Kini, Siapa Saja Bisa ke Stasiun Luar Angkasa
Sebanyak empat astronot, tiga di antaranya berasal dari
Turki, Swedia, dan Italia, meluncur ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS)
dari pangkalan Kennedy Space Center Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA)
di Cape Canaveral, Florida, AS, Kamis (18/1) sore waktu setempat. Mereka melesat
dengan penerbangan komersial Axiom Space, menggunakan pesawat luar angkasa SpaceX,
Crew Dragon, milik Elon Musk. Empat astronot itu berlatar belakang pilot
militer. Mereka akan berada di luar angkasa selama 14 hari untuk melakukan 30
eksperimen dengan fokus pada dampak penerbangan luar angkasa terhadap kesehatan
dan penyakit manusia. Perjalanan antariksa mereka merupakan misi penerbangan komersial
kolaboratif untuk ketiga kalinya antara Axiom Space, NASA, dan SpaceX selama
dua tahun terakhir.
Yang berbeda kali ini, penumpangnya bukan orang kaya raya,
seperti pada penerbangan sebelumnya. Tiga dari empat astronot kali ini dibiayai
pemerintah masing-masing dengan harga tiket 55 juta USD atau Rp 860 miliar. Pesawat
Crew Dragon yang membawa empat astronot tersebut akan menempuh perjalanan 36
jam dan diperkirakan tiba di stasiun luar angkasa Sabtu (20/1). Crew Dragon
akan berlabuh di pos terdepan yang mengorbit 400 km di atas Bumi. Saat ini,
stasiun luar angkasa internasional dihuni oleh tujuh awak tetap. Mereka terdiri
dari dua warga AS dari NASA, satu astronot dari Jepang, satu astronot dari Denmark,
dan tiga kosmonot Rusia. Axiom Space yang berbasis di Houston, AS, menjalankan bisnis
komersial mengirimkan astronot ke orbit Bumi dengan disponsori pemerintah asing
atau perusahaan swasta.
Misi Axiom dirancang untuk menawarkan penerbangan ke ISS kepada
siapa pun yang mampu membeli tiket. Dua misi Axiom sebelumnya diterbangkan pada
2022 dan 2023, membawa penumpang campuran antara pebisnis kaya dan astronot
yang dibiayai pemerintahnya. Penerbangan kali ini menjadi misi Axiom pertama
yang semua tiket kursinya dibeli pemerintah atau NASA. Harian The New York Times,
Kamis (18/1), menyebut penerbangan ini merupakan bagian dari era baru di mana negara-negara
tak lagi harus membuat roket dan pesawat ruang angkasa sendiri untuk
menjalankan program penerbangan luar angkasa berawak. Kini, mereka cukup
membeli tiket dari perusahaan penerbangan luar angkasa komersial, hampir sama
seperti membeli tiket pesawat biasa. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023