;

Kreativitas Warga Metro Menghidupi Cagar Budaya

Ekonomi Yuniati Turjandini 08 Mar 2024 Kompas (H)
Kreativitas Warga Metro
Menghidupi Cagar Budaya

Di tangan anak-anak muda, tempat-tempat bersejarah di Kota Metro, Lampung, difungsikan menjadi ruang kreatif. Bangunan cagar budaya menjadi ikon baru kota itu. Semangat merawat sejarah lahir dari rasa cinta warga pada kotanya. Suasana di Rumah Asisten Wedana, salah satu bangunan cagar budaya di Kota Metro, Provinsi Lampung ramai pengunjung, Sabtu (24/2) siang. Sejumlah orang bersantai menikmati suguhan makanan dan minuman yang dijual di Wedana Space. Ruang publik yang berada dalam bangunan cagar budaya itu lahir dari kreativitas anak-anak muda. Salah satunya Reyza Pribadi Lukita (25), pemuda yang membantu merealisasikan Rumah Asisten Wedana menjadi ruang kreatif. Luki, lulusan jurusan arsitektur ITB   itu mencurahkan ide secara sukarela membuat desain interior Rumah Asisten Wedana, berkonsultasi dengan Tim Ahli Cagar Budaya Kota Metro.

”Saya tidak boleh sembarangan karena ini adalah bangunan cagar budaya. Jangan sampai desain yang dibuat mengubah bentuk asli atau merusak struktur bangunannya,” kata Luki. Ruang utama bangunan bersejarah itu dijadikan tempat untuk menyambut pengunjung. Di tempat itu terdapat beberapa kursi kayu dan meja yang ditata saling berhadapan. Beberapa foto sejarah transmigrasi di Kota Metro terpasang di dinding. Di tempat itu terdapat sembilan gerai UMKM yang menjual berbagai produk, mulai dari makanan, minuman, hingga suvenir. Ada juga ruang belajar untuk komunitas. Ruang gerak diatur agar pengunjung nyaman berkeliling dan bisa mampir ke semua gerai. Sebagai warga Kota Metro, Luki terpanggil untuk berkontribusi merawat dan melestarikan bangunan cagar budaya. Kini, ia bersama dua rekannya, yakni M Riananda Pratama (27) dan Prasedo Fajar Utomo (25), menjadi pengelola Rumah Asisten Wedana.

Rumah Asisten Wedana hanyalah satu dari tujuh bangunan atau benda bersejarah yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Metro. Mayoritas merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda. Rumah Asisten Wedana merupakan rumah tinggal sekaligus pusat pemerintahan resmi Asisten Kawedanan Metro (setingkat camat). Tempat itu didirikan sebagai bagian dari pembangunan pusat kota oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1935. Bangunan cagar budaya lain di Kota Metro adalah Rumah Dokter atau Dokterswoning yang dibangun pada 1939. Kala itu, bangunan tersebut difungsikan sebagai tempat tinggal bagi dokter-dokter Belanda yang bertugas di Metro. Sekarang, bangunan cagar budaya itu difungsikan menjadi Rumah Informasi Sejarah Kota Metro yang ramai dikunjungi anak-anak sekolah. Bangunan lain yang menjadi cagar budaya adalah Klinik Santa Maria (1938), Health Center (1958), dan Menara Masjid Taqwa Kota Metro (1967). (Yetede)

Download Aplikasi Labirin :