Ekonomi
( 40465 )Menahan Pertambahan Petani Gurem
Nasib petani di negeri ini tampaknya tidak pernah enak, ibarat
roti tumpuk yang ditekan dari berbagai sisi. Padahal, sebagai negara agraris,
sektor pertanian menjadi penopang ekonomi nasional yang cukup penting. Kontribusinya
terhadap kue perekonomian Indonesia cukup besar, kedua setelah industri
pengolahan. Sebagian besar penduduk Indonesia masih menggantungkan hidupnya di sektor
pertanian. BPS mencatat, dari jumlah penduduk bekerja di Indonesia yang
mencapai 139,85 juta orang pada Agustus 2023, sebanyak 28,21 % bekerja di
sektor pertanian, lebih tinggi dibandingkan penyerapan pekerja di sektor perdagangan
(18,99 %) dan industri (13,83 %). Namun, kesejahteraan petani hingga kini masih
jauh dari yang diharapkan. Rata-rata pendapatan bersih mereka yang memiliki
usaha pertanian Rp 1,59 juta per bulan pada Agustus 2023. Sedang upah buruh di sektor
pertanian Rp 2,37 juta per bulan, terendah kedua setelah sektor jasa lain dan
berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai Rp 3,18 juta per bulan.
Nominal upah buruh tani sebenarnya meningkat. Namun, upah riil
yang diterima, setelah disesuaikan dengan tingkat konsumsi petani, justru kian turun.
Disparitas upah nominal dan upah riil mendorong lebih banyak buruh tani ke
dalam kemiskinan. Petani gurem BPS dalam survei pertanian antar sensus tahun
2023 mengklasifikasi delapan jenis rumah tangga usaha pertanian (RTUP) berdasar
luas lahan yang dimiliki petani. Dimulai dengan kepemilikan lahan kurang dari
0,50 hektar hingga lebih dari 10 hektar. Petani gurem, yaitu petani yang
menguasai lahan, baik milik, sewa, maupun bagi hasil, kurang dari 0,5 hektar,
merupakan yang terbanyak jumlahnya. Dalam enam dekade terakhir, jumlah petani
gurem meningkat dari 5,3 juta rumah tangga tahun 1963 menjadi 14,25 juta tahun
2003 dan terakhir 17,24 juta pada 2023. Persentase RTUP gurem terhadap total
RTUP pengguna lahan di Indonesia meningkat dari 55,33 % pada 2013 menjadi 60,84
% pada 2023. Di Pulau Jawa, persentase petani gurem paling besar di DI
Yogyakarta (87,75 %).
Terus terperangkapnya petani gurem dalam kemiskinan menjadi
potret terus dianaktirikannya sektor yang menjadi tumpuan 40 % angkatan kerja
nasional ini. Keberpihakan negara menjadi salah satu kunci meningkatkan taraf
hidup dan kesejahteraan petani. Dengan pertumbuhan jumlah petani gurem, program
pertanian yang seharusnya dikembangkan, menurut BPS, tidak lagi berkaitan dengan
penambahan lahan, tetapi lebih pada peningkatan produktivitas petani. Mereka
juga perlu diberikan subsidi, mulai dari bantuan pupuk, benih, hingga pembangunan
infrastruktur untuk kelancaran pengolahan lahan serta berbagai subsidi lain
yang mengangkat kehidupan mereka ke tingkat yang lebih tinggi. Kebijakan yang
mendukung peningkatan kelayakan hidup petani juga mutlak diberikan agar
pertanian tetap menjadi pekerjaan menarik di masa depan, khususnya bagi
generasi muda. Perlindungan terhadap petani dari produk impor, permainan tengkulak,
serta ketertinggalan teknologi juga perlu dilakukan. (Yoga)
China Pasang Target Ambisius 5 Persen
China menetapkan target pertumbuhan 5 % untuk 2024. Di tengah
kondisi ekonomi China yang lesu, target ini terbilang ambisius. Presiden China
Xi Jinping dan pemerintahannya menyadari hal ini. Kini, tantangan China adalah menemukan
jalan baru untuk memulihkan perekonomian. Salah satunya, membangun industri
yang penting bagi daya saing masa depan, antara lain kecerdasan buatan hingga eksplorasi
ruang angkasa. China juga menawarkan pembukaan akses ke sektor manufaktur dan
beberapa macam jasa untuk membendung mundurnya investor asing. Pesannya jelas,
China ingin swasembada dan terbuka untuk bisnis selama hal itu sesuai dengan keinginan
mereka.
Perdana Menteri China Li Qiang mengumumkan target pertumbuhan
ekonomi itu dalam Kongres Rakyat Nasional (NPC) tahunan China yang dimulai
Selasa (5/3) di Beijing. Ia juga memaparkan keseluruhan anggaran dan kebijakan
utama pemerintah untuk 2024. ”Fondasi bagi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi
China yang berkelanjutan tidak cukup kokoh. Upaya mencapai target tahun ini
tidak akan mudah,” kata Li kepada ribuan delegasi dan anggota Partai Komunis China
(PKC). Agenda itu dinilai penting bagi para pemimpin untuk mengomunikasikan
kebijakan yang menjadi prioritas kepada rakyat. Li menjanjikan pemerintah akan
mengubah model pembangunan China dan mengurangi risiko yang dipicu pengembang properti
yang bangkrut dan kota-kota yang terlilit utang. Target pertumbuhan 5 % itu mempertimbangkan
kebutuhan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan pendapatan serta mencegah
atau mengurangi risiko.
Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan
China pada 2024 sebesar 4,6 % dan turun menuju 3,5 % pada 2028. Pertumbuhan
yang tidak merata tahun lalu menunjukkan ketidakseimbangan struktural yang
mendalam di China. Ini terlihat dari lemahnya konsumsi rumah tangga hingga
semakin rendahnya tingkat pengembalian investasi. Karena itulah, China perlu
model pertumbuhan baru. China mengawali tahun ini dengan kemerosotan pasar saham
dan deflasi pada tingkat yang belum pernah terjadi sejak krisis keuangan global
pada 2008-2009. Krisis properti dan permasalahan utang pemerintah daerah terus
berlanjut. Jika pemerintah tidak ber- gerak cepat, para ahli khawatir keajaiban
ekonomi China akan memudar dengan cepat. Pemerintah didesak melakukan reformasi
propasar dan meningkatkan pendapatan penduduk. (Yoga)
Australia Luncurkan Investasi Rp 20,4 Triliun bagi Asia Tenggara
Pemerintah Australia meluncurkan pendanaan investasi senilai
2 miliar dollar Australia atau Rp 20,4 triliun untuk meningkatkan investasi di Asia
Tenggara. Pendanaan itu merupakan bagian dari serangkaian inisiatif ekonomi yang
diumumkan pada KTT Khusus ASEAN-Australia 2024 di Melbourne, Australia, Selasa (5/3).
”Pemerintahan yang saya pimpin telah mengambil keputusan yang jelas. Melebihi kawasan
lain, Asia Tenggara adalah masa depan Australia,” kata PM Australia Anthony
Albanese pada Forum 100 CEO Australia dan Asia Tenggara. Australia terus
memperluas hubungan ekonomi dengan beragam mitra dagang selain mitra dagang
utama mereka, China. Langkah itu diambil menyusul berbagai perselisihan dengan
Beijing. Kawasan ASEAN, dengan pertumbuhan penduduk yang cepat, dipandang
sebagai kekuatan ekonomi yang terus berkembang. Dengan banyaknya cadangan
mineral penting dan kebutuhan tinggi pada listrik, Asia Tenggara bakal memegang
peran utama dalam upaya global mendorong penggunaan energi bersih.
”Dengan senang saya mengumumkan keputusan kami untuk
mendirikan Fasilitas Pembiayaan Investasi Asia Tenggara senilai 2 miliar dollar
(Australia), yang dikelola oleh Pembiayaan Ekspor Australia,” lanjutnya. Menurut
Albanese, pendanaan ini menunjukkan nilai tambah yang dapat diberikan Australia
kepada ASEAN. Pembiayaan ini dimaksudkan untuk meningkatkan perdagangan dan
investasi Australia di Asia Tenggara, terutama untuk transisi energi ramah
lingkungan dan pembangunan infrastruktur. Program pendanaan tersebut kelanjutan
dari bantuan teknis infrastruktur untuk ASEAN, khususnya Program Kemitraan
untuk Infrastruktur. Dalam program itu, Australia memberikan tambahan dana 140
juta dollar Australia. Pendanaan tersebut dimulai tahun 2021, untuk mendukung
upaya ASEAN meningkatkan pembangunan infrastruktur. Beberapa infrastruktur yang
telah dibangun dengan dana tersebut, meliputi jalan raya, infrastruktur
transisi energi ramah lingkungan, dan telekomunikasi. (Yoga)
Menjinakkan Inflasi Pangan
Lonjakan harga pangan tak hanya membuat target inflasi 2024
sebesar 1,5-3,5 persen semakin berat, tetapi juga merampok daya beli kelompok
miskin dan menengah. Inflasi pangan yang bersumber dari komponen harga pangan bergejolak
(volatile food) menjadi penyumbang terbesar angka inflasi nasional beberapa
tahun terakhir. Kenaikan inflasi pangan 3-4 tahun terakhir bahkan melampaui
rata-rata kenaikan upah minimum regional (UMR) dan gaji ASN (Kompas, 4/3/2024).
Ini menggambarkan betapa kenaikan harga pangan menggerus kesejahteraan masyarakat
bawah dan menengah. Bahkan, kenaikan UMR dan gaji ASN tak mampu mengejar laju
kenaikan harga pangan. Beras, menurut BPS, adalah komoditas penyumbang terbesar
garis kemiskinan, baik di perkotaan maupun perdesaan. Sekitar 60-75 %
pengeluaran penduduk miskin kita adalah untuk pangan.
Akibatnya, kenaikan harga beras yang diikuti pangan lain akan
langsung memukul daya beli mereka. Lonjakan harga beras dipastikan juga tak
dinikmati petani kita yang sebagian besar petani gurem dan konsumen neto beras.
Apalagi dengan kian dekatnya Ramadhan dan Lebaran, yang biasanya ditandai
dengan kenaikan harga kebutuhan pokok. Sejauh ini, operasi pasar, kucuran
bansos, dan berbagai kebijakan lain belum mampu menjinakkan harga beras yang
sudah naik di atas 20 % dari tahun lalu. Antrean warga yang memburu beras murah
masih terjadi di sejumlah daerah. Kemelut beras selama ini menunjukkan ada masalah
dalam tata kelola pangan kita. Produksi dan produktivitas terus menurun di
tengah meningkatnya konsumsi.
Kita juga masih terus berkutat dengan problem terkait pupuk, benih,
alih fungsi lahan, dan lain-lain, yang tak kunjung selesai. Perum Bulog sering
kedodoran dalam stabilisasi. Berbagai instrumen pengendalian harga juga tak
sepenuhnya efektif. Belum lagi dampak perubahan iklim dan geopolitik global.
Pemerintah gagap mengantisipasi semua itu. Dalam jangka pendek, operasi pasar
dan penyaluran bansos secara agresif, yang mau tak mau harus ditopang impor
karena Perum Bulog kedodoran dalam mengamankan stok cadangan beras pemerintah yang
bisa diharapkan meredam lonjakan harga. Namun, dalam jangka panjang, tak ada
pilihan lain kecuali membenahi tata kelola pangan dari hulu hingga hilir,
khususnya produksi, produktivitas, dan distribusi, selain juga intervensi di
konsumsi (termasuk melalui diversifikasi pangan). (Yoga)
Jangan Tersandung di Negeri Sendiri
Dalam laporan Statistik Ekonomi Kreatif 2020 yang dirilis
Kemenparekraf disebutkan, sektor ekonomi kreatif (ekraf) mampu menyerap sekitar
19,2 juta tenaga kerja, setara 15,2 % tenaga kerja nasional. Perputaran ekonominya
terlihat dari kontribusi terhadap PDB yang mencapai Rp 1.153,4 triliun. Dalam
neraca ekspor nasional, kontribusi ekraf terhadap ekspor nasional sebesar 19,6
juta USD atau 11,9 % pada 2019. Sejak 2011, nilainya berfluktuasi pada kisaran
15,6 juta USD hingga 20,3 juta USD dengan besaran tertinggi pada 2018. Meski
berkontribusi besar, sektor ini dinilai belum cukup mendapat perhatian
pemerintah. Sebagai gambaran, anggaran definitif Kemenparekraf pada 2024 hanya
Rp 3,53 triliun, jauh lebih kecil dari sejumlah kementerian lainnya. Total alokasi
belanja kementerian/lembaga sebesar Rp 1.090,8 triliun. Padahal, efek pengganda
pada sektor ekraf terhitung besar.
Pendiri sekaligus CEO Naruna Ceramic Roy Wibisono, saat
dihubungi dari Jakarta, Selasa (5/3) menilai, potensi ekraf dengan perputaran ekonominya
tergolong besar. Naruna merasakan permintaan keramik di pasar begitu tinggi.
Kala pandemi Covid-19, Naruna yang memasok alat-alat makan buatan tangan justru
tumbuh pesat. Harga per barang dijual mulai Rp 70.000 hingga Rp 500.000. Naruna
bahkan berhasil mengekspor barang-barang keramiknya ke 16 negara, mulai dari
Singapura hingga AS. Selain desain yang unik, metode pemasaran juga menjadi
perhatian. Roy menggunakan beragam jalur penjualan, secara perorangan, melalui
pengecer (reseller), dan penjualan barang dari penyuplai ke konsumen
(dropshipper). ”Naruna itu memang riil ekraf. Bagaimana membuat sesuatu yang
biasa dengan sentuhan kreativitas sehingga harganya bisa jauh lebih kuat,” kata
Roy.
Di balik beragam potensinya, para pelaku usaha ekraf masih
bergulat dengan sejumlah hambatan. Salah satunya birokrasi yang berbelit menyulitkan
proses ekspor, yang menunjukkan minimnya keberpihakan pemerintah terhadap para
pelaku ekraf. Roy mengatakan, sertifikasi di dalam negeri juga jadi ”bumerang”
bagi keberlangsungan usaha ekraf. Banyak auditor negara lain membuat penilaian
menyesuaikan standar Indonesia, yang menyebabkan barang ditolak karena tak memenuhi
detail persyaratan standar dalam negeri ketimbang ketentuan negara calon
importir. ”Banyak sekali perizinan itu yang membuat industri di Indonesia tak
bisa bergerak dengan bebas. Saya pernah melihat perizinan untuk suatu industri
hampir 50 (unsur), seperti limbah, kebisingan, dan lain-lain. Itu semua ada masanya,
ada perpanjangan yang butuh duit juga,” kata Roy. (Yoga)
Empat Operator Seluler Kompak Stop Perang Harga
Operator telekomunikasi seluler di Indonesia menyatakan sudah
tidak ada lagi perang harga murah untuk layanan seluler. Ini bertujuan untuk
membuat bisnis setiap operator dan industri telekomunikasi tumbuh berkelanjutan.
Pernyataan itu mengemuka dalam diskusi Tech and Telco Summit 2024, Selasa (5/4),
di Jakarta. Hadir sebagai narasumber dalam diskusi yang digelar CNBC itu, Presdir
dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha, Presiden Direktur XL Axiata
Dian Siswarini, Direktur Sales Telkomsel Adiwinahyu B Sigit, dan Presdir
Smartfren Merza Fachys.
”Beberapa tahun lalu, kami jorjoran (saling bersaing) menawarkan
harga layanan data internet yang murah. Ayolah dinetralkan. Kami berharap, hal ini
akan membuat bisnis kami para operator telekomunikasi seluler tumbuh lebih
sehat dan infrastruktur jaringan telekomunikasi lebih berkualitas,” ujar Merza
yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi
Seluruh Indonesia (ATSI). Dia menambahkan, jika bisnis operator telekomunikasi
seluler tumbuh lebih sehat dan infrastruktur jaringan lebih berkualitas,
seluruh bisnis ekonomi digital yang menggunakan jaringan telekomunikasi seluler
menjadi sehat. (Yoga)
Mendamba Sistem Lapor Pajak yang Lebih Mudah dan Transparan
Meski diharuskan, belum semua wajib pajak (WP) rutin
melaporkan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak Penghasilannya. Masih banyak
yang merasa tidak perlu melapor karena gajinya setiap bulan sudah dipotong
pajak. Sistem lapor pajak juga dianggap rumit untuk orang awam. Kekecewaan
semakin menjadi ketika melihat kasus korupsi pejabat masih saja marak. Gabrella
(32) sudah bekerja 10 tahun, tapi ia masih belum paham betul cara melaporkan
SPT Pajak Penghasilan (PPh 21). Pekerja Ormas asal Tangsel itu telah berusaha
rutin melapor pajak setiap awal tahun. Namun, ia tidak bisa melakukannya tanpa
didampingi orang lain yang paham soal pajak.
”Sejujurnya setiap tahun pasti lupa caranya bagaimana, karena,
kan, munculnya Cuma sekali setahun. Cukup rumit pula. Jadi, selama ini setidaknya
harus ada satu teman atau orang keuangan kantor yang menemani supaya bisa ditanya-tanya,”
ujarnya, Selasa (5/3). Tahun lalu, Gabrella terpaksa ”bolong” melaporkan SPT Tahunan.
Ia sedang tugas dinas di luar kota dan lupa kalau ada tenggat pelaporan SPT yang
berakhir setiap 31 Maret. Apalagi, saat itu tidak ada orang yang bisa
mendampinginya mengisi formulir SPT. Ia terkejut karena dikenai denda Rp
100.000 akibat tidak menyampaikan SPT tepat waktu. ”Padahal, saya sudah bayar
pajak setiap bulan, pungutannya gede, selama ini juga rajin la por, hanya
karena telat sekali,saya kena denda,” tuturnya.
WP seperti Gabrella dan lainnya berharap ke depan sistem
pelaporan SPT bisa lebih mudah bagi orang awam dan lebih transparan. Setidaknya,
wajib pajak tidak perlu repot-repot mengisi satu per satu kolom data di
formulir SPT dengan istilah rumit yang tidak dipahami. Urusan penyampaian dan pemrosesan
laporan saat ini memang sudah lebih mudah. Namun, secara substansi, proses
pengisian formulir masih dinilai sulit. Sosialisasi dan tutorial digital oleh
kantor pajak juga diharapkan lebih gencar mendekati masa pelaporan SPT. Informasi
soal tutorial itu juga sebaiknya dicantumkan dalam pesan singkat atau surat
elektronik (e-mail) yang diterima WP untuk memudahkan aksesnya. (Yoga)
Ironi Kekurangan Kapal di Negeri Kepulauan
Pelayaran laut merupakan salah satu sarana transportasi
penting di negeri kepulauan seperti Indonesia. Ironisnya, Indonesia masih kekurangan
kapal. Keberpihakan dan konsistensi kebijakan dibutuhkan untuk membuat pelayaran
menjadi jembatan kesejahteraan warga kepulauan. Gambaran pentingnya pelayaran terlihat
dari penumpang yang mengantre masuk ke KM Kelud, kapal yang dioperasikan PT
Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau Pelni, Selasa (23/2). Kapal itu
akan berlayar dari Medan, Sumut, menuju Batam, Kepri. Sedikitnya 2.200 penumpang
naik ke kapal itu, yang mendekati kapasitas maksimumnya, yakni 2.607 tempat
tidur. Padahal, waktu pelayaran ini masuk kategori low season.
”Saat peak season biasanya terjadi lonjakan penumpang sehingga
akan dibantu kapal Pelni dari rute lain yang dianggap tidak padat,” kata Biwa Abi
Laksana, Kepala Cabang Pelni di Medan. Kondisi serupa terjadi di banyak rute
pelayaran. Seperti pada peak season Natal 2023 dan Tahun Baru 2024, KM Lambelu
memperpanjang rute pelayaran. Kapal itu seharusnya mengakhiri pos terakhir di Larantuka,
Kabupaten Flores Timur, NTT, tetapi diminta melayani hingga Kota Kupang, 9 jam
pelayaran dari Larantuka. Beralihnya kapal ke jalur lain seperti ini otomatis
menyebabkan rute yang harus dilayani menjadi kosong. Tak terhitung berapa
banyak penumpang yang terpaksa menunda keberangkatan. Berton-ton logistik juga
tertahan di pelabuhan sehingga menimbulkan biaya tambahan. Mobilitas pun
terganggu.
Data Pelni menyebutkan, jumlah kapal yang dioperasikan saat
ini 26 unit yang melayani 26 trayek dengan titik persinggahan di 71 pelabuhan. Dalam
setahun, penumpang yang diangkut terus meningkat. Tahun 2023, jumlahnya 4 juta
orang. Jumlah kapal itu jauh dari kebutuhan yang diperkirakan, yakni 61 unit,
sebagaimana hasil analisis galangan kapal di Jerman. ”Sejauh ini kami berpedoman
pada data tersebut. Analisis itu pun sudah lama, yakni tahun 2015,” kata Kepala
Kesekretariatan Perusahaan PT Pelni Evan Eryanto. Keterbatasan kapal menyebabkan
tak semua wilayah terlayani. Padahal, Indonesia terdiri atas 17.000 pulau.
Kapal menjadi transportasi andalan. Dengan terbatasnya kapal, di wilayah NTT, kapal
akan kembali menyinggahi pelabuhan setelah 14 hari, di luar waktu docking kapal
sekali dalam setahun. (Yoga)
Warga Ingin Nyaman, Sopir Angkot Takut ”Boncos”
PT Transportasi Jakarta menunda pengoperasian Transjakarta
rute S41 atau Pondok Cabe-Lebak Bulus dari rencana semula Senin (4/3). Trayek
ini terhenti operasinya seiring protes dari sopir angkot 106 (Parung-Lebak
Bulus) tahun 2019. Selama ini warga di rute tersebut hanya punya dua pilihan
angkutan umum untuk menjangkau Lebak Bulus, yakni dengan angkot 106 dan D15 (Pamulang-Lebak
Bulus). Selebihnya, warga mesti menggunakan kendaraan pribadi atau ojek daring.
Setelah turun dari MRT Jakarta di Stasiun Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Selasa
(5/3) siang, Kompas menjajal angkot 106. Angkot ini ngetem (menunggu penumpang)
bersama angkot D15 dan bus kota. Wawan (65), sang sopir angkot, sudah lebih
dari satu jam ngetem. Dia menyebut kata ”Parung” kepada setiap orang yang lewat
di dekat angkot tuanya yang telah berumur 20 tahun. Wawan terbiasa dengan
kemacetan dan panas karena delapan kali pergi pulang dengan penumpang setiap
hari.
Penumpang hanya diam saja setiap kali angkot menerobos lajur
kosong. Mereka juga tak mengeluhkan panasnya angkot, kursi yang keras seperti
kayu, dan lainnya. ”Sudah biasa begini. Yang penting sampai tujuan,” kata Yahya
(38), salah satu penumpang. Yahya hampir tiap hari naik angkot 106. Dia merogoh
Rp 16.000 untuk pergi pulang, lebih murah ketimbang naik ojek daring, Rp
50.000. Tarif angkot 106 bervariasi. Pelajar biasanya membayar Rp 2.000-Rp
5.000, sedangkan penumpang dewasa Rp 8.000-Rp 10.000 sekali jalan. Sejauh ini
angkutan umum yang nyaman masih sebatas angan bagi Yahya dan penumpang lain.
Mereka ingin, paling tidak, angkot di wilayah tetangga Jakarta bisa seperti Jaklingko
yang melayani beberapa rute dari Lebak Bulus.
Yahya mendambakan angkot yang bersih dan kursinya empuk. Dia
tak ingin muluk-muluk, seperti angkot tepat waktu dan pembayaran dengan uang
elektronik, sebab sulit mengurai kemacetan di trayek Parung ke Lebak Bulus.
Davina (28) juga mendam bakan angkutan umum yang nyaman. ”Mau mengomel, tapi
hanya ada ini (angkot). Mudah-mudahan angkot bisa terintegrasi dan jadi bagus
kayak Jakarta,” ucapnya. Namun sejumlah sopir khawatir pendapatannya berkurang
jika Transjakarta beroperasi di rute Pondok Cabe-Lebak Bulus. Agus (33), sopir angkot
di rute itu, misalnya, mengandalkan penumpang yang turun dari MRT Jakarta dan
Transjakarta. Dalam sehari, pendapatan kotornya Rp 300.000. Uang itu lantas
dikurangi Rp 100.000 untuk setoran, retribusi Rp 3.000, dan BBM Rp 100.000-Rp
150.000. Agus khawatir pendapatannya tergerus dan bisa boncos jika Transjakarta
beroperasi. (Yoga)
WNI Terus Dikirim ke Kamboja sebagai Penipu Daring
Jaringan perdagangan orang terus merekrut anak muda warga
negara Indonesia untuk dipekerjakan dalam sindikat penipuan daring (online
scamming) dan judi daring. Mereka umumnya diiming-imingi bekerja di bidang lain
dengan gaji tinggi. Kenyataannya, mereka dikirim ke Kamboja dan negara-negara
lainnya yang menjadi tempat beroperasinya sindikat tersebut. Anak-anak muda ini
juga ditugaskan menguras uang milik WNI. Setiap hari mereka bekerja dengan jam
kerja yang panjang. Sebagian besar tanpa digaji dan malah dijerat dengan utang
oleh sindikat yang mempekerjakan mereka. Dengan begitu, mereka susah untuk ber-
henti dan pulang ke Indonesia. ”Saya ditawari bekerja di perusahaan saham yang
katanya perusahaannya ada izin. Ternyata saya dikirim ke Kamboja, bekerja
menipu orang Indonesia. Di sini kerja mulai pukul 09.00 sampai pukul 23.00.
Saya ingin pulang,” ujar ATK (30), salah seorang korban yang bekerja di Kamboja
dalam percakapan telepon dengan Kompas, Senin (4/3).
Perempuan lulusan SMA kelahiran Sultra itu mengakui tertarik
bekerja di luar negeri dengan gaji 700 USD per bulan lantaran diajak temannya. ATK
dan teman-temannya dikirim ke Kamboja dan tinggal di mes yang berisi puluhan
anak muda Indonesia. Ia dipekerjakan di sebuah perusahaan yang menipu orang-orang
Indonesia, dengan membuat akun Telegram menggunakan data dan wajah orang lain.
Mereka kemudian menghubungi orang Indonesia. ”Jadi kami harus mencari member di
Facebook, Instagram, atau di mana saja ada orang kaya atau berduit. Lalu merayu
mereka agar percaya kepada kami, lalu kami ajak main kripto,” kata ATK. ATK
tidak menerima gaji. Sebaliknya, dia memiliki utang kepada perusahaan sekitar
2.300 USD yang bertambah menjadi 2.500 USD karena beberapa kali sakit. ATK akhirnya
melaporkan kasusnya kepada Kementerian Luar Negeri RI secara daring.
Menurut ATK, saat ini ada banyak anak muda Indonesia bekerja
di berbagai perusahaan di Kamboja. ”Jangan pernah percaya dengan ajakan kerja
di luar negeri. Itu bohong semua,” pesan ATK.Direktur Perlindungan WNI Kemenlu
Judha Nugraha menyatakan, pihaknya telah menerima laporan ATK dan berkoordinasi
dengan KBRI di Kamboja untuk menangani kasus terbut. ”KBRI di Phnom Penh segera
berkoordinasi dengan otoritas setempat. Lokasi tempat kerja ATK sudah
diketahui, dua jam perjalanan darat dari Phnom Penh,” Judha. Sejak 2020-2023,
Kemenlu telah menangani dan menyelesaikan 3.400 kasus terkait online scamming
yang menimpa WNI di delapan negara dan 1.748 orang di antaranya berada di
Kamboja. ”Ini menjadi keprihatinan kita, berbagai upaya kita lakukan, keberangkatan
ke Kamboja masih terus terjadi terutama terkait online scam dan judi online,”
kata Judha. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









