Ironi Kekurangan Kapal di Negeri Kepulauan
Pelayaran laut merupakan salah satu sarana transportasi
penting di negeri kepulauan seperti Indonesia. Ironisnya, Indonesia masih kekurangan
kapal. Keberpihakan dan konsistensi kebijakan dibutuhkan untuk membuat pelayaran
menjadi jembatan kesejahteraan warga kepulauan. Gambaran pentingnya pelayaran terlihat
dari penumpang yang mengantre masuk ke KM Kelud, kapal yang dioperasikan PT
Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau Pelni, Selasa (23/2). Kapal itu
akan berlayar dari Medan, Sumut, menuju Batam, Kepri. Sedikitnya 2.200 penumpang
naik ke kapal itu, yang mendekati kapasitas maksimumnya, yakni 2.607 tempat
tidur. Padahal, waktu pelayaran ini masuk kategori low season.
”Saat peak season biasanya terjadi lonjakan penumpang sehingga
akan dibantu kapal Pelni dari rute lain yang dianggap tidak padat,” kata Biwa Abi
Laksana, Kepala Cabang Pelni di Medan. Kondisi serupa terjadi di banyak rute
pelayaran. Seperti pada peak season Natal 2023 dan Tahun Baru 2024, KM Lambelu
memperpanjang rute pelayaran. Kapal itu seharusnya mengakhiri pos terakhir di Larantuka,
Kabupaten Flores Timur, NTT, tetapi diminta melayani hingga Kota Kupang, 9 jam
pelayaran dari Larantuka. Beralihnya kapal ke jalur lain seperti ini otomatis
menyebabkan rute yang harus dilayani menjadi kosong. Tak terhitung berapa
banyak penumpang yang terpaksa menunda keberangkatan. Berton-ton logistik juga
tertahan di pelabuhan sehingga menimbulkan biaya tambahan. Mobilitas pun
terganggu.
Data Pelni menyebutkan, jumlah kapal yang dioperasikan saat
ini 26 unit yang melayani 26 trayek dengan titik persinggahan di 71 pelabuhan. Dalam
setahun, penumpang yang diangkut terus meningkat. Tahun 2023, jumlahnya 4 juta
orang. Jumlah kapal itu jauh dari kebutuhan yang diperkirakan, yakni 61 unit,
sebagaimana hasil analisis galangan kapal di Jerman. ”Sejauh ini kami berpedoman
pada data tersebut. Analisis itu pun sudah lama, yakni tahun 2015,” kata Kepala
Kesekretariatan Perusahaan PT Pelni Evan Eryanto. Keterbatasan kapal menyebabkan
tak semua wilayah terlayani. Padahal, Indonesia terdiri atas 17.000 pulau.
Kapal menjadi transportasi andalan. Dengan terbatasnya kapal, di wilayah NTT, kapal
akan kembali menyinggahi pelabuhan setelah 14 hari, di luar waktu docking kapal
sekali dalam setahun. (Yoga)
Postingan Terkait
Fregat, Kapal Tempur Canggih Karya Anak Bangsa
Dampak Blokade Selat Hormuz pada Logistik Laut
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023