Ekonomi
( 40465 )Menhan Prabowo Lepas KRI Radjiman untuk Kirim Bantuan ke Palestine
Mitratel Akuisisi Emiten Tower Grup Sinar Mas di Semester I-2024
Spin Off Ramaikan Persaingan Bisnis Bank Syariah
Waskita Beton Incar Kontrak Baru Rp 2 T
Merah-Biru Rapor Sri Mulyani
China Waspada meski Pertumbuhan Melebihi Target
Perekonomian China tumbuh sedikit di atas harapan. Meski
demikian, Bejing tetap waspada karena masalah properti dan perlambatan ekspor
tetap melanda. Dalam pernyataan pada Rabu (17/1) Biro Statistik Nasional (NBS)
China mengungkapkan, PDB 2023 tumbuh 5,2 %. Capaian itu selaras dengan taksiran
Bank Dunia dan sejumlah lembaga investasi. Sementara Pemerintah China dan IMF
menaksir PDB China 2023 hanya tumbuh 5 %. Kini, perekonomian China bernilai
17,6 triliun USD, dan mempertahankan status sebagai perekonomian terbesar kedua
setelah AS. PDB AS hampir 26 triliun USD.
Pertumbuhan PDB China lebih baik dibandingkan dengan global
dan berbagai negara Eropa Barat serta Amerika Utara. Analis makroekonomi China Tian
Yun menyebut, perekonomian China terbantu industri otomotif, manufaktur dirgantara,
dan kapal. Secara umum, pertumbuhan sektor industri China di atas 4 %. Tahun
lalu, China menjadi eksportir mobil terbesar di dunia. Bahkan, pada triwulan IV
2023, BYD dari China menjual lebih banyak mobil listrik dibandingkan Tesla. China
juga sukses mengatasi persoalan industri teknologi tinggi. ”Stimulus bekerja
dan tepat sasaran bisa memperkuat,” ujar Tian kepada media China, Global Times.
Meski melebihi harapan, pertumbuhan PDB China tetap memicu
kewaspadaan. Sejak 2011, PDB China tak pernah tumbuh lebih dari 10 %. Tian juga
memperingatkan persoalan yang belum selesai. Sektor properti terus menjadi beban
perekonomian China. Banyak warga China berinvestasi pada property, tapi belakangan,
harga properti China anjlok dan sejumlah pengembang bangkrut. Persoalan lain
adalah perlambatan ekspor. Bea dan Cukai China mencatat, ekspor 2023 hanya
tumbuh 0,2 %. Merujuk data Bank Dunia, 40 % PDB China didapatkan dari ekspor-impor.
Kondisi ini dikhawatirkan belum membaik di 2024. Sebab, berbagai mitra terus
membatasi perdagangan dengan China. (Yoga)
Pengusaha Spa Keberatan Digolongkan ke Hiburan
Pengusaha spa menentang jenis usahanya digolongkan dalam
kelompok hiburan yang terdampak kebijakan kenaikan tarif pajak hiburan sebesar
40-75 %. Pelaku usaha melihat kegiatan usaha mereka berkaitan dengan kebugaran
dan kearifan lokal. Mereka meminta pemerintah menunda penerapan pajak itu. ”(Tarif
pajak) Dari 15 %, sekarang jadi minimal 40-75 %, sangat mengagetkan dunia
usaha,” kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Badung,
Bali, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya yang juga menaungi bisnis spa, Rabu (17/1).
Ia menyayangkan, para pengusaha di Bali tak pernah dilibatkan menyusun regulasi
UU No 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah
(UU HKPD) yang menetapkan pajak hiburan tertentu sebesar 40-75 %.
Karena itu, pihaknya mendukung uji materi yang tengah
dilakukan pengusaha spa Indonesia ke MK. Rai berharap agar pemerintah menunda
penerapan pajak hiburan. Selain pajak, pemerintah daerah di Bali juga
menetapkan pungutan Rp 150.000 bagi wisatawan asing mulai 14Februari 2024.
Pungutan ini digunakan untuk melestarikan budaya dan lingkungan di Bali,
termasuk penanganan sampah. Rai menilai, banyaknya komponen yang perlu
dibayarkan wisatawan itu memberatkan. Apabila hal ini terus terjadi, bukan tak
mungkin mereka memilih berlibur ke negara-negara lain, seperti Singapura,
Thailand, dan Vietnam. (Yoga)
Asal Efisien dan Kompetitif, Ekonomi RI Tak Terpengaruh China
Perekonomian China belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan dalam waktu dekat. Kendati demikian, pelaku usaha optimistis kontraksi China tidak serta-merta melumpuhkan ekonomi Indonesia selama iklim usaha dan investasi dapat semakin efisien dan kompetitif untuk investor. Dalam laporan terbaru Bank Dunia bertajuk ”Prospek Ekonomi Global 2024” yang terbit Januari ini, ekonomi China sepanjang 2024 diproyeksi hanya tumbuh 4,5 %, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 5,2 %. Berdasarkan laporan itu, negara dengan perekonomian terbesar nomor dua di dunia ini tengah memasuki masa kritis dan sedang bergulat dengan perlambatan struktural yang ditandai dengan pelemahan daya beli, sulitnya warga untuk mendapatkan pekerjaan, dan terpuruknya kepercayaan investor.
Dari kacamata dunia usaha dalam negeri, perlambatan ekonomi China yang terjadi dalam satu hingga dua tahun belakangan turut memperlambat putaran roda ekonomi Indonesia. Sebab, di sektor perdagangan, China menjadi penyuplai terbesar bahan baku dan bahan penolong untuk Indonesia. Selain itu, China juga menjadi negara tujuan ekspor utama bagi Indonesia. BPS mencatat China sebagai mitra dagang utama baik dari sisi impor dengan nilai perdagangan 62,18 miliar USD (Rp 972 triliun) maupun ekspor yang mencapai 64,94 miliar USD (Rp 1.015 triliun) sepanjang 2023.
KomiteTetap Kebijakan Publik Kadin, Chandra Wahjudi, mengatakan, meski pelemahan ekonomi China dapat mengurangi volume ekspor Indonesia ke ”Negeri Tirai Bambu” tersebut, surplus neraca perdagangan tetap bisa terjaga tahun ini jika kebijakan hilirisasi industri diimplementasikan secara tepat. ”Neraca perdagangan akan tetap surplus bergantung pada implementasi kebijakan hilirisasi industri yang memberikan tambahan nilai yang lebih tinggi,” ujarnya, Rabu (17/1) di Jakarta. Selain menggelontorkan insentif untuk memacu hilirisasi industri, Chandra menilai pemerintah harus melakukan penyederhanaan regulasi dan perizinan ekspor untuk setiap produk ekspor.untuk memacu kinerja ekspor. (Yoga)
Reksa Dana Berbasis Global Bisa Jadi Pilihan
Reksa dana dengan portofolio berupa efek perusahaan di luar
negeri lebih rentan terdampak oleh pemburukan ekonomi global dibandingkan
dengan investasi di dalam negeri. Namun, di sisi lain, diversifikasi portofolio
menjanjikan keuntungan lebih. Reksa dana atau investasi efek yang dikelola
manajer asset tak hanya menawarkan produk dari dalam negeri. Masyarakat juga memiliki
pilihan untuk berinvestasi di saham, obligasi, atau aset jangka pendek lain
yang diperdagangkan di luar negeri (offshore). ”Untuk investor yang dananya
memadai dan melihat adanya ketidakpastian rupiah dan politik nasional, diversifikasi
global bisa menjadi pilihan,” kata pengamat pasar modal UI, Budi Frensidy, Rabu
(17/1).
Salah satu keuntungan berinvestasi di reksa dana offshore adalah
apresiasi mata uang asing yang digunakan. Investasi reksa dana pendapatan tetap
juga bisa menghasilkan keuntungan dalam bentuk capital gain. Perusahaan
manajemen aset pun coba membuat produk reksa dana offshore lebih tersegmentasi
sehingga menarik minat pasar. Seperti PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI)
yang baru saja meluncurkan Manulife Saham Syariah ESG Transisi Global Dolar AS
(MAGET) Kelas A2 berdenominasi dollar AS. (Yoga)
Sawit Diandalkan untuk Perekonomian
Komoditas kelapa sawit akan menjadi salah satu unggulan bagi para pasangan calon presiden dan calon wakil presiden guna memacu laju pertumbuhan ekonomi mendatang. Upaya tersebut didukung dengan peningkatan tata kelola dan kepastian hokum melalui pembentukan dewan atau lembaga khusus yang berwenang langsung terhadap sawit. Hal ini mengemuka dalam forum diskusi bertajuk ”Urun Rembuk Bersama Stakeholder Sawit Nasional” yang diselenggarakan harian Kompas, di Jakarta, Rabu (17/1). Acara tersebut dihadiri para pemangku kepentingan, antara lain Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin), dan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir).
Turut hadir perwakilan Timnas Pemenangan Anies-Muhaimin (Amin), Achmad Nur Hidayat; perwakilan Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Panji Irawan; serta perwakilan Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Danang Girindrawardana. Komoditas kelapa sawit merupakan salah satu contributor yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional. BPS mencatat, ekspor CPO Indonesia ke lebih dari 160 negara pada 2022 mencapai nilai 29,62 miliar USD atau setara Rp 462,04 triliun. Selain itu, terdapat 16,2 juta orang yang terlibat dalam perkebunan kelapa sawit, baik sebagai tenaga kerja maupun pemilik perkebunan rakyat.
”Kami dari pasangan Amin punya concern serius menjadikan sawit sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.,” ujar Achmad.. Panji Irawan menyebut, salah satu fondasi Indonesia Maju sebagaimana visi yang diusung oleh pasangan Prabowo-Gibran adalah menjadikan Indonesia sebagai produsen sawit nomor satu di dunia untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045. Sementara itu, Danang Girindrawardana berpendapat, komoditas kelapa sawit akan menjadi salah satu penopang utama visi pasangan Ganjar-Mahfud untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 7 % dan menciptakan 17 juta lapangan kerja. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









