;

Pembiayaan Mobil Listrik Dinilai Lebih Berisiko

17 Feb 2024 Kompas
Pembiayaan Mobil Listrik
Dinilai Lebih Berisiko

Meski minat masyarakat terhadap mobil listrik terus bertumbuh, jaminan atas harga jual kembali mobil listrik belum terbentuk. Hal ini mengakibatkan lembaga pembiayaan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit mobil listrik. Berdasar data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesale mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) selama 2023 telah menembus 17.051 unit atau meningkat 65,11 % dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, jika dibandingkan total penjualan mobil selama 2023, pangsa penjualan mobil listrik hanya 1,69 %. Sejalan dengan pertumbuhan penjualan mobil listrik itu, penyaluran kredit terhadap pembelian mobil listrik turut meningkat. Hal ini mengingat lebih dari separuh pembelian mobil oleh masyarakat dilakukan melalui mekanisme kredit. PT BCA Finance, misalnya, selama 2023 telah menyalurkan pembiayaan senilai Rp 1,4 triliun untuk pembelian 3.209 unit mobil listrik atau naik 172 % dibandingkan periode 2022. Namun, pembiayaan mobil listrik tersebut tercatat baru berkontribusi 3,5 % dari total Rp 40 triliun pembiayaan baru selama 2023.

Dirut BCA Finance Roni Hasyim mengatakan, terdapat sejumlah tantangan untuk meningkatkan penjualan mobil listrik ke depan, seperti ketersediaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) dan kapasitas jarak tempuh. ”Untuk kami, sebagai pemberi pembiayaan, tantangan terbesarnya adalah resale value EV (harga jual kembali mobil listrik). Kalau resale value tidak bisa terbentuk dengan baik, tentu dari segi risiko akan meningkat,” katanya di Jakarta, Jumat (16/2). Menurut Roni, pembentukan harga jual kembali mobil listrik masih membutuhkan waktu lantaran ditentukan oleh beberapa hal, seperti brand image, after sales yang baik, dan kualitas mobil. Oleh sebab itu, selama harga jual kembali mobil listrik belum terbentuk, pemberi kredit akan berhati-hati guna meminimalkan risiko. ”Kami menawarkan bunga dan jangka waktu sama, baik untuk EV maupun mobil bensin. Selain itu, risiko pembiayaan akan semakin tinggi apabila resale value-nya jelek, sedangkan untuk EV, kan, belum ketahuan resale value-nya akan seperti apa,” imbuh Roni. (Yoga) 

Download Aplikasi Labirin :