;

Sepinya Angkutan Umum di Tengah Kemacetan Kota Bandung

Ekonomi Yoga 08 Mar 2024 Kompas
Sepinya Angkutan
Umum di Tengah
Kemacetan
Kota Bandung

Banyaknya kendaraan pribadi menjadi penyebab kemacetan di Bandung. Kualitas dan kuantitas angkutan umum di Bandung perlu ditingkatkan agar semakin banyak warga yang mau menggunakannya. Rabu (28/2) pagi, lalu lintas di kawasan Antapani, Kota Bandung, padat seperti biasanya didominasi kendaraan pribadi, mobil atau motor. Hanya secuil angkutan umum yang melintas, tapi tak banyak yang menjadi penumpang di angkutan umum itu. Apabila beruntung, ada angkutan kota (angkot) yang membawa 1-2 penumpang. Namun, tidak sedikit angkot yang terjebak kemacetan tanpa membawa satu penumpang pun. Angkot berwarna kuning jurusan Antapani-Ciroyom yang dikemudikan Kurniawan (27) terlihat kesulitan mencari penumpang.

Ngetem di dekat SPBU Antapani tidak ada penumpang yang berhasil digoda angkot yang cat dan bodinya tidak mulus lagi itu. Kurniawan tidak ingat lagi kapan terakhir angkot berkapasitas maksimal 13 orang itu terisi penuh. Dalam sehari, Kurniawan paling banyak mendapat kurang dari 30 penumpang atau setara Rp 100.000-Rp 150.000. Setelah dikurangi ongkos bensin dan setoran kepada pemilik mobil, ia hanya membawa pulang Rp 50.000-Rp 75.000 per hari. ”Jumlah itu terus turun setiap tahun,” kata Kurniawan, lulusan SMP yang sudah lima tahun jadi sopir angkot. Ardian Maulana (22), sopir angkot yang ditemui di Terminal Antapani, juga mengalami hal serupa. Angkot tidak lagi jadi pilihan. Argi (35), warga Padasuka, Kota Bandung, sudah lama tidak tertarik menggunakan angkot.

Penyebabnya beragam, mulai dari tubuh angkot yang penuh karat, panas karena pendingin udara yang rusak, hingga sopir yang tidak ragu merokok saat mengemudi. Ditambah pengemudi yang berhenti seenaknya, ”Kalau tidak berubah, angkot akan semakin ditinggalkan,” katanya. Sepi di dalam angkot juga terasa di dalam bus umum. Bus Trans Metro Pasundan (TMP) yang dinaiki Aji (24) dari Jatinangor, Kabupaten Sumedang, menuju Jalan Mohamad Toha, Kota Bandung, juga sepi, pada Selasa (5/3) pagi. Menempuh perjalanan 30 km, Aji hanya 1 dari 10 penumpang. Sebanyak 20 kursi lainnya tidak terisi. ”Naik bus sebenarnya enak. Ongkos dari Sumedang ke Kota Bandung hanya Rp 4.900 per orang dan bisa masuk tol. Namun, di jalur arteri tetap terjebak macet. Ini membuat waktu tempuh sulit diperkirakan,” katanya.

Kondisi itu membuat Aji masih ragu bergantung sepenuhnya pada TMP. Sehari-hari, ia lebih banyak menggunakan sepeda motor. ”Lagi pula tidak semua tempat di Bandung bisa dijangkau dengan kendaraan umum,” katanya. Dosen Teknik Sipil ITB, Sony Sulaksono Wibowo, berpendapat, Peran angkot sebagai moda transportasi publik di Kota Bandung juga perlu menjadi perhatian. Menurut Sony, publik enggan menggunakan angkot sehingga perlu diperbaiki, padahal moda ini dinilai sesuai dengan kondisi jalan-jalan di Bandung yang cenderung sempit dan kecil. Pengubahan rute dan perbaikan moda angkutan ini juga perlu diiringi peningkatan kesadaran masyarakat. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :