Ekonomi
( 40733 )RI dan Dunia Hadapi Tiga Isu Prioritas Pangan
Indonesia dan dunia tengah dihadapkan pada tiga isu
prioritas pangan. Hal itu akan membuat pemba ngunan ketahanan pangan nasional
pada 2024 semakin menantang. Ketiga isu prioritas itu juga perlu ditangani
secara berkesinambungan, termasuk nanti pada periodisasi kepemimpinan baru.
Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas Jarot Indarto, Kamis (7/12) mengatakan, isu-isu
prioritas pangan itu mencakup Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), krisis pangan,
dan keaneka ragaman pangan lokal. Saat ini dunia dan Indonesia tinggal memiliki
waktu tujuh tahun untuk mencapai SDGs. Urgensi pangan dan pertanian dalam SDGs
itu sangat penting karena menyangkut ketahanan pangan dan gizi masyarakat. Oleh
karena itu, banyak negara, termasuk Indonesia, mencari bentuk-bentuk percepatan
dan transformasi konkret agar SDGs itu tercapai pada 2030. ”Apalagi, Organisasi
Pangan dan Pertanian (FAO) menyerukan pentingnya mengatasi hidden cost (biaya
tersembunyi) yang berpotensi membebani pengeluaran masyarakat dan negara,”
katanya dalam Rakornas Ketahanan Pangan 2023 yang digelar Bapanas secara
hibrida.
Tiga komponen terbesar yang menyumbang biaya tersembunyi
adalah bidang lingkungan, yaitu emisi nitrogen senilai 79,986 juta USD dan gas
rumah kaca 42,123 juta USD. Disusul bidang sosial, terkait kemiskinan, terutama
pada kelompok pekerja sektor pertanian, yang biaya tersembunyinya mencapai
11,670 juta USD. Isu prioritas kedua, adalah krisis pangan yang menyebabkan
bencana kelaparan, tidak hanya akibat dampak perubahan iklim, juga lantaran
guncangan stabilitas politik dan ekonomi. Isu prioritas ketiga terkait
keanekaragaman pangan lokal. Hasil Sensus Pertanian 2023 Tahap I menunjukkan,
komoditas-komoditas pangan yang dijadikan usaha pertanian belum mencerminkan
komoditas khas daerah atau pangan lokal. Padahal, Indonesia kaya sumber pangan
lokal, seperti sagu, sorgum, ubi jalar, talas, garut, ganyong, sukun, hanjeli,
dan porang. (Yoga)
Segmen Perkantoran dan Apartemen Siap Bangkit di 2024
Adaro Masuk Daftar Forbes World’s Best Employers 2023
Pemerintah Kaji Dampak Penyaluran KUR
Kementerian Koperasi dan UKM akan mengkaji dampak penyaluran
kredit usaha rakyat atau KUR terhadap perekonomian nasional. Hal ini menjadi
tindak lanjut dari hasil evaluasi terhadap penyaluran KUR yang belum sepenuhnya
terealisasi sesuai dengan ketentuan dan mencapai target. Sebagaimana diketahui,
pemerintah menargetkan penyaluran KUR Rp 297 triliun. Hingga 6 Desember 2023,
KUR yang telah tersalur mencapai 78,17 % dari target yang ditetapkan kepada
4,15 juta debitor. Pada 2024, Kemenkop dan UKM memperkirakan target penyaluran
KUR mencapai Rp 300 triliun. Deputi Bidang Usaha Mikro Kemenkop dan UKM Yulius menjelaskan,
berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi, penyaluran KUR pada 2023 terindikasi
belum sesuai aturan dan ketentuan pedoman penyaluran. Salah satunya ditemukan adanya
agunan tambahan yang seharusnya tidak dikenai kepada debitor dengan plafon di bawah
Rp 100 juta.
”Sebagai tindak lanjut, kami akan melakukan kajian terhadap
dampak penyaluran KUR pada tahun depan. Evaluasi ini terutama untuk mengukur
dampak terhadap pembangunan ekonomi nasional dan terhadap UMKM. Salah satunya dapat
diukur melalui kontribusi terhadap PDB, tingkat kemiskinan, dan kesejahteraan,”
ujarnya di Jakarta, Kamis (7/12). Evaluasi dan pemantauan dilakukan dengan
mengambil sampel 1.047 debitor KUR yang tersebar di 23 provinsi di Indonesia.
Dari hasil survei ditemukan 16,1 % debitor KUR dengan skema mikro dan
supermikro dimintai agunan tambahan untuk pinjaman di bawah Rp 100 juta. Beberapa
pelanggaran lain yang ditemukan, antara lain, penyalahgunaan KUR oleh debitor,
penerima KUR adalah guru dan ASN, pinjaman KUR melebihi jangka waktu, serta
debitor KUR tidak memiliki NPWP. (Yoga)
RANTAI PASOK GLOBAL, Tren Proteksionisme Bakal Kian Intens
Mantan Mendag Mari Elka Pangestu dalam Annual International
Forum of Economic Development and Public Policy atau AIFED ke-12 mengatakan,
tren proteksionisme hijau oleh negara maju akan semakin intens. Tidak hanya
dilakukan oleh Uni Eropa dan AS, tetapi juga negara maju lainnya. ”Jangan harap
tensi perdagangan global akan mereda dalam waktu dekat. Selain fragmentasi
geoekonomi, kita juga menghadapi
restriksi karena komoditas kita dianggap menghasilkan karbon tinggi. Ke depan
akan lebih kompleks. Kita harus belajar hidup dengan situasi ini dan mencari
strategi baru untuk bertahan di rantai pasok,” katanya, Kamis (7/12), di Nusa
Dua, Bali.
Menurut dia, tren tersebut tidak bisa dihindari. Agar bisa kompetitif,
suatu negara harus jadi bagian dari rantai pasok yang berkelanjutan. Untuk itu,
Indonesia mesti konsisten dengan komitmennya melakukan dekarbonisasi. Saat ini
25 % ekonomi Indonesia masih menghasilkan karbon yang cukup tinggi, seperti
pertambangan (14,07 %), agrikultur (9,22 %), perikanan (2,58 %), dan kehutanan
(0,6 %). Namun, bukan berarti Indonesia hanya diam. Menurut Mari, lobi-lobi
perlu lebih digencarkan agar standar ”kehijauan” yang diterapkan negara maju
itu bisa diturunkan sesuai kapasitas negara berkembang. (Yoga)
Tren Anak Muda Mencari Rumah Mewah
Tren anak muda sukses dan kaya membeli rumah mewah sebagai
hunian keluarga yang nyaman bertumbuh sejalan peningkatan pendapatan. Pangsa pasar
baru ini begitu gurih sehingga menjadi incaran pengembang papan atas dengan
menyediakan rumah mewah berharga di atas Rp 10 miliar. Seiring perkembangan
ekonomi yang positif setelah wabah Covid-19, para pengembang juga menangkap
peluang ini dengan membangun rumah berukuran besar dan mewah yang menyasar
segmen menengah atas. Platform Rumah123 & 99.co mencatat pencarian rumah di
kanal properti itu didominasi kalangan generasi milenial (48,02 %), diikuti
kalangan generasi Z (23,52 persen). Generasi Z memiliki rentang tahun kelahiran
1996-2010 atau saat ini berusia 13-27 tahun, sedangkan generasi milenial
memiliki rentang kelahiran tahun 1981-1995 atau berusia 28-42 tahun.
Berdasarkan jumlah pencarian, 9-11 % pencari hunian dari kalangan generasi
milenial dan generasi Z meminati rumah seluas lebih dari 300 meter persegi. Berdasarkan
preferensi harga, minat generasi Z terhadap rumah dengan harga di atas Rp 5
miliar memiliki proporsi yang terbatas, yakni 1,9 % dan generasi milenial 2,2 %.
Direktur Strategic Consulting Cushman and Wakefield
Indonesia Arief Rahardjo memproyeksikan, pertumbuhan rumah menengah dan menengah
atas masih sangat tinggi.”Dengan kondisi ekonomi yang sudah membaik dan ekonomi
semakin positif buat Indonesia serta suku bunga yang masih kompetitif,
diharapkan pasar menengah atas masih berlanjut dengan baik,” katanya dalam
paparan ”Analisa Pasar Properti: Refleksi 2023 dan Proyeksi 2024”, Kamis (7/12).
Salah satu pengembang yang menyasar kelompok anak muda sukses dan kaya tersebut
adalah PT Alam Sutera Realty Tbk (Alam Sutera) dengan meluncurkan kluster hunian
rumah tapak mewah di Alam Sutera, Kota Tangerang Selatan, yaitu The Gramercy,
dengan tiga tipe rumah dengan unit terkecil seluas 312 meter persegi seharga Rp
16,6 miliar. Dari 109 rumah yang ditawarkan Alam Sutera, saat ini 22 unit sudah
masuk pembayaran dan dipastikan terus bertambah sampai akhir tahun 2023. Para
pembelinya, menurut Sales and Marketing Division Head The Gramercy Alam Sutera
Michael Lim, berusia antara 30 tahun dan 40 tahun yang memiliki bisnis sendiri.
”Secara mengejutkan, mereka merupakan pebisnis muda yang, di antaranya, bergerak
di bidang komputer, gim, art work, pertanian untuk obat herbal, dan suku cadang
teknologi informasi yang khusus. Ada juga yang berbisnis daur ulang plastik,”
ujarnya di Tangerang, Senin (4/12). (Yoga)
Demi Diversifikasi, Semakin Rajin Akuisisi
Sejumlah emiten konglomerasi lumayan sibuk melakukan akuisisi bisnis pada tahun ini. Para emiten ini merogoh kocek cukup dalam demi melakukan diversifikasi bisnis ataupun memperluas pangsa pasar.
Tahun ini, konglomerasi yang paling gencar melakukan ekspansi bisnis adalah Grup Astra. Setidaknya, ada 10 target akuisisi yang dituntaskan oleh Grup Astra. Akuisisi dengan nilai paling besar dilakukan oleh PT United Tractors Tbk (UNTR). Sepanjang tahun 2023 ini saja, UNTR sudah mencaplok lima perusahaan, dengan nilai lebih dari Rp 14 triliun. UNTR masuk ke bisnis pertambangan dan pengolahan nikel, hingga bisnis pembangkit listrik panas bumi.
Sekretaris Perusahaan UNTR, Sara K. Loebis mengatakan, UNTR masih membuka peluang untuk mencaplok tambang mineral lain, mengingat posisi kas UNTR yang melimpah. Kami masih terbuka untuk potensi akuisisi mineral lain, terang Sara kepada KONTAN, Kamis (7/11).
Tak cuma Grup Astra, kong-lomerasi yang dikomandani taipan Prajogo Pangestu juga lincah melakukan akuisisi. Misalkan, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) yang mencaplok dua entitas usaha Krakatau Steel.
Emiten batubara yang dikendalikan Prajogo, yakni PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga rajin belanja. CUAN mengumumkan niat masuk ke bisnis emas, pasir silika, hingga batubara kokas di tahun ini. Terkini, CUAN masuk ke bisnis kontraktor tambang dengan mengakuisisi sebagian saham PT Petrosea Tbk (PTRO).
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy melihat, Grup Barito dan Grup Indika menjadi dua teratas emiten konglomerasi yang banyak menyasar bisnis EBT. Dalam jangka pendek, bisnis EBT itu bagus dan menguntungkan, ujarnya kepada KONTAN, Kamis (7/12).
Analis CGS-CIMB Sekuritas Handy Noverdanius menilai, Grup Astra nampak semakin fokus diversifikasi. Tapi dia punya catatan, berbagai akuisisi ini bisa menguras posisi kas UNTR ke level terendah dalam 10 tahun terakhir.
Trio The Barito's Menggocek Bursa
Saham tiga emiten Grup Barito alias The Barito's, terus menggoyang Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada perdagangan Kamis (7/12), saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi
top gainers, sementara kapitalisasi pasar (market cap) PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mampu menembus Rp 1.000 triliun.
Lonjakan harga saham-saham milik taipan Prajogo Pangestu itu turut mendorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menutup perdagangan Kamis (7/12), IHSG melompat 47,22 poin atau 0,67% ke level 7.134,62.
Yang menyedot perhatian, dengan lonjakan harga saham kemarin,
market cap
BREN pun menembus Rp 1.036,84 triliun. Kini, trio The Barito's memiliki
market cap
Rp 1.563,78 triliun atau setara 13,7%
market cap
BEI. Porsi itu makin besar jika ditambah dengan
market cap
CUAN, afiliasi Grup Barito.
Pengamat Pasar Modal &
Founder
WH-Project William Hartanto menilai, lonjakan harga saham Grup Barito mirip ketika terjadi
booming
sektor teknologi dan bank digital tahun 2020. Kala itu, saham teknologi dan bank digital menjadi penggerak utama IHSG.
William mengingatkan, perlu dicermati lagi sentimen pendorong harga Grup Barito pada masing-masing sahamnya. Memang, prospek bisnis sektor energi terbarukan menjadi katalis positif. Namun, William melihat lonjakan saham Grup Barito lebih disebabkan efek euforia pasar terhadap Prajogo Pangestu yang menjadi daya tarik.
William melihat, emiten The Barito's masih berpotensi menguat lagi. "Indikator MA5 dan MA20, selama kondisi ini masih terpenuhi,
trend following
bisa terus dilakukan. Semua tren pasti ada akhirnya. Jadi perlu selalu waspada dengan kemungkinan
profit taking
dan berakhirnya tren," terang William. Guna meminimalkan risiko, bisa dipertimbangkan
hold
atau
sell on strength
untuk merealisasikan cuan..
Sementara itu, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai saham Grup Barito masih layak untuk
speculative buy
atau
trading buy.
WHO Dorong Cukai Minuman Tidak Sehat Naik
Membalikkan Prospek Pertanian
Kompas mengangkat hasil Sensus Pertanian 2023 yang memberi gambaran
suram sektor pertanian, khususnya pangan. Dalam beberapa sensus pertanian
terakhir, terlihat, kita belum bisa membalikkan tren kemunduran sektor
pertanian yang terjadi beberapa dekade terakhir, yang bukan hanya tecermin dari
rata-rata pertumbuhan sektor pertanian yang di bawah pertumbuhan ekonomi
nasional, sektor pertanian yang terus menjadi kantong konsentrasi penduduk
miskin, stagnannya produksi, atau meningkatnya ketergantungan pada impor. Kemunduran
pertanian juga tergambar dari menyempitnya luas lahan pertanian akibat
konversi, jumlah unit usaha tani yang terus mengecil, dan terus menciutnya
penguasaan lahan oleh petani, dengan jumlah petani gurem juga terus meningkat.
Selain itu, tak adanya regenerasi petani, dengan 70 % petani berusia 50 tahun
ke atas. Generasi muda tak tertarik terjun ke pertanian karena tidak
menjanjikan kesejahteraan. Terpuruknya pertanian, dan terus terperangkapnya
petani dalam kemiskinan ekonomi subsisten selama beberapa dekade ini, menjadi
gambaran terus dianaktirikannya sektor yang jadi tumpuan 40 % angkatan kerja nasional.
Jika dibiarkan, hal ini akan menjadi ancaman besar bagi masa
depan ketahanan pangan dan sektor pertanian. Kekhawatiran akan ketidakmampuan
sektor pertanian menyediakan kebutuhan pangan bagi 274 juta penduduk yang terus
bertambah ke depan membuat isu kemandirian, ketahanan, atau swasembada pangan
terus menjadi isu panas setiap tahun, terutama karena kurangnya perhatian atau
banyaknya kebijakan yang tak berpihak kepada petani sebagai ujung tombak sektor
pertanian. Ketergantungan pada impor pangan yang terus meningkat membuat posisi
kita rentan terhadap gejolak sosial ekonomi, terutama dalam situasi krisis pangan
global. Enam dari Sembilan barang kebutuhan pokok masih harus diimpor. Sebagai
negara agraris dengan lahan subur melimpah, ketahanan pangan kita masih rentan.
Di posisi ke-10 di Asia-Pasifik, dan ke-60 di dunia, menurut The Global Food
Security Index 2022. Pembenahan sektor pertanian dikatakan berhasil jika tidak hanya
mampu menopang ketahanan pangan, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan
petani dan menciptakan landasan yang kokoh bagi pembangunan ekonomi ke depan. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









