;

PRINGGASELA DALAM SENAMPAN KEKAYAAN PANGAN LOKAL

Ekonomi Yoga 20 Jan 2024 Kompas
PRINGGASELA DALAM SENAMPAN
KEKAYAAN PANGAN LOKAL

Keriuhan ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga atau PKK memecah ketenangan sore di Kampung Gubuk Lauq, Pringgasela Selatan, di Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, NTB. Rumah ibu Kades Siti Wijayanti kedatangan para kader PKK desa. Sore itu mereka bergotong royong membuat jajan pasar. Beraneka ragam bahan pangan disediakan untuk membuat cerorot, jagung urap, klepon ubi, orog-orog, bantal, dan jajanan lawas lain khas Pringgasela Selatan. Keseluruhanjajananitu disuguhkan untuk menyambut para tamu yang datang ke Pringgasela Selatan dalam acara Festival Dongdala pada Desember 2023. Dongdala berarti pelangi. Dikaruniai tanah yang subur dan air jernih yang melimpah, Pringgasela Selatan, termasuk Kecamatan Pringgasela, mandiri di bidang pangan.

Warga tak pernah risau dengan harga cabai yang mahal di kota-kota besar atau kekeringan seperti daerah lain. Sejauh mata memandang, hijau sawah, jernihnya air, dan rimbunnya kebun mendominasi pemandangan. Berdasar data BPS, produksi padi setahun di Pringgasela, termasuk Desa Pringgasela Selatan 14.000 ton. Ubi kayu 1.700 ton. Jagung 200 ton. Di perempatan tugu, tengah desa Pringgasela Selatan, setiap pagi hingga sore banyak berjajar penjual makanan tradisional. Ada jajanan pasar, buah-buahan lokal, hingga makanan khas kampung tersebut. Dalam kios-kios itu buah local mendominasi. Ada Manggis, pisang, nanas, alpukat, rambutan, hingga durian. Karena diambil dari kebun sendiri, harganya sangat terjangkau. Durian lokal, bisa didapatkan dengan harga Rp 25.000 per buah. ”Bahkan, ada yang harganya hanya 5.000 per buah,” kata Sri Hartini, warga Gubuk Lauq, Pringgasela Selatan.

Pringgasela Selatan identic dengan makanan tradisional. Kedai LHC yang jadi favorit warga untuk berbelanja makanan, menjual berkeranjang-keranjang jajanan tradisional. Harganya pun ramah di kantong, mulai Rp 1.000 per makanan. Pada pagi hari, jajanan penuh mengisi etalase, menjelang siang mulai berkurang, dan ludes terjual di sore hari. Begitu seterusnya siklus jual beli makanan tradisional di kedai itu. Barry Perdana Putra, pemilik Aranka guest house, selalu memperkenalkan kuliner lokal kepada tamunya dari mancanegara. Mereka dijamu dengan lumpia, singkong goreng, pisang goreng, serta suguhan teh serai, wedang jahe, teh bunga telang, hingga pinacolada yang dibuat dari pangan lokal Pringgasela. ”Semua yang terhidang di sini diambil dari sini juga,” katanya.Mia Lee (30), tamu asal Australia, terkagum-kagum dengan apa yang dilihatnya. Ini pertama kali ia datang ke Lombok dan mencicip teh serai dengan kudapan singkong goreng serta lumpia. ”Saya rasa petualangan di kaki Rinjani mulai dari gorengan ini,” katanya. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :