;
Kategori

Ekonomi

( 40733 )

Hutama Karya Raih Kontrak Konstruksi Rp 30,79 Triliun

24 Jan 2024

PT Hutama Karya (persero) sepanjang tahun 2023 membukukan nilai kontrak konstruksi sebesar Rp30,79 triliun dengan kontribusi terbesar dari proyek jalan  dan jembatan. Nilai ini meliputi Kerjasama Operasional (KSO) sebesar Rp9,23 triliun, dan Non-KSO sebesar Rp21,55 triliun. Direktur Utama Hutama Karya Budi Harto mengatakan perseroan mengantongi sebanyak 23 kontak baru yang terdiri dari 16 proyek infrstruktur (jalan, jembatan, bendungan) dan tujuh proyek gedung. Perolehan kontrak baru ini tumbuh sebesar 55,10% terhadap kontrak baru di tahun 2022. 

"Kami mencatatkan kinerja keuangan positif pada tahun 2023 (unaudited) dengan mencetak laba bersih sebesar Rp 1,66 triliun atau meningkat 215,31% dibandingkan tahun 2022. dari sisi pendapatan, Hutama Karya mencatatkan sebesar Rp 77,78 triliun pada tahun 2023," kata  Budi. Untuk mendukung pembangunan IKN Hutama Karya menandatangani berbagai proyek sepanjang tahun 2023 diantaranya meliputi Proyek Jalan Bebas Hambatan IKN Segmen Jembatan Pulau Balang-Sp.Riko senilai Rp2,04 triliun, Proyek Rusun ASN 2 IKN senilai Rp1,34 triliun, proyek Jalan Tol IKN Seksi 3A Segmen Karangjoang-KKT Kariangau senilai Rp847 miliar, dan Proyek Kantor Kementerian Koordinasi 2 IKN senilai Rp690 miliar. (Yetede)

Efek Domino Kenaikan Harga Pakan

24 Jan 2024
Sudah lebih dari dua pekan peternak ayam dibuat pusing menghadapi persoalan kelangkaan dan kenaikan harga pakan ternak. Pasokan jagung menipis lantaran banyak petani yang gagal panen akibat El Nino. Di sisi lain, permintaan pasokan jagung impor masih tertahan. Kini harga pakan ternak sudah mendekati Rp 8.000 per kilogram, dari harga rata-rata normal Rp 6.900 per kilogram. Adapun harga jagung terpantau mencapai Rp 10 ribu per kilogram di sejumlah daerah, dari harga normal Rp 6.000 per kilogram.

Produksi jagung pipil kering berkadar air 14 persen terus turun akibat kekeringan sebagai dampak El Nino sejak pertengahan tahun lalu. Sejumlah petani mengalami gagal panen karena tidak ada hujan. Di daerah Lamongan, Jawa Timur, misalnya, penurunan produksi mencapai 80 persen saat panen pertama. Sedangkan di Bima, Nusa Tenggara Barat, hasil panen anjlok hingga 50 persen. Menurut data Badan Pusat Statistik, produksi jagung nasional pada Oktober 2023 mencapai 1,29 juta ton. Jumlahnya terus turun menjadi 1,17 juta ton pada November dan 0,89 juta ton pada Desember. Sedangkan kebutuhan jagung nasional per bulan menembus 1,25 juta ton.

Ketua Bidang Telur Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat, Leopold Halim, mengungkapkan peternak saat ini kelimpungan lantaran produsen pakan kian ketat membatasi penjualan akibat stok yang diprediksi tak sampai hingga sebulan ke depan. “Permasalahannya, kita punya uang pun belum tentu mendapat itu barang. Sedangkan kalau menggiling pakan sendiri, bahan baku konsentrat jagung juga susah dicari,” ujarnya kepada Tempo, kemarin. (Yetede)

Tantangan BTN Merangkul Bank Muamalat

24 Jan 2024
Bank syariah kembali menjadi buah bibir. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN dikabarkan akan menggabungkan unit usaha syariah (UUS) BTN Syariah dengan Bank Muamalat. Langkah ini, dalam berbagai pemberitaan, disebut sebagai bagian dari proses pemisahan (spin-off) UUS dari induknya. Lo? Padahal sebelumnya BTN Syariah justru dikabarkan akan dimerger dengan PT Bank Syariah Indonesia (BSI). 

Mencuatnya kabar ini juga mendapat komentar dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menolak rencana penggabungan BTN Syariah dengan PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. Seperti ramai diberitakan di media massa, MUI tak ingin penggabungan ini mengganggu warisan para pendiri Muamalat. Selain itu, MUI berharap, sebagai bank syariah swasta terbesar saat ini, Muamalat tetap eksis di tengah ketatnya persaingan industri perbankan di Tanah Air. Selain adanya penolakan itu, apa saja tantangan rencana merger ini?

Sebelumnya, mari kita amati dulu kinerja bank umum syariah (BUS), di luar unit usaha syariah. Statistik Perbankan Indonesia yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan bahwa pembiayaan kepada pihak ketiga bukan bank naik 14,78 persen dari Rp 305,85 triliun per Agustus 2022 menjadi Rp 351,04 triliun per Agustus 2023.  Dana pihak ketiga pun naik 3,95 persen dari Rp 407,27 triliun menjadi Rp 423,37 triliun. Financing to deposit ratio naik dari 75,10 persen menjadi 82,92 persen dalam ambang batas 78-92 persen. Artinya, pembiayaan tumbuh moderat.  

Laba juga tercatat naik 14,57 persen dari Rp 9,47 triliun menjadi Rp 10,85 triliun. Namun kenaikan itu belum sanggup mendorong rasio imbal hasil aset yang justru turun dari 2,04 persen menjadi 2,03 persen, meski masih di atas ambang batas 1,5 persen. Sarinya, kualitas aset turun tipis meski masih cukup tinggi.  Tingkat efisiensi, yang tampak pada rasio biaya operasional/pendapatan operasional, juga membaik, dari 77,34 persen menjadi 76,60 persen dalam ambang batas 70-80 persen yang berarti efisien. Rasio kredit bermasalah membaik dari 2,64 persen menjadi 2,32 persen, jauh di bawah ambang batas aman 5 persen. Ini menggambarkan kualitas kredit bank umum syariah kian baik. (Yetede)

Ragam Beleid Pajak Incar Pasar Otomotif

24 Jan 2024
Laju industri otomotif dalam negeri bisa tersendat di tahun ini. Alih-alih  secercah harapan memasuki tahun baru, industri ini justru dihadapkan pada banyak tantangan yang berpotensi menggerus penjualan kendaraan. Tantangan itu muncul dari sejumlah aturan baru pemerintah yang kurang bersahabat dengan sektor otomotif. Salah satunya beleid Pemerintah Daerah DKI Jakarta yang menaikkan tarif pajak progresif kendaraan bermotor kepemilikan kedua dan seterusnya sebesar 0,5%. Kenaikan tarif pajak progresif ini tertuang di Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 1/2024 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. 

Marketing Director PT Toyota Astra Motor (TAM), Anton Jimmi Suwandy bilang, kenaikan pajak progresif berdampak pada calon pembeli mobil kedua dan seterusnya.  "Tapi, kami masih menunggu implementasinya di lapangan," kata Anton, Selasa (23/1). Ketidakpastian kondisi ekonomi yang muncul akibat sentimen pemilu juga turut diwaspadai industri otomotif.  "Pemilu 2024 bisa membuat konsumen menahan diri membeli mobil baru," ujar Kukuh Kumara, Sekretaris Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). 

Panasnya suhu geopolitik global juga mendatangkan sentimen negatif ke sektor otomotif. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual bilang, sektor otomotif dihadapkan risiko meluasnya ketegangan di Timur Tengah, terutama di Laut Merah. Kenaikan itu dipengaruhi melemahknya rupiah terhadap dolar AS, dan naiknya harga bahan material dan logistik. "Kenaikan pajak bisa makin menekan daya beli," ujar Pengamat Otomotif, Bebin Djuana, kemarin.

Eskalasi Geopolitik Memantik Biaya Logistik

24 Jan 2024
Bank Indonesia (BI) terus memelototi eskalasi geopolitik global. Ketegangan di Timur Tengah hingga Laut China Selatan juga masuk radar bank sentral. "Konflik geopolitik sudah masuk radar kami. Tidak hanya di Timur Tengah, tetapi juga di Laut China Selatan,” tegas Gubernur BI Perry Warjiyo, belum lama ini. Dia mengungkapkan, ketegangan di sejumlah kawasan bisa berdampak kepada rantai pasok global. Meski demikian, BI belum menemukan efek yang dirasakan Indonesia dalam waktu dekat, terutama dari sisi perdagangan. 

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengingatkan, konflik yang terjadi berpotensi menekan perdagangan global, termasuk bagi Indonesia. Senada dengan BI, Josua juga melihat dampak konflik akan relatif terbatas. Pasalnya, konflik tersebut berpotensi meningkatkan biaya logistik di dunia. "Kalau berlangsung berkepanjangan, akan menaikkan biaya logistik secara permanen,” jelas Josua, Selasa (23/1). Dengan demikian, Josua berpesan pentingnya peran pemerintah untuk aktif melakukan diplomasi untuk mencegah terjadinya konflik di Laut China Selatan.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai, semakin memanasnya konflik geopolitik pada awal tahun ini akan menyundut nilai impor Indonesia dalam waktu satu hingga dua bulan ke depan. Dia melihat ini akan menekan volume impor Indonesia. Namun di saat yang sama justru bisa menambah nilai impor. Pasalnya, ada potensi pembengkakan biaya logistik. Sedangkan Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual pernah mengungkapkan, sejauh ini dampak ketegangan geopolitik di kawasan Laut China Selatan belum terlalu berdampak pada Indonesia. 

Dana Lahan PSN Capai Rp 123,87 Triliun

24 Jan 2024
Anggaran negara untuk pengadaan lahan dalam mendukung proyek strategis nasional (PSN) mengucur deras selama tujuh tahun terakhir. Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) mencatat kucuran dana untuk pengadaan lahan PSN mencapai Rp 123,87 triliun sejak 2017 hingga 2023. Realisasi tersebut terserap 77,52% dari alokasi anggaran yang disiapkan Rp 159,8 triliun. Direktur Pengadaan dan Pendanaan Lahan LMAN, Rustanto menyampaikan, total realisasi pengadaan lahan  disalurkan untuk 117 PSN yang terbagi menjadi delapan sektor. 

Sebagai catatan, realisasi di sepanjang 2023 mencapai Rp 18,2 triliun. Dia memerinci, delapan sektor tadi yang terbesar untuk jalan tol terdiri dari 53 PSN. Nilai total realiasinya mencapai Rp 104,27 triliun dari pagu anggaran Rp 131,8 triliun. Khusus untuk 2023, realisasi dananya mencapai Rp 14,3 triliun. Untuk segmen bendungan terdiri dari 38 PSN total realisasinya mencapai Rp 13,3 triliun dari pagu anggaran Rp 16,4 triliun. Setelah bendungan, bujet negara juga banyak keluar untuk proyek jalur kereta api yang terdiri dari 10 PSN dengan total realisasi mencapai Rp 3,2 triliun dari pagu anggaran Rp 5,05 triliun. 

Tak mau ketinggalan, untuk proyek di Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur yang terdiri dari delapan PSN total realisasinya mencapai Rp 1,42 triliun dari pagu anggaran Rp 3,34 triliun. Ada pula proyek irigasi  yang terdiri dari lima PSN dengan total dana yang dikucurkan mencapai Rp 622 miliar dari pagu anggaran Rp 673 miliar. Disusul proyek air baku yang terdiri dari satu PSN dengan total kucuran dana sebesar Rp 77 miliar dari pagu anggaran Rp 125 miliar. Sementara untuk pelabuhan yang terdiri dari satu PSN dengan total realisasinya mencapai Rp 800 miliar dari pagu anggaran Rp 1,14 triliun.

Bursa Karbon Dapat Tambahan Transaksi Pembangkit Listrik

24 Jan 2024
Pemerintah mulai bergerak untuk menghidupkan bursa karbon. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan konsolidasi. Pada 22 Januari 2023, KLHK dan Kementerian ESDM meneken perjanjian integrasi data Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN PPI) dan Aplikasi Penghitungan dan Pelaporan Emisi Ketenagalistrikan (Apple Gatrik). 

Direktur Pengawasan Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lufaldy Ernanda menjelaskan, dengan  perjanjian itu, maka proses integrasi pencatatan dan penerbitan Persetujuan Teknis Batas Atas Emisi Pelaku Usaha (PTBAE PU)  subsektor pembangkit listrik bisa dimulai. Berdasarkan POJK 14/2023 OJK berwenang memberi izin kepada penyelenggara bursa karbon untuk memperdagangkan unit karbon dalam bentuk PTABE-PU dan Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah kaca (SPE-GRK). Tapi sebelum ada POJK 14/2023, perdagangan karbon sudah dimulai. 

Lufaldy bilang, ada beberapa perdagangan karbon PTBAE PU yang terjadi di Apple Gatrik. OJK berharap, ekosistem perdagangan karbon di bursa karbon kian lengkap agar bisa mendukung program pemerintah dalam pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) dan net zero. Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) selaku penyelenggara IDXCarbon menargetkan tambahan minimal 50 pengguna jasa bursa karbon sepanjang tahun ini. Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik memastikan BEI  akan mengembangkan potensi perdagangan bursa karbon di tahun ini.

Kucuran Kredit UMKM Bank Masih Melempem

24 Jan 2024
Penyaluran kredit perbankan ke segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) melambat. Bank Indonesia (BI) mencatat, hingga Desember 2023, kucuran kredit bank ke segmen UMKM tumbuh 7,9% secara tahunan jadi Rp 1.364,2 triliun. Pertumbuhan kredit UMKM itu lebih rendah dari tahun 2022 sebesar 10,2% secara tahunan. Secara bulanan, pertumbuhan kredit UMKM per Desember 2023 juga lebih kecil dari November 2023, yang naik 8,5% secara tahunan. 

Data BI menunjukkan, sepanjang 2023, penyaluran kredit UMKM di segmen usaha kecil dan menengah masing-masing anjlok 2,8% dan 3,5% secara tahunan. Hanya kredit ke segmen mikro yang mampu tumbuh 24,5%. Tapi, pertumbuhannya juga lebih rendah dibanding 2022 sebesar 38,4% secara tahunan. Melambatnya pertumbuhan kredit perbankan ke sektor UMKM, juga tercermin dari rendahnya realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga 26 Desember 2023, realisasi penyaluran KUR hanya Rp 255,8 triliun, lebih rendah dari target pemerintah sebesar Rp 297 triliun. 

Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi melihat, melambatnya kredit UMKM disebabkan berbagai faktor. Salah satunya, sikap kehati-hatian bank dalam menyalurkan kredit UMKM. Terlebih, relaksasi restrukturisasi kredit akan berakhir pada tahun ini. Setali tiga uang, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) juga mengandalkan KUR untuk menggenjot kredit UMKM. 

General Manager Divisi Bisnis Usaha Kecil Bank BNI, Sunarna Eka Nugraha bilang, penyaluran kredit UMKM BNI lebih banyak ditopang KUR. Pada 2023, realisasi penyaluran KUR BNI sekitar 99,1% dari jatah alokasi Rp 17,8 triliun. Senada, SEVP Micro & Consumen Finance PT Bank Mandiri Tbk, Saptari mengungkapkan, bank ini akan terus mendukung pengembangan UMKM. Salah satunya lewat KUR. Pada 2023, bank berlogo pita emas ini telah menyalurkan KUR  Rp 34,24 triliun dari alokasi Rp 36,24 triliun.

TRIS Bidik Pasar Menengah Atas

24 Jan 2024
Emiten sektor tekstil dan garmen, PT Trisula International Tbk (TRIS) menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang positif di tahun 2024. Hal ini tak lepas upaya perseroan yang fokus menghasilkan produk-produk dengan margin tinggi. Direktur Utama Trisula International, Widjaya Djohan mengatakan, perseroan menyiapkan sejumlah strategi untuk memacu kinerja tahun ini. Antara lain fokus meningkatkan kualitas produk, serta memperkuat inovasi untuk menjangkau pasar menengah atas dengan terus mengikuti tren fesyen terkini. 

Namun, TRIS belum bisa memaparkan nilai pendapatan yang diincar tahun ini karena masih dalam perhitungan internal. "Rinciannya sedang dihitung dan akan disampaikan dalam RUPS tahunan berikutnya," ucapnya. Untuk itu, TRIS akan mengalokasikan sebagian anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun ini untuk membeli mesin baru. Hanya saja, ia Widjaya belum bisa merinci berapa anggaran capex yang disiapkan untuk kebutuhan tahun ini. 

Selain itu, Trisula Group memiliki jaringan distribusi sendiri, sehingga dapat terus mengikuti perkembangan permintaan pasar dengan keuntungan yang lebih maksimal. Widjaya mengungkapkan, peluang pasar di industri garmen dan tekstil masih sangat besar. Namun, peluang itu sangat dipengaruhi tantangan kondisi ekonomi global dan nasional. Selain itu, TRIS juga beradaptasi dengan kemajuan zaman, terutama di era digitalisasi. Dengan berkembangnya era tersebut, TRIS juga  mendaftarkan produknya di berbagai jaringan e-commerce, bahkan memiliki website sendiri yang bernama yukshopping.com. 

Di sisi lain, sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian, banyak pelanggan business to business (B2B) TRIS yang membutuhkan  produk. Widjaya menyatakan bahwa selama ini TRIS telah memiliki banyak pelanggan setia yang telah percaya dengan kualitas produk yang mereka hasilkan. Mengutip laporan keuangan kuartal III-2023, TRIS mencatatkan peningkatan penjualan 0,1% secara tahunan atau year and year (yoy) menjadi Rp 1,04 triliun. Pada saat sama, laba  bersih tumbuh 0,61% yoy menjadi Rp 28,07 miliar.

PUTAR AKAL KEREK PAJAK DIGITAL

24 Jan 2024

Perkembangan pesat teknologi yang melahirkan aksi massif perdagangan secara daring, rupanya belum mampu dioptimalkan oleh pemerintah untuk memompa penerimaan negara lebih tambun. Padahal, optimalisasi potensi pajak sangat mendesak karena pemerintah pada tahun ini mengobral diskon pajak untuk korporasi. Mulai dari perpanjangan tax holiday dan tax allowance, hingga terbaru diskon Pajak Penghasilan (PPh) Badan 10% untuk sektor pariwisata. 

Dus, pemerintah pun didorong untuk mencari sumber pajak baru guna menutupi besarnya belanja perpajakan untuk PPh Badan. Sayangnya, sejauh ini manuver pemangku kebijakan dianggap masih kurang tajam. Salah satu alasannya adalah realisasi penerimaan pajak atas transaksi elektronik alias Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) yang jauh dari angka potensi. Padahal, dengan tarif PPN sebesar 11% maka potensi penerimaan yang bisa dikantongi negara dari aktivitas secara daring pada tahun lalu mencapai Rp49,83 triliun. Artinya, ada potensi pajak Rp43,07 triliun yang belum terpungut.  Otoritas fiskal pun menyadari betul adanya keterbatasan setoran PPN PMSE yang masih jauh dari potensi. 

Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak Kementerian Keuangan Dwi Astuti, mengatakan pemerintah akan terus memantau tingkat kepatuhan pelaku PMSE dalam rangka mengoptimalkan potensi PPN. "Kami akan terus melakukan pengawasan kepada pelaku PMSE yang telah ditunjuk agar pemenuhan kewajiban perpajakan dapat terlaksana sesuai dengan peraturan yang berlaku," katanya kepada Bisnis, Selasa (23/1). Langkah konkret otoritas pajak memang sangat dinanti. Tak hanya demi menambah penerimaan, juga secara perlahan mengikis praktik shadow economy alias aktivitas ekonomi yang tidak terdeteksi dalam radar negara. Apalagi, potensi transaksi dagang-el terus mencatatkan kenaikan. BI bahkan mengestimasi nilai transaksi daring pada tahun ini mencapai Rp487 triliun, naik sebesar 7,5% dibandingkan dengan realisasi tahun lalu. 

Wakil Ketua Umum I Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Sarman Simanjorang, mengusulkan agar pemerintah menciptakan platform digital yang secara otomatis mengutip PPN dalam setiap transaksi digital. Direktur Eksekutif MUC Tax Research Wahyu Nuryanto, mengatakan ada beberapa faktor yang membatasi akselerasi penerimaan PPN PMSE. Pertama, konteks pemungutan PPN yang hanya terbatas pada pemanfaatan barang tidak berwujud maupun jasa dari luar Indonesia di dalam Indonesia melalui PMSE. Kedua, pemungutan PPN PMSE hanya menyasar PMSE yang memenuhi kriteria, sehingga tidak semua perusahaan mendapat penugasan tersebut. 

Pengamat Perpajakan Center for Indonesia Tax Analysis (CITA) Fajry Akbar, mengatakan sesungguhnya dasar hukum untuk perluasan PPN PMSE cukup lengkap. Hanya saja, eksekusi dari otoritas pajak terbilang lamban.