Ekonomi
( 40465 )Compang-camping Penghiliran
Ekonomi & Industri Indonesia Masih Rapuh
Perekonomian Indonesia masih rapuh karena lebih banyak bergantung pada faktor musiman, terutama momentum perayaan hari besar keagamaan. Investasi yang menjadi harapan belum unjuk gigi. Tahun ini, investor masih menantikan hasil pemilu umum. Kondisi ini pula yang menyebabkan ekonomi kita kembali melempem setelah momentum perayaan berlalu. Lihat saja, kuartal I-2024 bertepatan dengan perayaan Imlek, Ramadan dan Idulfitri, juga pemilihan umum (pemilu). Aktivitas dunia usaha diperkirakan lebih menggeliat dan berdampak positif terhadap perekonomian. Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia (BI) menunjukkan, Saldo Bersih Tertimbang (SBT) dunia usaha kuartal I-2024 sebesar 15,38%. Angka ini lebih tinggi setelah pada kuartal IV-2023 melambat ke level 13,17%. SBT dunia usaha mengindikasikan perkembangan kegiatan ekonomi di sektor riil secara kuartalan. Asisten Gubernur BI Erwin Haryono mengungkap, peningkatan itu seiring upaya pelaku usaha, khususnya menjelang Ramadan. Sejumlah sektor ekonomi diperkirakan ketiban berkah dari beberapa momentum tersebut.
Peningkatan juga tampak di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan dengan SBT 1,46%, setelah pada kuartal sebelumnya mencatat SBT minus 0,81%. "Ini sejalan dengan musim panen komoditas pangan di sejumlah wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, serta sebagian Sumatra dan Sulawesi," kata Erwin dalam laporan BI, Kamis (18/1). Namun demikian, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita melihat, aktivitas usaha sebenarnya menunjukkan tren penurunan yang konsisten sejak beberapa kuartal lalu. Di sektor manufaktur nampak dari sisi impor, lantaran industri manufaktur Indonesia bergantung bahan penolong dan belanja modal dari impor. Sementara potensi kenaikan permintaan di masa Lebaran hanya bersifat sementara. Sebab itu, dia menduga ekonomi kuartal I-2024 berpeluang melanjutkan tren penurunan pada kuartal IV-2023 meski ada momen Lebaran. Meski begitu, Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI) BSI Kurniawati Yuli Ashari optimistis, tren dunia usaha pada tahun ini masih sedikit meningkat. Peningkatan itu sejalan dengan ruang fiskal untuk memberi stimulus fiskal pada perekonomian yang masih besar, di tengah kenaikan tarif cukai.
Ramainya Belanja Online Bisa Menahan Laju Inflasi
Konflik Makin Panas, Minyak Mendidih
Indosat Akan Memperkuat Bisnis Internet Rumah
Bisnis KPR Perbankan Tumbuh Makin Tinggi
Magnet Baru di Kota Matahari Terbenam
Ruang terbuka hijau di Kota Kupang, NTT, menghadirkan kebahagiaan baru bagi warga. Mulai dari tempat piknik hingga ladang cuan. Matahari tampak bergerak turun ditelan horizon. Mahakarya semesta itu menjadi magnet bagi mereka yang datang ke pesisir Pantai Kupang. Magnet yang hanya ada kala senja menjemput malam. Seperti pada awal Januari 2024, Fritz Soares (24) bersama teman perempuannya menghabiskan waktu tiga jam di Pantai Tedis, kompleks Kota Lama. Mereka datang pukul 17.30 Wita agar tidak tertinggal menyaksikan momen detik-detik matahari seolah tenggelam ke dalam laut. Sambil menikmati momen itu, mereka bercengkerama menyeruput cokelat panas dan menyantap jagung bakar. Di sepanjang talud di garis pantai sejauh 100 meter itu, duduk pula beberapa pasangan muda-mudi, kelompok remaja, dan orangtua bersama anaknya.
Mereka baru bubar setelah cahaya matahari tak terlihat. Mereka datang memang hanya untuk melihat momen matahari terbenam. Pantai Tedis menjadi salah satu tempat favorit bagi warga Kupang atau wisatawan yang menyinggahi kota itu. Di pengujung tahun lalu, ruang terbuka yang berada dekat titik nol Kupang itu penuh sesak pengunjung. Pantai Tedis menjadi ruang publik bagi kota berpenduduk 465.000 jiwa itu. Pada 2021, Kementerian PUPR memulai proyek penataan Pantai Tedis dan Pantai Kelapa Lima. Total anggaran Rp 81 miliar. Pada 24 Maret 2023, Presiden Jokowi meresmikan proyek tersebut disaksikan ribuan warga. Ia berharap ruang terbuka itu mengubah wajah Kota Kupang, sekaligus mengubah wajah destinasi wisata. Dengan demikian, pengunjung merasa makin nyaman.
Di dua tempat itu berdiri gazebo khas suku Timor, pentas
terbuka, dan tempat berjualan yang dapat menampung 40 pedagang. Ada juga sarana
air bersih dan toilet. Wisatawan yang datang bisa merasakan denyut kehidupan
warga yang beragam. Mulai petang hingga malam, ratusan warga setempat berada di
sana. Data Dinas Pariwisata Provinsi NTT menyebutkan, setelah pandemi Covid-19,
kunjungan wisatawan pulih. Kota Kupang menjadi daerah kedua di NTT dengan jumlah
pengunjung wisatawan mancanegara tertinggi. Dua tahun terakhir, jumlahnya
melampaui 7.000 orang. Peringkat pertama diduduki Labuan Bajo. Penataan kawasan
pesisir membuat ekonomi setempat menggeliat, ditandai dengan banyaknya pedagang
makanan ringan di sekitar tempat itu. Banyak yang mendapatkan penghasilan
hingga Rp 200.000 per malam. Belum lagi penyewa kendaraan mainan anak. (Yoga)
Defisit Beras Januari-Februari Ditutup dengan Impor
Akibat El Nino, pada Januari-Februari 2024 Indonesia
diperkirakan kekurangan 2,8 juta ton beras. Pemerintah akan berupaya memenuhi
kekurangan tersebut melalui importasi, baik yang sudah diputuskan tahun lalu
tetapi pelaksanaannya tahun ini maupun impor yang masuk pada tahun 2024.
Menurut Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi di Kompleks Istana Kepresidenan,
Jakarta, Kamis (18/1) angka panen pada awal Januari 2024 mendekati 1 juta ton.
Padahal, kebutuhan beras sebulan sebesar 2,5 juta-2,6 juta ton. Akibat El Nino,
RI kekurangan beras 2,8 juta ton pada Januari-Februari 2024. ”Namun, kita akan
cover dengan yang carry over (impor) 2023 dan importasi yang masuk pada 2024,”
ujarnya. Negara asal impor beras, adalah Vietnam dan Thailand. Namun, ada catatan
bahwa impor beras dari negara tersebut masuk setelah panen raya beras di
Indonesia usai.
Mendag Zulkifli Hasan mengatakan, rapat terbatas yang
dipimpin Presiden Jokowi mengevaluasi persiapan pangan untuk menghadapi masa
Lebaran nanti. ”Terutama beras, kemudian ayam dan telur. Oleh karena itu, tadi
dibahas persediaan stok beras, kemudian persediaan stok jagung, karena itu
bahan pakan untuk ayam petelur dan ayam potong,” katanya. Menurut Zulkifli,
sudah diputuskan untuk mempercepat impor beras, yang sudah diputuskan tahun
lalu, tetapi tertunda pelaksanaannya pada tahun 2024, yaitu 600.000 ton. Ia menambahkan,
pembahasan persiapan pangan dilakukan jauh-jauh hari sebelum Lebaran untuk
menjaga agar kondisi terkendali. Beras dan jagung menjadi dua komoditas yang
dinilai rawan dan paling penting diantisipasi. (Yoga)
Jalan Berliku Kelapa Sawit dari Loyang Menjadi Emas
Upaya membawa era kejayaan kelapa sawit Indonesia di kancah
internasional layaknya mengubah loyang menjadi emas. Pemeo tersebut menggambarkan
rumitnya persoalan yang dihadapi persawitan negeri ini. BPS mencatat, ekspor
minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia ke lebih dari 160
negara pada 2022 mencapai nilai 39,07 miliar USD atau Rp 600 triliun. Setidaknya
ada tiga persoalan mendasar yang dihadapi industri kelapa sawit Indonesia,
mulai dari sisi hulu hingga hilir, yakni kelembagaan, kepastian hukum, dan
penelitian. Ketiga persoalan itu turut menjadi pembahasan utama dalam rangkaian
forum diskusi harian Kompas bertajuk ”Urun Rembuk bersama Stakeholder Sawit
Nasional” di Jakarta, Rabu (17/1/2023).
Terkait dengan kelembagaan, tata niaga komoditas kelapa sawit
di dalam negeri terlampau sarat kepentingan dari berbagai pihak. Tercatat,
lebih dari 30 kementerian/lembaga yang ikut ambil bagian, antara lain KLHK,
Kementan, serta Kementerian ATR / BPN. Tumpang tindihnya regulasi tersebut
tampak dalam kasus pengidentifikasian kawasan hutan. Baik perusahaan sawit yang
semula diberikan hak guna usaha (HGU) maupun petani yang memiliki sertifikat
hak milik (SHM) nyatanya justru teridentifikasi masuk dalam kawasan hutan. Hal
ini sekaligus menunjukkan tidak adanya kepastian hukum. Oleh sebab itu, dibutuhkan
sebuah lembaga atau badan dengan kewenangan khusus yang menaungi persawitan
Indonesia sebagaimana telah dilakukan oleh Malaysia, yang telah membentuk Malaysian
Palm Oil Board (MPOB), lembaga sekelas direktorat jenderal di sebuah
kementerian yang memfasilitasi seluruh kepentingan persawitan. (Yoga)
Kinerja Emiten Sejumlah Sektor Masih Rapuh
Riset terbaru menunjukkan kinerja keuangan sebagian
perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia semakin rapuh. Kondisi ekonomi
global hingga kelemahan kultural dan hukum jadi tantangan bagi pemulihan usaha
pascapandemi Covid-19. Perusahaan jasa konsultansi strategi global Alvarez
& Marsal (A&M) menyimpulkan hal itu dari riset terhadap 360 perusahaan
tercatat atau 44 % dari 813 emiten di BEI, yang memiliki pendapatan tahunan
lebih dari 50 juta USD di 11 sektor industri. Penelitian mengukur kinerja
keuangan antara tahun 2019 dan Juni 2023. Managing Director A&M Indonesia
Alessandro Gazzini, memaparkan, kendati ada 56 % perusahaan yang mampu
mempertahankan status dan prospek sehatnya, perusahaan lainnya belum pulih
seperti kondisi sebelum Covid-19.
”Kecepatan pemulihan kesehatan perusahaan relatif lambat,
berujung pada bertambahnya sub kelompok perusahaan zombi,” ujarnya dalam
presentasi riset berjudul ”Indonesia A&M Distress Alert” di Jakarta, Kamis (18/1). Perusahaan zombi yang dimaksud
dikategorikan dalam tiga kondisi, yakni berstatus distressed atau mengalami
kesulitan pada neraca keuangan dan efisiensi operasional perusahaan, memiliki
ketahanan neraca kurang, serta yang memiliki neraca dan laba-rugi kurang.
Jumlah perusahaan berkondisi distressed pada tahun pertama pandemi pada 2020 sebanyak
19,4 %, pada 2022, jadi 15,3 % dan pada 12 bulan terakhir hingga Juni 2023
sebanyak 14,2 %. Perusahaan dengan ketahanan neraca kurang signifikan terus
menurun jumlahnya, dari sebanyak 28,6 % pada 2019 menjadi 18,6 % pada periode
hingga Juni 2023. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









