Ekonomi
( 40465 )Dunia Kembali di Ambang Resesi
Melihat Isi Si Pendatang Baru Yang Kontroversial
DIVESTASI VALE INDONESIA : Harga Khusus Saham INCO untuk Pemerintah
PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) selangkah lebih dekat untuk mendapatkan izin usaha pertambangan khusus sebagai pengganti kontrak karya, setelah menyepakati harga divestasi 14% sahamnya kepada PT Mineral Industri Indonesia (Persero).Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif membeberkan, PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID telah mencapai kesepakatan dengan INCO mengenai harga untuk 14% yang akan didivestasikan oleh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tersebut. Meski belum secara gamblang menyampaikan harga per lembar saham INCO yang disepakati dalam salah satu proses untuk tetap bisa beroperasi di Indonesia, Arifin memastikan bahwa harga yang akan dibayarkan MIND ID nantinya di bawah harga pasar saat ini.
“Sudah deal atas harganya. Sesuai dengan proporsi saham yang dilepas. Kepalanya tetap Rp3.000 [per saham],” katanya, Jumat (16/2).
INCO memang tengah menyelesaikan proses divestasi 14% kepemilikan saham Vale Canada Limited dan Sumitomo Metal Mining Co., Ltd kepada MIND ID yang merupakan badan usaha milik negara (BUMN) holding pertambangan.
Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia Axell Ebenhaezer menilai harga divestasi INCO di sekitar Rp3.000 tergolong cukup murah jika dibandingkan dengan nilai pasar saat ini.
Harga divestasi yang berada di bawah harga pasar atau harga diskon memberikan sentimen negatif bagi saham INCO. Axell mengatakan, kemungkinan saham INCO akan tertekan, karena harga divestasi ini dapat dianggap sebagai implied fair value atau nilai wajar untuk saham INCO.
Pada penutupan perdagangan kemarin, saham INCO bergerak di jalur merah dan parkir di level Rp3.690 per saham. Posisi ini tergerus 7,75% atau 310 poin dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya di level Rp4.000.
Pasar Otomotif Menantang
Penjualan mobil sepanjang tahun lalu masih jauh dari yang ditetapkan. Daya beli masyarakat yang belum membaik menjadi salah satu faktor penurunan. Tahun ini, pasar otomotif diharapkan dapat lebih baik dibandingkan perolehan 2023. Untuk mencapai kinerja positif, sejumlah Agen Pemegang Merek (APM) telah menyiapkan strategi. Memproduksi kendaraan mengikuti kebutuhan konsumen dan mendorong pembuatan mobil berbasis baterai. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil sejak beberapa tahun lalu tidak bergerak di angka 1 juta unit per tahun. Pada 2023, merujuk data Gaikindo, penjualan mobil mencapai 1 juta, turun 4% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebanyak 1,04 juta unit. Sementara untuk total produksi, pada 2023 pabrikan mobil di Tanah Air berhasil membuat 1,39 juta unit, turun 5% dibandingkan dengan 2022 sebanyak 1,47 juta. Tingginya angka produksi karena sebagian dikirim ke mancanegara.
Berdasarkan data Asean Automotive Federation, penjualan mobil di Thailand pada 2023 mencapai 775.780 unit turun 8,7% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu 849.388 unit. Sementara itu produksi tercatat lebih besar lagi yaitu sebanyak 1,84 juta unit, turun tipis dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebanyak 1,88 juta unit. Di tengah menurunnya pasar domestik, produsen otomotif tetap percaya raihan tahun ini akan lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu.
Di awal tahun ini, penjualan mobil masih negatif yaitu secara wholesales mencapai 69.619 unit turun 26,1% dibandingkan dengan Januari 2023 yang mencapai 94.270 unit. Guna menaikkan penjualan, berbagai acara berskala nasional pun digelar, salah satunya Indonesia International Motor Show (IIMS). Mengaca pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya, pameran cukup membantu penjualan. Berbagai pemanis yang ditebar selama pameran diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat terhadap kendaraan baru.
ndustri otomotif yang padat karya dan modal harus terus dijaga. Peningkatan daya beli masyarakat, kemudahan mendapatkan pembiayaan, pemberian insentif sangat diharapkan industriawan.
AKSI KAI : Lokomotif Baru untukAngkut Batu Bara
Direktur Utama Kereta Api Indonesia atau KAI Didiek Hartantyo mengatakan, kesepakatan perseroan dengan anak perusahaan Caterpillar itu merupakan salah satu upaya pengembangan angkutan barang di Sumatra Selatan. Pengadaan 54 lokomotif baru itu, kata dia, merupakan kelanjutan dari pembelian 91 lokomotif yang sebelumnya dilakukan perusahaan sejak 2011. Nantinya, 54 lokomotif baru berjenis GT38AC atau yang dikenal di Indonesia sebagai CC-205 itu akan didatangkan secara bertahap mulai April 2025 hingga 2026. Menurutnya, kemampuan lokomotif CC-205 yang bisa menarik kereta atau gerbong besar bakal memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi dan pengurangan emisi karbon. Apalagi, lokomotif itu juga dilengkapi dengan teknologi terbaru, serta fitur-fitur ramah lingkungan. Executive Vice President of Locomotive Progress Rail Jack Zhang mengatakan, pihaknya menyambut baik kesempatan bekerja sama dengan KAI melalui penjualan lokomotif seri GT. Lokomotif yang akan didatangkan KAI itu memang dirancang khusus untuk lingkungan di Asia Tenggara, dan sudah terbukti bisa beroperasi baik dengan menggunakan Biodiesel B-35.
MENJAGA 'KEPUL' MANUFAKTUR
Urusan kinerja neraca dagang, Indonesia memang ‘jagonya’. Buktinya, sudah 45 bulan berturut-turut neraca perdagangan nasional surplus. Teranyar, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2024 surplus US$2,01 miliar, yang diperoleh dari nilai ekspor sebesar US$20,52 miliar minus nilai impor US$18,51 miliar. Kendati demikian, jika ditelusuri lebih jauh sejatinya ada hal yang cukup merisaukan. Salah satunya adalah deru mesin produksi manufaktur yang berisiko makin lirih terdengar. Gelagat itu tampak jika melihat data BPS yang menunjukkan bahwa terjadi penurunan nilai impor, terutama bahan baku/penolong. Artinya, suplai bahan baku industri manufaktur tak sekencang periode sebelumnya. Dus, hasil produksi salah satu sektor andalan penopang ekspor itu pun berisiko seret.
Plt. Kepala BPS Amalia A. Widyasanti mengatakan bahwa impor bahan baku/penolong pada Januari 2024 menyusut 2,96% (year-on-year/YoY) menjadi US$13,48 miliar daripada bulan yang sama 2023 senilai US$13,89 miliar. BPS mencatat, bahan baku/penolong menyumbang 72,81% dari total impor pada Januari 2024 yang mencapai US$18,51 miliar. Mengacu data terdahulu, rupanya penurunan impor bahan baku/penolong sudah berlangsung sejak Januari 2023. Bila dihitung Januari 2023-Januari 2024, total nilai impor bahan baku/penolong telah anjlok 10,51% menjadi US$174,63 miliar, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan Kasan mengungkap sejumlah faktor yang memicu penurunan impor bahan baku/penolong pada awal 2024. Beberapa di antaranya yakni permintaan domestik yang lesu, penurunan harga komoditas impor, serta pola musiman, di mana sebagian perusahaan masih menyimpan sisa stok bahan baku tahun lalu. Kementerian Perdagangan juga segera mengimplementasikan kebijakan dan pengaturan impor melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.36/2023 pada Maret 2024.
Sebaliknya, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Khamdani menyatakan perlambatan pertumbuhan impor bahan baku/penolong pada Januari 2024 dipicu kebijakan restriksi terhadap impor dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 46/2023 sebagai perubahan PP No. 28/2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Perindustrian.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede berpandangan peningkatan impor barang konsumsi dan barang modal secara tahunan masing-masing sebesar 11,03% YoY dan 10,16% YoY mengindikasikan permintaan domestik yang kuat.
Sebaliknya, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira berpendapat pemerintah perlu mewaspadai kenaikan impor barang konsumsi terutama dari China. Pada Januari 2024, nilai impor barang konsumsi naik 11,03% secara tahunan menjadi US$1,77 miliar.
Pengelolaan Utang Luar Negeri masih Terkendali
Ancaman Neraca Perdagangan Defisit
Terjungkal di Kandang Banteng
Terendah di Antara Tetangga
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









