Sepinya Angkutan Umum di Tengah Kemacetan Kota Bandung
Banyaknya kendaraan pribadi menjadi penyebab kemacetan di
Bandung. Kualitas dan kuantitas angkutan umum di Bandung perlu ditingkatkan
agar semakin banyak warga yang mau menggunakannya. Rabu (28/2) pagi, lalu
lintas di kawasan Antapani, Kota Bandung, padat seperti biasanya didominasi
kendaraan pribadi, mobil atau motor. Hanya secuil angkutan umum yang melintas, tapi
tak banyak yang menjadi penumpang di angkutan umum itu. Apabila beruntung, ada
angkutan kota (angkot) yang membawa 1-2 penumpang. Namun, tidak sedikit angkot
yang terjebak kemacetan tanpa membawa satu penumpang pun. Angkot berwarna
kuning jurusan Antapani-Ciroyom yang dikemudikan Kurniawan (27) terlihat kesulitan
mencari penumpang.
Ngetem di dekat SPBU Antapani tidak ada penumpang yang
berhasil digoda angkot yang cat dan bodinya tidak mulus lagi itu. Kurniawan
tidak ingat lagi kapan terakhir angkot berkapasitas maksimal 13 orang itu
terisi penuh. Dalam sehari, Kurniawan paling banyak mendapat kurang dari 30
penumpang atau setara Rp 100.000-Rp 150.000. Setelah dikurangi ongkos bensin
dan setoran kepada pemilik mobil, ia hanya membawa pulang Rp 50.000-Rp 75.000
per hari. ”Jumlah itu terus turun setiap tahun,” kata Kurniawan, lulusan SMP
yang sudah lima tahun jadi sopir angkot. Ardian Maulana (22), sopir angkot yang
ditemui di Terminal Antapani, juga mengalami hal serupa. Angkot tidak lagi jadi
pilihan. Argi (35), warga Padasuka, Kota Bandung, sudah lama tidak tertarik menggunakan
angkot.
Penyebabnya beragam, mulai dari tubuh angkot yang penuh
karat, panas karena pendingin udara yang rusak, hingga sopir yang tidak ragu
merokok saat mengemudi. Ditambah pengemudi yang berhenti seenaknya, ”Kalau
tidak berubah, angkot akan semakin ditinggalkan,” katanya. Sepi di dalam angkot
juga terasa di dalam bus umum. Bus Trans Metro Pasundan (TMP) yang dinaiki Aji
(24) dari Jatinangor, Kabupaten Sumedang, menuju Jalan Mohamad Toha, Kota
Bandung, juga sepi, pada Selasa (5/3) pagi. Menempuh perjalanan 30 km, Aji
hanya 1 dari 10 penumpang. Sebanyak 20 kursi lainnya tidak terisi. ”Naik bus
sebenarnya enak. Ongkos dari Sumedang ke Kota Bandung hanya Rp 4.900 per orang
dan bisa masuk tol. Namun, di jalur arteri tetap terjebak macet. Ini membuat
waktu tempuh sulit diperkirakan,” katanya.
Kondisi itu membuat Aji masih ragu bergantung sepenuhnya pada
TMP. Sehari-hari, ia lebih banyak menggunakan sepeda motor. ”Lagi pula tidak semua
tempat di Bandung bisa dijangkau dengan kendaraan umum,” katanya. Dosen Teknik
Sipil ITB, Sony Sulaksono Wibowo, berpendapat, Peran angkot sebagai moda transportasi
publik di Kota Bandung juga perlu menjadi perhatian. Menurut Sony, publik
enggan menggunakan angkot sehingga perlu diperbaiki, padahal moda ini dinilai
sesuai dengan kondisi jalan-jalan di Bandung yang cenderung sempit dan kecil. Pengubahan
rute dan perbaikan moda angkutan ini juga perlu diiringi peningkatan kesadaran
masyarakat. (Yoga)
Postingan Terkait
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023