Ekonomi
( 40465 )Nestapa Petani dalam Cekaman Anomali Iklim
Para petani padi di Tanah Air terus berjuang di tengah
ketidakpastian cuaca dan anomali iklim. Kemarau dan hujan tak tentu datangnya.
Namun, tak sedikit di antara mereka yang menjadi semakin rentan, kebanjiran saat
hujan dan kekeringan saat kemarau. Hujan deras mengguyur Desa Cangkring B,
Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jateng, Sabtu (24/2). Kendati hujan belum
reda, Tumini (57) melangkahkan kaki menuju ke sawahnya. Siang itu, ia bersama
suaminya bermaksud memanen padi yang terendam banjir selama 16 hari. Sebulan
sebelumnya, padi-padi yang ditanam di lahan sekitar 3.600 meter persegi itu
sudah laku dibeli pengepul dengan harga Rp 5 juta. ”Tak pernah mengira (padi)
akan rusak gara-gara banjir. (Uang) Yang seharusnya dibayar hilang terbawa
banjir,” ujarnya. Gabah itu akan ia ambil untuk konsumsi sendiri. ”Busuk yo wis
ben (ya biar), mau bagaimana lagi? Kalau mau dijual juga tidak akan laku,” kata
Tumini.
Tanaman padi seluas 2.000 meter persegi milik Ahmad Sudirman
(44), warga Desa Cangkring B, juga gagal panen akibat banjir. Dari total
sekitar 1,5 ton gabah yang dia panen, lebih dari separuhnya dalam kondisi
busuk. Ia memutuskan menjual murah gabah yang belum busuk. ”Gabah bagus, bisa
laku Rp 8.000 per kg. Namun, kalau ada yang menawar Rp 6.000 per kg, saya langsung
lepas,” kata Ahmad. Pada Minggu (25/2) siang, matahari bersinar terik. ”Saya
sedih melihat gabah-gabah saya jadi seperti ini,” kata Sumikah (38), warga Desa
Lambangan, Kecamataan Undaan, Kabupaten Kudus. Empat tahun terakhir, panen
Sumikah tidak maksimal karena banjir dan kekeringan. ”Kalau kemarau, susah air.
Harus keluar uang untuk memompa air dari sungai ke sawah. Hasil penjualan gabah
Mungkin tidak akan cukup untuk menambal kerugian yang saya tanggung. Kalau
dihitung, saya merugi Rp 20 juta,” kata Sumikah.
”Saat ini dalam proses pengusulan untuk bantuan ganti rugi,”
ujar Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Dinas
Pertanian dan Perkebunan Jateng Francisca Herwati Prarastyani, Kamis (29/2). Menurut
dia, para petani yang terdampak dan puso bakal mendapatkan bantuan benih.
Kendati demikian, jumlah benih akan ditentukan oleh Kementan. Selain bantuan
benih, petani yang ikut program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) berhak mendapatkan
ganti rugi. ”Iuran AUTP itu tergolong murah, yakni Rp 36.000 per hektar per
musim tanam. Kalau misal puso, gagal panen, yang ikut (program AUTP) dapat Rp 6
juta per hektar. Lumayan daripada tidak dapat ganti sama sekali,” ujarnya. (Yoga)
EKONOMI KREATIF Raih Prospek dengan Meretas Sandungan
Tak terbantahkan, ekonomi kreatif menjanjikan perputaran
ekonomi yang menggiurkan. Banyak orang rela merogoh kocek lebih untuk menikmati
beragam karya produk kreatif. Konser Taylor Swift, misalnya, pergelaran musik
diva itu mampu menggerakkan ekonomi negara. Keberadaannya bahkan diperebutkan berbagai
negara di Asia Tenggara. Namun, Singapura sukses memasang strategi untuk
menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang berhasil menghelat The Eras
Tour yang diusung Swift pada Maret ini. Setelah perburuan tiket konser, beragam
hotel, maskapai, dan operator agen perjalanan mengalami ledakan pesanan ke
Singapura pada Maret 2024. Harga akomodasi dan tiket naik berlipat. Sebab, para
penikmat konser bukan hanya warga Singapura, melainkan datang dari beragam
negara tetangga, antara lain Indonesia, Filipina, dan Malaysia. Gegap gempita
konser ini hanyalah satu dari sederet subsektor ekonomi kreatif (ekraf).
Dalam laporan Statistik Ekonomi Kreatif 2020 yang dirilis Kemenparekraf,
ekraf merupakan upaya menciptakan nilai tambah berbasis ide dari kreativitas SDM
dan ilmu pengetahuan. Hal ini tak terlepas dari warisan budaya dan teknologi. Setidaknya
terdapat 17 subsektor ekraf, yang meliputi aplikasi, arsitektur, desain
komunikasi visual, desain produk, desain interior, fotografi, musik, kriya,
kuliner, fashion, penerbitan film, animasi, dan video, periklanan, permainan
interaktif, seni pertunjukan, seni rupa, serta televisi dan radio. Data 2019
menunjukkan, ekraf mampu menyerap 19,2 juta orang, setara 15,2 % tenaga kerja
nasional. Tren ini tumbuh positif saban tahun sejak 2011. Kontribusinya
terhadap PDB mencapai Rp 1.153,4 triliun.
Menurut praktisi budaya, pariwisata, dan ekraf, Harry Waluyo,
ekosistem ekraf belum terbentuk di Indonesia. Para pelaku dalam ekosistem pun
masih belum memahami pasar. ”Para seniman, creator, kurang dapat suatu peluang,
dalam pengertian perlindungan hak atas kekayaan intelektual (HAKI), (dan)
dukungan kemudahan mendapat pembiayaan. Kendala-kendala ini sudah lama kami
rasakan,” ujarnya. Harapannya, para pelaku ekraf bisa memahami bahwa dalam
industri ekraf, ekspor tak melulu berupa barang. Nilai dan kualitas, selain harga
dan pelayanan, jadi aspek penting. Isu pengembangan ekraf juga perlu intervensi
pemerintah. Pendanaan dan dukungan lain perlu diupayakan. Sebab, persaingan
saat ini ditentukan pula dari produk, kualitas, dan harga. (Yoga)
Biaya Perekrutan Baru ”Start Up” di ASEAN Dikurangi
Sebanyak 41 % perusahaan rintisan bidang teknologi digital
atau start up di Asia Tenggara menurunkan anggaran perekrutan karyawan baru
sepanjang 2023, karena akses terhadap pendanaan ke investor yang kian
berkurang. Situasi itu terungkap dalam laporan riset ”Southeast Asia Startup
Talent Trends Report 2024”. Laporan riset yang juga laporan tahunan Glints dan
Monk’s Hill Ventures edisi tahun 2024 ini dirilis resmi pekan lalu. Meski
anggaran perekrutan baru menurun, 78 % start up di Asia Tenggara masih berupaya
merekrut tenaga profesional yang mampu mendukung perusahaan berekspansi dan
berinovasi. Hanya 19 % start up menyatakan tidak ada perekrutan baru dan 3 %
yang menyatakan tidak yakin akan membuka lowongan pekerjaan baru.
Laporan riset Southeast Asia Startup Talent Trends Report 2024
menganalisis lebih dari 10.000 data lowongan pekerjaan start up di Singapura,
Indonesia, dan Vietnam, serta wawancara kepada lebih dari 70 start up di
wilayah tersebut. Menurut laporan itu, gaji pekerja start up di Asia Tenggara
yang bekerja di bidang pengembangan bisnis dan penjualan telah meningkat 20 %.
Ini mencerminkan kebutuhan mendesak start up untuk menghasilkan uang di tengah
kondisi pendanaan yang semakin sulit. Sementara bidang pekerjaan teknisi pada
start up di Asia Tenggara mengalami penurunan gaji terbesar yang dipengaruhi PHK
dan pemotongan biaya. Situasi ini menyebabkan meningkatnya pasokan talenta teknologi
di pasar sehingga memberikan tekanan pada gaji. Gaji untuk insinyur turun 2 %
pada 2023 dan posisi insinyur yunior turun paling tajam, yakni 6 %. (Yoga)
Beban Hidup Nelayan Semakin Berat
Kondisi nelayan di Indonesia kian sulit, terutama nelayan
kecil dan tradisional. Biaya kebutuhan hidup yang meningkat semakin timpang
dengan pendapatan nelayan yang kian menyusut. Data BPS memaparkan, nilai tukar
nelayan (NTN) terus melandai dalam enam bulan terakhir. Pada Februari 2024 NTN
tercatat sebesar 101,59 atau turun 0,15 % dibandingkan dengan Januari 2024 yang
101,74. Tren penurunan NTN mulai terlihat sejak September 2023 yang tercatat
105,64, pada Oktober 2023 sebesar 104,84, kemudian pada November turun ke
103,52, dan di Desember 2023 menjadi 102,46.
Sekjen Serikat Nelayan Indonesia Budi Laksana mengungkapkan,
terdapat sejumlah faktor yang membebani penghidupan nelayan, antara lain harga
bahan kebutuhan pokok yang terus meningkat serta biaya melaut yang tinggi
karena sulitnya mendapatkan BBM bersubsidi. Nelayan kecil terpaksa membeli BBM
secara eceran dengan harga lebih tinggi. Sementara harga jual ikan dari hasil
melaut justru menurun. ”Pengeluaran tidak sebanding dengan pemasukan. Kebutuhan
biaya nelayan semakin tinggi, sedangkan pendapatan berkurang karena harga jual ikan
turun. Ini membuat beban nelayan bertambah,” ujar Budi saat dihubungi, Senin
(4/3). (Yoga)
Laju Inflasi Pangan Lampaui Kenaikan UMR
Dalam kurun 3-4 tahun terakhir, rata-rata kenaikan inflasi
komponen harga pangan bergejolak melebihi rerata kenaikan upah minimum regional
(UMR). Level inflasi komponen tersebut juga mendekati rerata kenaikan gaji ASN.
Bahkan, pada Februari 2024, angkanya sudah melebihi rerata kenaikan gaji ASN
dan UMR. Hal itu mengemuka dalam Rakor Pengamanan Pasokan dan Harga Pangan Jelang
Puasa dan Idul Fitri 2024 yang digelar Bapanas secara hibrida di Jakarta, Senin
(4/3). Rapat yang dipimpin Mendagri Tito Karnavian itu dihadiri Kepala Bapanas Arief
Prasetyo Adi, perwakilan kementerian/lembaga terkait, BI, serta sejumlah kepala
daerah di Indonesia. Arief menjelaskan, pada 2020-2023, rerata tingkat inflasi
komponen harga pangan bergelojak sebesar 5,2 %.
Tingkat inflasi itu sudah di atas rerata kenaikan UMR pada 2020-2024
yang sebesar 4,9 %. Angka rerata tersebut juga mulai mendekati rata-rata kenaikan
gaji ASN pada 2019- 2024 yang sebesar 6,5 %. ”Oleh karena itu, inflasi harga
pangan bergejolak harus dijaga di bawah 5 % agar tidak menggerogoti penghasilan
mereka,” ujar Arief. BI mencatat tingkat inflasi komponen harga pangan bergejolak
pada Februari 2024 di atas rerata kenaikan gaji ASN dan UMR. Tingkat inflasi pada
bulan tersebut mencapai 2,75 % secara tahunan atau meningkat dari inflasi
Januari 2024 di 2,57 %. Komponen harga pangan bergejolak berkontribusi terbesar
terhadap inflasi Februari 2024. Tingkatinflasi komponen tersebut mencapai 8,47
% secara tahunan. Tiga komoditas terbesar penyumbang inflasi tersebut adalah
beras, cabai merah, dan telur ayam ras. (Yoga)
Gagal Panen Jagung Menjadi Pukulan Ganda bagi Warga Flores Timur
Produksi jagung di Flores Timur, NTT, diprediksi merosot
lebih dari 50 % karena El Nino yang menyebabkan kurangnya hujan. Padahal,
jagung merupakan pangan pokok kedua setelah beras yang harganya saat ini melonjak
tinggi. Kadis Pertanian Flores Timur Sebas Sina Kleden, di kantornya, Senin
(4/3) mengatakan, El Nino menyebabkan intensitas hujan di Flores Timur selama
musim hujan tahun 2024 sangat kurang. Hal ini menyebabkan banyak tanaman
masyarakat, termasuk jagung, mati. ”Setiap hari masuk laporan dari desa,
tanaman jagung yang ditanam masyarakat kekeringan dan mati,” kata Sebas. Ia memperkirakan,
produksi jagung di Flores Timur pada musim panen Maret-April bakal berkurang
lebih dari 50 %. Menurut dia, ancaman gagal panen jagung juga dilaporkan di
kabupaten lain di NTT.
”Tahun ini akan sangat berat bagi masyarakat NTT karena harga
beras juga masih sangat tinggi. Harga jagung juga mahal karena pasokan nya
kurang,” ujar Sebas Saat ini harga beras di Flores Timur Rp 17.000 per kg. Jagung
pipil yang biasanya Rp 5.000 per kg mencapai Rp 10.000 per kg dan jagung giling
mencapai Rp 15.000 per kg. Fungsional Analis Dinas Pertanian dan Ketahanan
Pangan Kabupaten Flores Timur, Junus Mukin, mengatakan, jagung selama ini merupakan
pangan pokok kedua dengan konsumsi 29
gram hingga 40 gram per kapita per hari. Adapun konsumsi beras berkisar 200-300
gram per kapita per hari. ”Konsumsi jagung di petani perdesaan umumnya lebih
tinggi dibandingkan di perkotaan. Biasanya masyarakat desa mencampur jagung
hasil tanaman sendiri untuk mengurangi konsumsi beras. Namun, dengan kegagalan
panen jagung, masyarakat akan lebih bergantung pada beras yang harganya mahal,”
tuturnya. (Yoga)
Sulit Lepas dari Jerat Kemiskinan
Dominasi beras sebagai bahan pangan pokok di Indonesia
membuat setiap kenaikan harganya menjadi isu sensitif. Ironisnya, petani
sebagai produsen utama tidak langsung menikmati buah dari kenaikan harga
tersebut. Publik pun menilai kesejahteraan petani masih menjadi persoalan laten
yang sulit diselesaikan pemerintah. Temuan ini terekam dari hasil jajak
pendapat Litbang Kompas pada 26-28 Februari 2024 di 38 provinsi dengan 512
responden. Sebanyak 64,2 % responden menganggap sebagian besar petani masih
tergolong miskin. Hanya satu dari tiga responden yang menilai sebagian besar
petani sudah hidup berkecukupan. Selain itu, hampir separuh responden menilai
kenaikan harga beras pada Januari-Februari 2024 disebabkan oleh faktor alam,
terutama iklim yang mengganggu panen padi. Sebanyak 22 % publik juga mengaitkan
kenaikan harga beras dengan faktor politik.
Maraknya bantuan sosial beberapa bulan terakhir dinilai turut
memengaruhi berkurangnya stok beras. Selebihnya, sebagian menganggap adanya
permainan harga dari pihak kedua atau tengkulak (10,9 %) dan para pedagang yang
sengaja menimbun pasokan beras (10,6 %). Tampaknya dampak dari perubahan iklim
beberapa tahun belakangan ini memengaruhi persepsi masyarakat terhadap nasib
petani. Faktor alam atau iklim yang tak menentu dinilai 26,5 % responden
sebagai masalah utama yang dihadapi petani. Sebagian lain (24 %) menilai petani
masih kurang memiliki modal sehingga kurang bisa mengoptimalkan lahan yang
digarapnya. Namun, sebagian masyarakat juga menyoroti kebijakan impor beras
yang dilakukan pemerintah yang menyebabkan harga gabah petani jadi anjlok.
Program-program Kementan selama ini perlu dievaluasi secara
menyeluruh dengan fokus tidak hanya pada ketersediaan bahan pangan, tetapi juga
turut memperhatikan nasib kesejahteraan petani beras lokal. Di samping sejumlah
program yang sedang diupayakan pemerintah, masyarakat menilai sejumlah tindakan
perlu diprioritaskan guna meningkatkan kesejahteraan petani beras. Hampir
setengah masyarakat menilai bahwa pemerintah perlu tetap memastikan
ketersediaan pupuk bersubsidi. Hal lain, seperti memberikan bantuan modal berupa
uang, pembatasan produk beras impor, dan memotong rantai penjualan gabah, menjadi
prioritas lainnya yang perlu dijalankan pemerintah. (Yoga)
Petani Berharap Harga Gabah Tak Anjlok Saat Panen Raya
Para petani padi di sejumlah daerah di Tanah Air meminta
pemerintah menjaga harga gabah agar tidak anjlok saat panen raya tahun ini.
Anjloknya harga gabah akan menjatuhkan motivasi sekaligus menekan kesejahteraan
petani. Rokhman (52), petani di Desa Jagapura Wetan, Cirebon, Jabar,
menuturkan, petani di daerahnya kesulitan mendapatkan pasokan air dan pupuk
bersubsidi serta mengatasi serangan hama yang membuat biaya produksi naik.
Akibat masalah tersebut, ongkos tanam padi yang ia keluarkan bertambah dari biasanya
Rp8 juta per hektar menjadi lebih dari Rp 10 juta per hektar. Seperti Rokhman,
Aksan Maulana (52), petani lain di daerah itu, berharap harga gabah tidak
anjlok. ”Harga gabah kalau bisa stabil Rp 7.000- Rp 8.000 per kg. Kalau di
bawah itu, ya, rugi. Sebab, kebanyakan petani masih menyewa lahan,” ujarnya.
Merujuk data kerangka sampel area BPS, luas panen padi berpotensi
meningkat pada Maret dan April 2024. Karena itu, produksi beras diperkirakan
meningkat dan melebihi rata-rata kebutuhan konsumsi domestik yang mencapai 2,5 juta
ton per bulan. Pada Maret, produksi beras diprediksi 3,54 juta ton, sementara
pada April mencapai 4,92 juta ton. Gejala turunnya harga gabah sudah terjadi di
lapangan. Di Demak, Jateng, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani
yang semula Rp 8.500 per kg berangsur turun menjadi Rp 7.200 per kg (Kompas.id,
28/2/2024). Seperti para petani di Cirebon dan Demak, Sahri (70) dan Jama’ali
(55), petani di Desa Banjararum, Desa Banjararum, Malang, Jatim, berharap
pemerintah bisa menjaga stabilitas harga gabah. (Yoga)
Mengail Momentum Rebound Saham EBT
Banyak Kasus, OJK Awasi Bisnis Pinjol
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









