBA), dan PT Timah Tbk (TINS). Penurunan terbesar dialami oleh PT Timah Tbk, dari yang semula laba Rp1,14 triliun berbalik menjadi rugi Rp87 miliar. Disusul PT Bukit Asam Tbk yang turun 62,21% dari Rp 10 triliun menjadi Rp 3,78 triliun. Sementara Antam mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih 8,45% menjadi Rp 2,85 triliun. Perolehan laba bersih itu tidak lepas dari kinerja penjualan emiten BUMN pertambangan tersebut hingga akhir September 2023. Tercatat, Bukit Asam membukukan  pendapatan sebesar Rp27,74 triliun pada Januari-September 2023, turun 10,73% dibanding periode sama tahun lalu Rp 31,07 triliun. (Yetede)

Suku Bunga Deposito Naik Terbatas

03 Nov 2023
JAKARTA,ID-Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat suku bunga simpanan perbankan bergerak naik terbatas di tengah kondisi likuiditas bank yang longgar dan penyaluran kredit yang moderat. Rata-rata tingkat bunga deposito rupiah (22 daily moving average) seluruh bank naik 5 basis poin (bps) ke level 3,89% secara bulanan (month to month/mtm)  per 29 September 2023. Berdasarkan kelompok modal, suku bunga kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 4 menunjukkan kenaikan sebesar 8 bps ke level 3,02% per September 2023 atau terendah dibandingkan KBMI lainnya. Sementara KBMI 1 naik 5 bps ke level 3,98%. Suku unga rata-rata deposito rupiah tertinggi adalah KBMI 2 di level 4,03% per September 2023 2023, kemudian suku bunga KBMI 3 di level 3,6%. "Arah kebijakan moneter domestik yang naik 25 bps dan berlanjutnya laju pertumbuhan kredit  mendorong suku bunga simpanan rupiah bergerak naik dengan laju yang terbatas," tulis LPS dalam publikasinya, dikutip kamis (2/11/2023). (Yetede)

Awasi Dampak Pergeseran EL-Nino Terhadap Stabilitas Inflasi

03 Nov 2023
JAKARTA,ID-Tekanan inflasi tahunan mulai menunjukkan peningkatan yang terlihat pada Oktober 2023 sebesar 2,56%, lebih tinggi dari inflasi tahunan pada September 2023 yang sebesar 2,28%. Dalam hal ini pemerintah  harus menjaga distribusi komoditas pangan strategis agar dapat mulai  mengantisipasi terjadinya pergeseran waktu berakhirnya El-Nino. Badan Metreologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan sejumlah lembaga pusat iklim dunia memperkirakan El-Nino masih bertahan di level moderat  hingga periode Desember 2023 sampai Februari 2024. Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yususf Rendy Manilet menjelaskan, dengan adanya pergeseran  waktu terjadinya El-Nino yang diperkirakan akan berakhir Oktober ternyata bisa bergeser dari perkiraan sebelumnya. Hal itu perlu diwaspadai dengan penguatan distribusi pangan di masyarakat. "Pemerintah perlu melakukan (upaya menjaga distribusi pangan) setidaknya sampai awal tahun depan, sehingga distribusi komunitas pangan strategis tetap terjaga," ungkap Yusuf kepada Investaor Daily. (Yetede)

Pertumbuhan Manufaktur Meleset dari Target

03 Nov 2023
JAKARTA,ID-Pertumbuhan industri manufaktur diperkirakan tidak bisa mencapai 5,1%-5,4% hingga akhir tahun nanti, seperti yang ditargetkan Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Hantaman bertubi-tubi jelang akhir  tahun membuat industri hanya bisa tumbuh 4,5%-4,8%. Direktur Center of Economics and law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, selain mendapat hambatan dari pelemahan rupiah industri manufaktur juga  mendapat hambatan dari dalam negeri. Dia menerangkan, ada kecendungan konsumen menengah keatas, yang menguasai lebih  dari 40% total konsumsi nasional, cenderung menahan belanja. Ini terlihat dari data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dimana jumlah tabungan nasabah bank umum dengan simpanan di atas Rp 5 miliar pada September 2023 mencapai Rp8.203 triliun. (Yetede)

Penyaluran KUR 2023 Terhambat Persyaratan

03 Nov 2023
Kinerja penyaluran KUR yang cenderung seret itu antara lain disebabkan oleh banyaknya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang kesulitan mengakses pembiayaan KUR karena terganjal persyaratan rekam jejak serta asesmen kelayakan calon debitor.

Ketua Umum Asosiasi Industri UMKM Indonesia (Akumandiri) Hermawati Setyorinny mengatakan salah satu kendala yang dihadapi pelaku UMKM adalah tidak terpenuhinya syarat kelayakan catatan buku kredit ketika mengajukan pinjaman ke bank atau lembaga jasa keuangan lainnya. “Sebagian besar UMKM masih tercatat sebagai penunggak KUR di masa pandemi, meski sudah direstrukturisasi dengan bunga yang rendah,” katanya kepada Tempo, kemarin.

Dalam analisis kredit selama ini, terdapat persyaratan wajib lolos Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) dan SIKP. SLIK memuat riwayat kredit calon debitor yang sering mengganjal proses pengajuan kredit. “Karena itu, penghapusbukuan kredit macet UMKM akan sangat membantu pelaku usaha untuk bangkit dan bergairah mengajukan kredit lagi,” ucap Hermawati. (Yetede)

Greenback Masih Tetap Jadi Safe Haven Favorit

02 Nov 2023
Instrumen lindung nilai atau safe haven menjadi perburuan investor di tengah kondisi ekonomi dan geopolitik yang penuh ketidakpastian, serta tren kenaikan suku bunga akibat inflasi. Dollar Amerika Serikat (AS) dan emas tetap menjadi instrumen safe haven primadona. Sebagai gambaran, dalam sebulan terakhir hingga 1 November 2023, harga emas di pasar spot naik 4,5% ke posisi US$ 1.991,8 per ons troi. Sementara harga emas batangan Antam naik sebesar 9,45% dalam sebulan menjadi Rp 1,12 juta per gram. Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan, indeks dollar AS mendekati level tertinggi dalam 11 bulan karena investor mengantisipasi kebijakan moneter baru Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (Fed) pada rapat 31 Oktober-1 November 2023 waktu AS. Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga. Tetapi akan mempertahankan biaya pinjaman di level tinggi untuk beberapa waktu karena perekonomian AS tetap tangguh. Jumlah lowongan pekerjaan meningkat 56.000 dari bulan sebelumnya menjadi 9,55 juta pada September 2023, level tertinggi dalam empat bulan dan melampaui konsensus pasar sebesar 9,25 juta. Purchasing Manager Index (PMI) Manufaktur AS Global S&P di level 50 pada Oktober 2023, naik dari level 49,8 pada September 2023. Emas menjadi lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik. Namun menurut Sutopo harganya terlampau mahal, sehingga tak terlalu menarik lagi bagi pembeli luar negeri yang mengkonversi emas dengan dollar. Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Lukman Leong menilai harga emas spot masih bertengger di US$ 2.000 ons troi pada akhir tahun. Berarti tidak akan jauh dari harga sekarang. Sementara emas batangan lebih cocok untuk investor tradisional. Dia melihat dollar   lebih prospektif daripada emas karena berpeluang meningkat lagi sekitar 5% hingga akhir tahun.