Ekonomi
( 40733 )Pajak Naik, Industri Hiburan Resah
UU No 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemda berlaku per Januari 2024. Dari 12 kelompok jasa kesenian dan hiburan, 11 di antaranya dikenai tarif umum maksimal 10 %. Sisanya, seperti diskotek, karaoke, kelab malam, bar, dan spa, dikenai tarif pajak minimal 40 % dan maksimal 75 %. Merespons keberatan pelaku usaha, pemerintah memberi keringanan pajak. Kebijakan ini dinilai pengusaha sebagai solusi jangka pendek yang belum memberikan kepastian hukum dalam jangka menengah-panjang.
Menurut Martha W Thomas, Corporate Communication Manager Jambuluwuk Hotels and Resorts, Kenaikan pajak hiburan sebesar 40-70 % bisa berdampak negatif ke bisnis spa di jaringan hotel kami. Peningkatan biaya operasional memaksa bisnis menaikkan harga layanan sehingga berpotensi mengurangi minat tamu. Walau, dampak pasti tergantung pada berbagai faktor lain, termasuk bagaimana kenaikan pajak itu direspons daerah.
Ray Janson, Pemilik Bar Bura Bura dan podcaster ”Ray Janson Radio” mengatakan, saya dan teman-teman yang sudah berpengalaman bekerja di industri makanan-minuman menilai, kebijakan ini dibuat tanpa riset lapangan yang baik. Sejak pandemi Covid-19 sampai sekarang, bisnis makanan-minuman belum pulih total. Dalam sebulan ini, rata-rata keuntungan bersih bisnis makanan dan minuman 5-8 %. Selain modal bahan, ada biaya sewa, biaya karyawan depan dan belakang, dan biaya keamanan. Di bar khususnya, ada biaya ’tidak terduga’ yang banyak.
Hana Suryani, Pengusaha Karaoke Hana KTV, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hiburan Jakarta (Asphija) mengatakan, sampai sekarang saja, saya belum bisa menerapkan pajak karena tamu menolak, enggak mau datang, hingga cancel pesanan. Daripada mereka enggak datang, enggak mau bayar, ya kami terima pakai pajak lama. Kalau kami harus setor 40%, bagaimana? Kalau tamu tak mau bayar, kami menolak tamu, kami juga enggak dapat omzet. Kalau enggak ada omzet, negara rugi karena kami alat menarik pajak. (Yoga)
Ahmad Junaidy, Mental Besi Pengolah Ulin
Ahmad Junaidy (43) berkreasi dengan limbah kayu ulin atau kayu besi (Eusideroxylon zwageri), menghasilkan aneka perabot dapur yang disukai konsumen di Indonesia hingga mancanegara. Perabot yang terbuat dari limbah kayu ulin yang baru selesai dibuat di rumah produksi Osan Indonesia di Gambut, Kabupaten Banjar, Kalsel, Sabtu (13/1) ditumpuk di sebuah meja. ”Semua terbuat dari kayu ulin. Bisa dikatakan dibuat dari limbah kayu ulin karena menggunakan potongan-potongan kayu ulin yang panjangnya kurang dari 1 meter,” kata Ahmad Junaidy alias Odi, pemilik UMKM Osan Indonesia. Odi mulai mengolah limbah kayu ulin menjadi barang kerajinan pada 2017. Saat itu, di depan tempat kerjanya ada usaha mebel yang memproduksi kusen pintu dan jendela dari bahan kayu ulin. Sisa potongan kayu ulin ukuran 30-35 cm kerap dibuang meski masih bagus.
Odi langsung berpikir untuk membuat barang kerajinan dari limbah kayu ulin. Odi kemudian mencari inspirasi di aplikasi Pinterest. Ia menemukan contoh talenan yang bagus dan sangat ergonomis. ”Dari situ, saya langsung berpikir untuk bikin talenan dari limbah kayu ulin,” katanya. Begitu satu talenan selesai dibuat, ia mengunggah fotonya di Facebook. Teman-temannya di media sosial memberikan tanggapan positif. Hampir semua bilang,talenan yang kini diberi nama Susan Series itu bagus. Talenan Susan Series ditawarkan Rp 35.000 per buah, yang langsung protes perajin lain karena harganya terlalu murah. Akhirnya, harga jual secara bertahap dinaikkan hingga sekarang menjadi Rp 85.000 per buah.
”Setelah promosi di media sosial dan ikut pameran UMKM di Banjarbaru pada Oktober 2017, orderan terus masuk dan bertambah. Dalam sehari saya pernah bikin 30 talenan,” ungkapnya. Pada 2019, ia mulai membangun gudang atau tempat produksi di Gambut, tepatnya di Jalan Ahmad Yani Kilometer 11,8. Odi juga merekrut tenaga kerja. Dua pekerja tetap dan satu pekerja lepas. Sejak 2019, produksi talenan kayu ulin dilakukan setiap hari. Model talenannya pun semakin beragam hingga 22 model. ”Kami memproduksi 500 talenan sebulan. Untuk spatula dan sumpit, bisa sampai 1.000 buah per bulan, dengan omzet rata-rata Rp 15 juta sampai Rp 20 juta per bulan, dengan keuntungan 30-40 %,” katanya. Sejak 2021, Osan Indonesia digandeng BI sebagai UMKM mitra dan binaan Kantor Perwakilan BI Kalsel. Sejak saat itu, Osan men- dapat dukungan dan binaan dari BI sehingga bisa memasarkan produknya ke luar negeri, yaitu ke Jepang. (Yoga)
Kerbau Rawa Pampangan, Pemantik Pelestarian Lingkungan
Tradisi beternak kerbau rawa (B bubalis carabauesis) di Sumsel
bertahan sejak era kerajaan hingga kini di sejumlah desa di Kecamatan Pampangan,
Ogan Komering Ilir. Kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungan pun
terbangun demi menjaga habitat rumpun kerbau lokal asli Indonesia tersebut.
Kamis (7/12/2023) Paisol (44) beranjak dari rumahnya di Desa Bangsal,
Pampangan, menuju kompleks kandang di Pulau Tapus denan perahu ketek menyusuri Sungai
Lubuk Sekayan. Ia memiliki 50 ekor kerbau rawa ternak di kandang. Paisol
membersihkan kotoran di kandang dengan menumpuknya di pundak sejumlah kerbau. ”Nanti,
kotoran itu jatuh di sungai dan padangan (hamparan rumput liar) yang menjadi pupuk
alami untuk menyuburkan rerumputan,” ujar Paisol. Setelah itu, barulah Paisol membuka
pintu kandang. Kerbau-kerbau itu pun lekas menuju padangan yang menjadi sumber
pakan mereka sehari-hari.
”Kerbau rawa Pampangan suka sekali berenang. Kalau musim
banjir (semua padangan tergenang air biasanya selama Januari-Maret), mereka bisa
berenang berjam-jam dan menyelam untuk memakan rerumputan di dasar air,” ujar M
Ali Hanapiah, Sekretaris Desa Bangsal, yang mendampingi Kompas dan Pantau
Gambut, organisasi nonpemerintah yang berfokus pada riset dan advokasi
keberlanjutan lahan gambut di Indonesia. Kerbau rawa mudah diternakkan, cukup
dilepaskan pada pukul 06.00-07.00 dan mereka akan keluar untuk mencari pakan di
lingkungan sekitar. Menjelang petang, kerbau itu kembali ke kandang. Kerbau
rawa identik dengan Pampangan karena mereka bagian tak terpisahkan dari rantai
kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Susu kerbau menjadi sumber
pendapatan harian peternak. Peternak bisa mendapatkan sekitar 1 liter susu per
ekor per hari.
Susu dihargai Rp 20.000 per liter. Susu itu laku dijual
karena ada perajin atau pembuat gulo puan yang membutuhkannya. Gulo puan adalah
produk turunan susu kerbau yang menjadi komoditas unggulan Desa Kuro dan Desa Bangsal,
dua desa paling tua di Pampangan, yang konon ada sejak era Kesultanan Palembang
Darussalam abad XVII- XIX. Gulo puan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda
Indonesia pada 2021. Dari pelatihan yang diberikan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove
serta Universitas Sriwijaya pada 2020, kelompok peternak mampu mengolah kotoran
kerbau menjadi pupuk organik yang teruji bisa membantu mengoptimalkan
pertumbuhan tanaman hortikultura. Karena belum memiliki izin jual, pupuk itu
diberikan gratis kepada warga. Keunikan kerbau rawa dan keindahan alam di
Pampangan juga menarik minat wisatawan dalam beberapa tahun terakhir. ”Kami
melihat pariwisata bisa menjadi sumber pendapatan masa depan di sini,” kata
Kades Bangsal Angkut, Join. (Yoga)
Digitalisasi Kunci Reforma Agraria
The Marketing of Indonesia Public Companies
IHSG Diprediksi Bergerak Sideways
Segmen Korporasi Dongkrak Kredit Perbankan Akhir 2023
Kunjungan Wisman China Ditargetkan Tembus 1 Juta
Pertumbuhan Properti Tahun 2024 Diwarnai Tren-Tren Baru
Mudarat Dominasi Investasi Swasta di IKN
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









