;

Keajaiban China Berakhir, Bagaimana Nasib RI?

Ekonomi Yoga 17 Feb 2024 Kompas
Keajaiban China Berakhir,
Bagaimana Nasib RI?

Era keajaiban China yang ditandai pertumbuhan ekonomi tinggi diperkirakan segera berakhir. China bakal memasuki era steady-state economy. Indonesia perlu mewaspadai dampak sekaligus menangkap peluang ekonomi dari kondisi itu. Pertumbuhan ekonominya sempat melejit menjadi 8,45 % pada 2021 seusai terpuruk minus 2,24 % pada 2020. Namun, anjlok menjadi 2,99 % pada 2022 dan hanyatumbuh 5,2 % pada 2023. Setelahnya, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi China bakal terus merosot dari 4,6 % pada 2024 menjadi 3,38 % pada 2028. Harga barang dan jasa di tingkat konsumen dan produsen juga mengalami deflasi terburuk. Hal itu merupakan cerminan pelemahan daya beli masyarakat, sekaligus tertahannya geliat industri domestik China. Pada Januari 2024, China mengalami deflasi 0,8 % secara tahunan. Harga barang dan jasa di tingkat produsen juga deflasi 2,5 % secara tahunan.

Indeks Harga Produsen (IHP) tersebut masih melanjutkan tren deflasi selama 16 bulan berturut-turut sejak Oktober 2022. Yiping Huang, Guru Besar Bidang Pembangunan Universitas Peking, dalam artikelnya, ”Has the Chinese Economy Hit The Wall?” mengupas keresahan tersebut. ”Apakah keajaiban ekonomi Tiongkok sudah berakhir? Jawabannya mungkin, ya, karena tidak ada keajaiban yang bertahan selamanya,” tulisnya dalam artikel yang dimuat dalam East Asia Forum, 10 Oktober 2023. Ia menjelaskan, pendapatan yang lebih tinggi dan biaya tenaga kerja yang lebih tinggi, serta kondisi eksternal yang memburuk dan populasi yang menua, semuanya merupakan hambatan jangka panjang yang serius terhadap tingginya pertumbuhan. Perang dagang dengan AS, pandemi Covid-19, dan krisis properti semakin memperkuat tantangan perlambatan ekonomi China.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani, Jumat (16/2) juga berpendapat sama. Dengan PDB per kapita lebih dari 12.000 USD, ekonomi China sudah berada di ambang batas negara berpendapatan tinggi. Jadi cukup sulit bagi China untuk memiliki tingkat pertumbuhan tinggi seperti 10-15 tahun terakhir. Ekonomi China yang tumbuh 5,2 % pada 2023 saja sebetulnya sudah fantastis. Hal itu lantaran sejumlah negara yang memiliki PDB per kapita yang setara, seperti Brasil, hanya tumbuh 3,4 % pada 2023. Menurut Shinta, perlambatan pertumbuhan ekonomi China perlu dilihat sebagai pertumbuhan yang ”new normal”. Apalagi, sejak muncul tren diversifikasi rantai pasok nilai global China, perang dagang dengan AS dan penuaan penduduk, kinerja ekonomi China sudah tidak seperti sebelumnya.

China merupakan mitra dagang terbesar dan investor utama Indonesia. Kontribusi ekspor ke China pada 2023 dan Januari 2024 terhadap total ekspor Indonesia sebesar 25,09 % dan 23,09 %. Penanaman modal asing (PMA) China di Indonesia sejak 2018 hingga 2022 tumbuh dari 2,37 miliar USD menjadi 8,22 miliar USD. Per triwulan III-2023, PMA tersebut sebesar 1,8 miliar USD. Menurut Shinta, berakhirnya pertumbuhan ekonomi tinggi China itu bisa berdampak buruk sekaligus baik bagi Indonesia. Dampak negatifnya, ekspor Indonesia ke China berpotensi turun, sedangkan impor dari China berpotensi naik lantaran harga produknya semakin murah. Deflasi yang terjadi di China pada Januari 2024 turut memicu penurunan kinerja ekspor Indonesia. BPS mencatat, kinerja ekspor Indonesia ke China pada Januari 2024 hanya 4,57 miliar USD atau turun 20,73 % secara bulanan dan 12,92 % secara tahunan. Kondisi ekonomi China tersebut bisa menjadi peluang bagi investasi Indonesia, terutama di sektor industri manufaktur, yang hanya terjadi bila Indonesia  memiliki iklim usaha yang kompetitif di kawasan dan meningkatkan partisipasi dalam rantai pasok nilai global. (Yoga) 

Download Aplikasi Labirin :