;
Kategori

Ekonomi

( 40465 )

Dunia Kembali di Ambang Resesi

17 Feb 2024
Tidak ada bulan madu bagi calon presiden dan wakil presiden pemenang Pemilu 2024. Memburuknya kondisi ekonomi sejumlah negara maju, bakal menmenjadi batu sandungan pemulihan ekonomi global. Bahkan kini dunia di ambang resesi lagi. Dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia bahkan kini sudah masuk jurang resesi. Salah satunya Jepang, dengan mencatatkan penurunan produk domestik bruto (PDB) periode Oktober -Desember 2023 sebesar 0,4% secara tahunan. Sementara pada kuartal sebelumnya, ekonomi Jepang turun 3,3%. Bank of Japan menyebutkan, perekonomian negara tersebut melemah akibat perlambatan belanja dunia usaha. Sementara sektor ritel bergulat dengan inflasi yang kini berada di level tertinggi dalam empat dekade terakhir. Jepang juga dihadapkan pada melemahnya yen dan kenaikan harga pangan. Hal ini membuat Jepang turun peringkat dan kini di posisi keempat sebagai ekonomi terbesar dunia setelah Jerman. Di Eropa, kondisi buruk juga dialami Inggris. Ekonomi  Inggris berkontraksi sebesar 0,3% dalam tiga bulan hingga Desember, setelah sebelumnya turun 0,1% pada periode Juli-September 2023. Data ini memperlihatkan, Inggris sebagai bagian dari negara maju kelompok tujuh (G7) mengalami resesi. Bagi Indonesia, efek pelemahan ekonomi Jepang misalnya, berdampak besar. Masalah ini juga  menjadi tantangan bagi pemerintahan baru. Ekonom sekaligus Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira berpendapat, komoditas ekspor Indonesia ke Jepang yang terdampak di antaranya, batubara dengan nilai ekspor US$ 8,8 miliar. Tidak hanya itu, masih ada ekspor komponen elektronik ke Jepangsebesar US$ 1,5 miliar. Termasuk eksor nikel senilai US$ 1,2 miliar. Kondisi ini makin parah karena penyebab utama pelemahan ekonomi ini  adalah China. Meski belum masuk jalur resesi, China diperkirakan akan mengikut Jepang. Berdasarkan konsesus analis di kuartal I-2024, China akan kontraksi ke 0,9% dari kuartal sebelumnya yang berada di posisi 1%. Cara lain, menurut Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P. Sasmita, Indonesia  bisa mencari pasar baru seperti di kawasan  Timur Tengah, India, Afrika, dan Amerika Latin.

Melihat Isi Si Pendatang Baru Yang Kontroversial

17 Feb 2024
Emiten pendatang baru di Indeks LQ45 yang sempat memicu kontroversi, PT Mitra Pack Tbk (PTMP), berjanji bakal menyisihkan sebagian laba bersihnya sebagai dividen untuk para pemegang saham. Perusahaan yang bergerak di bidang industri kemasan ini berencana mengalokasikan 30%40% laba bersih tahun buku 2023 sebagai dividen. Direktur Utama Mitra Pack. Ardi Kusuma mengatakan, aksi korporasi merupakan hasil rapat internal manajemen. Rencana pembagian dividen tersebut akan diajukan kepada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada April 2024. "Rencananya kami menggelar RUPST setelah lebaran untuk mengusulkan pembagian dividen 30%40% dari laba bersih dan sisanya untuk ekspansi," jelas Ardi, Kamis (15/2). Ardi mengatakan, PTMP masih tetap membutuhkan dana untuk menggelar ekspansi bisnis. Makanya PTMP tidak bisa membagikan 100% laba bersih untuk dividen. Sedangkan rincian besaran jumlah dan potensi dividend yield PTMP masih harus menunggu keputusan RUPST. "Berdasarkan data internal, laba bersih PTMP sepanjang tahun 2023 yaitu sekitar Rp 12 miliar. Artinya kami akan membagikan Rp 4 miliar untuk dividen," ucap Ardi. Dari sisi bottom line, PTMP mencetak laba periode berjalan sebesar Rp 5,65 miliar. Angka ini lebih menurun 34,56% yoy dari Rp 8,63 miliar pada posisi yang sama pada 2022. Kendati kinerjanya masih stagnan, tahun ini Ardi optimistis dapat meraih pertumbuhan pendapatan dan laba bersih. Apalagi hasil pemilihan presiden (pilpres) menunjukkan pesta rakyat itu akan berlangsung dalam satu putaran. Ardi bilang, untuk target konservatif, PTMP memasang pertumbuhan pendapatan sebesar 15% pada tahun 2024. Sedangkan dalam skenario yang lebih agresif atau optimistis, PTMP mengincar kenaikan 30%. Investment Advisor Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis mengatakan, secara teknikal, rebound yang terjadi pada saham PTMP sejak beberapa hari lalu konsisten diikuti dengan volume yang solid. "Hal ini mengindikasikan terdapat akumulasi beli, sehingga membuka peluang

DIVESTASI VALE INDONESIA : Harga Khusus Saham INCO untuk Pemerintah

17 Feb 2024

PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) selangkah lebih dekat untuk mendapatkan izin usaha pertambangan khusus sebagai pengganti kontrak karya, setelah menyepakati harga divestasi 14% sahamnya kepada PT Mineral Industri Indonesia (Persero).Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif membeberkan, PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID telah mencapai kesepakatan dengan INCO mengenai harga untuk 14% yang akan didivestasikan oleh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tersebut. Meski belum secara gamblang menyampaikan harga per lembar saham INCO yang disepakati dalam salah satu proses untuk tetap bisa beroperasi di Indonesia, Arifin memastikan bahwa harga yang akan dibayarkan MIND ID nantinya di bawah harga pasar saat ini. “Sudah deal atas harganya. Sesuai dengan proporsi saham yang dilepas. Kepalanya tetap Rp3.000 [per saham],” katanya, Jumat (16/2). INCO memang tengah menyelesaikan proses divestasi 14% kepemilikan saham Vale Canada Limited dan Sumitomo Metal Mining Co., Ltd kepada MIND ID yang merupakan badan usaha milik negara (BUMN) holding pertambangan. Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia Axell Ebenhaezer menilai harga divestasi INCO di sekitar Rp3.000 tergolong cukup murah jika dibandingkan dengan nilai pasar saat ini. Harga divestasi yang berada di bawah harga pasar atau harga diskon memberikan sentimen negatif bagi saham INCO. Axell mengatakan, kemungkinan saham INCO akan tertekan, karena harga divestasi ini dapat dianggap sebagai implied fair value atau nilai wajar untuk saham INCO. Pada penutupan perdagangan kemarin, saham INCO bergerak di jalur merah dan parkir di level Rp3.690 per saham. Posisi ini tergerus 7,75% atau 310 poin dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya di level Rp4.000.

Pasar Otomotif Menantang

17 Feb 2024

Penjualan mobil sepanjang tahun lalu masih jauh dari yang ditetapkan. Daya beli masyarakat yang belum membaik menjadi salah satu faktor penurunan. Tahun ini, pasar otomotif diharapkan dapat lebih baik dibandingkan perolehan 2023. Untuk mencapai kinerja positif, sejumlah Agen Pemegang Merek (APM) telah menyiapkan strategi. Memproduksi kendaraan mengikuti kebutuhan konsumen dan mendorong pembuatan mobil berbasis baterai. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil sejak beberapa tahun lalu tidak bergerak di angka 1 juta unit per tahun. Pada 2023, merujuk data Gaikindo, penjualan mobil mencapai 1 juta, turun 4% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebanyak 1,04 juta unit. Sementara untuk total produksi, pada 2023 pabrikan mobil di Tanah Air berhasil membuat 1,39 juta unit, turun 5% dibandingkan dengan 2022 sebanyak 1,47 juta. Tingginya angka produksi karena sebagian dikirim ke mancanegara. Berdasarkan data Asean Automotive Federation, penjualan mobil di Thailand pada 2023 mencapai 775.780 unit turun 8,7% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu 849.388 unit. Sementara itu produksi tercatat lebih besar lagi yaitu sebanyak 1,84 juta unit, turun tipis dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebanyak 1,88 juta unit. Di tengah menurunnya pasar domestik, produsen otomotif tetap percaya raihan tahun ini akan lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu. Di awal tahun ini, penjualan mobil masih negatif yaitu secara wholesales mencapai 69.619 unit turun 26,1% dibandingkan dengan Januari 2023 yang mencapai 94.270 unit. Guna menaikkan penjualan, berbagai acara berskala nasional pun digelar, salah satunya Indonesia International Motor Show (IIMS). Mengaca pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya, pameran cukup membantu penjualan. Berbagai pemanis yang ditebar selama pameran diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat terhadap kendaraan baru. ndustri otomotif yang padat karya dan modal harus terus dijaga. Peningkatan daya beli masyarakat, kemudahan mendapatkan pembiayaan, pemberian insentif sangat diharapkan industriawan.

AKSI KAI : Lokomotif Baru untukAngkut Batu Bara

16 Feb 2024

Direktur Utama Kereta Api Indonesia atau KAI Didiek Hartantyo mengatakan, kesepakatan perseroan dengan anak perusahaan Caterpillar itu merupakan salah satu upaya pengembangan angkutan barang di Sumatra Selatan. Pengadaan 54 lokomotif baru itu, kata dia, merupakan kelanjutan dari pembelian 91 lokomotif yang sebelumnya dilakukan perusahaan sejak 2011. Nantinya, 54 lokomotif baru berjenis GT38AC atau yang dikenal di Indonesia sebagai CC-205 itu akan didatangkan secara bertahap mulai April 2025 hingga 2026. Menurutnya, kemampuan lokomotif CC-205 yang bisa menarik kereta atau gerbong besar bakal memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi dan pengurangan emisi karbon. Apalagi, lokomotif itu juga dilengkapi dengan teknologi terbaru, serta fitur-fitur ramah lingkungan. Executive Vice President of Locomotive Progress Rail Jack Zhang mengatakan, pihaknya menyambut baik kesempatan bekerja sama dengan KAI melalui penjualan lokomotif seri GT. Lokomotif yang akan didatangkan KAI itu memang dirancang khusus untuk lingkungan di Asia Tenggara, dan sudah terbukti bisa beroperasi baik dengan menggunakan Biodiesel B-35.

MENJAGA 'KEPUL' MANUFAKTUR

16 Feb 2024

Urusan kinerja neraca dagang, Indonesia memang ‘jagonya’. Buktinya, sudah 45 bulan berturut-turut neraca perdagangan nasional surplus. Teranyar, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2024 surplus US$2,01 miliar, yang diperoleh dari nilai ekspor sebesar US$20,52 miliar minus nilai impor US$18,51 miliar. Kendati demikian, jika ditelusuri lebih jauh sejatinya ada hal yang cukup merisaukan. Salah satunya adalah deru mesin produksi manufaktur yang berisiko makin lirih terdengar. Gelagat itu tampak jika melihat data BPS yang menunjukkan bahwa terjadi penurunan nilai impor, terutama bahan baku/penolong. Artinya, suplai bahan baku industri manufaktur tak sekencang periode sebelumnya. Dus, hasil produksi salah satu sektor andalan penopang ekspor itu pun berisiko seret. 

Plt. Kepala BPS Amalia A. Widyasanti mengatakan bahwa impor bahan baku/penolong pada Januari 2024 menyusut 2,96% (year-on-year/YoY) menjadi US$13,48 miliar daripada bulan yang sama 2023 senilai US$13,89 miliar. BPS mencatat, bahan baku/penolong menyumbang 72,81% dari total impor pada Januari 2024 yang mencapai US$18,51 miliar. Mengacu data terdahulu, rupanya penurunan impor bahan baku/penolong sudah berlangsung sejak Januari 2023. Bila dihitung Januari 2023-Januari 2024, total nilai impor bahan baku/penolong telah anjlok 10,51% menjadi US$174,63 miliar, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan Kasan mengungkap sejumlah faktor yang memicu penurunan impor bahan baku/penolong pada awal 2024. Beberapa di antaranya yakni permintaan domestik yang lesu, penurunan harga komoditas impor, serta pola musiman, di mana sebagian perusahaan masih menyimpan sisa stok bahan baku tahun lalu. Kementerian Perdagangan juga segera mengimplementasikan kebijakan dan pengaturan impor melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.36/2023 pada Maret 2024. 

 Sebaliknya, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Khamdani menyatakan perlambatan pertumbuhan impor bahan baku/penolong pada Januari 2024 dipicu kebijakan restriksi terhadap impor dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 46/2023 sebagai perubahan PP No. 28/2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Perindustrian. Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede berpandangan peningkatan impor barang konsumsi dan barang modal secara tahunan masing-masing sebesar 11,03% YoY dan 10,16% YoY mengindikasikan permintaan domestik yang kuat. Sebaliknya, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira berpendapat pemerintah perlu mewaspadai kenaikan impor barang konsumsi terutama dari China. Pada Januari 2024, nilai impor barang konsumsi naik 11,03% secara tahunan menjadi US$1,77 miliar.

Pengelolaan Utang Luar Negeri masih Terkendali

16 Feb 2024
Bank Indonesia (BI) mencatat, posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai US$ 407,1 miliar pada kuartal IV-2023. Angka ini tumbuh 2,7% secara year on year (yoy), meningkat dibandingkan dengan posisi kuartal sebelumnya yang tumbuh 0,02% (yoy). Adapun kinerja ULN tersebut masih dapat dikelola (managable) dan cukup prudent. Analisis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita menilai pertumbuhan ULN yang tinggi pada akhir  tahun 2023 dapat dipahami, karena penerbitan surat utang berdenominasi dolar AS cukup tinggi di kuartal III dan IV-2024 untuk menambal devisa yang tersedot untuk  operasi pasar sekunder  demi menahan pelemahan mata uang rupiah. "Langkah tersebut sangat bisa dipahami, karena  tujuannya untuk stabilitas mata uang. Jadi secara keseluruhan, jadi menurut hemat saya, masih cukup aman dan terkendali," jelas Ronny. (Yetede)

Ancaman Neraca Perdagangan Defisit

16 Feb 2024
Sudah 45 bulan berturut-turut neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus. Namun data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilainya terus turun. Realisasi surplus neraca perdagangan per Januari 2024 tercatat sebesar US$ 2,05 miliar. Angkanya lebih rendah dari surplus pada Desember 2023 dan Januari 2023, yang masing-masing sebesar US$ 3,29 miliar dan US$ 3,88 miliar. Nilainya kembali seperti awal rekor surplus pada 2020 yang berada di angka US$ 2,10-3,58 miliar.

Surplus sempat mencatatkan rekor hingga US$ 5,73 miliar pada Oktober 2021. Rekornya terpecahkan pada April 2022 dengan surplus mencapai US$ 7,56 miliar. Setelah itu, nilainya turun perlahan. Nilai surplus yang menyusut itu tak mengejutkan bagi sejumlah ahli. Kepala Ekonom PT Bank Central Asia David Sumual mengatakan kinerja ekspor tak semoncer sebelumnya karena tren penurunan harga komoditas. Indonesia mengandalkan komoditas sebagai penopang utama ekspor, salah satunya batu bara.

Pada periode Januari 2024, misalnya, BPS mencatat ekspor produk pertambangan menurun paling signifikan hingga 23,54 persen secara tahunan. Kondisi ini membuat nilai ekspor Indonesia turun 8,34 persen secara bulanan dan 8,06 persen secara tahunan menjadi US$ 20,52 miliar. (Yetede)

Terjungkal di Kandang Banteng

16 Feb 2024
Ganjar Pranowo dan Mahfud Md. serta semua ketua umum partai pengusung pasangan calon presiden nomor urut tiga itu berkumpul di gedung High End, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, kemarin siang. Mereka datang secara terpisah ke markas pusat kendali pemenangan Ganjar-Mahfud tersebut. Ketua Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Arsjad Rasjid, lebih dulu datang. Disusul Ketua Partai Hanura Oesman Sapta Odang, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Ketua Partai Persatuan Indonesia Hary Tanoesoedibjo, dan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan M. Mardiono. Hampir semua pengurus inti TPN Ganjar-Mahfud hingga level deputi juga datang ke High End. 

“Kami membahas dinamika pemungutan suara,” kata anggota TPN Ganjar-Mahfud, Beka Ulung Hapsara, Kamis, 15 Februari 2024. Dalam pertemuan itu, kata Beka, mereka membahas laporan dugaan kecurangan pemilu di berbagai daerah. Mereka juga mengevaluasi proses pemungutan suara Pemilu 2024, dua hari lalu. “Kami sedang mencermati apa yang sebenarnya terjadi tiga hari sebelum pemungutan suara,” kata Beka. BOesman Sapta Odang (OSO) mengatakan pertemuan itu membahas rencana menindaklanjuti berbagai dugaan pelanggaran pemilu di lapangan, baik ke lembaga penegak hukum, Badan Pengawas Pemilu, maupun Mahkamah Konstitusi. “Kami berkumpul untuk melakukan kebenaran-kebenaran tentang kebijakan pelaksanaan pemilu ini secara jujur dan adil bagi rakyat dan bangsa Indonesia,” kata OSO, kemarin.

Dua hari lalu, Komisi Pemilihan Umum menggelar pemungutan suara pemilihan presiden serta calon legislator dan senator. Hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei menunjukkan kemenangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka di atas angka 50 persen. Pasangan calon presiden dari Koalisi Indonesia Maju itu unggul jauh dari dua rivalnya, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dan Ganjar-Mahfud. Berdasarkan hasil sementara penghitungan suara calon presiden yang tertera pada situs web KPU hingga pukul 21.30 kemarin, perolehan suara Prabowo-Gibran mencapai 56,76 persen. Lalu disusul perolehan suara Anies-Muhaimin sebanyak 25,39 persen dan Ganjar-Mahfud 17,9 persen. (Yetede)


Terendah di Antara Tetangga

16 Feb 2024
Salah satu indikator kemajuan perekonomian negara adalah kinerja perdagangan, termasuk ekspor dan impor. Namun saat ini rasio perdagangan terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia masih rendah. Kecilnya rasio perdagangan terhadap PDB tersebut menunjukkan keterbukaan perdagangan Indonesia yang juga rendah. “Perdagangan internasional Indonesia belum sebaik beberapa negara di ASEAN,” kata Kepala Pusat Industri Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho kepada Tempo, kemarin. “Dengan kinerja yang rendah, berarti liberalisasi atau keterbukaan perdagangan dengan negara lain juga rendah.”

Rasio perdagangan terhadap PDB dianggap sebagai indikator pengaruh perdagangan internasional terhadap ekonomi suatu negara. Rasio ini dihitung dengan membagi nilai agregat impor dan ekspor dalam kurun waktu tertentu dengan PDB pada kurun waktu yang sama. Menurut laporan Prospek Ekonomi Indonesia yang dirilis Bank Dunia pada Desember 2022, rasio perdagangan terhadap PDB Indonesia turun dari 72 persen pada 2000 menjadi 33 persen pada 2020, terendah di antara negara-negara tetangga. Setelah Asia digulung krisis keuangan, keterbukaan perdagangan Indonesia berkurang lebih dari setengahnya, bertepatan dengan periode deindustrialisasi.

Bersamaan dengan penurunan keterbukaan perdagangan, kontribusi manufaktur terhadap PDB Indonesia juga turun secara signifikan, dari puncaknya sebesar 31 persen tahun 2002 menjadi 19 persen pada 2021.  Adapun pada 2022, rasio perdagangan terhadap PDB Indonesia naik menjadi 45 persen. Namun nilainya masih terendah di antara negara tetangga, seperti Singapura yang mencapai 337 persen dan Malaysia yang sebesar 147 persen. Porsi Indonesia dalam ekspor dunia stagnan dan lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara pembanding di kawasan. (Yetede)