Ekonomi
( 40460 )Generazi Z Sulit Mencari Kerja
Generasi Z alias anak muda berusia 15-27 tahun sulit mencari kerja. Tak kurang usaha dilakukan, antara lain mengirim puluhan ”curriculum vitae” berikut ragam strateginya. Zefanya Mayvi Ardira (21) lulusan baru (”fresh graduate”) di Bandung, Jabar, mengatakan, “Saya telah memasukkan berkas lamaran ke 70 lowongan pekerjaan dari sektor keuangan melalui beragam platform pekerjaan dan situs resmi perusahaan. Hanya tujuh yang me- respons positif, lima penolakan di awal, sisanya belum ada kabar. Saya berharap kuota lapangan kerja lebih banyak. Meski beragam pekerjaan tersedia pada beragam platform, kuantitasnya belum sebanding dengan banyaknya usia pekerja di Indonesia.
”Di tengah kondisi ekonomi saat ini, mencari kerja sesuai jurusan kuliah sangat sulit. Meski jurusan yang diambil termasuk populer, untuk mendapatkannya, saya harus bersaing dengan ribuan pelamar lain. Sembari menanti dapat pekerjaan tetap, ada juga peluang menjadi freelancer online dengan menggarap pekerjaan yang ditawarkan secara daring. Namun, saya harap ada kemudahan mendapatkan pekerjaan tetap,” ujar Noorza Adi Nugroho (20), mahasiswa Universitas Pamulang, Tangsel, Banten.
”Menurut saya, sekarang ini mencari kerja benar-benar sulit. Sudah hampir setahun ini cari kerja dan sampai sekarang masih belum dapat. Tidak terhitung lagi berapa lowongan kerja yang saya apply. Sudah sering gonta-ganti CV juga, tetapi masih belum ada yang diterima. Mentok-mentok sampai interview, sehabis itu enggak ada kabar lagi. Masukan dan saranku buat perusahaan adalah menghilangkan syarat minimal pengalaman kerja dan memberi kesempatan buat fresh graduate,” ujar Tri Erysandi (22), pencari kerja asal Bekasi, Jabar. (Yoga)
Menginap Rp 4.000 Per Malam di Pondok Boro
Pondok Boro menjadi tempat menginap yang terkenal bagi para perantau di Kota Semarang, Jateng, untuk melepas lelah barang sehari. Terletak di tengah perkampungan di Kauman, Semarang Tengah, penginapan itu hanya menawarkan tarif Rp 4.000 per hari. Bangunan Pondok Boro tua dan kusam. Cat putih yang melapisi dinding bangunan telah mengelupas di sana-sini. Layaknya bangunan khas kolonial, Pondok Boro punya dinding setinggi 4 meter. Bangunan itu juga dilengkapi pintu lebar dan jendela berterali besi. Saat masuk ke dalam, yang pertama terlihat adalah lorong-lorong dengan dipan-dipan kayu sepanjang masing-masing 20 meter. Tidak dilengkapi kasur, bantal, guling. Di atas dipan-dipan itu hanya ada spanduk atau baliho bekas sebagai alas tidur para penghuninya.
Di samping dipan, ada loker-loker kayu untuk menyimpan barang. Selain dipan-dipan panjang yang disebut sebagai boro, Pondok Boro punya ”kelas” lain, yakni kamaran. Kamaran berupa bilik dari kayu dan tripleks, dilengkapi pintu dan gembok. Ukurannya 2 x 2 meter dan ada lima unit. Tarif menginap di kelas boro Rp 4.000 per hari. Untuk kelas kamaran, tarif sewa per bulan Rp 120.000 per unit. Pondok Boro yang kini dihuni lebih dari 100 orang terdiri atas dua lantai, dilengkapi dua kamar mandi dan satu tempat shalat berukuran 9 meter persegi. Rata-rata penghuni di Pondok Boro adalah perantau dari sejumlah wilayah di Jateng dan Jabar. Mayoritas mereka bekerja sebagai buruh atau pedagang asongan di Pasar Johar dan sekitarnya. Semuanya laki-laki.
Salah satu penghuni Pondok Boro adalah Rusmin (50) warga Kebumen, Jateng, yang pada 1996 merantau ke Semarang untuk bekerja sebagai pedagang asongan. Di keluarganya, Rusmin adalah orang keempat yang tinggal di Pondok Boro. ”Yang pertama tinggal di sini kakek saya, tahun 1945. Kerjanya sebagai kuli panggul di Pasar Johar. Setelah kakek meninggal, gantian bapak saya (yang bekerja dan tinggal di sini). Lalu kakak saya kesini, jadi pedagang asongan. Setelah kakak saya meninggal, saya yang meneruskan sebagai pedagang asongan dan tinggal di sini sampai sekarang,” kata Rusmin di Pondok Boro, Selasa (30/7). Bekerja sebagai pedagang asongan membuat Rusmin mengantongi Rp 3 juta-Rp 4 juta per bulan. Jika di Semarang ada acara musik atau hiburan, Rusmin bisa membawa pulang hingga Rp 6 juta per hari.
Pendapatan tersebut sebenarnya bisa untuk menyewa penginapan atau kos yang lebih nyaman. ”Lebih baik uangnya disimpan untuk keperluan keluarga di Kebumen. Kalau cuma untuk tidur, yang begini sudah cukup buat saya,” ucapnya. Uang yang dihasilkan Rusmin dari berdagang asongan di Semarang sudah dipakainya untuk membangun rumah dan membeli sawah dengan luas 1.000 meter persegi. Rusmin juga berhasil menyekolahkan dua anaknya hingga tamat SMK. Minggu (4/8), Lurah Kauman Imam Sutopo mengatakan, Pondok Boro merupakan penginapan dengan tarif paling murah di wilayahnya. Menurut Imam, penginapan itu sangat bermanfaat untuk para perantau, terutama yang kondisi ekonominya pas-pasan. (Yoga)
Prabowo Pantau Investasi dan Politik Daerah di Batam
Presiden terpilih Prabowo Subianto berkunjung ke Batam, Kepri, untuk meninjau pembangunan pabrik perangkat pendukung kendaraan listrik. Prabowo juga membahas pencalonan kader Partai Gerindra untuk pilkada di Kepri. Pada Minggu (4/8) Prabowo melakukan pertemuan tertutup di PT Volex, Batam, pabrik manufaktur yang memproduksi berbagai jenis kabel, salah satunya alat pengisi ulang daya baterai kendaraan listrik. GM Volex Asia Pasifik Tan Chiang Peng mengatakan, perusahaan asal Inggris itu beroperasi di Batam sejak 1992. Kini, mereka membangun sejumlah gedung baru untuk meningkatkan produksi demi membidik pasar perangkat pendukung kendaraan listrik.
”32 tahun lalu, pekerja kami hanya 250 orang, sekarang 2.900 orang. Itu masih akan bertambah lagi karena, gedung baru kami masih banyak yang kosong,” kata Tan. Ia menjelaskan, PT Volex saat ini memproduksi berbagai jenis kabel, antara lain berbagai kabel listrik untuk kebutuhan rumah tangga dan kabel internet untuk pusat data. Kini, mereka berupaya memproduksi kabel untuk mengisi daya kendaraan listrik. ”Kami telah mengekspor produk kami ke negara-negara di Amerika Utara. Produk kami digunakan untuk mengisi daya mobil listrik Tesla, Audi, dan Hyundai,” ujar Tan. PT Volex Indonesia telah mengucurkan investasi senilai 40 juta USD atau Rp 647 miliar. Ke depan Volex akan mengucurkan investasi lagi untuk mengembangkan riset guna membidik pasar perangkat pendukung kendaraan listrik di dalam negeri.
Seusai menggelar pertemuan tertutup selama 1,5 jam di PT Volex, Prabowo keluar bersama Gubernur Kepri Ansar Ahmad dan Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad. Dalam Pilkada 2024, Gerindra memasangkan Ansar dan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerindra Batam Nyanyang Harris Pratamura untuk maju dalam pilgub Kepri. Adapun Amsakar dipasangkan dengan Ketua DPC Gerindra Kota Tangsel Li Claudia Chandra untuk maju di pemilihan wali kota Batam. Usai pertemuan di PT Volex, Amsakar mengatakan, dirinya mendapat pesan dari Prabowo untuk menjaga kondusivitas di daerah. ”Beliau (Prabowo) sangat singkat berbicara, intinya mendukung dan berjuang,” ucapnya. (Yoga)
Pengalihan Dana ke Singapura: Tindak Pidana dan Upaya Bersih-Bersih
Eksodus dana dari Indonesia ke Singapura dinilai terkorelasi dengan aktivitas tindak pidana terutama di sektor keuangan, sehingga patut ditelusuri oleh pemangku kebijakan.Di antaranya adalah transaksi yang berkaitan dengan judi daring, hingga penyembunyian aset atau harta yang secara historis acapkali dilakukan oleh individu maupun korporasi. Pada saat bersamaan, Pemerintah Singapura tengah fokus melakukan pembenahan untuk membersihkan stigma negatif sebagai negara pusat pencucian uang. Aksi ini diharapkan bisa menjadi momentum untuk mempererat koneksi dua negara dalam menangkal “transaksi hitam”. (Yoga)
Dampak dari Performa Ekonomi
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat pertumbuhan yang relatif baik di awal semester II/2024, dengan kenaikan 3,46% ke level 7.308,12 hingga penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Namun, pada Jumat pekan lalu, IHSG terkoreksi 0,24% akibat pelaku pasar merespons sentimen negatif dari kontraksi kinerja manufaktur dalam negeri yang telah berlangsung selama empat bulan berturut-turut. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia yang dirilis oleh S&P Global menunjukkan penurunan dari 54,2 pada Maret menjadi 49,3 pada Juli 2024, yang menjadi alarm bagi pemangku kepentingan industri.
Beragam masalah di sektor manufaktur, seperti penurunan produktivitas, infrastruktur yang tidak memadai, pungutan liar, dan memburuknya iklim usaha, memerlukan perhatian serius dari pemerintah. Kontraksi ini berdampak luas pada sektor-sektor usaha lainnya, termasuk industri dasar kimia, barang konsumsi, ritel, transportasi, infrastruktur, dan konstruksi, yang sudah menunjukkan tanda-tanda tekanan ekonomi yang berkepanjangan.
Pelaku pasar juga menantikan rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia untuk kuartal II/2024, di mana pemerintah optimis pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5%—5,2%. Namun, kekhawatiran terhadap transisi pemerintahan dan ketidakpastian global tetap membayangi. Pergerakan IHSG pun tidak bisa dilepaskan dari dinamika ekonomi global, terutama di Amerika Serikat, yang mengalami pelambatan dan berdampak negatif pada bursa Asia.
Dalam kondisi ini, pemerintah diharapkan segera melakukan pembenahan di sektor manufaktur yang merupakan salah satu motor utama penggerak ekonomi, meskipun situasi global yang tidak mudah menambah tantangan yang harus dihadapi.
KINERJA Emiten Besar Mengendalikan Arah Bursa Saham
Mayoritas emiten dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah merilis laporan keuangan periode semester I-2024. Di barisan 20 market cap terbesar, ada 16 emiten yang sudah mengumumkan kinerja enam bulan pertama tahun ini. Hingga menutup perdagangan akhir pekan lalu (2/8), 20 penguasa market cap emiten di sektor komoditas, perbankan, konsumer dan industri. Jika ditotal, nilai market cap 20 emiten tersebut mencapai 7.905,72 triliun. Nilai ini setara 63,69% dari total market cap BEI sebesar Rp 12.410 triliun. Dus, dengan kapitalisasi pasarjumbo, 20 emiten big cap bisa jadi penggerak dan pemberat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada penutupan perdagangan pekan lalu, IHSG bertengger di 7.308,12. Jika diakumulasi sejak awal tahun ini, IHSG naik sebesar 0,49%. Sebagai gambaran, posisi 10 teratas market cap diduduki PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Diikuti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Selain itu, ada PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Berikutnya, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Astra International Tbk (ASII). Selebihnya dihuni PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS).
Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada menilai, kinerja emiten big caps yang bervariasi cenderung sesuai ekspektasi. Realisasi kinerja itu menunjukkan kondisi setiap sektor industri dan strategi masing-masing emiten menyesuaikan diri dengan dinamika bisnis. Pengamat & Praktisi Pasar Modal, Riska Afriani sepakat, kinerja emiten big caps pada paruh pertama tahun ini relatif sesuai ekspektasi. Riska menyoroti pertumbuhan kinerja emiten bank, yang menandakan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat di tengah tahun politik dan sejumlah tantangan ekonomi. Head of Equities Investment Berdikari Manajemen Investasi, Agung Ramadoni mengatakan, peluang emiten big caps memperbaiki kinerja di semester II-2024 semakin terbuka. Terlebih, ada harapan pemangkasan suku bunga acuan The Fed pada September nanti dan ada transisi pemerintahan di bulan Oktober. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama memperkirakan, kinerja para emiten yang positif di semester I-2024 berpeluang kembali terapresiasi hingga akhir tahun ini. "Harga saham emiten itu juga akan semakin terapresiasi," ujarnya. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menimpali, di semester II, kinerja sejumlah emiten big caps masih akan moncer. Sentimen utamanya adalah Pilkada 2024 di akhir tahun nanti. Transisi pemerintahan dan pemilihan kabinet juga memberikan sentimen positif.
JALAN PANJANG DALAM PROSES MENUJU NEGARA KELAS SATU
Perjalanan Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi dinilai masih sangat panjang. Hal ini mengingat laju pendapatan nasional bruto atau gross national income (GNI) per kapita Indonesia tumbuh melambat. Bank Dunia menyatakan, lebih dari 108 negara, termasuk Indonesia, China, Argentina, Brasil dan India masuk dalam kategori negara berpendapatan menengah (middle income countries) dengan produk domestik bruto (PDB) per kapita berkisar US$ 1.136 hingga US$ 13.845. Berdasarkan laporan Bank Dunia bertajuk World Development Report 2024: The Middle Income Trap, negara-negara ini merupakan rumah bagi 6 miliar orang yang setara 75% populasi global, serta menghasilkan lebih dari 40% PDB global. Dalam laporan tersebut, Indonesia memang masuk kategori upper middle income countries atau negara berpendapatan menengah-atas. GNI per kapita Indonesia mencapai US$ 4,870 pada tahun 2023. Namun, posisi Indonesia paling rendah dibandingkan 11 negara lain yang masuk kategori ini. Misalnya, Rusia mencatatkan GNI per kapita US$ 14.250.
Kemudian China membukukan US$ 13.400. Bahkan Malaysia mencatat GNI per kapita jauh di atas Indonesia, yakni US$ 11.970. Kepala Ekonom Bank Dunia, Indermit Gill memprediksi Indonesia setidaknya membutuhkan waktu 70 tahun untuk bisa mencapai pendapatan per kapita setara negara maju alias high income countries. Bank Dunia menilai ada sejumlah faktor yang membuat negara-negara berpendapatan menengah terjebak dalam stagnasi ekonomi, mulai dari penuaan populasi, peningkatan proteksionisme, serta kebutuhan transisi energi. Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menghitung, jika pertumbuhan GNI per kapita Indonesia ke depan masih sama dengan rata-rata pertumbuhan dalam satu dekade terakhir di level 2,75% per tahun, maka perlu 39 tahun bagi Indonesia untuk memasuki era pendapatan kelas atas atau US$ 14.005 per kapita. Staf Bidang Ekonomi, Industri dan Global Markets Bank Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menambahkan, program pembangunan infrastruktur secara merata harus tetap dilakukan. Juga memacu hilirisasi bukan hanya di sektor pertambangan, namun juga pertanian dan perkebunan.
Saham Komoditas dan Perbankan Semakin Menguat
Kompetisi Ketat di Sektor Telekomunikasi
Kinerja emiten telekomunikasi diprediksi masih akan tumbuh positif pada 2024. Didukung peningkatan penetrasi internet di Indonesia yang masih berlanjut. Pada sektor telekomunikasi, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan Indosat Tbk (ISAT) telah memaparkan kinerja semester I-2024. TLKM masih mampu mencetak pertumbuhan pendapatan 2,47% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 75,29 triliun. Tapi laba bersih turun 7,8% menjadi Rp 11,76 triliun. Ini disebabkan kenaikan beberapa pos beban. Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo, Maximilianus Nico Demus melihat tren kenaikan penetrasi internet masih akan berlanjut, mengingat tingkat penetrasi internet di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara Asia lain. Ditambah, perkembangan ekosistem digital di Indonesia masih berkembang. Namun, dia menegaskan ekosistem digital tidak akan ada artinya jika tidak didukung dengan infrastruktur yang dibangun. Apalagi seperti di luar daerah yang masih banyak merasakan susah sinyal.
Pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur, juga dapat menjadi sentimen positif untuk meningkatkan kinerja industri telekomunikasi. Terlebih, ada rencana merger antara FREN dan EXCL akan menjadi katalis positif bagi industri telekomunikasi di Indonesia. Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, sentimen pasar terhadap sektor emiten telekomunikasi saat ini cenderung positif, terutama dengan meningkatnya penetrasi internet dan kebutuhan akan konektivitas yang semakin tinggi. Untuk ISAT, meskipun mengalami pertumbuhan kinerja di semester I-2024, namun dengan peningkatan piutang usaha senilai Rp 3 triliun yang belum tertagih, dapat memberikan tekanan negatif terhadap harga saham ISAT. Dengan begitu, Sukarno merekomendasikan wait and see ISAT dengan target harga Rp 11.100–Rp 11.400 per saham. Untuk TLKM, Sukarno mengatakan kinerjanya secara jangka panjang masih baik, dari valuasinya yang semakin menarik. Hal ini tercermin dari harga saat ini yang sudah undervalued
Ekonomi Lemah menurunkan Daya Beli
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









