Ekonomi
( 40733 )Utang pada Pengusaha Jadi Modus Korupsi
Bekas pejabat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kemenkeu, Andhi Pramono, dituntut 10 tahun dan 3 bulan penjara karena diduga menerima gratifikasi Rp 56,23 miliar. Dengan dalih pinjaman, ia meminta uang dari sejumlah pengusaha. Tuntutan terhadap Andhi dibacakan jaksa penuntut umum KPK, Joko Hermawan S, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Jumat (8/3). Jaksa juga menuntut Andhi dengan pidana denda Rp 1 miliar, dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 6 bulan. Joko mengungkapkan, hal yang memberatkan Andhi adalah tidak mendukung program pemerintah dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dari KKN.
Perbuatan Andhi dinilai telah merusak kepercayaan publik kepada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kemenkeu serta tidak mengakui perbuatannya. Adapun hal yang meringankan ialah, yang bersangkutan belum pernah dihukum dan bersikap sopan di persidangan. Sejak 22 Maret 2012 sampai 27 Januari 2023, Andhi telah menerima gratifikasi berupa uang dengan total Rp 56,23 miliar. Gratifikasi diterima secara langsung atau melalui rekening bank milik Andhi dan rekening yang ia kuasai atas nama orang lain. Joko melanjutkan, Andhi meminta uang kepada para pelaku usaha ekspor-impor, pengusaha logistik, serta pengusaha pengurusan jasa kepabeanan (PPJK) dengan modus meminjam atau berutang.
Andhi beralasan meminjam uang, untuk biaya sekolah anak, biaya rumah sakit, perbaikan kendaraan, renovasi rumah dinas, dan keperluan pribadi. Menurut jaksa, kata “pinjam” hanya dalih Andhi untuk meminta uang kepada para pengusaha. Sebab, berdasarkan fakta persidangan terungkap bahwa uang yang dipinjam secara berulang kali tidak pernah dikembalikan. Selain itu, dari keterangan saksi Erick M Henrizal, uang itu juga sebagai imbalan atas jasa Andhi yang memperkenalkan importir atau pemilik barang kepada PPJK. Uang yang diterima Andhi melalui sumber yang tak sah itu tidak dilaporkan dengan benar dalam laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) dan surat pemberitahuan (SPT) pajak tahunan. Hal itu kian memperkuat bukti adanya perolehan sumber keuangan yang tidak sah dari Andhi. (Yoga)
STRATEGI PEMASARAN : SIASAT MENGGARAP PASAR GEN Z
Guna mendukung perkembangan bisnis, para pelaku usaha perlu memahami karakteristik konsumen. Sebab, pemahaman itu dapat berpengaruh terhadap strategi marketing yang akan dijalankan, termasuk untuk membidik segmen generasi Z atau Gen Z. Dekade ini, muncul satu generasi baru yang mulai memiliki daya beli dan menjadi buah bibir para pemasar atau pemilik brand, yakni generasi Z (Gen Z) yang jumlahnya mencapai 28% dari total penduduk Indonesia. CEO Markplus Iwan Setiawan mengatakan untuk dapat menarik dan memikat hati Gen Z, pemilik brand harus melakukan pendekatan dan strategi marketing yang tepat. Sebab, generasi ini memiliki karakteristik berbeda dari generasi sebelumnya. Gen Z merupakan anak muda yang melek teknologi, dan menjadi the first digital native, serta toleran terhadap perbedaan budaya. Untuk itu, para pegiat merek dapat mengevaluasi strategi terhadap dua konsumen muda ini melalui Customer Path 5A (Aware, Appeal, Ask, Act, Advocate). Tentu, beda industri memiliki pattern yang berbeda untuk fase perjalanan konsumen ini. Dalam konsep customer journey, Gen Z umumnya lebih menitikberatkan pada ask dan advocate yang sangat sosial. Mereka akan bertanya satu dan lainnya mengenai brand terbaik di kategori tertentu. Apabila puas, mereka akan merekomendasikan produk tersebut pada teman dan keluarganya, dan semua orang di media sosial. Konsep ini harus ditangkap oleh pemasar dan pemilik brand, sehingga mereka dapat melakukan strategi pemasaran dengan pendekatan yang jauh lebih sosial dengan memanfaatkan media sosial, serta word of mouth. Untuk dapat menyasar kelompok Gen Z, pemilik brand tidak hanya berfokus pada produk, tetapi customer experience. Sebab, tak jarang produk yang sebetulnya sama, tetapi dibungkus dengan kemasan dan pelayanan berbeda, serta dibumbui pengalaman menarik, konsumen akan menghargai produk tersebut meski dijual dengan harga yang lebih mahal. Di sisi lain, Founder & Chairman MCorp Hermawan Kartajaya menyoroti hubungan Gen Z dengan merek dalam era teknologi canggih yang dikaitkan dengan customer path 5A tersebut. Melalui teknologi, masyarakat akan aware dengan suatu brand, kemudian appealing agar menarik perhatian. Lalu timbul pertanyaan atau ask dari masyarakat. Apabila puas dengan jawabannya, mereka akan act untuk mencoba atau membeli. Salah satu brand yang menyasar Gen Z adalah Mister Potato. Leovhaty Augusta, Head of Marketing Mister Potato Indonesia mengatakan, pihaknya selalu berinovasi untuk mewadahi tren yang berkembang pesat. Sebagai brand makanan ringan, dia tidak hanya mengandalkan produk dan jaringan distribusi,
Setoran Dividen BUMN 2024 Dipatok Rp 85,8 Triliun
Pemerintah meminta BUMN tidak berhenti bertransformasi di
tengah indikasi berlanjutnya pelemahan ekonomi global dalam beberapa tahun ke
depan. Kontribusi BUMN terhadap negara dalam bentuk setoran dividen diharapkan
bisa meningkat tahun ini hingga mencapai Rp 85,8 triliun. Di hadapan para
direktur utama perusahaan pelat merah, Menteri BUMN Erick Thohir menagih
komitmen para pemimpin BUMN dalam melakukan terobosan dan inovasi demi
meningkatkan kontribusi mereka kepada negara. ”Pemerintah AS sudah mulai
mendeteksi perekonomian global akan kembali slowing down. Kita sebagai negara
kembali ditantang untuk melakukan terobosan-terobosan, termasuk BUMN,” ujarnya dalam
BUMN Corporate Communication and Sustainability Summit (BCOMSS) di Jakarta,
Kamis (7/3) malam.
Ia menegaskan, proses transformasi BUMN tidak boleh berhenti
demi meningkatkan setoran dividen kepada negara dari tahun ke tahun. Ia mengingatkan
para dirut BUMN untuk dapat menyetorkan dividen tahun buku 2024 sebesar Rp 85,8
triliun, meningkat dibandingkan realisasi dividen tahun sebelumnya. Guna
merealisasikan target tersebut, BUMN harus berkomitmen melanjutkan proses
transformasi model bisnis sekaligus meningkatkan daya adaptasi terhadap
berbagai perubahan dalam peta perekonomian global yang akan terjadi ke depan. ”Meski
telah menyetorkan dividen Rp 82,1 triliun sepanjang 2023, negara membutuhkan
lebih. Saya sudah bertemu secara personal dengan para dirut (BUMN),
mengingatkan tahun depan dividennya harus naik lagi menjadi Rp 85 triliun,”
ujarnya. (Yoga)
Memupuk Modal untuk Bisnis ”Event Organizer"
Antusiasme khalayak terhadap sejumlah gelaran konser musik
ataupun ragam festival dalam beberapa waktu terakhir sangat tinggi. Salah satu indikatornya,
semua tiket pertunjukan ludes terjual hanya dalam hitungan jam, bahkan menit.
Setiap perhelatan di ruang publik juga selalu disesaki penonton atau peserta. Di
balik berbagai kegiatan itu, selalu ada peran EO (Event Organizer) yang pada
dasarnya bertugas menyelenggarakan acara. EO mengurusi semua aspek yang terkait
dengan acara, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, hingga pelaksanaan. Melihat
gemerlap dan semarak hasil kerja EO, timbul kesan bahwa untuk membangun bisnis
ini, dibutuhkan modal finansial yang besar.
Namun, Yan Sapto Arief, founder dari Step Up Indonesia, perusahaan
jasa yang bergerak di bidang event support system (sistem pendukung acara), tak
sepenuhnya sepakat dengan anggapan itu. Bagi dia, modal utama yang menjadi
prioritas dalam membangun bisnis EO adalah jaringan kerja atau networking. ”Dengan
networking yang baik, kita bisa dapatkan SDM yang kompeten, vendor tepercaya,
dan calon klien. Ketiga aspek tersebut menjadi modal yang lebih penting daripada
modal finansial,” ujarnya saat berbincang dengan Kompas di Jakarta, Kamis (7/3).
Saat sudah punya modal SDM, jaringan vendor, dan klien dengan
proyek yang sudah disepakati, modal finansial tak lagi dibutuhkan untuk membangun
bisnis EO. CEO sekaligus pendiri Step Up Indonesia, Edwardo Wattiheluw, menuturkan,
kultur masyarakat Indonesia yang gemar merayakan pencapaian sekecil apa pun
merupakan ceruk pasar jasa EO di Indonesia yang akan selalu ada. Bermodalkan
jaringan yang mereka miliki, Edo dan Arief menjadikan Step Up Indonesia sebagai
usaha berbadan hukum pada 2021, beriringan dengan penjajakan terhadap salah
satu perusahaan telekomunikasi dalam negeri sebagai klien pertama. Proyek yang
digodok adalah relaunching sekaligus konferensi pers sebuah aplikasi secara
daring, singkat kata, acara berlangsung sukses.
Ongkos produksi kala itu sudah terpenuhi dari klien. Margin
yang didapat dari proyek pertama ini digunakan untuk biaya operasional perusahaan.
”Kunci dari keberlanjutan proyek EO adalah selalu memberikan layanan terbaik ke
klien. Wajib hukumnya bagi EO untuk memelihara klien dengan jasa dan servis
terbaik yang dimiliki. Klien yang puas, baik dari sisi harga maupun kinerja,
pasti akan terus merekomendasikan jasa dari EO,” ujar Edo. Setelah tiga tahun
berselang, Step Up Indonesia sudah mengerjakan proyek dari sedikitnya 30 klien.
Perusahaan juga punya 10 karyawan tetap di bidang kreatif, sales, administrasi,
hingga keuangan. Selebihnya, terdapat puluhan pekerja lepas untuk tim show management
serta dokumentasi. (Yoga)
Momen Cuan Pedagang Kurma
Senyum Elawati (52) mengembang saat seorang pembeli memasuki
area dagangannya di Pasar Jatinegara, Jaktim, Jumat (8/3) siang. Dengan bersemangat,
ia menjelaskan belasan jenis kurma yang berjejeran di lapaknya. Buah manis
berwarna coklat dengan daging yang cukup tebal itu pun berhasil masuk kantong
pembeli. Pedagang yang berjualan sejak awal 2000-an itu menyebut ada kenaikan
penjualan menjelang Ramadhan. Namun, tokonya belum seramai Ramadhan tahun lalu.
”Sekarang dalam sehari omzet Rp 10 juta. Pada hari biasa tak sampai setengahnya,”
ucapnya. Saat ini, Elawati hanya mengandalkan penjualan di toko. Ia belum
mencoba jualan di lokapasar.
Agar bertahan, perempuan asal Cirebon ini menjalin relasi dengan
pelanggan. ”Kemarin ada yang beli kurma ajwa premium puluhan boks. Katanya,
untuk dibagikan kepada kerabat. Dia pelanggan tetap saat Ramadhan,” ujarnya. Pada
momen Ramadhan tahun lalu, Elawati mendapat omzet lebih dari Rp 500 juta
sebulan. Ia berharap bisa dapat omzet yang setidaknya setara dengan tahun lalu.
Tak jauh dari lapak Elawati, pedagang kurma lainnya, Jacob (27), duduk lesu menanti
pelanggan. Ia menjual aneka kurma dari harga Rp 60.000 per kg hingga Rp 300.000
per kg. Kurma yang dia jual antara lain jenis sukari, ajwa, tunisia, dan palm
fruit. ”Kadang ramai, kadang enggak. Namun, kalau dibandingkan hari biasa, ya,
lebih banyak pembeli,” katanya.
Adnan (42), pedagang kurma di Pasar Tanah Abang, Jakpus,
menyebutkan, kebanyakan kurma yang dipasok ke Tanah Abang berasal dari Uni
Emirat Arab, Turki, AS, dan Afrika. Kurma termurah dijual Rp 25.000 per kg,
sementara beberapa jenis dijual dengan harga Rp 350.000 per kg. Jelang Ramadhan
ini, omzet yang diperoleh Adnan meningkat 40 %. Yusuf (48), pedagang lain, juga
mengaku sudah mulai banyak mendapat permintaan kurma. Pembeli yang dating ke
tokonya melonjak hingga dua kali lipat dengan rata-rta omzet Rp 30 juta per
hari. (Yoga)
Mengatur Keuangan Ramadhan Tetap Aman
Berdasarkan hasil riset, pola pengeluaran rumah tangga mengalami
pergeseran di bulan Ramadhan. Pada umumnya, pos belanja makanan akan meningkat
tajam diikuti dengan pos belanja pribadi dan hadiah. Sebagai kompensasinya,
banyak orang yang menunda untuk berinvestasi di bulan ini. Bahkan, tidak jarang
mengambil solusi meminjam akibat lebih besar pengeluaran daripada penghasilan.
Karyawan sebaiknya memahami ada perbedaan alokasi keuangan untuk gaji bulanan
rutin dan THR. Hal ini sejatinya mengingatkan bahwa penghasilan bulan ini dan
bulan depan sama saja alias tidak ada kenaikan.
Agar anggaran pengeluaran tetap aman terkendali, Langkah awal
adalah membuat anggaran untuk satu bulan ke depan. Penghasilan, baik dari gaji
maupun usaha, digunakan untuk biaya hidup selama satu bulan. Pengeluaran rutin
untuk rumah tangga, makan sahur, dan berbuka puasa seharusnya tetap mengikuti
anggaran bulanan normal. Adapun pengeluaran untuk lebaran dan sedekah lainnya
sebaiknya diambil dari THR. Cara alokasi dan pemisahannya, Pertama,
mengutamakan pos pengeluaran wajib di bulan Ramadhan, yaitu zakat fitrah.
Terlepas besaran penghasilan, sumber dana dan alokasi
persentasenya bergantung pada jumlah kepala di keluarga. Alokasi untuk pengeluaran
ini sebaiknya diambil dari penghasilan bulanan jika khawatir tidak kebagian
alokasi dari dana THR. Kedua, pengeluaran rutin bulanan. Meski dibayarkan di bulan
Ramadhan, biaya listrik, uang sekolah anak, dan lainnya tetap harus dikeluarkan
seperti biasa. Oleh sebab itu, usahakan untuk tidak menggunakan alokasi ini
untuk pengeluaran lainnya. Segera pisahkan alokasi pengeluaran rutin bulanan ke
dalam rekening yang terpisah dengan kebutuhan lebaran serta tambahan kenikmatan
di bulan Ramadhan.
Sehatnya, alokasi untuk pengeluaran rutin bulanan hanya maksimal
50 % dari penghasilan setiap bulannya. Ketiga, antisipasi pengeluaran tak
terduga lebih awal. Keempat, dana gaya hidup Ramadhan. Acara buka bersama menjadi
bagian dari gaya hidup masa kini di bulan Ramadhan. Meski silaturahmi harus
dijaga, kesehatan keuangan juga jangan sampai kebablasan. Pengeluaran lebaran
dan mudik sebaiknya dialokasi kan dari dana THR. Kelima, dana darurat. Tambahan
alokasi untuk dana gaya hidup khusus di bulan Ramadhan memang terpaksa diambil
dari alokasi tabungan dan investasi bulanan. (Yoga)
Himbara bagikan Dividen Jumbo Rp92,29 Triliun
Bukit Asam Jajaki Kemitraan dengan Perusahaan China untuk Hilirisasi
Garuda Indonesia Gandeng UOB Luncurkan GIUC
BSI Bidik Penjualan SR020 Rp 2 Triliun
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









