Ekonomi
( 40600 )Pembiayaan Mobil Listrik Dinilai Lebih Berisiko
Meski minat masyarakat terhadap mobil listrik terus
bertumbuh, jaminan atas harga jual kembali mobil listrik belum terbentuk. Hal
ini mengakibatkan lembaga pembiayaan lebih berhati-hati dalam menyalurkan
kredit mobil listrik. Berdasar data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia
(Gaikindo), penjualan wholesale mobil listrik berbasis baterai (battery
electric vehicle/BEV) selama 2023 telah menembus 17.051 unit atau meningkat
65,11 % dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, jika dibandingkan total penjualan
mobil selama 2023, pangsa penjualan mobil listrik hanya 1,69 %. Sejalan dengan
pertumbuhan penjualan mobil listrik itu, penyaluran kredit terhadap pembelian
mobil listrik turut meningkat. Hal ini mengingat lebih dari separuh pembelian mobil
oleh masyarakat dilakukan melalui mekanisme kredit. PT BCA Finance, misalnya,
selama 2023 telah menyalurkan pembiayaan senilai Rp 1,4 triliun untuk pembelian
3.209 unit mobil listrik atau naik 172 % dibandingkan periode 2022. Namun,
pembiayaan mobil listrik tersebut tercatat baru berkontribusi 3,5 % dari total
Rp 40 triliun pembiayaan baru selama 2023.
Dirut BCA Finance Roni Hasyim mengatakan, terdapat sejumlah
tantangan untuk meningkatkan penjualan mobil listrik ke depan, seperti
ketersediaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) dan kapasitas
jarak tempuh. ”Untuk kami, sebagai pemberi pembiayaan, tantangan terbesarnya
adalah resale value EV (harga jual kembali mobil listrik). Kalau resale value
tidak bisa terbentuk dengan baik, tentu dari segi risiko akan meningkat,”
katanya di Jakarta, Jumat (16/2). Menurut Roni, pembentukan harga jual kembali mobil
listrik masih membutuhkan waktu lantaran ditentukan oleh beberapa hal, seperti
brand image, after sales yang baik, dan kualitas mobil. Oleh sebab itu, selama
harga jual kembali mobil listrik belum terbentuk, pemberi kredit akan berhati-hati
guna meminimalkan risiko. ”Kami menawarkan bunga dan jangka waktu sama, baik untuk
EV maupun mobil bensin. Selain itu, risiko pembiayaan akan semakin tinggi
apabila resale value-nya jelek, sedangkan untuk EV, kan, belum ketahuan resale
value-nya akan seperti apa,” imbuh Roni. (Yoga)
Ekonomi Masih Dibayangi Ketidakpastian Politik
Kendati pemilihan umum sudah berakhir, iklim investasi sepanjang
semester I tahun 2024 ini diperkirakan masih lesu. Investor masih bersikap wait
and see, menunggu hasil akhir penghi-tungan suara serta adanya potensi
sanggahan hasil pemilu di Mahkamah Konstitusi. Ekonomi global yang masih tak
tentu ikut pula menambah ketidakpastian. Berdasarkan hasil hitung cepat Litbang
Kompas per Jumat (16/2) pukul 13.08, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka
unggul dengan perolehan suara 58,45 %, disusul Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar
di 25,23 % dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD sebesar 16,32 %. Data sampel yang masuk
sudah 99,7 %. Sementara, berdasarkan hasil hitung akhir (real count) oleh KPU,
per Jumat pukul 14.00 WIB, Prabowo-Gibran memperoleh suara 57 %, Anies-Muhaimin
24,98 %, dan Ganjar-Mahfud 18,03 %.
Data sampel yang masuk sudah 54,91 % dari total 823.236 tempat
pemungutan suara (TPS). Meski demikian, ketidakpastian masih menyelimuti seusai
ditemukannya kesalahan penghitungan suara di sejumlah TPS. Ada perbedaan jumlah
suara antara formulir C Hasil Plano dan angka yang terbaca di Sistem Informasi
Rekapitulasi (Sirekap). Menyusul temuan itu, legitimasi pemilu mulai dipertanyakan.
Dua kandidat pasangan calon lain pun berencana menggugat hasil pemilu ke MK dan
Bawaslu. Melihat situasi politik terkini yang belum stabil itu, Kepala Ekonom
Bank Permata Josua Pardede menilai, arus investasi riil pada awal tahun 2024
kemungkinan besar belum akan kembali pulih seperti semula, khususnya dari investor
asing.
”Investor asing masih akan wait and see sesuai dengan
karakteristik mereka yang cenderung sangat melihat regulasi. Mereka akan
memilih melihat hasil resmi, yakni hasil real count KPU, dan apakah ada sanggahan
terhadap hasil pemilu di MK,” kata Josua saat dihubungi di Jakarta, Jumat. Stabilitas
politik di dalam negeri dinilai belum cukup aman untuk menarik investor sepanjang
semester I-2024. Hal itu akan berdampak pada arah pertumbuhan ekonomi di awal
tahun ini mengingat investasi adalah motor utama pertumbuhan ekonomi RI setelah
konsumsi rumah tangga. (Yoga)
Langkah Ekonomi Jepang
Ekonomi Jepang tengah menghadapi masalah. Problem mereka
sepertinya di berbagai sisi. Sama-sama terpangkas pertumbuhannya, perekonomian Jepang
lebih buruk dari Jerman. Dampaknya, Jepang yang menyerap rata-rata 10 % ekspor
Indonesia itu kini disingkirkan Jerman dari tiga besar negara terkaya. Kabinet Jepang
pada Kamis (15/2) mengungkap, total PDB Jepang 2023 bernilai 4,21 triliun USD,
sementara PDB Jerman 4,46 triliun USD. Karena itu, Jerman kini menjadi negara
terkaya ketiga setelah AS dan China (Kompas.id, 15/2/2024). Salah satu penyebab
rendahnya PDB Jepang adalah nilai tukar mata uang yang melemah sekitar 100 %
selama satu dekade. Akibatnya, sebenarnya PDB mereka dalam yen tetap tinggi,
tetapi dalam USD terus terpangkas. Penurunan nila tukar ini otomatis menurunkan
nilai PDB Jepang dalam USD lebih rendah.
Konsumsi dalam negeri Jepang dilaporkan turun. Pengeluaran
untuk makan di luar, transportasi, dan layanan hiburan meningkat seiring peningkatan
jumlah orang yang bepergian, tapi terjadi penurunan di berbagai pengeluaran,
seperti makanan dan perumahan. Ekspor Jepang juga mulai mengalami masalah.
Ekspor andalan Jepang, yaitu produk otomotif, juga mulai tersaingi oleh China.
Sepanjang 2023, Jepang mengekspor 4,42 juta unit kendaraan. Sebaliknya,
berdasarkan data Asosiasi Produsen Mobil China, Beijing mengekspor 4,91 juta
unit kendaraan. Data ini menjadi tanda bahwa industri otomotif Jepang mulai terdisrupsi.
Apalagi, pasar China yang merupakan pasar produk otomotif Jepang tengah
mengalami pelemahan. Dampaknya dikhawatirkan akan menekan industri otomotif
Jepang. Jepang membutuhkan langkah lebih besar lagi agar kembali menjadi tiga
besar kekuatan ekonomi dunia. Mereka membutuhkan terobosan kebijakan ekonomi di
berbagai bidang agar masalah mendasar segera selesai. (Yoga)
Kerugian Korupsi Timah Puluhan Triliun Rupiah
Kejaksaan Agung kembali menetapkan lima tersangka dalam kasus
dugaan korupsi tata niaga komoditas timah wilayah izin usaha pertambangan (IUP)
PT Timah Tbk tahun 2015-2022. Dua di antaranya adalah bekas Dirut dan Direktur Keuangan
PT Timah Tbk. Dari penyidikan yang sudah berjalan sampai saat ini, penyidik
meyakini bahwa kerugian yang ditimbulkan dari kegiatan ilegal tersebut mencapai
puluhan triliun rupiah, melampaui kerugian dalam kasus korupsi PT Asabri yang mencapai
Rp 22,7 triliun. Direktur Penyidikan pada Jampidsus Kejagung Kuntadi
menyampaikan, penyidik menetapkan lima orang yang sebelumnya berstatus sebagai
saksi menjadi tersangka. Penetapan tersebut dilakukan setelah pemeriksaan para
saksi dan adanya alat bukti yang cukup.
Para tersangka itu adalah MRPT alias RZ selaku Dirut PT Timah
Tbk tahun 2016-2021, EE alias EML selaku Direktur Keuangan PT Timah Tbk tahun
2017-2018, SG alias AW selaku pengusaha tambang di Kota Pangkal Pinang,
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, MBG selaku pengusaha tambang di Kota
Pangkal Pinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dan HT alias ASN selaku
Direktur Utama CV VIP. CV VIP merupakan perusahaan milik Tamron alias Aon,
sosok yang sudah lebih dulu ditetapkan sebagai tersangka pada kasus ini. ”Perbuatan
para tersangka mengakibatkan kerugian keuangan negara yang dalam proses
penghitungannya melebihi kerugian negara dari perkara korupsi lain, seperti PT
Asabri dan Duta Palma Group,” kata Kuntadi dalam keterangan pers virtual, Jumat
(16/2). (Yoga)
Ujung Jalan Penyelesaian Sengketa Pemilu
Keajaiban China Berakhir, Bagaimana Nasib RI?
Era keajaiban China yang ditandai pertumbuhan ekonomi tinggi diperkirakan
segera berakhir. China bakal memasuki era steady-state economy. Indonesia perlu
mewaspadai dampak sekaligus menangkap peluang ekonomi dari kondisi itu. Pertumbuhan
ekonominya sempat melejit menjadi 8,45 % pada 2021 seusai terpuruk minus 2,24 %
pada 2020. Namun, anjlok menjadi 2,99 % pada 2022 dan hanyatumbuh 5,2 % pada
2023. Setelahnya, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi
China bakal terus merosot dari 4,6 % pada 2024 menjadi 3,38 % pada 2028. Harga
barang dan jasa di tingkat konsumen dan produsen juga mengalami deflasi terburuk.
Hal itu merupakan cerminan pelemahan daya beli masyarakat, sekaligus
tertahannya geliat industri domestik China. Pada Januari 2024, China mengalami
deflasi 0,8 % secara tahunan. Harga barang dan jasa di tingkat produsen juga
deflasi 2,5 % secara tahunan.
Indeks Harga Produsen (IHP) tersebut masih melanjutkan tren
deflasi selama 16 bulan berturut-turut sejak Oktober 2022. Yiping Huang, Guru
Besar Bidang Pembangunan Universitas Peking, dalam artikelnya, ”Has the Chinese
Economy Hit The Wall?” mengupas keresahan tersebut. ”Apakah keajaiban ekonomi Tiongkok
sudah berakhir? Jawabannya mungkin, ya, karena tidak ada keajaiban yang
bertahan selamanya,” tulisnya dalam artikel yang dimuat dalam East Asia Forum,
10 Oktober 2023. Ia menjelaskan, pendapatan yang lebih tinggi dan biaya tenaga
kerja yang lebih tinggi, serta kondisi eksternal yang memburuk dan populasi
yang menua, semuanya merupakan hambatan jangka panjang yang serius terhadap
tingginya pertumbuhan. Perang dagang dengan AS, pandemi Covid-19, dan krisis
properti semakin memperkuat tantangan perlambatan ekonomi China.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W
Kamdani, Jumat (16/2) juga berpendapat sama. Dengan PDB per kapita lebih dari
12.000 USD, ekonomi China sudah berada di ambang batas negara berpendapatan
tinggi. Jadi cukup sulit bagi China untuk memiliki tingkat pertumbuhan tinggi
seperti 10-15 tahun terakhir. Ekonomi China yang tumbuh 5,2 % pada 2023 saja sebetulnya
sudah fantastis. Hal itu lantaran sejumlah negara yang memiliki PDB per kapita
yang setara, seperti Brasil, hanya tumbuh 3,4 % pada 2023. Menurut Shinta,
perlambatan pertumbuhan ekonomi China perlu dilihat sebagai pertumbuhan yang
”new normal”. Apalagi, sejak muncul tren diversifikasi rantai pasok nilai global
China, perang dagang dengan AS dan penuaan penduduk, kinerja ekonomi China
sudah tidak seperti sebelumnya.
China merupakan mitra dagang terbesar dan investor utama
Indonesia. Kontribusi ekspor ke China pada 2023 dan Januari 2024 terhadap total
ekspor Indonesia sebesar 25,09 % dan 23,09 %. Penanaman modal asing (PMA) China
di Indonesia sejak 2018 hingga 2022 tumbuh dari 2,37 miliar USD menjadi 8,22
miliar USD. Per triwulan III-2023, PMA tersebut sebesar 1,8 miliar USD. Menurut
Shinta, berakhirnya pertumbuhan ekonomi tinggi China itu bisa berdampak buruk
sekaligus baik bagi Indonesia. Dampak negatifnya, ekspor Indonesia ke China
berpotensi turun, sedangkan impor dari China berpotensi naik lantaran harga produknya
semakin murah. Deflasi yang terjadi di China pada Januari 2024 turut memicu
penurunan kinerja ekspor Indonesia. BPS mencatat, kinerja ekspor Indonesia ke
China pada Januari 2024 hanya 4,57 miliar USD atau turun 20,73 % secara bulanan
dan 12,92 % secara tahunan. Kondisi ekonomi China tersebut bisa menjadi peluang
bagi investasi Indonesia, terutama di sektor industri manufaktur, yang hanya terjadi
bila Indonesia memiliki iklim usaha yang
kompetitif di kawasan dan meningkatkan partisipasi dalam rantai pasok nilai
global. (Yoga)
Pilihan Kian Beragam, Konsumen Diuntungkan
United Tractors Tetap Ekspansi ke Bisnis Mineral
Bank Muamalat Targetkan Penyaluran KPR Rp 5,3 Triliun
Telkom Terus Perkuat Bisnis Satelit
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









