Ekonomi
( 40478 )Oktober, Kredit Himbara Tumbuh 11,76%
Mencari Keseimbangan Pengaturan Pinjaman ”Online”
Pada awal November 2023, OJK meluncurkan Peta Jalan
Pengembangan dan Penguatan Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi
Informasi 2023-2028. Langkah ini sebagai upaya pengembangan dan penguatan
industri layanan pendanaan bersama berbasis teknologi informasi atau lebih umum
dikenal sebagai fintech pinjaman online. Peta jalan itu merupakan kolaborasi
dari OJK, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), serta kalangan
akademisi dan pengamat ekonomi Indonesia. Kualitas penyaluran pinjaman
teknologi finansial (tekfin) membaik seiring dengan pemulihan ekonomi dan
meningkatnya kolaborasi dengan perbankan sebagai pemberi pinjaman. Berdasarkan
laporan OJK, saldo pinjaman online periode September 2023 tercatat Rp 55,7
triliun atau naik 14,28 % secara tahunan (yoy) dengan tingkat wanprestasi (TWP
90) 2,82 %. Secara kumulatif, tekfin pinjaman telah menyalurkan Rp 677,51
triliun dari 1,13 juta pemberi pinjaman kepada 119,7 juta penerima pinjaman.
Tekfin pinjaman online menggunakan inovasi digital untuk
meningkatkan skalabilitas, mengubah model bisnis, dan memperbaiki manajemen
risiko. Jika dimanfaatkan dengan baik, mendukung pertumbuhan dan inklusi keuangan
nasional. Beberapa aspek dapat dijadikan pertimbangan OJK mengatur pinjaman
online : Aspek pertama adalah keseimbangan literasi dengan inklusi keuangan
masyarakat. Survei Nasional Literasi dan Inklusi keuangan oleh OJK pada 2022
menunjukkan, Indeks Literasi Keuangan kita 48,68 %, sementara Indeks Inklusi
Keuangan jauh lebih tinggi di level 85,1 %. Kesenjangan indeks literasi dan
inklusi harus menjadi pertimbangan OJK dalam mengatur seberapa ketat industri
pinjaman online. Aspek kedua adalah keseimbangan peran tekfin pinjaman online
terhadap perbankan dan lembaga pembiayaan lainnya. Aspek ketiga adalah
keseimbangan kemampuan manajemen dan pertumbuhan industri. Kebanyakan tekfin pinjaman
online mulai dari level perusahaan rintisan alias start up dengan manajemen
relatif muda yang belum semapan perbankan. Aspek keempat adalah keseimbangan
kepentingan bersama dan kepentingan individual pelaku industri. Pengaturan OJK
hendaknya mendorong kolaborasi yang efektif untuk menekan biaya kredit,
operasional, dan dana. (Yoga)
Asing Waspada Pemilu, Bursa Saham Tetap Melaju
Impor Dibatasi, Transaksi E-Commerce Menyusut
Otoritas Tunda Papan Pemantauan Khusus
Laba Melejit, JSMR Pastikan Bakal Membagikan Dividen
Ekspansi Jadi Amunisi Buat HEAL
Obligasi Jadi Sumber Dana Multifinance
TAHUN MENANTANG GALANG DANA
Kombinasi antara outlook pertumbuhan ekonomi, kebijakan suku bunga bank sentral, dan tahun politik membayangi prospek penggalangan dana di pasar modal pada 2024. Target moderat pun disematkan sejalan dengan sikap korporasi yang cenderung wait and see.Hingga akhir November 2023, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penggalangan dana di pasar modal sudah mencapai Rp230,59 triliun dari 197 aksi korporasi initial public offering (IPO), penawaran umum terbatas atau rights issue, serta emisi obligasi dan sukuk korporasi.Realisasi itu termasuk rekor 78 emiten baru yang menghimpun total dana publik Rp53,92 triliun. Meski sudah menembus target Rp200 triliun yang dipatok OJK, realisasi penghimpunan dana itu belum melampaui capaian dalam 11 bulan 2022 yang tercatat sebanyak 210 penawaran umum senilai total Rp244,47 triliun.Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi mengatakan OJK optimistis tetapi konservatif memandang 2024 yang merupakan tahun Pemilu dengan menargetkan penghimpunan dana pada level sama seperti 2023.
Inarno menjelaskan pandangan OJK itu mempertimbangkan prediksi IMF dan World Bank yang merevisi ke bawah target pertumbuhan ekonomi global. Ditambah lagi, pemerintah Indonesia juga memproyeksikan ekonomi tumbuh 5,2% pada 2024 atau di bawah outlooktahun ini sebesar 5,3%.Optimisme terhadap prospek penggalangan dana di pasar modal juga tecermin dalam pipeline yang digenggam OJK sebanyak 96 aksi penawaran umum dengan nilai indikatif Rp41,11 triliun. Pipeline itu, lanjutnya, termasuk rencana go public 64 perusahaan.Ditelisik secara historis, data OJK mencatat penghimpunan dana di pasar modal cenderung merosot pada tahun politik 2009, 2014, dan 2019.
Terpisah, Direktur Utama BEI Iman Rachman berharap tren positif fundraisingdapat berlanjut pada 2024.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menambahkan BEI juga mengincar perusahaan berskala besar untuk melantai di bursa lewat IPO."Setiap tahun kami selalu targetkan paling tidak tiga termasuk lighthouse atau mercusuar, kategorinya market cap Rp15 triliun dan sisi free float 15%."Saat ini, BEI masih memiliki 26 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham. Mayoritas berasal dari sektor konsumer, industri, infrastruktur, dan basic materials.
Senada, Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. (BJBR) Yuddy Renaldi mengungkapkan penerbitan obligasi senilai kurang lebih Rp3 triliun sudah masuk dalam rencana bisnis perseroan pada 2024.
Bisnis mencatat Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) Muhammad Abdul Ghani telah menyatakan bahwa rencana IPO akan difokuskan usai subholding PalmCo dan SupportingCo terbentuk.Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi mengatakan pola penurunan emisi saham pada tahun Pemilu diproyeksi kembali terjadi pada tahun depan.
Meredam Pesimisme 2024 di Pasar Modal
Pesta demokrasi Pemilihan Umum 2024 yang siap digelar pada Februari, selain membawa optimisme atas tata kelola pemerintahan yang lebih baik, rupanya juga membawa dampak lain yang membuat kalangan pasar modal bersikap wait and see. Tidak seperti masa-masa jauh sebelum pemilu, ketika otoritas keuangan selalu membuka lembar kalender baru dengan penuh optimisme. Kali ini, sikap itu seakan-akan berkebalikan. Optimisme pasar modal seakan-akan sudah hanyut ditelan kegaduhan kampanye para kandidat presiden dan wakil presiden. Asumsi ini jelas terlihat dari target penggalangan dana di lantai bursa yang tidak terlalu muluk pada tahun depan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebagai the guardian of investors’ trust, memilih sedikit konservatif dengan menetapkan target penggalangan dana di pasar modal berkisar Rp175 triliun—Rp200 triliun. Sebagai target baru untuk tahun depan, jumlah itu sangatlah peanut. Alasannya, target 2024 yang dipatok OJK rupanya lebih rendah dari realisasi penghimpunan dana di pasar modal tahun ini, yang hingga 30 November saja sudah mencapai Rp230,59 triliun. Penggalangan dana ini berasal dari 197 aksi korporasi. Lebih terperinci, OJK mencatat ada 71 IPO degan nilai total Rp52,99 triliun pada tahun ini. Apalagi, berbasis pada kondisi pada tahun ini, situasi di pasar modal relatif stabil. Bahkan, jumlah emiten pada tahun ini memecahkan sepanjang sejarah keberadaan BEI. Meski tampak ada riak-riak kecil seperti adanya penurunan kualitas IPO dari sejumlah emiten baru, pada sisi lain, ini membuktikan partisipasi emiten di lantai bursa sepanjang 2023 meningkat. Selain itu, penghimpunan rights issue sudah mencapai Rp50,99 triliun, emisi surat utang korporasi Rp10,47 triliun, dan penawaran umum berkelanjutan Rp116,14 triliun. Menurut OJK, masih ada 96 rencana aksi korporasi dalam pipeline dengan estimasi nilai penggalangan dana Rp41,11 triliun pada tahun ini. Luar biasa. Belum lagi ketika mengintip pasar saham. Tanda-tanda penguatan makin terlihat dari laju IHSG sebesar 4,17% (YtD) ke level 7.132,57. Ini level tertinggi pada 2023. Hal itu terdorong oleh arus modal asing yang mulai kembali ke pasar modal pada bulan lalu menjelang window dressing.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









