Ekonomi
( 40600 )IBU KOTA NUSANTARA : Investor Siap Suntik Rp45 Triliun
Otorita Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara mengungkap delapan investor yang siap menyuntikkan dana mencapai Rp45 triliun untuk membangun hunian bagi aparatur sipil negara di ibu kota baru.Deputi Bidang Pembiayaan dan Investasi Otorita IKN Nusantara Agung Wicaksono menjelaskan progres investasi delapan investor untuk proyek dengan skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha itu tengah menunggu valuasi studi kelayakan di Kementerian Keuangan (Kemenkeu).“Hunian untuk ASN (aparatur sipil negara) itu dari delapan investor yang sudah menyelesaikan studi kelayakan sekarang sedang divaluasi oleh Kemenkeu karena ini nanti dari KPBU itu dari capexnya saja minimal Rp45 triliun untuk pembangunan,” jelasnya ditemui di area perkantoran Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Senin (19/2).
Dalam paparan yang dibagikan, investor yang siap menggarap hunian ASN tersebut berasal dari dalam dan luar negeri. Beberapa di antaranya yakni, China, Malaysia dan Indonesia.Berdasarkan catatan Bisnis, salah satu perusahaan asal China yakni Citic Construction yang tergabung dalam Konsorsium Nusantara bersama dengan PT Risjadson Brunsfi eld Nusantara akan membangun sebanyak 60 menara rumah susun untuk Kementerian Pertahanan dan Keamanan dengan investasi sebesar Rp30,8 triliun.
Ekonom Bank Mandiri: Resiliensi Ekonomi Bakal Berlanjut
Hati-hati Terapkan Pembatasan Impor Bahan Baku
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meminta pemerintah berhati-hati dalam menerapkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 36 Tahun 2023 Tentang kebijakan dan Pengaturan Impor bahan baku manufaktur. Bagi Apindo, pelarangan terbatas (lartas) yang tidak tepat di satu sektor indutari akan menimbulkan gangguan rantai pasok di industri lain, dalam hal ini pengguna bahan baku. Apalagi sebagian industri hulu lokal belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan bahan baku industri di dalam negeri. Pada titik ini, industri hilir mengimpor bahan baku untuk memproduksi barang. Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani mengatakan, pihaknya memahami kepentingan besar pemerintah untuk industri dalam negeri melalui penerbitan Mendag 36/2023. Pemerintah juga telah dengan baik mengatur tata kelola impor yang ditujukan untuk meningkatkan produkstivitas industri antara dan hilir. (Yetede)
Menjaga Pertumbuhan Ekonomi Tetap 5%
Siasat Berhemat Saat Harga Bahan Pokok Melesat
Dompet warga kelas ekonomi menengah turut terdampak akibat
kenaikan harga bahan pokok yang kian melesat. Mereka pun harus memiliki siasat
untuk berhemat. Warga Jakarta Timur, Alfiyah (35) meminta uang lebih sebesar Rp
150.000 kepada suaminya untuk belanja bulanan akibat harga sejumlah komoditas
naik, seperti cabai merah hingga beras. ”Yang paling terasa itu harga cabai
rawit dari Rp 65.000 menjadi Rp 90.000 per kg dalam seminggu. Naiknya tidak
tanggung-tanggung, Rp 25.000,” katanya, Senin (19/2). Alfiyah mengaku tidak mengurangi
atau mengubah masakannya, kecuali pengurangan cabai. Ia lebih memilih menambah
pengeluaran dibandingkan pemangkasan pengeluaran. Belanja bulanan bahan pangan
yang biasanya dianggarkan Rp 3,5 juta untuk empat orang, kini ditambah Rp 150.000
sejak awal Februari.
”Paling mengurangi cabai saja. Kalau harga cabai lagi murah,
pakai cabainya untuk sambal lebih banyak. Kalau harga naik, jumlahnya
dikurangi,” tutur Alfiyah yang juga bekerja sebagai pedagang baju ini. Satu
bulan lalu, harga beras premium Rp 75.000 per 5 kg. Lalu, naik menjadi Rp
84.000 per 5 kg. Meski kenaikan hanya Rp 10.000, sangat terasa bagi Alfiyah. Karyawan
swasta di Jakarta Pusat, Rista Ayodia (24) merasa kenaikan harga di sejumlah
komoditas turut memengaruhi pemangkasan diskon dalam berbelanja makanan secara
daring di lokapasar. ”Sebagai anak kos, saya lebih sering memesan makanan secara
daring karena menunya lebih beragam dan banyak diskon. Tetapi, sejak sebulan
terakhir, saya merasa promo yang ditawarkan semakin berkurang. Biasanya Rp
32.000 sudah dapat dua makanan, tetapi sekarang nyaris Rp 40.000 untuk dua
makanan harga termurah,” kata Rista.
Rista harus putar otak, selisih harga Rp 5.000 hingga Rp
10.000 cukup tinggi baginya. Ia pun mulai beralih membeli makanan secara
langsung ke warung terdekat dengan harga Rp 15.000 per porsi, yang sesuai
anggarannya. Penghasilan Rista sebulan Rp 7 juta. Warga asal Magelang, Jateng,
ini hidup sendiri dengan menyewa kos di Jakarta. Kenaikan harga kebutuhan pokok
juga berdampak pada pelaku usaha makanan di Jakarta. Para penjual makanan harus
menempuh beragam strategi agar bertahan. Penjual sate taichan di Jaksel, Ahmad
Hartono (32) misalnya, menambahkan lebih banyak air di sambal buatannya. ”Bahan
utama di sate taichan itu cabai. Jadi harus tetap ada dan enak. Saya menambahkan
sedikit air agar sambalnya bisa lebih banyak karena harga cabai sangat mahal
sekarang,” katanya. (Yoga)
Hunian Murah Impian Kelas Menengah
Dewasa ini, hunian merupakan kebutuhan primer yang semakin
sulit dijangkau. Harganya yang terus melejit telah membuat banyak orang,
terutama generasi muda kelas menengah berpenghasilan tanggung, semakin
berandai-andai akankah mereka dapat memiliki hunian layak untuk berteduh. Salah
satu penyebab harga properti terus merangkak naik saban tahun ialah
ketersediaan lahan yang makin hari makin susut. Hal ini tidak lepas dari pertumbuhan
populasi penduduk. Ditambah, urbanisasi tak lagi dapat terbendung,
mengakibatkan lahan-lahan di perkotaan semakin tergerus. Hukum pasar
supply-demand pun berlaku, makin banyak permintaan, makin tinggi pula harga
lantaran pasokan terbatas. Artinya, pertumbuhan demografi penduduk telah menciptakan
permintaan yang tinggi. Sementara ketersediaan lahan terus menyusut. Di kawasan
Sentul, Bogor, Jabar, pengembang menawarkan hunian yang dibanderol Rp 700 juta per
unit. Bagi kalangan masyarakat berpenghasilan tanggung, kurang lebih Rp 8 juta
per bulan, hunian tersebut cukup ideal. Namun, harga di level itu masih sulit
dijangkau.
Alhasil, keinginan memiliki rumah itu berakhir menjadi angan
semata. Dengan penghasilan tanggung, Septian (29), karyawan swasta di Jakarta, merasa
pasaran harga hunian di wilayah Jabodetabek makin tak tergapai. Mau tidak mau, upaya
untuk mendapatkan hunian ideal harus ditempuhnya dengan ”menyalakan” dua dapur.
”Dengan total pendapatan berdua sekarang, mungkin bisa berani ambil KPR (kredit
pemilikan rumah) yang tenornya 15 tahun, dengan cicilan Rp 5 juta per bulan
untuk harga rumah di kisaran Rp 600 juta-Rp
700 juta. Akan tetapi, kalau masih bujang, belum berani ambil rumah, mending sewa
atau indekos,” ujarnya saat ditemui di Jakarta, Minggu (18/2). Menurut dia, terdapat
pilihan hunian lain yang harganya jauh lebih terjangkau. Namun, lelaki yang
baru membangun rumah tangga tersebut harus mengorbankan jarak tempuh yang
semakin jauh menuju tempat kerjanya. Artinya, ia harus mengalokasikan biaya
transportasi untuk pergi-pulang bekerja. (Yoga)
Saham Berorientasi ESG Berprospek Cerah
Saham perusahaan yang mengedepankan keberlanjutan lingkungan,
sosial, dan tata kelola atau ESG dapat menjadi pilihan bagus bagi investor untuk
mendulang keuntungan lebih. Perusahaan, khususnya yang tercatat di Bursa Efek
Indonesia, dipastikan memiliki fundamen keuangan dan bisnis yang berkualitas.
Prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) yang diterapkan suatu perusahaan
tercatat di bursa atau emiten tidak hanya mementingkan keuntungan finansial, tetapi
juga keuntungan dari tata kelola yang baik dalam hal menjaga lingkungan dan kesejahteraan
masyarakat. Hal ini sejalan dengan upaya global untuk menahan laju perubahan
iklim dan mengimplementasikan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB. Retail
Research Analyst CGS International Sekuritas Indonesia, Andrian A Saputra,
mengatakan, ESG harus menjadi faktor nonfinansial yang dipertimbangkan investor
dalam menilai aktivitas bisnis suatu perusahaan. Sejauh ini, ESG telah menjadi
matriks utama investasi dan referensi emiten melaporkan dampak bisnis mereka
yang akan membantu menjaga reputasi perusahaan.
”Ketika berinvestasi, selama ini kita banyak mempertimbangkan
faktor kinerja keuangan, seperti perhatikan net income, liabilitas, dan aspek
keuangan lainnya. Aspek non-financial seperti ESG ini dapat jadi indikator juga
untuk pilih perusahaan selain yang bisa kasih potensi cuan oke, tapi juga
secara bisnis mampu merawatlingkungan," ujar Andrian dalam seminar daring,
Senin (19/2). Investor dalam negeri bisa dengan mudah mengenali perusahaan
lokal yang telah berorientasi ESG dengan membaca daftar emiten di empat Indeks
di Bursa Efek Indonesia (BEI). Empat indeks itu adalah Indeks ESG Leaders
(IDXESGL), ESG Sector Leaders IDX Kehati SRI-Kehati, dan ESG Quality 45 IDX
Kehati. Indeks tersebut mengumpulkan puluhan saham dengan kinerja keuangan dan
likuiditas transaksi baik, termasuk yang bekerja sama dengan Yayasan Keanekaragaman
Hayati Indonesia (Kehati). (Yoga)
Singapura Wajibkan Pesawat Gunakan SAF
Menteri Transportasi Singapura Chee Hong Tat mengumumkan
kebijakan penerbangan baru pada Senin (19/2). Dimana pada 2026, kadar bahan
bakar berkelanjutan (SAF) pada bahan bakar pesawat dari Singapura minimum 1 %.
Pada 2030, kadarnya dinaikkan menjadi sekurangnya 5 %. Singapura menyusul
Perancis yang lebih dulu mengumumkan kewajiban penggunaan SAF. Pada 2025, semua
pesawat dari Perancis harus menggunakan bahan bakar dengan kadar SAF minimum 2
%. Pada 2030, kadarnya menjadi 5 %. Menurut Chee, SAF, antara lain, terdiri
dari biomassa dan sampah. Harganya lima kali lebih mahal dibanding harga BBM
pesawat saat ini. Penumpang akan menanggung dampak kenaikan biaya tersebut.
Bentuknya berupa ke naikan harga tiket pesawat.
Otoritas penerbangan Singapura masih menghitung mekanisme
kenaikan itu. Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) menargetkan
industri penerbangan global mencapai karbon netral pada 2050. Kini, hingga 3 % emisi
karbon global dihasilkan dari penerbangan. Asosiasi Angkutan Udara Internasional
(IATA) menaksir penggunaan SAF harus dipacu menjadi 65 % pada 2050. Jika tidak,
target karbon netral industri penerbangan sulit tercapai. Dirjen IATA Willie
Walsh mengatakan, butuh 3,2 triliun USD untuk mewujudkan rencana itu. ”Ada biaya
terkait transisi menuju karbon netral. Pada akhirnya, biaya itu akan tecermin
pada harga tiket yang kami bebankan ke konsumen,” ujarnya. (Yoga)
Kinerja Ekspor Indonesia Tertekan Resesi Global
Alarm waspada menyala dari pasar global. Sejumlah negara mitra dagang Indonesia resmi memasuki resesi ekonomi, dengan pertumbuhan negatif selama dua kuartal berturut-turut. Misalnya Jepang, salah satu pemain ekonomi utama dunia. Negara Matahari Terbit itu mencatat pertumbuhan kuartal IV-2023 melorot 0,4% year-on-year (yoy), melanjutkan kontraksi 3,3% yoy di kuartal sebelumnya. Selanjutnya, perekonomian Inggris selama tiga bulan terakhir 2023 turun 0,3% yoy, bahkan lebih dalam dari penyusutan 0,1% yoy pada kuartal III-2023. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai, performa kedua negara itu akan berdampak ke Indonesia, terutama dari jalur perdagangan dan investasi. Dari sisi perdagangan, nilai ekspor Indonesia ke Jepang di sepanjang 2023 tercatat senilai US$ 18,88 miliar, menyusut 19% dibandingkan realisasi ekspor 2022. Angka ekspor ke Jepang pada tahun lalu memegang porsi 7,63% terhadap total ekspor Indonesia. Sedangkan dari sisi penanaman modal asing (PMA), Jepang menduduki peringkat keempat sebagai negara yang paling banyak membenamkan investasinya di Indonesia. Dana investasi dari Jepang di sepanjang tahun lalu tercatat sebesar US$ 4,6 miliar.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede juga mewanti-wanti, resesi Jepang akan berdampak signifikan pada Indonesia. "Dampaknya akan dirasakan dari sisi perdagangan dan investasi," terang dia, kemarin. Produk utama ekspor Indonesia ke Jepang antara lain batubara, bijih tembaga, produk peralatan dan mesin elektronik, serta nikel. Jika penurunan ekspor berlanjut, kata dia, tak menutup kemungkinan ada risiko penurunan surplus neraca perdagangan Indonesia. Bahkan, risiko defisit neraca perdagangan. Indonesia juga harus lebih aktif menjemput bola. Dalam hal ini, bisa dengan memanfaatkan situasi yang ada. David mengambil contoh. Indonesia bisa mengimpor bahan baku dari China. Mengingat saat ini bahan baku China melimpah dan bisa diperoleh dengan harga murah. Kemudian, bahan baku itu diolah di dalam negeri. Bahkan bisa juga mengundang investor yang mau menanamkan modal di Indonesia untuk mengolah bahan baku tersebut. Bahan baku yang sudah diolah menjadi barang jadi, kemudian diekspor ke negara seperti Amerika Serikat (AS) atau negara lain yang mengurangi produk dari China. Sebelumnya, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Suswijono mengungkapkan pemerintah telah memetakan potensi penurunan ekspor ke depan. Pemerintah pun bersiap menjajaki pasar baru dalam upaya diversifikasi negara tujuan ekspor di luar negara tradisional.
Harga Beras Terus Meroket, Perlu Langkah Lanjutan
Langkah pemerintah menggelontorkan beras ke ritel, pasar
swalayan, dan pasar-pasar di daerah ternyata belum mampu menahan kenaikan harga
beras. Harga beras di sejumlah daerah hingga Minggu (18/2) masih terus naik.
Sejumlah langkah yang telah dilakukan pemerintah sepanjang pekan lalu belum
cukup untuk meredam lonjakan harga. Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah
lanjutan untuk mengatasi persoalan ini. Berdasarkan pantauan Kompas, harga
beras medium di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Jabar, pada Minggu sudah melesat
hingga Rp 17.500 per kg. Hanya dua hari, kenaikannya Rp 2.500 per kg. Fadhil (24),
pedagang di Pa- sar Kosambi, mengaku, kenaikan ini terbilang tinggi. Biasanya
harga beras medium hanya Rp 13.000 per kg. Dari distributornya di Sragen, Jateng,
ia mendapat informasi bahwa mereka tidak memiliki banyak stok untuk dijual. Harga
beras premium pun belum terkendali, dari biasanya Rp 16.000 per kg kini menjadi
Rp 18.000 per kg. Fadhil berharap pemerintah bisa mencari jalan keluar masalah
ini.
”Semua jenis beras susah didapat. Saya sudah pesan 3 ton
beras ke distributor di Jateng sejak dua pekan lalu. Namun, sampai sekarang belum
ada barangnya,” kata Fadhil lesu. Harga beras saat ini sudah jauh melampaui HET
yang ditetapkan oleh pemerintah, yakni Rp 10.900-Rp 11.800 per kg berdasarkan
zonasi untuk beras medium. Branch Corporate Communication Alfamart Bandung Elisa
Refila mengungkapkan, pelaku usaha ritel kesulitan memenuhi stok beras premium.
”Kondisi ini terjadi di ritel kami dan supermarket lainnya. Kami terus berupaya
mengatasi kondisi ini dengan berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat,”
ujarnya. Tidak hanya di kota besar, kelangkaan beras premium juga terjadi di sentra
padi, seperti di Kabupaten Cirebon. Sabtu (17/2) sore, seorang warga,
Artantiani Putri (32), kesulitan mendapatkan beras premium. Di supermarket
Griya Jamblang, tempat penjualan beras kosong melompong. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









