;
Kategori

Ekonomi

( 40465 )

Nestapa Petani dalam Cekaman Anomali Iklim

05 Mar 2024

Para petani padi di Tanah Air terus berjuang di tengah ketidakpastian cuaca dan anomali iklim. Kemarau dan hujan tak tentu datangnya. Namun, tak sedikit di antara mereka yang menjadi semakin rentan, kebanjiran saat hujan dan kekeringan saat kemarau. Hujan deras mengguyur Desa Cangkring B, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jateng, Sabtu (24/2). Kendati hujan belum reda, Tumini (57) melangkahkan kaki menuju ke sawahnya. Siang itu, ia bersama suaminya bermaksud memanen padi yang terendam banjir selama 16 hari. Sebulan sebelumnya, padi-padi yang ditanam di lahan sekitar 3.600 meter persegi itu sudah laku dibeli pengepul dengan harga Rp 5 juta. ”Tak pernah mengira (padi) akan rusak gara-gara banjir. (Uang) Yang seharusnya dibayar hilang terbawa banjir,” ujarnya. Gabah itu akan ia ambil untuk konsumsi sendiri. ”Busuk yo wis ben (ya biar), mau bagaimana lagi? Kalau mau dijual juga tidak akan laku,” kata Tumini.

Tanaman padi seluas 2.000 meter persegi milik Ahmad Sudirman (44), warga Desa Cangkring B, juga gagal panen akibat banjir. Dari total sekitar 1,5 ton gabah yang dia panen, lebih dari separuhnya dalam kondisi busuk. Ia memutuskan menjual murah gabah yang belum busuk. ”Gabah bagus, bisa laku Rp 8.000 per kg. Namun, kalau ada yang menawar Rp 6.000 per kg, saya langsung lepas,” kata Ahmad. Pada Minggu (25/2) siang, matahari bersinar terik. ”Saya sedih melihat gabah-gabah saya jadi seperti ini,” kata Sumikah (38), warga Desa Lambangan, Kecamataan Undaan, Kabupaten Kudus. Empat tahun terakhir, panen Sumikah tidak maksimal karena banjir dan kekeringan. ”Kalau kemarau, susah air. Harus keluar uang untuk memompa air dari sungai ke sawah. Hasil penjualan gabah Mungkin tidak akan cukup untuk menambal kerugian yang saya tanggung. Kalau dihitung, saya merugi Rp 20 juta,” kata Sumikah.

”Saat ini dalam proses pengusulan untuk bantuan ganti rugi,” ujar Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Jateng Francisca Herwati Prarastyani, Kamis (29/2). Menurut dia, para petani yang terdampak dan puso bakal mendapatkan bantuan benih. Kendati demikian, jumlah benih akan ditentukan oleh Kementan. Selain bantuan benih, petani yang ikut program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) berhak mendapatkan ganti rugi. ”Iuran AUTP itu tergolong murah, yakni Rp 36.000 per hektar per musim tanam. Kalau misal puso, gagal panen, yang ikut (program AUTP) dapat Rp 6 juta per hektar. Lumayan daripada tidak dapat ganti sama sekali,” ujarnya. (Yoga)

EKONOMI KREATIF Raih Prospek dengan Meretas Sandungan

05 Mar 2024

Tak terbantahkan, ekonomi kreatif menjanjikan perputaran ekonomi yang menggiurkan. Banyak orang rela merogoh kocek lebih untuk menikmati beragam karya produk kreatif. Konser Taylor Swift, misalnya, pergelaran musik diva itu mampu menggerakkan ekonomi negara. Keberadaannya bahkan diperebutkan berbagai negara di Asia Tenggara. Namun, Singapura sukses memasang strategi untuk menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang berhasil menghelat The Eras Tour yang diusung Swift pada Maret ini. Setelah perburuan tiket konser, beragam hotel, maskapai, dan operator agen perjalanan mengalami ledakan pesanan ke Singapura pada Maret 2024. Harga akomodasi dan tiket naik berlipat. Sebab, para penikmat konser bukan hanya warga Singapura, melainkan datang dari beragam negara tetangga, antara lain Indonesia, Filipina, dan Malaysia. Gegap gempita konser ini hanyalah satu dari sederet subsektor ekonomi kreatif (ekraf).

Dalam laporan Statistik Ekonomi Kreatif 2020 yang dirilis Kemenparekraf, ekraf merupakan upaya menciptakan nilai tambah berbasis ide dari kreativitas SDM dan ilmu pengetahuan. Hal ini tak terlepas dari warisan budaya dan teknologi. Setidaknya terdapat 17 subsektor ekraf, yang meliputi aplikasi, arsitektur, desain komunikasi visual, desain produk, desain interior, fotografi, musik, kriya, kuliner, fashion, penerbitan film, animasi, dan video, periklanan, permainan interaktif, seni pertunjukan, seni rupa, serta televisi dan radio. Data 2019 menunjukkan, ekraf mampu menyerap 19,2 juta orang, setara 15,2 % tenaga kerja nasional. Tren ini tumbuh positif saban tahun sejak 2011. Kontribusinya terhadap PDB mencapai Rp 1.153,4 triliun.

Menurut praktisi budaya, pariwisata, dan ekraf, Harry Waluyo, ekosistem ekraf belum terbentuk di Indonesia. Para pelaku dalam ekosistem pun masih belum memahami pasar. ”Para seniman, creator, kurang dapat suatu peluang, dalam pengertian perlindungan hak atas kekayaan intelektual (HAKI), (dan) dukungan kemudahan mendapat pembiayaan. Kendala-kendala ini sudah lama kami rasakan,” ujarnya. Harapannya, para pelaku ekraf bisa memahami bahwa dalam industri ekraf, ekspor tak melulu berupa barang. Nilai dan kualitas, selain harga dan pelayanan, jadi aspek penting. Isu pengembangan ekraf juga perlu intervensi pemerintah. Pendanaan dan dukungan lain perlu diupayakan. Sebab, persaingan saat ini ditentukan pula dari produk, kualitas, dan harga. (Yoga)

Biaya Perekrutan Baru ”Start Up” di ASEAN Dikurangi

05 Mar 2024

Sebanyak 41 % perusahaan rintisan bidang teknologi digital atau start up di Asia Tenggara menurunkan anggaran perekrutan karyawan baru sepanjang 2023, karena akses terhadap pendanaan ke investor yang kian berkurang. Situasi itu terungkap dalam laporan riset ”Southeast Asia Startup Talent Trends Report 2024”. Laporan riset yang juga laporan tahunan Glints dan Monk’s Hill Ventures edisi tahun 2024 ini dirilis resmi pekan lalu. Meski anggaran perekrutan baru menurun, 78 % start up di Asia Tenggara masih berupaya merekrut tenaga profesional yang mampu mendukung perusahaan berekspansi dan berinovasi. Hanya 19 % start up menyatakan tidak ada perekrutan baru dan 3 % yang menyatakan tidak yakin akan membuka lowongan pekerjaan baru.

Laporan riset Southeast Asia Startup Talent Trends Report 2024 menganalisis lebih dari 10.000 data lowongan pekerjaan start up di Singapura, Indonesia, dan Vietnam, serta wawancara kepada lebih dari 70 start up di wilayah tersebut. Menurut laporan itu, gaji pekerja start up di Asia Tenggara yang bekerja di bidang pengembangan bisnis dan penjualan telah meningkat 20 %. Ini mencerminkan kebutuhan mendesak start up untuk menghasilkan uang di tengah kondisi pendanaan yang semakin sulit. Sementara bidang pekerjaan teknisi pada start up di Asia Tenggara mengalami penurunan gaji terbesar yang dipengaruhi PHK dan pemotongan biaya. Situasi ini menyebabkan meningkatnya pasokan talenta teknologi di pasar sehingga memberikan tekanan pada gaji. Gaji untuk insinyur turun 2 % pada 2023 dan posisi insinyur yunior turun paling tajam, yakni 6 %. (Yoga)

Beban Hidup Nelayan Semakin Berat

05 Mar 2024

Kondisi nelayan di Indonesia kian sulit, terutama nelayan kecil dan tradisional. Biaya kebutuhan hidup yang meningkat semakin timpang dengan pendapatan nelayan yang kian menyusut. Data BPS memaparkan, nilai tukar nelayan (NTN) terus melandai dalam enam bulan terakhir. Pada Februari 2024 NTN tercatat sebesar 101,59 atau turun 0,15 % dibandingkan dengan Januari 2024 yang 101,74. Tren penurunan NTN mulai terlihat sejak September 2023 yang tercatat 105,64, pada Oktober 2023 sebesar 104,84, kemudian pada November turun ke 103,52, dan di Desember 2023 menjadi 102,46.

Sekjen Serikat Nelayan Indonesia Budi Laksana mengungkapkan, terdapat sejumlah faktor yang membebani penghidupan nelayan, antara lain harga bahan kebutuhan pokok yang terus meningkat serta biaya melaut yang tinggi karena sulitnya mendapatkan BBM bersubsidi. Nelayan kecil terpaksa membeli BBM secara eceran dengan harga lebih tinggi. Sementara harga jual ikan dari hasil melaut justru menurun. ”Pengeluaran tidak sebanding dengan pemasukan. Kebutuhan biaya nelayan semakin tinggi, sedangkan pendapatan berkurang karena harga jual ikan turun. Ini membuat beban nelayan bertambah,” ujar Budi saat dihubungi, Senin (4/3). (Yoga)

Laju Inflasi Pangan Lampaui Kenaikan UMR

05 Mar 2024

Dalam kurun 3-4 tahun terakhir, rata-rata kenaikan inflasi komponen harga pangan bergejolak melebihi rerata kenaikan upah minimum regional (UMR). Level inflasi komponen tersebut juga mendekati rerata kenaikan gaji ASN. Bahkan, pada Februari 2024, angkanya sudah melebihi rerata kenaikan gaji ASN dan UMR. Hal itu mengemuka dalam Rakor Pengamanan Pasokan dan Harga Pangan Jelang Puasa dan Idul Fitri 2024 yang digelar Bapanas secara hibrida di Jakarta, Senin (4/3). Rapat yang dipimpin Mendagri Tito Karnavian itu dihadiri Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi, perwakilan kementerian/lembaga terkait, BI, serta sejumlah kepala daerah di Indonesia. Arief menjelaskan, pada 2020-2023, rerata tingkat inflasi komponen harga pangan bergelojak sebesar 5,2 %.

Tingkat inflasi itu sudah di atas rerata kenaikan UMR pada 2020-2024 yang sebesar 4,9 %. Angka rerata tersebut juga mulai mendekati rata-rata kenaikan gaji ASN pada 2019- 2024 yang sebesar 6,5 %. ”Oleh karena itu, inflasi harga pangan bergejolak harus dijaga di bawah 5 % agar tidak menggerogoti penghasilan mereka,” ujar Arief. BI mencatat tingkat inflasi komponen harga pangan bergejolak pada Februari 2024 di atas rerata kenaikan gaji ASN dan UMR. Tingkat inflasi pada bulan tersebut mencapai 2,75 % secara tahunan atau meningkat dari inflasi Januari 2024 di 2,57 %. Komponen harga pangan bergejolak berkontribusi terbesar terhadap inflasi Februari 2024. Tingkatinflasi komponen tersebut mencapai 8,47 % secara tahunan. Tiga komoditas terbesar penyumbang inflasi tersebut adalah beras, cabai merah, dan telur ayam ras. (Yoga)

Gagal Panen Jagung Menjadi Pukulan Ganda bagi Warga Flores Timur

05 Mar 2024

Produksi jagung di Flores Timur, NTT, diprediksi merosot lebih dari 50 % karena El Nino yang menyebabkan kurangnya hujan. Padahal, jagung merupakan pangan pokok kedua setelah beras yang harganya saat ini melonjak tinggi. Kadis Pertanian Flores Timur Sebas Sina Kleden, di kantornya, Senin (4/3) mengatakan, El Nino menyebabkan intensitas hujan di Flores Timur selama musim hujan tahun 2024 sangat kurang. Hal ini menyebabkan banyak tanaman masyarakat, termasuk jagung, mati. ”Setiap hari masuk laporan dari desa, tanaman jagung yang ditanam masyarakat kekeringan dan mati,” kata Sebas. Ia memperkirakan, produksi jagung di Flores Timur pada musim panen Maret-April bakal berkurang lebih dari 50 %. Menurut dia, ancaman gagal panen jagung juga dilaporkan di kabupaten lain di NTT.

”Tahun ini akan sangat berat bagi masyarakat NTT karena harga beras juga masih sangat tinggi. Harga jagung juga mahal karena pasokan nya kurang,” ujar Sebas Saat ini harga beras di Flores Timur Rp 17.000 per kg. Jagung pipil yang biasanya Rp 5.000 per kg mencapai Rp 10.000 per kg dan jagung giling mencapai Rp 15.000 per kg. Fungsional Analis Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Flores Timur, Junus Mukin, mengatakan, jagung selama ini merupakan pangan pokok kedua dengan konsumsi  29 gram hingga 40 gram per kapita per hari. Adapun konsumsi beras berkisar 200-300 gram per kapita per hari. ”Konsumsi jagung di petani perdesaan umumnya lebih tinggi dibandingkan di perkotaan. Biasanya masyarakat desa mencampur jagung hasil tanaman sendiri untuk mengurangi konsumsi beras. Namun, dengan kegagalan panen jagung, masyarakat akan lebih bergantung pada beras yang harganya mahal,” tuturnya. (Yoga)

Sulit Lepas dari Jerat Kemiskinan

05 Mar 2024

Dominasi beras sebagai bahan pangan pokok di Indonesia membuat setiap kenaikan harganya menjadi isu sensitif. Ironisnya, petani sebagai produsen utama tidak langsung menikmati buah dari kenaikan harga tersebut. Publik pun menilai kesejahteraan petani masih menjadi persoalan laten yang sulit diselesaikan pemerintah. Temuan ini terekam dari hasil jajak pendapat Litbang Kompas pada 26-28 Februari 2024 di 38 provinsi dengan 512 responden. Sebanyak 64,2 % responden menganggap sebagian besar petani masih tergolong miskin. Hanya satu dari tiga responden yang menilai sebagian besar petani sudah hidup berkecukupan. Selain itu, hampir separuh responden menilai kenaikan harga beras pada Januari-Februari 2024 disebabkan oleh faktor alam, terutama iklim yang mengganggu panen padi. Sebanyak 22 % publik juga mengaitkan kenaikan harga beras dengan faktor politik.

Maraknya bantuan sosial beberapa bulan terakhir dinilai turut memengaruhi berkurangnya stok beras. Selebihnya, sebagian menganggap adanya permainan harga dari pihak kedua atau tengkulak (10,9 %) dan para pedagang yang sengaja menimbun pasokan beras (10,6 %). Tampaknya dampak dari perubahan iklim beberapa tahun belakangan ini memengaruhi persepsi masyarakat terhadap nasib petani. Faktor alam atau iklim yang tak menentu dinilai 26,5 % responden sebagai masalah utama yang dihadapi petani. Sebagian lain (24 %) menilai petani masih kurang memiliki modal sehingga kurang bisa mengoptimalkan lahan yang digarapnya. Namun, sebagian masyarakat juga menyoroti kebijakan impor beras yang dilakukan pemerintah yang menyebabkan harga gabah petani jadi anjlok.

Program-program Kementan selama ini perlu dievaluasi secara menyeluruh dengan fokus tidak hanya pada ketersediaan bahan pangan, tetapi juga turut memperhatikan nasib kesejahteraan petani beras lokal. Di samping sejumlah program yang sedang diupayakan pemerintah, masyarakat menilai sejumlah tindakan perlu diprioritaskan guna meningkatkan kesejahteraan petani beras. Hampir setengah masyarakat menilai bahwa pemerintah perlu tetap memastikan ketersediaan pupuk bersubsidi. Hal lain, seperti memberikan bantuan modal berupa uang, pembatasan produk beras impor, dan memotong rantai penjualan gabah, menjadi prioritas lainnya yang perlu dijalankan pemerintah. (Yoga)

Petani Berharap Harga Gabah Tak Anjlok Saat Panen Raya

05 Mar 2024

Para petani padi di sejumlah daerah di Tanah Air meminta pemerintah menjaga harga gabah agar tidak anjlok saat panen raya tahun ini. Anjloknya harga gabah akan menjatuhkan motivasi sekaligus menekan kesejahteraan petani. Rokhman (52), petani di Desa Jagapura Wetan, Cirebon, Jabar, menuturkan, petani di daerahnya kesulitan mendapatkan pasokan air dan pupuk bersubsidi serta mengatasi serangan hama yang membuat biaya produksi naik. Akibat masalah tersebut, ongkos tanam padi yang ia keluarkan bertambah dari biasanya Rp8 juta per hektar menjadi lebih dari Rp 10 juta per hektar. Seperti Rokhman, Aksan Maulana (52), petani lain di daerah itu, berharap harga gabah tidak anjlok. ”Harga gabah kalau bisa stabil Rp 7.000- Rp 8.000 per kg. Kalau di bawah itu, ya, rugi. Sebab, kebanyakan petani masih menyewa lahan,” ujarnya.

Merujuk data kerangka sampel area BPS, luas panen padi berpotensi meningkat pada Maret dan April 2024. Karena itu, produksi beras diperkirakan meningkat dan melebihi rata-rata kebutuhan konsumsi domestik yang mencapai 2,5 juta ton per bulan. Pada Maret, produksi beras diprediksi 3,54 juta ton, sementara pada April mencapai 4,92 juta ton. Gejala turunnya harga gabah sudah terjadi di lapangan. Di Demak, Jateng, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani yang semula Rp 8.500 per kg berangsur turun menjadi Rp 7.200 per kg (Kompas.id, 28/2/2024). Seperti para petani di Cirebon dan Demak, Sahri (70) dan Jama’ali (55), petani di Desa Banjararum, Desa Banjararum, Malang, Jatim, berharap pemerintah bisa menjaga stabilitas harga gabah. (Yoga)

Mengail Momentum Rebound Saham EBT

05 Mar 2024
Saham emiten yang bergelut di bisnis energi hijau bisa menjadi alternatif saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah. Investor bisa menimbang saham Energi Baru & Terbarukan (EBT) yang punya prospek jangka panjang untuk diversifikasi. Belakangan ini, saham-saham saham emiten EBT melaju. Contohnya PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) yang masuk ke jajaran top gainers mingguan dengan lonjakan harga 32,97%. Saham emiten dengan market caps paling jumbo di segmen ini, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga kembali melejit. Saham emiten listrik hijau lain seperti PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dan PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) turut melaju di zona hijau. Head of Research Mega Capital Sekuritas, Cheril Tanuwijaya menyoroti mayoritas portofolio proyek emiten EBT ada dalam prospek jangka panjang. Dengan karakteristik tersebut, saham perusahaan listrik hijau ini dapat menjadi alternatif sebagai diversifikasi keranjang investasi. Analis Stocknow.id Abdul Haq Alfaruqy mengingatkan pelaku pasar tetap selektif jika ingin memanfaatkan momentum, karena belum ada sentimen signifikan yang bisa mendongkrak saham EBT dalam jangka panjang. Alfaruqy juga menyoroti PGEO yang sudah merilis kinerja keuangan tahun buku 2023. Sepanjang tahun lalu PGEO membukukan pendapatan US$ 406,28 juta, tumbuh 5,23% secara tahunan (yoy). Lalu, laba bersih PGEO naik 28,46% menjadi US$ 163,59 juta.Hasil positif ini mendorong espektasi pelaku pasar terhadap saham energi panas bumi seperti PGEO dan BREN. Research Analyst Reliance Sekuritas Indonesia, Ayu Dian menambahkan, prospek emiten EBT didorong ekspansi yang gencar dilakukan untuk membangun atau mengakuisisi proyek pembangkit listrik energi hijau demi mengerek kapasitas produksi.

Banyak Kasus, OJK Awasi Bisnis Pinjol

05 Mar 2024
Aksi beres-beres terus dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menyelesaikan kasus gagal bayar sejumlah perusahaan fintech peer to peer (P2P) lending. Salah satu P2P lending yang jadi perhatian OJK adalah kasus gagal bayar PT Investree Radhika Jaya. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman bilang, saat ini OJK sedang dalam tahap melakukan pemeriksaan, mengawasi perkembangan dan langkah penyelesaian yang diambil Investree. OJK juga terus mengawasi proses pemenuhan modal Investree. Terlebih, menurut Agusman, saat ini ada lima perusahaan dari 101 penyelenggara fintech lending yang belum memenuhi ekuitas minimum sebesar Rp 2,5 miliar hingga akhir Februari 2024. Sejauh ini, kata Agusman, OJK telah melakukan pertemuan dengan pemegang saham Investree. Dalam pertemuan itu, pemegang saham Investree berkomitmen mencari tambahan modal serta membantu penyelesaian kredit macet melalui upaya collection atau penagihan. Country Head Indonesia Modalku Arthur Adisusanto mengatakan, saat ini pihaknya terus memantau berbagai isu gagal bayar yang dapat berdampak pada bisnis perusahaan. Pada Februari 2024, lanjut dia, angka TWP90 Modalku sebesar 2,12%. Sedangkan tingkat TKB90 Modalku mencapai 97,99% per Februari 2024, naik dari 95,87% pada bulan sebelumnya. Tahun ini, Modalku menargetkan TKB90 bisa di atas 95%. Langkah serupa diterapkan PT Akselerasi Usaha Indonesia (Akseleran). Group CEO & Co-Founder Akseleran Ivan Nikolas Tambunan menargetkan, angka TWP90 tahun ini bisa terjaga di bawah 1%. Saat ini TWP90 Akseleran sebesar 0,27%. "Pada akhir 2023, TWP90 sekitar 0,4%, ada perbaikan sedikit," katanya.