Ekonomi
( 40733 )Bahaya, Salah Sebut Nama Orang di Dalam Perusahaan
Beberapa orangtua belakangan makin rumit dan aneh memilih
nama untuk anaknya. Akibatnya, saat anak itu kelak berada di dunia kerja, orang
sering kali salah mengucapkan nama teman, karyawan, atau atasan di dalam
perusahaan atau sebaliknya. Perusahaan internasional makin sering mengalami
masalah seperti ini karena karyawan berasal dari berbagai bangsa. Salah ucap
nama menjadi urusan panjang di dalam sebuah tim atau organisasi. Dalam jajak pendapat
yang dilakukan oleh Namecoach, sebuah perusahaan yang memfasilitasi pengucapan
nama dengan menggunakan audio secara daring, 38 % responden melaporkan bahwa
nama mereka salah diucapkan di tempat kerja. Sebaliknya, 74 % karyawan
mengatakan, mereka sulit mengucapkan nama orang di tempat kerja. Akibatnya,
beberapa karyawan enggan memperkenalkan, berbicara, atau menelepon rekan kerja
tersebut.
Laporan MIT Sloan Management Review terbaru menyebutkan, meski
salah mengucapkan nama karyawan mungkin tampak tidak berbahaya, hal ini
menimbulkan kerugian yang besar. Pengucapan nama yang benar adalah praktik yang
sering diabaikan. Padahal, pengucapan nama yang benar akan mendorong inklusi
dan rasa memiliki di tempat kerja, yang mungkin sangat relevan bagi karyawan
internasional. Penelitian menunjukkan, pengucapan nama yang tepat meningkatkan
rasa memiliki dan keamanan psikologis. Dalam konteks tim, pengucapan yang benar
mendorong pembentukan, pengembangan, dan kohesi tim. Ketika perusahaan makin
mengglobal. para pemimpin serta pemikir modern merencanakan cara-cara inovatif
untuk menghilangkan masalah segregasi etnis dan olok-olok soal nama. Persoalan
ini serius karena kesalahan nama mengurangi inklusivitas dan mengurangi rasa
memiliki di dalam perusahaan. (Yoga)
Ramadhan dan Ekonomi Pisang
Ramadhan tiba. Di Indonesia, pisang bakal menjadi salah satu
teman sahur atau berbuka puasa. Di balik itu, pisang turut menjadi penggerak
ekonomi dunia. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) bahkan menyebut pisang
sebagai tanaman pangan terpenting keempat di dunia setelah gandum, padi, dan
jagung. Kala Ramadhan, pisang beserta produk-produk olahannya semakin banyak diperjual
belikan. Para pedagang musiman turut bersanding dengan para pedagang regular menjajakan
aneka jajanan pisang, antara lain pisang goreng, kolak pisang, es pisang ijo,
dan pisang molen. Ramadhan juga menjadi momentum untuk mengenal aneka sajian
pisang dari banyak daerah di Indonesia. Sumbar dan Sumut mempunyai cekodok, sedangkan
Makassar terkenal dengan es pallu butung, pisang epe, dan barongko.
Lampung dan Sulawesi masing-masing memiliki geguduh pisang
dan sanggara talemme. Adapun Surakarta dan Gresik masing-masing mempunyai
carang gesing dan bongko kopyor. Satu produk pisang goring bahkan memiliki
berbagai sebutan atau nama khas di sejumlah daerah di Indonesia, yang muncul
karena ada perbedaan bentuk, cara mengolah, dan makan, meskipun sama-sama
digoreng. Pisang goreng di Pontianak dan Pekanbaru disebut sebagai pisang
goreng kipas karena bentuknya seperti kipas. Di Banjar, Banten, dikenal pisang
goreng telanjang karena digoreng tanpa tepung dan dicampur mentega. Sementara
pisang goring khas masyarakat Bugis di Kalimantan dikenal sebagai sanggara
pepe. Pisang yang ditumbuk pipih sebelum digoreng ini disantap menggunakan
sambal.
Pisang goreng serupa juga ada di Manado. Pisang goreng ter- sebut
disantap menggunakan sambal roa. Tidak heran jika Taste Atlas, laman panduan
wisata dan kuliner dunia, menempatkan pisang goreng Indonesia sebagai camilan
penutup makan terbaik dunia pada 2023, menempati peringkat pertama di antara 50
camilan dari 40 negara. BPS juga menyebutkan, pada 2022, nilai ekspor pisang di
Indonesia mencapai 8,7 juta USD, meningkat 42,81 % dari tahun sebelumnya. Di
tengah berbagai tantangan, Indonesia tidak hanya membidik pasar pisang dalam negeri,
tetapi juga pasar luar negeri. Bahkan, salah satu provinsi di Indonesia, yakni Sulsel,
menjadikan pisang sebagai salah satu solusi mengatasi kemiskinan dan
pengangguran. (Yoga)
Momentum Lebaran Dongkrak Pembiayaan Kendaraan Bermotor
Berdasarkan tren sebelumnya, peningkatan penyaluran
pembiayaan kendaraan akan dimulai sebulan sebelum Idul Fitri atau pada bulan
suci Ramadhan. Dirut PT BCA Finance Roni Haslim mengatakan, tren pembiayaan
menjelang Lebaran atau saat bulan Ramadhan biasanya akan naik. Peningkatan
pembiayaan tersebut sekaligus menjadi yang tertinggi sepanjang tahun. ”Setiap
tahun memang momentum Lebaran akan mengangkat penjualan mobil, baik baru maupun
bekas. Kita semua mengharapkan tahun ini juga akan demikian,” katanya saat dihubungi
dari Jakarta, Selasa (12/3). Roni menyebut, pembiayaan baru (new booking) pada
Maret 2024 ditargetkan mampu mencapai Rp 4 triliun atau cenderung sama dengan
torehan pada Maret 2023. Strategi yang dilakukan agar target tersebut tercapai
antara lain menurunkan bunga pinjaman pembiayaan mobil bekas serta menerapkan
bunga 6 % secara tetap (flat) untuk mobil keluaran tahun baru bertipe fast moving.
Secara keseluruhan, BCA Finance pada 2023 telah membukukan
pembiayaan baru sebesar Rp 40,6 triliun atau tumbuh 22,4 % dibanding tahun 2022.
Pada 2024, BCA Finance memasang target penyaluran kredit kendaraan bermotor
sebesar Rp 43 triliun atau tumbuh 7,5 % dibanding capaian 2023. Direktur Bisnis
PT BFI Finance Indonesia Tbk Sutadi menyampaikan, pihaknya memiliki dua jenis
pembiayaan, yakni pembiayaan beragun tidak langsung dengan manfaat berupa dana
multiguna dan pembiayaan beragun langsung dengan manfaat berupa kendaraan yang
diinginkan konsumen. Kedua jenis pembiayaan tersebut mensyaratkan buku pemilik
kendaraan bermotor (BPKB) sebagai jaminannya. ”Kedua produk kami diprediksi
mengalami kenaikan karena adanya kebutuhan masyarakat. Dengan adanya kepastian investasi
dan ekonomi pasca-pemilu, pergerakan ekonomi masyarakat akan kembali menggeliat,
khususnya di sektor usaha. Sementara untuk produk kepemilikan kendaraan juga meningkat
karena digunakan sebagai fasilitas untuk kebutuhan hari raya dan seterusnya,” ujarnya
secara tertulis. (Yoga)
Belanja Busana pada Bulan Puasa
Relaksasi Harga Beras Bisa Kerek Pendapatan Petani
Petani di Jatim menyambut positif kebijakan pemerintah
merelaksasi harga eceran tertinggi (HET) beras premium dari Rp 13.900 per kg
menjadi Rp 14.900 per kg. Beleid itu diharapkan mengerek harga gabah sehingga harganya
tetap tinggi menjelang panen raya di awal tahun ini. Wakil Ketua Kontak Tani
Nelayan Andalan Jatim Suharno mengatakan, rata-rata hasil panen petani padi tahun
ini turun menjadi 4-5 ton per hektar. Hasil panen itu jauh lebih rendah
dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 6-7 ton per hektar. Pemicunya
adalah mahalnya komponen biaya produksi, terutama pupuk yang harganya beberapa kali
lipat lebih tinggi karena ketiadaan pupuk bersubsidi. Dampaknya, kebutuhan
pupuk sesuai komposisi pemupukan berimbang tak terpenuhi.
”Karena kekurangan pupuk, tanaman tidak bisa tumbuh dan berkembang
secara maksimal sehingga produksi padinya juga kurang bagus. Sekarang petani hanya
dapat 4-5 ton gabah kering panen per hektar,” ujar Suharno, Selasa (12/3). Pemerintah
merelaksasi harga eceran tertinggi (HET) beras premium yang menyasar delapan
wilayah di Indonesia. HET disesuaikan dengan kenaikan Rp 1.000 per kg dari sebelumnya
sehingga untuk Pulau Jawa, Lampung, dan Sumsel, HET harga beras premium menjadi
Rp 14.900 per kg, naik dari sebelumnya Rp 13.900 per kg. Kebijakan berlaku pada
10-23 Maret 2024 atau selama dua pekan. Petani berharap kenaikan HET beras
premium akan mengerek harga gabah. Setidaknya, penurunan harga gabah pada panen
saat ini tidak terlalu tajam sehingga harga yang diterima petani tetap tinggi,
yakni Rp 7.000 per kg kering panen. (Yoga)
Teknologi Efisienkan Budidaya Perikanan di Maluku
Teknologi digital dinilai mampu mengefisienkan produksi
sektor perikanan budidaya. Pemilihan lokasi dan pemberian pakan berlebih
menjadi permasalahan utamanya. Namun, sektor ini berpotensi tumbuh dengan bantuan
teknologi digital. Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon Sarwono
menjelaskan, potensi perikanan budidaya di Maluku, khususnya Ambon, masih terbuka
lebar. Minat masyarakat mulai meningkat. Namun, mayoritas masyarakat masih
memilih bidang perikanan tangkap karena faktor kebiasaan dan teknik budidaya yang
dinilai sulit. Budidaya ikan yang dilakukan di Maluku pun masih didominasi di
air laut. Padahal, khusus di Ambon, potensi budidaya ikan air tawar relatif
besar. Total potensi lahan budidaya air tawar mencapai 17 hektar. Namun, luas
lahan yang dimanfaatkan kurang dari 10 %. Teknologi di sektor budidaya, sudah
berkembang sehingga budidaya ikan seharusnya menjadi lebih mudah.
Teknologi membantu digitalisasi rantai produksi, mulai dari
pemilihan lokasi budidaya menggunakan satelit, penghitungan benih yang ditebar,
serta pemberian pakan otomatis. Optimalisasi produksi penting agar ukuran ikan
seragam. Keseragaman hasil produksi membantu pembudidaya memasarkan produknya
di pasar. ”Kerja sama dengan pihak swasta pengembang teknologi budidaya perlu
ditingkatkan, sementara BPBL fokus mengembangkan benihnya. Rantai produksi yang
efisien membuat harga ikan juga bisa lebih optimal sehingga menguntungkan konsumen
dan produsen,” kata Sarwono di Ambon, Maluku, Selasa (12/3). Vice President
Public Affairs eFishery Muhammad Chairil mengatakan, teknologi di bidang
budidaya yang dimiliki perusahaannya mencoba menjawab permasalahan-permasalahan
tersebut. ”Pembudidaya di Ambon belum ada yang menggunakan teknologi ini. Kami
berharap digitalisasi ini bisa masuk dan membantu,” ujarnya. (Yoga)
Penuhi Modal Inti Minimum, Konsolidasi BPD Berlanjut
Bank Pembangunan Daerah (BPD) terus berusaha meningkatkan modal inti minimum Rp 3 triliun paling lambat akhir Desember 2024. Untuk itu, strategi konsolidasi BPD kian ramai di tahun ini melalui skema kelompok usaha bank (KUB). Berdasarkan data OJK per 31 Desember 2023 terdapat 12 BPD yang belum memenuhi ketentun modal inti minimum melalui setoran modal mandiri dan 10 BPD akan melakukan konsolidasi dalam bentuk KUB. Salah satu BPD yang gencar menambah KUB adalah BPD Jabar dan Banten (Bank BJB).
Tahun ini BJB memiliki empat BPD yang masuk dalam KUB dan perseroan terus melakukan diskusi dengan BPD lain yang terbuka untuk menjadi KUB. Dirut BJB Yuddi Renaldi mengungkapkan, pihaknya telah mendapat perizinan dari OJK terkait proses KUB Bank Bengkulu. “Bank Bengkulu sudah, ada dua lagi yang kami proses, Bank Jambi dan Maluku Malut sudah memasuki tahapan penilaian, mudah-mudahan berjalan baik karena ke duanya intensitasnya signifikan,” ujar Yuddi, Selasa (12/3). (Yetede)
Menanti Keajaiban Ekonomi Lebaran
Pemerintah menetapkan 1 Ramadhan 1445 Hijriah jatuh pada
Selasa (12/3). Muncul harapan momentum Ramadhan dan perayaan Idul Fitri tahun
ini bisa membawa peningkatan pertumbuhan ekonomi di tengah kondisi global yang
penuh ketidakpastian. Dari tahun ke tahun Ramadhan dan Idul Fitri selalu berkontribusi
mempercepat perputaran ekonomi nasional, karena pengeluaran untuk konsumsi masyarakat
di periode ini cenderung lebih tinggi daripada hari-hari biasa. Tak hanya oleh
masyarakat Muslim, semarak Ramadhan dan Lebaran juga turut diikuti hampir
seluruh penduduk Indonesia. Tahun lalu, data Mandiri Spending Index menunjukkan
belanja masyarakat mengalami akselerasi seiring dimulainya bulan Ramadhan pada
akhir Maret 2023. Indeks nilai belanja pada Maret 2023 mencapai 136,4 atau
tertinggi sejak Januari 2023. Pada periode Ramadhan, pengeluaran belanja
meningkat dipicu oleh tradisi atau kebiasaan yang menjadikan bulan puasa
sebagai momentum istimewa.
Pada waktu berbuka dan sahur, di meja makan keluarga Muslim
yang menjalankan ibadah puasa kerap terhidang sajian yang relatif lebih beragam
dibandingkan dengan hari-hari biasanya. Kebiasaan ini bahkan bisa berlanjut
hingga sepekan seusai Lebaran. Anggaran belanja masyarakat juga meningkat
karena adanya tradisi membeli pakaian dan aksesori baru untuk dikenakan saat
Idul Fitri. Terkerek naiknya permintaan masyarakat karena faktor-faktor
tersebut ditopang oleh pembagian THR untuk karyawan, baik swasta maupun ASN.
Belanja masyarakat yang masuk golongan miskin juga akan ditopang oleh pembagian
zakat dan sedekah yang bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Peningkatan
konsumsi masyarakat tidak hanya dinikmati sektor usaha berskala menengah ke
atas, tetapi juga dinikmati oleh UMKM, yang terefleksi dari munculnya
usaha-usaha dadakan yang menjual berbagai barang atau jasa, seperti takjil, kue
kering, parsel untuk Lebaran, rental dan cuci kendaraan, hingga layanan bersih-bersih
rumah.
Tradisi mudik dan rekreasi, terutama di periode libur Lebaran,
juga ikut mendorong perekonomian. Tanda-tanda menggeliatnya pertumbuhan ekonomi
yang didorong Ramadhan tahun ini sudah tecermin dari meningkatnya alokasi jumlah
uang tunai yang disiapkan BI pada periode Lebaran kali ini. BI menyiapkan uang
tunai sebesar Rp 197,6 triliun selama periode Ramadhan dan Idul Fitri 2024, meningkat
dari tahun 2023 di Rp 195 triliun. Wajar
jika momentum Ramadhan hingga perayaan Idul Fitri atau Lebaran selalu menjadi
katalisator pertumbuhan ekonomi di Tanah Air, mengingat masih tingginya ketergantungan
putaran roda ekonomi nasional terhadap aktivitas konsumsi masyarakat. Mari kita
sambut bulan suci tahun ini dengan khidmat, sukacita, dan penuh rasa optimism akan
hadirnya keajaiban ekonomi. (Yoga)
Agresif, Bukit Asam Berencana Akuisisi Tambang Batu Bara Baru
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tetap agresif untuk menambah
cadangan batubara dengan mengakuisisi tambang-tambang milik swasta. Saat ini,
perseroan telah memiliki cadangan batubara hingga 2,98 miliar ton dan sumber
daya batubara 5,81 miliar ton. Dirut PTBA Arsal Ismail menyampaikan, PTBA akan
melirik tambang-tambang yang tentunya memberikan nilai positif bagi perusahaan.
Artinya, perseroan akan mengakuisisi tambang yang mempunyai kelayakan dari sisi
ekonomi.
“Jadi kalau kemarin sempat ditawarkan pemerintah yang kalori
rendah itu, kami tidak ikut. Ke depan, kalau ada yang kalori agak tinggi kami
ikut,” ucap Arsal dalam konfrensi pers baru-baru ini. Sebelumnya, pemerintah
telah melangsungkan tender beberapa proyek untuk area-area tambang yang
dilakukan relinquish, namun PTBA absen lantaran proyek yang ditender pemerintah
berkalori rendah. Karena itu, Arsal menuturkan,PTBA akan mengkaji setiap
tawaran yang dating dari pihak swasta. (Yetede)
Pembiayaan Fintech ke UMKM Berpotensi Tumbuh 50%
Penyaluran
pembiayaan yang dilakukan industi fintech P2P khususnya UMKM dinilai belum
maksimal, diharapkan ke depan, industri fintech bisa memanfaatkan peluang
tersebut. Plt Usaha Pembiayaan Berbasis Teknologi OJK, Moh. Eka Gonda Sukmana
mengatakan, fintech P2P lending memang ditujukan kepada masyarakat kecil yang
belum tersentuh layanan perbankan. “Industri peer to peer ini sebenarnya
ditujukan untuk masyarakat yang unbanked, bukan orang berdasi atau orang yang
secara keuangan sudah well educated dan punya pemahaman,” kata dia di Jakarta, pekan
lalu.
Eka
membeberkan, meskipun tumbuh 18 %, penyaluran pendanaan untuk sektor produktif
dan UMKM masih terbatas. Dari Total penyaluran sebesar Rp. 60, 42 triliun, baru
Rp 20,22 triliun atau 33,65 % yang menyasar UMKM. “Dari pertumbuhan 18 %,
porsinya 33,65 % untuk sektor UMKM dengan outstanding sebesar Rp 20.33 triliun.
Jumlah ini sebenarnya bisa ditingkatkan karena sektor UMKM banyak peluangnya, “
ungkap dia. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









